
Di depan sebuah pintu, Sean dan Luis hanya berdiri termangu di tempat itu. Tidak ada sedikit pun pergerakan dari mereka sampai kedua wajah mereka saling berhadapan dan sepakat mengangguk bersamaan.
“Kau sudah siap, Sean?” Luis bertanya dengan penuh kesiapan
“Yeah, kita masuk!” balas Sean yakin.
Pintu dibuka dari luar, mereka melangkah maju ruangan dan ….
Seperti ada di gerbang neraka, mereka kepanasan pada kamar dengan penyejuk udara.
Pada kedua mata kedua pemuda itu, tampak seorang wanita bersolek di depan cermin. Dari belakang hanya tampak rambut keriting cokelat menggantung di atas handuk putih yang dia kenakan.
Suara pintu terbuka membuat wanita itu berbalik dan menampakkan wajah cantik yang dimilikinya. Dia tampak muda, usianya sebaya dengan Luis, tidak jauh berbeda satu tahun dari Sean.
Bergetar! Kedua kaki pemuda itu sama-sama bergetarnya setelah melihat lawan jenis yang hanya mengenakan handuk saja. Namun, mereka harus menguatkan diri untuk dapat melalui malam tanpa melakukan apa-apa.
“Di sini aku dipanggil mawar, apa kalian akan tidur berdua denganku?” tanya wanita dengan sebutan Mawar di dalam Canaria. Wanita itu mendekat, sedetik kemudian Sean dan Luis mundur serempak.
“Tidak, kami tidak akan melakukan apa-apa padamu.” Luis mengucapkannya dengan pikiran yang saling memberontak. Kami datang hanya untuk melukismu. Ah, maksudnya melukis tu-buh-mu.”
Mawar mengerutkan alisnya dengan sedikit ragu. “Hanya itu?”
Tidak ada ampun bagi Luis, dia mencoba memalingkan pandangannya agar tidak tergoda sama sekali. “Benar, jadi jangan bicara dengan kami, kau cukup mem-bu-ka handukmu dan tidur di atas ranjang. kami akan duduk di sini sampai proses lukisannya selesai.”
Mawar tersenyum dan memperlihatkan kedua lesung dipipinya. “Tamu yang menarik. Baiklah, aku dibayar untuk mengikuti permintaan kalian.”
“Tidurlah di tengah ranjang, tegakkan kepalamu dan biarkan rambutmu terurai. Angkat dan silangkan kakimu, gunakan dinding untuk menumpu berat tubuhmu. Bisakah kau lakukan itu?” Kali ini Sean yang mengambil alih intruksi. Dia mengatur posisi objek dan mengeluarkan alat-alat yang akan digunakan untuk melukis.
“Baiklah aku mengerti.” Mawar melakukan perintah Sean dengan baik, dia cukup dapat memahami perkataannya dengan benar.
Dari jarak 2 meter, Sean dan Luis duduk berdampingan di atas sofa. Mereka saling melirik satu sama lain dan Luis terlebih dahulu berkomentar. “Sean, lakukan dengan cepat!”
Sean yang juga ingin melakukan pekerjaannya dengan cepat tanpa diperintahkan pun hanya bisa mengangguk. “Aku akan berusaha.”
Sesi melukis pun dimulai. Secara diam-diam Sean mengaktifkan semua kemampuannya, mulai dari Dragon’s Hand, Spider Hand, Broom Sweeper dan Mikro Spaces tipe 1. Saat Sean akan mengaktifkan kemampuan Brain memorinya … dia langsung mengurungkan niatanan itu. Sean tidak ingin terbayang-bayang objek lukisan yang akan membuatnya menjadi resah di kemudian hari.
[Dragon’s Hand diaktifkan]
[Spider Hand diaktifkan]
[Broom Sweeper]
[Mikro Spaces tipe 1 diaktifkan]
__ADS_1
Dengan semua kemampuan itu, Sean segera menggoreskan kuas berdasarkan imajinasi panasnya.
Tik-tok-tik-tok!
Beberapa menit kemudian, dengan wajah resah, Luis berbisik, “Lakukan dengan cepat.”
“Aku akan berusaha, “Jawab Sean yang menekan ekspresinya. Sean pun kembali melakukan pekerjaan dan kesunyian kembali terjadi di kamar itu.
Tik-tok-tik-tok!
Beberapa menit kemudian, Luis mengulangi lagi kata-katanya dan Sean juga menjawab dengan hal yang sama. Mereka mengulangi percakapan itu berkali-kali, tetapi sayangnya keinginan Luis tidak berhasil membuat Sean cepat.
Setelah pertikaian itu, Sean berhasil menyelesaikan lukisannya dengan sempurna.
“Selesai!” seru Sean dengan wajah yang terlalu merah.
Tidak ada waktu bagi Luis untuk melihat hasil dari karya Sean, dia langsung berjingkat dan membantu membereskan peralatan lukis Sean.
“Kami sudah menyelesaikannya, kau bisa berpakaian dan kembali, “ ucap Sean pada modelnya.
Mawar tidak juga berpakaian, dia duduk di sisi ranjang dan menatap kedua tamunya yang tidak satu pun tergoda akan dirinya. Wanita itu dapat merasakan niatan mereka hanya untuk melukis, bukan hal yang biasa dilakukan oleh tamu-tamunya.
Melihat mawar hanya duduk termenung, Luis menarik selimut dan menelungkupkannya pada tubuh wanita itu. Dia juga menyelipkan amplop cokelat di tangannya. “Terima bayaranmu dan cepatlah pergi.”
Baik Sean ataupun Luis dapat bernapas lega setelahnya. Mereka semua terduduk dengan tidak berdaya.
“Apa yang akan kita lakukan setelah ini?” Sean mengajukan pertanyaan yang membuat Luis sedikit berpikir.
“Pulang,” singkat Luis.
Sean melihat arlojinya, jarum pendek sudah menetap di angka 12. “Sudah lewat jam 10. Pintu asrama pasti telah ditutup.” Sean kembali mengingatkan. “Kau tidak ingin menetap semalam di sini?”
Luis menoleh dengan tatapan tajam, “Tidak, aku tidak mau mati sesak di tempat ini!”
Mereka segera turun dan pergi dari tempat itu. Saat sedang mencari taxi, justru sedan hitam yang berhenti tepat di depan mereka.
Sean dapat mengenali betul siapa yang ada di dalam mobil itu. Kenzo Karrin! Saat kaca mobil turun, sosok Kenzo Karrin lah yang mereka lihat.
“Celaka! Luis, kita harus segera pergi.” Sean berjalan lurus demi menghindari Kenzo Karrin.
Luis yang mengikutinya berusaha membaca keadaan. “Dia adalah pria yang bersamamu saat pertemuan Golden parallel, kan?”
“Benar, kita harus kabur, sebelum mendapatkan masalah darinya," balas Sean terburu.
__ADS_1
Siapapun yang keluar dari hotel Canaria akan membuat orang lain berpikir bahwa mereka telah bermalam dengan wanita-wanita di tempat itu dan Sean tidak bisa menghindar dari tuduhan itu.
Rencana Sean untuk kabur dihentikan Kenzo Karrin. Pria itu mendahuluinya dan berhenti kembali di depan mereka.
"Masuk!" perintahnya yang tak terbantahkan.
Tidak ada pilihan bagi Sean dan Luis untuk ikut menumpang pada mobil Kenzo Karrin. Untuk menghindari masalah, Sean menghindari duduk di samping kemudi. Dia lebih memilih duduk di bangku belakang menemani Luis.
"Canaria Hotel," desah Kenzo Karrin sukses menyindir penumpang di bangku belakang.
Sean menenggak ludahnya dan bersiap mendapatkan omelan dari Kenzo Karrin. Tampak jelas ekspresi tegang ditunjukkannya secara terang-terangan.
"Aku pikir KTP kalian cukup berfungsi di tempat itu, benar kan?" sindir Kenzo Karrin lagi.
Sean diam sejenak, dia melihat Luis yang pandangannya berpaling keluar jendela, seakan dia sengaja membuat Sean menghadapi Kenzo Karrin sendirian.
"Aku tidak melakukan apa-apa di sana. Aku hanya datang … duduk … dan diam." Mati-matian Sean berkelit, tetapi Kenzo Karrin tidak bisa menghapus kecurigaannya.
"Apa kau yakin hanya itu saja?"
"Berhentilah menuduhku yang tidak-tidak. Aku hanya ingin melukis wa-ni-ta di tempat itu. Bahkan aku memiliki bukti dan saksi." Sean mendorong sikunya pada Luis dan Luis terperanjat sesaat. "Tanya saja pada Luis."
"Apa?" Luis tidak ingin ikut terseret dalam masalah ini, tetapi Sean mendelik seakan minta Luis adalah orang yang wajib membantunya di situasi seperti ini. "Benar yang dikatakan Sean."
"Hanya melukis? Di tempat itu? Kau benar-benar tidak bisa menghitung untung-rugi. Apa kalian bersekongkol?" Ucapan Kenzo Karrin benar-benar membuat Sean kesal. Tidak akan ada gunanya bila perdebatan ini diteruskan.
"Berhentilah menyindir dan antarkan aku pulang." Sean sudah menyerah dia membiarkan Kenzo Karrin berpikir sesukanya.
"Pulang?" Kenzo Karrin terkekeh. "Jam malammu sudah lewat, aku akan membawamu tinggal di rumahku."
Tidak ada lagi kata protes, bagi Sean dan Luis lebih baik menumpang bermalam di tempat aman ketimbang tinggal di kamar Hotel Canaria.
[Selamat! Anda telah menyelesaikan misi]
[Hadiah: Mikro Spaces tipe limited edition]
[Mikro spacrs tipe limited edition adalah set cat dengan glitter mutiara, intan, batu-batuan, emas dan perak sebagai bahan dasar]
[Catatan: benda berharga dan langkah]
[Anda bisa menggunakan Mikro Spaces tipe limited edition tanpa adanya batasan]
[Barang akan segera dikirim di tempat anda]
__ADS_1
Itu semua adalah hadiah yang sesuai untuk melewatkan setengah malam di hotel Canaria.