
Di siang bolong yang panas, suasana di kamar Sean mendadak menjadi lebih panas lagi. Bahkan, terdengar caci-maki Sean yang tidak jelas. Beruntung, suasana di asrama sedang sepi, semua penghuni asrama sibuk menghadiri kelas masing-masing.
[Misi Harian]
[Melukis objek wanita tela*jang]
Begitu jendela sistem muncul, dengan reflek Sean melemparkan benda-benda di atas meja padanya. Namun, benda-benda itu dapat menembus jendela sistem dan sistem kembali muncul.
“Sistem gila! Tidak akan pernah! Tidak peduli hukuman apa yang akan kau berikan, aku tidak akan mau mengerjakan misimu kali ini. Dasar sistem gila!” cercah Sean yang sudah menjadi.
Orang yang tidak sengaja mendengarkan itu pasti akan menganggap Sean gila, apalagi bila Zavier yang mendengarkannya. Lima menit lagi sudah pasti ada ambulance rumah sakit jiwa datang untuk menjemput Sean. Sean benar-benar dianggap gila. Beruntung, Zavier duduk di ruangan dan menyumpal kedua telinga dengan lagu hip-hop favoritnya.
[Hadiah Spesial: Mikro Spaces tipe limited edition]
Sean hanya melirik pengumuman dari hadiah sistem, tetapi wajahnya tidak tergerak sama sekali.
“Aku tidak akan tertipu dengan iming-iming hadiahmu!” cetus Sean yang tegak pada pendiriannya. Pemuda itu melipat tangannya dan memalingkan wajah.
Tidak membiarkan Sean menjadi jual mahal, sistem kembali menunjukkan informasi lainnya di dalam jendela sistem.
[Hukuman: Denda 1 miliar]
Meski berpura-pura tidak melihat, tulisan pada jendela sistem membuatnya berkeringat. Sean sudah tidak tahan dipermainkan oleh sistem! Dia benar-benar tidak tahan!
“Huwaaaaa! Sistem Sialan!”
Suara teriakan Sean kembali sunyi, bahkan lebih sunyi dari tanah makam di malam jumat kliwon.
Di kamar asrama 106, tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang, tetapi sebenarnya Sean ada di dalam. Dia duduk di kursinya dengan lesu dan meletakkan kepala di atas meja belajar. Tampak tubuhnya tidak bernyawa. Bila saja Zavier menemukannya dalam keadaan seperti ini, dia adalah orang yang dengan setulus hati membeli sebidang tanah di memorial park untuk Sean.
“Apakah aku harus merelakan 1 miliar untuk sistem?” Sean kembali mempertimbangkan pilihannya. “Tidak-tidak-tidak, aku sudah berjuang untuk menjadi seorang miliader, tidak mungkin bila aku rela melihat 1 miliarku lenyap dalam satu malam!”
“Apa sistem akan mentoleransi bila aku melukis tanpa objek nyata? Tapi bagaimana? Aku saja tidak pernah melihat tubuh bagian dalam seorang gadis!”
__ADS_1
Sean adalah pemuda baik-baik. Di umurnya yang cukup dia tidak pernah merasakan belaian seorang kekasih, apalagi harus melihat tubuh gadis tanpa pakaian. Itu tidak mungkin!
Sean kembali teringat akan seorang model yang dia miliki, tentu saja si gadis cantik Ellian pernah membuat kesepakatan dengan Sean untuk menjadi modelnya.
Hanya saja ….
Sean mencoba menghubungi Ellian, tetapi saat Ellian menjawab, panggilan itu ditutup Sean sepihak. Dia mencoba menenangkan diri dengan mengatur napas dan menghubungi Ellian kembali, tetapi lagi-lagi Sean memutuskan panggilan itu lagi. Dia benar-benar tidak bisa melakukannya.
“Mengapa aku membuat gadis polos seperti Ellian harus melakukan pose kotor? Ingat Sean, dia gadis dibawah umur! Kau juga harus ingat bahwa Ellian memiliki kakak laki-laki yang bisa saja memutilasimu!” Sean benar-benar tidak peduli pikiran kalutnya keluar melalui mulut.
Pada ketegangan itu, Sean teringat wajah kakak Ellian. Kenzo Karrin, si pelukis psikopat itu tidak akan segan menjadikan darah sean menjadi cat lukisnya.
“Hih! Menyeramkan!” Sean menggosok kedua lengannya yang merinding.
Kepala Sean kembali terkapar di atas meja dan saat itulah Luis datang. Pemuda itu baru saja menyelesaikan kelasnya dan berencana kembali di kamar asrama untuk istirahat.
“Tidak ada kelas, Sean?” sapa Luuis padanya.”
Sean kembali mengangkat kepalanya, tetapi ekspresi zombi pada Sean membuat Luis sedikit khawatir.
Sean mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu. Tanpa sadar, dia meraih lengan Luis dan berbicara dengan putus asa. “Luis, aku membutuhkan sesuatu. Aku butuh wa-ni-ta.”
Seorang polos seperti Sean telah mengucapkan kata-kata yang tidak bisa Luis percaya. Pemuda itu hanya mengerjap dan menelan ucapan kacau Sean.
“Wa-wa … apa? Wanita?” Luis tidak sadar ikut melontarkan pertanyaan yang masih diproses di dalam otaknya.
“Aku membutuhkan wanita!” jelas Sean dengan seruan.
Krik! Krik! Krik!
Suasana mendadak hampa. Tidak ada suara, tidak ada seruan dan tidak ada pertanyaan. Akan tetapi ….
“Sean! Kau gila!” Luis berkata dengan meninggikan berapa oktaf dari suaranya.
__ADS_1
***
Setelah menceritakan masalahnya, Luis berusaha membantu Sean. Luis tidak mengatakan detailnya dengan jelas, dia hanya menyuruh Sean membawa perlengkapan melukisnya dan menunggu datangnya malam.
Dengan menggunakan taxi, Luis membawa Sean di sebuah tempat yang benar-benar tidak pernah disangka Sean sebelumnya.
‘Canaria’
Mata Sean mendelik setelah membaca tulisan di dalam plakat bangunan itu.
Di kota ini, bahkan di negara ini tidak akan ada yang tidak mengetahui tentang ‘Canaria’, begitu juga dengan Sean. Sepolos apapun dirinya, nama ‘Canaria’ selalu disebut-sebut banyak orang yang didominasi oleh para pria. Itu adalah tempat penuh dosa, dimana para pria hidung belang menjajakan hasratnya.
Canaria Hotel, bukan hanya penginapan biasa, tetapi di dalamnya ada bisnis prostitusi terselubung.
“Luis, aku tahu hari ini aku sudah bertingkah gila, tetapi aku tidak menyangka kau lebih gilanya ketimbang diriku,” protes Sean dengan wajah memerah.
Luis hanya bergeming, dia juga mencoba menyembunyikan ekspresinya yang malu. “Hentikan gerutumu, segera masuk dan selesaikan keperluanmu.”
Meskipun Luis berkata seperti itu, sebenarnya kakinya kaku dan tidak ingin digerakan maju, tetapi mereka tidak bisa mundur dan terpaksa masuk.
Mereka memesan satu kamar dan isinya, seorang pekerja random yang dipilihkan berdasarkan kata kunci cantik dan sekseeh. Tidak peduli, berapapun ukurannya atau berapapun tingginya rating penilaian yang sudah diberikan oleh pelanggan, mata Sean dan Luis sudah gelap, bahkan otaknya juga mulai pengap.
Di ruang tunggu, Luis dan Sean duduk bersebelahan dengan jarak yang cukup jauh. Mereka saling berpaling punggung, sama-sama bersedekap dan tidak saling berbicara. Mereka pun sama-sama menjaga mata karena di sekeliling banyak sekali wanita berpakaian mini berlalu-lalang di depannya, sehingga hanya dengan menutup mata rapat membuat naluri pria normalnya terkontrol dalam zona aman.
“Hei, Luis. Apa kau pernah datang ke tempat ini sebelumnya?” Tidak mengubah ekspresi, Sean memulai pembicaraan.
“Aku tidak pernah melakukan hal itu! Kalau tidak karena dirimu … tentu saja aku tidak akan menginjakkan kakiku ke tempat ini,” ungkap Luis yang juga sama-sama tidak merubah ekspresinya.
Sean merasa bersalah, dia tidak punya pilihan selain meminta maaf dan maaf lagi.
Pembicaraan itu terhenti saat salah seorang pemandu datang dan mengatakan bahwa kamar dan wa-ni-ta yang mereka pesan sudah siap.
Dag-dig-dug, terdengar suara jantung mereka berdegup keras. Mereka tampak tegang sebelum memulainya.
__ADS_1
Misi melukis objek wanita tela*jang dimulai.