MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Misi yang Mustahil


__ADS_3

Sean dan Ellian datang ke rumah Alice untuk mendengarkan permintaan neneknya. Namun, Alice mengatakan bahwa neneknya tinggal di villa keluarga.


Keesokan harinya, Kenzo Karrin mengantar mereka pergi untuk menemui nenek Alice. Jarak yang ditempuh tidaklah dekat, 6 jam dengan medan berbukit untuk sampai di tempat tujuan.


"Benar di tempat ini?" Di luar jendela, Kenzo tidak melihat apapun selain perkebunan teh.


Dari kursi belakang, Alice menunjuk sebuah bangunan yang berdiri di tengah kebun teh. "Benar, itu tempatnya."


Mobil pun melaju seperti apa yang telah diarahkan oleh Alice dan berhasil sampai di sebuah bangunan klasik yang memiliki halaman luas.


Mereka semua turun dan disambut oleh seorang wanita paruh baya. Alice mengenalkannya dengan nama Bi Irma sebagai seorang pengurus vila yang sudah puluhan tahun bekerja di tempat ini.


"Masuk dulu, Non. Sudah ditunggu beliau di teras belakang." Setelah menyapa mereka, Bu Irma mempersilahkan masuk dan membawa para tamu untuk menemui Elmi Carens.


Di dalam vila itu, Sean dapat memperhatikan ruangan lapang yang di salah satu sisi dindingnya tergantung beberapa lukisan. Deretan lukisan memiliki jenis yang sama, yaitu naturalisme, dimana lukisan menunjukkan pemandangan alam sebagai objek yang dilukis.


"Apakah semua ini adalah lukisan dari beliau?" Pertanyaan tiba-tiba Sean, membuat perhatian mereka semua beralih. Bu Irma yang ada di depan menoleh lukisan yang Sean maksud.


Ada sekitar 15 lukisan yang Sean lihat seperjalanan itu dan semua lukisan memiliki inisial yang sama dan tahun yang berbeda.


Lukisan pegunungan di dekat pintu masuk tertulis tahun 1960, lukisan selanjutnya tertulis tahun 1965, 1970, 1975 … Itu artinya semua lukisan ini dilukis dengan rentang 5 tahun.


Dari tiap 5 tahun itu, Sean adalah orang yang satu-satunya menyadari adanya perbedaan dari tiap waktu.


Meskipun semua lukisan bertema panorama alam, tetapi mereka memiliki teknik yang berbeda. Lukisan paling tua umurnya memakai teknik basah yaitu mencampur cat dengan minyak. 

__ADS_1


Perbedaan mencolok terjadi pada 20 tahun setelahnya. Lukisan dengan teknik basah itu berganti dengan teknik campuran. Seperti contoh lukisan bunga matahari yang bernama, 'Mr. Sunshine' memakai teknik kering pada subjek dan teknik basah pada latarnya. Namun, lukisan-lukisan selanjutnya mulai meninggalkan teknik lama dan berganti menggunakan teknik kering. Bahkan, Sean dapat menemukan adanya tekstur yang mencolok di lukisan tahun 2010.


"Benar, beliau memulai karir sebagai pelukis di usia 20 tahun dan beliau menggantung tiap lukisan dari awal karirnya hingga sebelum penglihatan beliau terganggu," jelas Bu Irma.


"40 tahun lalu? Anda cukup mengerti keadaan beliau selama itu." Sean kembali berkomentar.


"Sean, sebelumnya, ibu dari Bu Irma yang terlebih dulu bekerja di villa ini, tetapi saat beliau sudah menua, Bu Irma yang menggantikan pekerjaannya, sahut Alice di belakang Sean.


Sean hanya mengangguk sambil membayangkan tiap generasi dari Bu Irma mengabdi untuk Elmi Carens.


"Ada lagi yang ingin saya tanyakan." Sean kembali melontarkan pertanyaan pada Bu Irma. "Kapan tepatnya penglihatan beliau mulai terganggu? Apakah bertepatan dengan kematian dari suami beliau?"


Semua orang di tempat itu dibuat Sean terheran. Tidak biasanya pemuda itu menanyakan kehidupan seseorang yang bersifat pribadi. Namun, Bu Irma tidak tampak keberatan. Dia terlihat sedang berpikir atas ucapan Sean.


"Benar, saat setelah kematian suaminya beliau mengeluh tentang penglihatan yang terganggu dan mengakhiri karirnya sebagai pelukis. Dokter mengatakan bahwa beliau mengidap katarak yang cukup kronis hingga tidak bisa disembuhkan." Bu Irma kembali menjawab pertanyaan Sean.


Tanpa mendengar sedikit pun penjelasan dari Sean, mereka pergi dengan tujuan awal, bertemu dengan mantan pelukis Elmi Carens.


Di teras belakang, seorang wanita tua  sedang termenung di atas kursi goyang. Di usianya yang hampir 70 tahun, Elmi Carens terlihat seperti wanita tua lainnya, tetapi iris mata berwarna kelabu dan penglihatannya yang terganggu membuatnya tampak lebih rapuh.


Mendengar suara langkah datang, Elmi Carens mencoba mengenali suara langka itu. “Alice?”


Alice segera menghampirinya dan memberikan sebuah pelukan. Tatapan wanita tua itu teralih pada suara lain yang ada di sekitarnya. 


“Siapa yang ada bersamamu? Apakah kau membawa pemuda yang kau ceritakan itu?” Elmi Carens tampak antusias, dia mengguncang lengan Alice dengan tidak sabar.

__ADS_1


Melihat itu, baik Sean, Ellian, Kenzo Karrin datang menyapa dan memperkenalkan diri mereka. Saat Elmi Carens mengetahui kedatangan Sean, dia langsung beralih pada pemuda itu, seolah Sean adalah orang yang telah ditunggu-tunggunya.


“Cucuku sudah menceritakan semuanya, dia mengatakan bahwa kau bisa melukis objek yang tidak pernah kau lihat sebelumnya. Aku benar-benar ingin kau melukis sesuatu untukku. Aku mohon, lukislah kenangan dari hidupku.”


Sean tidak berdaya melihat seorang yang pernah menjadi pelukis terkenal memohon padanya. Namun, permohonan itu tidak masuk akal bagi Sean. Dia tidak akan pernah bisa melukis kenangan dari seseorang yang tidak pernah diketahui. Hanya saja … saat melihat lukisan-lukisan karya Elmi Carens membuatnya tahu, apa yang harus Sean lakukan untuk itu.


“Aku akan berusaha.” Hanya kata singkat itu yang Sean ucapkan.


Ucapan penuh harapan dari Sean disambut Elmi Carens dengan ekspresi berbunga, tetapi tidak dengan Kenzo Karrin. Dia beralih menyeret Sean dan menuntut protes akan tindakannya.


“Kau gila, Sean? Bagaimana kau bisa menyanggupi keinginan Elmi Carens?” Wajah Kenzo Karrin sudah bertanduk dan tidak lama lagi dia akan menjadi seekor banteng di arena gladiator yang siap menyeruduk Sean. “Jangan berikan harapan palsu padanya, kau tidak akan mampu melukis apa yang Elmi Carens mau. Menyerah lah!”


“Ingatlah, jauh-jauh kita datang ke tempat ini bukan untuk menyerah. Aku tahu harus bagaimana menyelesaikan keinginannya," hardik Sean yang meninggalkan Kenzo dan beralih menemui Ellian.


"Ellian, beristirahatlah dengan Alice di sini. Ada suatu tempat yang harus aku datangi bersama kakakmu," pamit Sean sebelum pergi menghampiri Bu Irma.


Kedua orang itu tampak sedang berbicara dengan serius. Tidak lama mereka pergi ke ruang lain dan di sana Bu Irma memperlihatkan foto almarhum dari suami Elma Carens.


"Edwin Carens adalah nama dari suami beliau. Suami beliau mengelola kebun teh dan sering mengajak istrinya untuk jalan-jalan di sekitar tempat ini. Seringkali beliau membawa perlengkapan melukisnya dan pergi bersama untuk melukis di berbagai tempat di sekitar villa." Bu Irma kembali menunjukkan koleksi foto mereka berdua dengan latar alam yang indah.


"Apakah anda bisa mengantarkan kami di tempat yang biasa beliau kunjungi bersama suaminya?" Ucapan Sean mendapatkan sebuah pertentangan dari Kenzo Karrin. Pria itu menarik tangannya dan menatap Sean tajam.


"Apa yang akan kau lakukan? Bukannya menggambar pose foto beliau dengan suaminya sudah cukup?" Kenzo Karrin melayangkan protes keras pada Sean.


Dengan santainya Sean hanya menggeleng dan tersenyum seolah sudah mengantongi lukisan apa yang diinginkan Elmi Carens. 

__ADS_1


Perdebatan antara kedua orang itu dimenangkan oleh Sean. Kenzo Karrin tidak punya pilihan lain selain mengawal Sean dan Bu Irma ke beberapa tempat yang tidak jauh dari villa.


__ADS_2