MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Sebuah Reuni


__ADS_3

Suasana pagi yang begitu dingin, membuat Sean menggigil. Dia menarik selimutnya ke atas, tetapi udara pagi tetap dapat menembusnya.


Sean tidak tidur di kamar asramanya yang cukup nyaman, tetapi dia bermalam di dalam studio. Kemarin, dia telah melewatkan jam malam dan sudah pasti pintu asrama sudah terkunci dari dalam. Sean tidak mau mendapatkan omelan dari Zavier yang meresahkan telinga, jadi dia memutuskan untuk bermalam di studio.


Dinding-dinding studio yang hampir 70% -nya adalah kaca tidak mampu menahan suhu rendah. Hal itu yang membuat Sean harus bangun meski jam masih menunjukkan pukul 6.


[Misi Harian!]


[Melukis di atas media kaca]


[Tema: Sayap]


Jendela sistem muncul membawa misi baru. Sean terpaksa membaca tulisan yang ada pada layar transparan dan sesekali menggosok matanya yang mengantuk.


“Melukis di atas kaca?” gumam Sean. “Sistem pikir melukis di media lain itu mudah?”


Ingatan Sean kembali saat sistem memberikan misi untuk membuat mural atau lukisan dinding. Dia benar-benar kesulitan untuk melakukannya, apalagi untuk melukis bidang kaca yang medianya licin. Itu bukanlah hal mudah.


Mata Sean menyipit tiba-tiba saat mendapatkan ingatan yang lain. Dia orang yang paling tahu bahwa misi harus diselesaikan, bila tidak tentunya ada hukuman yang nilainya tidak setimpal dengan misi. 


“Benar, aku harus menyelesaikan misi.” Sean bangkit dari sofa dan membereskan selimutnya.


Tidak ada waktu lagi untuk bermalas-malasan, dirinya harus segera kembali ke kampus untuk menghadiri kelas pagi. Selain itu, Sean juga mempunyai keperluan lain di tempat itu. Dia harus datang menemui Pak Klano dan mengkonfirmasi bahwa lukisan 'Tender Air' sudah siap untuk digantungkan di pameran.


Setelah mandi dan berbenah, Sean mengambil foto ‘Tender Air’ melalui kamera ponselnya. Foto itu akan diperlihatkan Sean pada si dosen killer.


Sean juga menggunakan ponselnya untuk menghubungi Kenzo Karrin, tetapi tidak ada jawaban. Rupanya seharian melakukan perjalanan jauh membuat Kenzo Karrin kelelahan dan membuatnya bangun kesiangan.


Panggilan itu segera dihentikan dan sebagai gantinya Sean hanya meninggalkan sebuah pesan cepat  agar Kenzo Karrin mendapatkan bidang kaca yang akan digunakan Sean untuk media lukis.


Setelah menyelesaikan semua keperluan, Sean berangkat dan memulai kelasnya.


***


Kelas berjalan tidak begitu lama, dosen hanya menjejalkan materi dan memberikan tugas praktik yang pasti akan menyita banyak waktu dari Sean. Namun, pemuda itu tidak banyak mengeluh. Dengan kemampuam Spider Hand, Sean akan dapat mempersingkat waktu penyelesaiannya.


Setelah kelas selesai, Sean bergegas datang ke ruangan Pak Klano. Di tempat itu, dia kembali diperlihatkan oleh kekejaman si dosen.  

__ADS_1


Namanya adalah makalah terbang. 


Dari sela pintu, tampak mahasiswa tahun ketiga mendapatkan perlakuan sama. Dengan tidak hormat, Pak Klano melemparkan hasil makalah mereka dengan cacian yang kasar. Beruntung, Sean tidak pernah mendapatkan pengalaman seperti itu.


Setelah menonton, Sean segera masuk saat gilirannya tiba.


“Pak, Saya sudah mengambil gambar untuk lukisan yang akan diajukan untuk pameran ‘Harmony Spaces’,” ucap Sean yang langsung pada tujuan kedatangannya.


Dua minggu lagi pameran dibuka, Sean punya banyak waktu sisa seandainya Pak Klano tidak dapat meloloskan lukisannya. Namun, dosen killer itu bereaksi berbeda. Pandangan pria itu melekat pada layar.


“Judul lukisan ini adalah ‘Tender Air’ dan menggunakan cat minyak,” sambung Sean.


Dalam jeda jarak itu tidaklah membuat Pak Klano puas. Wajah pria itu mendekat dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. Pandangannya beralih pada tangan kanan Sean seakan dia sedang mempertanyakan keadaan tangannya. “Apakah kau yang melukisnya?”


"Kebetulan saya memiliki tema lukisan yang sama. Bukannya saya telah mengatakan itu sebelumnya?" Ucapan Sean tertuju pada apa yang dia katakan sebelumnya pada Pak Klano bahwa dirinya memiliki lukisan dengan tema yang sama.


Tentu saja itu adalah awal kebohongan Sean yang terus Sean pertahankan sampai saat ini.


Tanpa menurunkan kecurigaannya lagi, Pak Klano kembali memandangi foto lukisan itu. "Bisakah aku melihat karyamu secara langsung?"


"Asal anda dapat merahasiakan identitas saya," pinta Sean yang dapat disanggupi Pak Klano dengan mudah.


Setelah kesepakatan itu mereka berdua berencana pergi ke SH studio dengan mobil milik Pak Klano.


***


Pak Klano mengendarai mobilnya sesuai arahan Sean. Setelah tiba di depan studio, Sean turun dan mempersilahkannya masuk. Pemuda itu langsung membawa dosen killer menuju ruang penyimpanan dan menunjukan 'Tender Air'.


"Bagaimana menurut Pak Klano?" Sean melirik pria yang hanya mematung di sampingnya. Namun, pria itu tidak mengindahkan tatapan Sean, pandangannya sibuk mengamati lukisan itu.


"Apakah anda tidak menyukainya?" lanjut Sean dengar ekspresi sedikit kecewa.


Tanpa memandang lawan bicaranya, Pak Klano menjawab dengan singkat. "Tidak benar, aku suka karyamu. Ini sudah melebihi ekspektasi."


Saat setelah mengatakan kata-kata itu, pandangan Pak Klano beralih menatap lukisan-lukisan lain di tempat itu. Ada perasaan penasaran cukup besar yang terlukis di dalam kedua matanya.


"Lukisan-lukisan ini …. " Mendadak ucapanya berhenti.

__ADS_1


Belum sempat melanjutkan kata-katanya, Sean menyahut. "Lukisan itu bukan milikku."


Tidak puas dengan itu, Pak Klano membaca satu per satu nama di ujung kanvas. Nama-nama seniman terkenal di dunia seperti Elizabeth Chang dan Najwa Wong tidak bisa menipu penglihatannya. "Apakah … semua lukisan ini asli?"


Lukisan asli yang dikira adalah lukisan palsu itu membuat Sean kembali mencoba berkelit. Sudah sewajarnya seorang mahasiswa tidak mungkin memiliki lukisan-lukisan yang bernilai miliaran rupiah.


Sean hanya bergeming, tetapi Pak Klano tidak keberatan memberikannya waktu untuk berpikir. Namun, saat pandangannya beralih pada lukisan paling ujung, ekspresinya menjadi lain.


"R-red B-balerina?" sontak mata Pak Klano terbelalak dan rahangnya seketika itu menjadi kaku.


Mendengar nama dari 'Red Ballerina' disebutkannya dengan fasih, Sean dapat menduga bahwa Pak Klano mengenal betul lukisan itu. Apalagi saat matanya beralih menatap inisial RR di sudut kanvas.


"Dari mana kau mendapatkan lukisan ini? Apakah Kenzo Karrin yang memberikannya padamu? Dimana pria itu sekarang?" Tidak puas hanya berkata, Pak Klano mengguncang kasar bahu Sean.


Belum sempat Sean menjawab kedua orang itu dikejutkan dengan kedatangan pria dari luar.


"Sean, apa kau ada di dalam?" Suara lain yang bukan milik Sean ataupun Pak Klano memecahkan keadaan di dalam ruangan yang kacau. Sontak kedua pandangan mereka beralih menatap seorang pria di muka pintu.


"Kenzo? Kenzo Karrin?" Pak Klano hampir tidak percaya bahwa Kenzo Karrin sudah ada di depan matanya.


"Kau … Klano Rahendra?" Tidak kalah terkejutnya Kenzo Karrin juga menunjukkan ekspresi itu.


Mendengar mereka saling menyebutkan nama, membuat Sean menyadari bahwa mereka saling mengenal satu sama lain.


Pertemuan kedua pria itu mengubah suasana di dalam ruangan. Mereka duduk dan saling bercengkrama.


Saat itulah Sean baru tahu bahwa kedua Pak Klano dan Kenzo Karrin memiliki hubungan pertemanan yang kuat. Mereka tumbuh bersama dan masuk di universitas yang sama. Namun, saat berkarir hubungan mereka menjadi renggang sampai Klano mendapatkan kabar bahwa Kenzo Karrin dibawa keluarganya tinggal di luar negeri.


Setelah berbagi cerita, Kenzo Karrin harus segera kembali dan Sean mengantarkannya di depan pintu.


"Aku datang untuk membawakan kaca yang kau pinta," ungkapnya sambil mengeluarkan sebidang kaca dari bagasi mobil dan Sean segera menerimanya.


Dengan ragu, Sean memberanikan diri untuk meminta sesuatu padanya. "Apakah kau bisa merahasiakan apapun tentangku pada Pak Klano?"


"Kau meragukan orang itu?" Kenzo Karrin tersenyum kecil. "Tidak, jangan khawatir. Pria itu dapat menyimpan rahasia dengan baik."


Sean yang tidak mengerti ucapannya hanya memandangi Kenzo, pria itu pun berbisik tepat di telinganya. "Sebagai jaminan, Klano Rahendra telah menyimpan rahasia besarku saat saat ini."

__ADS_1


__ADS_2