
Menumpang di rumah Kenzo Karrin memanglah keputusan tepat. Kasur empuk beraroma harum dan ruang kamar hangat adalah alasan Sean enggan untuk bangun, tetapi Kenzo karrin masuk di kamar dan meluluhlantakan semua mimpi indah Sean bersama Mawar.
"Ah, aku masih mengantuk!" Sean menarik tinggi selimutnya. Di samping Sean, Luis juga masih pulas tertidur. Rupanya wanita yang ditemui semalam di Canaria juga terngiang di otaknya.
"Ehem." Suara pria lain berdehem. "Bangunlah kalian, bila tidak aku akan mengeluarkan nama kalian dari kampus!"
Ancaman itu benar-benar tidak mempengaruhi mereka, tetapi suara yang tidak asing membuat mata Sean terbuka, sedetik kemudian dia mengerjap, sedetik lagi dia mulai menyadari sesuatu dan satu detik berikutnya Sean terperanjat dari ranjang.
"Pak … Pak Klano?" Mimpi indah Sean lenyap saat melihat seseorang ada di belakang Kenzo Karrin. Dia adalah Klano Rahendra. Rupanya si pelukis psikopat itu yang membawa dosen Sean ke tempatnya.
***
Di ruang tamu rumah Kenzo Karrin, Sean sedang diadili kedua pria di depannya. Tidak ada satupun yang membantu, tidak terkecuali Luis yang masih menutup dirinya di dalam selimut.
"Aku dengar, semalam kau pergi ke Canaria. Untuk apa seorang mahasiswa dengan beasiswa sepertimu pergi ke tempat itu?" Pak Klano berkata dengan serius. Bahkan, ekspresinya sedang ditekuk kaku.
Sean beralih menatap Kenzo Karrin dengan tatapan tidak suka. Bagaimana bisa dia mengadu pada Pak Klano, sementara semalam Sean sudah memberikan penjelasan yang sejujurnya. Rasa kesal Sean tidak berpengaruh pada Kenzo Karrin, pria itu tampak santai seolah sedang menutup mata akan kesulitan Sean.
Malas kembali memberikan penjelasan, Sean mengeluarkan kain kanvas yang telah di simpannya semalam. “Namanya ‘Spring of Canaria’. Aku mengambil objek salah satu wanita di tempat itu.”
Pak Klano dan Kenzo Karrin tampak tertarik. Mereka mengangkat kanvas itu sehingga dapat melihatnya dari dekat.
“Mustahil, bagaimana kau bisa melakukannya?” protes Pak Klano yang merasa disaingi. Pria itu menatap Kenzo Karri seolah sedang menuduh namanya dibalik kemampuan Sean. “Apakah kau memberikan semua ilmumu padanya?”
Kenzo setengah terkejut dan reflek membalas tatapan itu dengan penuh sangkalan. “Tentu saja aku tidak melakukannya. Aku memihak padanya karena dia memang memiliki kualitas diri.”
“Jadi benar, lukisan Sean memiliki nilai tinggi?” Alis Pak Klano turun dengan ekspresi terheran.
“Kau meragukan anak didikku? Lukisannya telah berhasil terjual dengan nilai dalam hitungan juta. Minimal sepuluh juta. Kau tidak menyangkanya, bukan?”
Percakapan antara kedua pria itu membuat kehadiran Sean menjadi transparan. Tokoh utama dalam masalah ini tampak benar-benar tidak dianggap.
Perdebatan mereka berlanjut dengan topik berbeda. Saat ini, Pak Klano dan Kenzo Karrin sedang memperebutkan lukisan ‘Spring of Canaria’. Pak Klano berencana akan menggantung lukisan itu di pameran, sementara Kenzo Karrin bersikukuh untuk menawarkan lukisan itu pada kolektor.
Semua perdebatan tidak berujung dan berhasil membuat Sean kesal. Pemuda itu memutuskan untuk tidak memberikan 'Spring of Canaria' pada salah satu diantaranya.
__ADS_1
Saat Luis terbangun dan datang ke ruang tamu, Sean memiliki pikiran lain.
“Aku akan memberikan ‘Spring of Canaria’ pada Luis.” Keputusan Sean tampak bulat dengan sebuah tatapan yang penuh tekad.
Sontak pandangan tajam dari kedua pria itu saling memandang dan beralih pada kedatangan Luis. Luis yang setengah kenyataannya tertinggal di dunia mimpi hanya bisa mengerjap tidak paham. “Apa? Apa yang akan kau berikan?”
“Lukisan ini.” Sean menunjuk lukisan wanita tanpa busana di Canaria pada. “Aku akan memberikan ‘Spring of Canaria’ secara cuma-cuma padamu.”
“A-aku?” Jari Luis menunjuk pada dirinya sendiri dengan ekspresi tidak mengerti.
Seperti sedang kejatuhan duren, Luis begitu beruntung. Dia telah mendapatkan lukisan Sean yang telah diperebutkan oleh Pak Klano dan Kenzo Karrin dengan antusiasnya.
***
Saat semua mulai meredah dan kembali tenang Kenzo Karrin menjelaskan kedatangan dari Pak Klano. Dengan semaunya dia menyuruh dosen itu datang untuk mengantar Sean dan Luis kembali di asrama. Namun, Sean menolak setelah tahu bahwa Kenzo Karrin harus pergi menjemput Ellian dan Alice di villa milik Elmi Carens.
Pak Klano dan Luis pergi lebih dulu dan Sean masih tertahan. Di hadapan lukisan ‘Bood of a Patriot’ Karya Kenzo Karrin, mata hitamnya mengawang dalam.
"Apa yang kau lakukan di depan lukisanku?” tanya Kenzo Karrin setelah melihat Sean hanya termangu di hadapan lukisan itu.
Sean terdasar dari lamunannya dan membalas tatapan Kenzo Karrin. “Apa yang kau pikirkan saat melukis ini?”
Meskipun tidak memahami semua penjelasan Kenzo Karrin, tetapi lukisan karyanya telah menjelaskan secara detail perasan Kenzo dengan dalam.
“Kau membeli semua lukisanmu dan menyimpannya di gudang, tetapi kau meninggalkan ‘Blood of Patriot’ di tempat ini, apakah karena kau tidak bisa membalaskan kebencianmu?” Dari semua perasaan milik Kenzo Karrin, Sean begitu mendalaminya. Itu adalah perasaan menyakitkan yang sama saat dirinya dihadapkan pada keluarga Ellinden. Kebencian yang tidak mampu dibalaskannya.
Tidak ada yang berubah dari ekspresi Kenzo Karrin, hanya sebuah senyum kecut yang dapat diartikan Sean sebagai sebuah kebenaran yang tidak bisa diakuinya.
“Bila kau berubah pikiran dan ingin membalaskan kebencianmu itu … ingatlah kalau aku ada di pihakmu. Aku akan membantumu,” sambung Sean dengan penuh keyakinan.
Sean tidak berkomentar apapun, dia hanya menatap Sean seolah dirinya sendiri yang mendapatkan ketidakadilan itu.
Setelah semua pembicaraan terhenti, sedan dan Kenzo Karrin segera pergi kembali ke villa Elmi Carens.
***
__ADS_1
Lima jam lamanya perjalanan menuju villa, keadaan di dalam mobil sedan Kenzo tampak hening. Di antara mereka tidak ada yang berniat memulai sebuah pembicaraan terlebih dahulu. Mereka semua mengunci mulut dan menatap jauh pemandangan luar jendela.
Keheningan itu lenyap saat mobil telah tiba di villa. Tampak Ellian dan Alice sudah berdiri di depan untuk menyambut kedatangan Kenzo dan Sean.
“Kakak, kami sudah lama menunggumu.” sambut Ellian dengan omelannya.
Kenzo Karrin hanya mengucapkan sepatah kata maaf dan segera membantu membawa masuk barang bawaan mereka ke dalam bagasi.
Alice mendekat pada Sean. “Sean, nenekku ingin bertemu denganmu.”
“Aku?” Sean sedikit terkejut dengan ucapan Alice, tetapi dia berusaha memahami situasi. “Ah, aku mengerti.”
Kedua orang itu pergi ke dalam villa dan menemui Elmi Carens. Wanita tua yang dilihatnya tampak sedang termenung di atas kursi goyang dan sebuah lukisan sedang dipangkunya. Jari-jari penuh keriput miliknya menyentuh lembut di atas permukaan lukisan.
“Nenek, Sean sudah datang.” Setelah membawa Sean datang, Alice segera undur diri dan meninggalkan mereka di dalam ruangan.
“Sean, kau datang?” tanya Elmi Carens.
“Sean mendekat di hadapan wanita tua itu. “Benar, Nyonya. Alice mengatakan bahwa anda ingin menemui saya.”
“Benar, kemarilah.” Setelah mendengar instruksi dari Elmi Carens, Sean mendekat dan wanita tua itu memberikan lukisan yang ada di pangkuannya. “Nama lukisan ini adalah 'Calico'. Ini adalah lukisan terakhir dan lukisan yang paling berharga untukku.”
Sean tidak mengetahui kisah di balik lukisan itu, tetapi saat pandangannya memperhatikan lebih dalam, dia hanya dapat melihat lukisan di tepi sungai dengan latar langit senja. Hal itu sedikit dapat dipahaminya karena pemandangan dari lukisan itu adalah pemandangan yang mereka lukis bersama sebelum mereka berpisah.
“Mengapa anda memberikannya?” Sean hanya mencurahkan keingintahuannya saja.
Seharusnya Elmi Carens menyimpan lukisan kenangan dengan suaminya, tetapi secara tidak masuk akal, dia memberikan benda berharga itu pada Sean.
“Itu karena kau telah menyadarkanku bahwa kenangan bersama suamiku tetap tinggal di tempat-tempat kami menjejakkan langkah bersamai. Lukisan hanyalah sebuah lukisan dan kenangan tetap akan abadi meski tidak dengan dilukis," jelas Elmi Carens dengan mata berkaca. Meski tidak bisa melihat lukisan itu, kenangan bersama suaminya masih terukir jelas di dalam ingatan.
Sean dengan sedikit terbebani terpaksa menerima lukisan itu sebelum mereka kembali pulang.
Di dalam mobil, Kenzo Karrin gagal menggunakan mata jelihnya sebagai seorang kurator.
“Aku tidak bisa memprediksi lukisan ini,” kataya.
__ADS_1
Sean tidak membutuhkan jawaban itu karena dia tahu bahwa lukisan 'Calico' tidak ternilai harganya bagi Elmi Carens.
“Aku akan meggantungnya dengan baik di ruang penyimpanan setelah pulang,” ucap Sean yang terus memandangi keindahan ‘Calico’.