
Saat matahari sudah terbit dan cahaya masuk diantara sela-sela tirai jendela, Sean baru saja membuka matanya dan tidak bisa dipejamkan lagi. Meskipun tidak ada jadwal kelas, dia gagal untuk melanjutkan tidurnya kembali.
"Identifikasi misi," ucap Sean lirih di atas ranjangnya yang nyaman.
Jendela sistem kembali muncul dengan membawa misi-misi yang belum diselesaikan.
[Lukisan Marionette: Belum diselesaikan]
[Lukisan Speak with Vagia: Belum diselesaikan]
[Lukisan Anathema: Belum diselesaikan]
[Lukisan Hidden Paradise: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Klandestin: Belum diselesaikan]
[Lukisan Skeptis: Belum diselesaikan]
[Lukisan Zero Balance: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Chain of Eros: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Mind Hole: Berhasil diselesaikan]
Setelah membacanya, Sean mendapati 4 misi yang belum terselesaikan, misi mendapatkan lukisan Marrionette, Speak with Vagia, Anathema dan Klandestin.
Dari nama-nama itu, nama Klandestin lah yang paling menarik perhatian Sean. Sepengetahuan Sean, Klandestin adalah sebuah istilah untuk sesuatu yang dilakukan secara diam-diam.
“Baiklah kali ini aku akan memilih 'Klandestin’," pinta Sean pada sistem. Namun, dia kembali terhenti saat mengingat tentang misi-misinya yang minim informasi. "Ah, pastikan misi kali ini memiliki informasi yang detail."
[Identifikasi Klandestin]
[Klandestin sedang diproses ….]
Tidak lama sistem kembali muncul dengan membawa informasi dari lukisan itu.
[Datang di Restoran Bintang pukul 12.00 p.m]
__ADS_1
[Anda sudah mendapatkan reservasi atas nama Sean Herdian di ruang 2]
Setelah membaca tulisan pada jendela sistem, sontak membuat Sean memandang jam. Sudah jam sembilan, kurang dua jam lagi jadwal yang telah ditentukan misi.
Mengingat keterlambatan Sean di misi sebelumnya, kali ini dirinya bertekad untuk datang tepat waktu. Akan fatal hasilnya bila dia benar-benar terlambat.
"Jadi siapa yang harus aku cari di tempat itu?"
Sistem yang merespon ucapan Sean segera memberikan informasi.
[Datang dan temui Luis Morgan]
[Klandestin adalah karya dari Luis Morgan]
Melihat apa yang ada di dalam jendela sistem membuat mata Sean terbelalak bulat.
"Apa katamu? Luis Morgan?" Begitu terkejutnya Sean sehingga tanpa sadar dia meningkatkan volume suaranya.
Karena namanya disebut-sebut oleh Sean, Luis yang sedang tidur di ranjang atas terbangun. Tanpa berpikir lama, di mendongak ke bawah untuk melihat hal gila apa yang sedang teman sekamarnya lakukan sepanjang hari.
“Apa? Apa kau memimpikanku?” komentar Luis dengan sebagian tubuhnya tergantung di ranjang atas.
“Astaga! Mengapa kau mengagetkanku!” protes Sean melempar bantal ke arah Luis. Meskipun benda itu tidak sampai menghantam Luis, dirinya turun dari ranjang atas dan duduk setelah memutar kursi ke arah Sean.
Sean sedikit takut bahwa Luis mendengarkan gerutunya tentang sistem. Namun, karena Luis tidak berkata apapun lagi membuat hati Sean menjadi setengah lega dan menganggap Luis tidak melewatkan apa yang tidak boleh dia dengar.
“Aku pikir kau ada kelas, apakah hari ini kelasmu kosong?” tanya Sean yang kembali memastikan bahwa sekarang ini sudah pukul sepuluh siang.
“Tidak, aku ada kelas, tetapi aku tidak akan mengikutinya.” Luis hanya bereaksi santai dan merenggangkan punggungnya di atas kursi. Kedua mata cokelat milik Luis menengadah di atas dinding dan kembali melihat jarum jam saat ini. “Ya, ada tempat yang harus aku datangi, tetapi itu hanya alasanku saja. Sebenarnya aku ingin membolos dan sengaja bangun siang.”
Alasan-alasan dari dirinya segera Sean hubungkan dengan permintaan misi dimana siang itu Sean harus menemui Luis dan membicarakan soal ‘Klandestin’ padanya.
Sebenarnya, Sean menganggap misi ini tidak terlalu sulit. Hubungan Sean dengan Luis bisa dibilang dekat sehingga akan memudahkan Sean untuk meminta bantuannya dan saat itu Sean yakin bahwa Luis tidak akan menolak.
“Baiklah, aku juga harus pergi,” ucap Sean yang bangkit dari ranjangnya. Pemuda itu berbalik menatap Luis dan melambaikan tangan. “Sampai bertemu nanti.”
Kode yang diberikan Sean gagal dipahami Luis. Luis hanya membalas lambaiannya dan melakukan kesibukan lain.
__ADS_1
***
Tepat di restoran Bintang, Sean segera masuk dan disambut pelayan di tempat itu. Saat Sean mengatakan sudah mereservasi ruangan 2, pelayan memandu ke tempat tujuan dan langsung menyiapkan menu hidangan yang sesuai dengan yang telah dipesan.
Sean datang lebih awal, bahkan membutuhkan waktu satu jam lagi untuk dapat sesuai dengan jadwal yang diberikan sistem.
Tidak ada salahnya bagi Sean untuk memulai makan siangnya terlebih dulu. Apalagi di atas meja sudah tersedia makanan khas timur yang menggoda selera.
Saat Sean akan menggerakan sumpitnya untuk mencicipi bebek peking, Selintas dirinya melihat Luis datang dan masuk ke dalam ruangan yang ada di depan Sean.
Luis tampak tegang sehingga tidak melihat keadaan sekitar. Namun, itu justru menguntungkan bagi Sean agar kehadirannya tidak ketahuan di awal.
Melihat hal itu, Sesn menggagalkan niatnya untuk makan dan beralih berdiri di dekat pintu. Serentak Sean juga melihat Dev Morgan-ayah Luis yang juga masuk ke ruangan itu.
Pintu yang dibiarkan terbuka membuat Sean dapat melihat keadaan di ruangan Luis dengan jelas. Tampak Dev Morgan duduk di hadapan anaknya dan ….
'Brak!' Sebuah kekacauan terdengar.
Di dalam ruangan itu, Dev Morgan mengeluarkan kertas-kertas gambar dan membantingnya di atas meja.
Bunyi keras itu benar-benar mengejutkan. Sontak Sean tersentak, begitu juga dengan Luis yang berada di depan meja itu. Namun, ekspresi Luis membiru saat dia melihat gambar-gambar yang sudah berserakan di atas meja.
Gambar-gambar itu adalah lukisan karya Luis yang sebagian berhasil dijual. Tidak ada yang tahu bagaimana Dev Morgan memilikinya, sudah pasti dia menyelidiki pergerakan anaknya sendiri.
Adalah hal wajar bila anak konglomerat seperti Luis begitu diperhatikan, apalagi Luis adalah satu-satunya anak yang akan mewarisi Morgan Investment. Namun, mengetahui bahwa pewarisnya terjun dalam bidang seni bukanlah hal baik bagi Dev Morgan.
“Apakah kau tidak belajar dengan benar?” Seruan pria paruh baya itu begitu keras, sampai memengking pada telinga Sean yang ada pada jarak beberapa meter darinya. Beruntung tidak ada pelanggan di privat room lain, kalau tidak … sudah pasti mereka akan memanggil petugas keamanan dan mengusir pria terhormat itu keluar dari restoran.
“A-ayah … ba-bagaimana kau bisa mendapatkan lukisanku?” Dengan bibir bergetar, Luis berupaya untuk bertanya. Namun, Dev Morgan mengabaikan pertanyaan itu.
Dengan penuh amarah Dev Morgan mengambil lukisan Luis dan melemparkan ke arahnya. “Berani sekali kau membuang waktu untuk itu! Tidak hanya melukis, kau juga menjualnya seperti seorang pengemis!”
Bagi Dev Morgan yang adalah seorang investor ternama, melukis adalah sesuatu yang membuang waktu. Setidaknya dia ingin anaknya Luis fokus belajar bisnis. Namun, yang didapatkannya berbeda. Anak semata wayangnya melakukan hal yang tidak dia suka dan bahkan Luis juga menjual karyanya. Semua yang dilakukan Luis akan menghancurkan kehormatan Morgan.
Di dalam ruangan, Sean berusaha memahami situasi. Dia benar-benar teringat bahwa dirinya -lah yang mendorong Luis untuk melukis dengan Carla yang menjadi modelnya. Hasil dari lukisannya dia gunakan untuk menyewa tempat tinggal Carla dan sisanya entah untuk apa.
Ucapan tinggi Dev Morgan semakin menjadi, bahkan dia memukulkan kertas-kertas itu pada anaknya. Luis yang tanpa daya hanya bisa menahannya tanpa memberikan perlawanan.
__ADS_1
Setelah Dev Morgan melampiaskan amarahnya, dia segera keluar dari ruangan dengan cepat sehingga Sean yang sedang menonton adegan itu segera bersembunyi di balik pintu. Nyaris ketahuan, beruntung tubuh Sean bergerak dengan cepat.