MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Bonus Sistem


__ADS_3

Setelah kelas usai, Sean kembali ke asrama. Di sana sudah ada Luis yang tampaknya sibuk di atas meja belajar. Dia sedang merekap data-data mahasiswa.


“Apakah kelasmu sudah selesai?” sapa Luis.


“Benar, tidak banyak kelas yang aku ambil hari ini.” Sean meletakkan tas di atas mejanya. Tidak sengaja dia melihat data yang sedang dicatat oleh Luis. “Apa yang sedang Kak Luis lakukan?”


Luis beralih menatapnya dan tersenyum. Dia sengaja memperlihatkan tumpukan kertas yang berisi sebagian data mahasiswa dan kebetulan bagian kertas teratasnya adalah mahasiswa seni. “Aku hanya mencatat ulang data-data untuk kebutuhan acara akhir semester.”


Sejauh ini Sean melupakan jabatan Luis yang menjadi ketua badan eksekutif mahasiswa. Tentunya dia memiliki berbagai macam kegiatan yang membutuhkan data-data mereka.


Pandangan Sean tidak bisa lepas dari kertas-kertas itu. Kertas itu tidak hanya berisi nama dan biodata, tetapi juga menyertakan potret diri, rupanya itulah yang membuat Sean tertarik.


Foto 60 mahasiswa seni yang adalah teman satu tingkatnya juga pasti ada di dalam tumpukan. Sean harus mendapatkannya sehingga penyelesaian hukuman dari sistem dapat diselesaikan dengan mudah. Dengan foto-foto itu, dia akan melukis mereka.


Mendadak Luis melihat jam, dia tampak teringat sesuatu yang dilupakannya. “Ah, aku ada kelas saat ini. Aku harus segera pergi.”


Luis membiarkan tumpukkan kertas itu di atas meja dan membereskan barang bawaannya. Pemuda itu tampak terburu dan pergi.


Setelah Luis keluar dari pintu asrama, Sean mengintip di sela pintu dan memastikan bahwa Luis tidak akan kembali dengan cepat. Dirasa sudah amat, Sean segera menutup rapat pintu kamar dan melakukan aksinya.


Pemuda itu mengeluarkan ponsel dan mengambil foto dari 60 mahasiswa yang akan dilukisnya hari ini. Dia benar-benar bekerja dengan cepat untuk tidak ketahuan. Sean tidak ingin Luis kembali dan memergoki dirnya. Akan terasa sangat canggung bila itu terjadi dengan teman satu kamar.


Tanpa banyak Drama, Sean membawa buku gambar dan perlengkapannya, kemudian pergi.


***


Di kursi taman yang sekelilingnya sedang ramai lalu-lalang orang, Sean mengabaikan keramaian itu dan fokus pada kertas gambar. Dia menggunakan cat air hitam dan putih untuk polesan warna dalam lukisannya.


60 wajah itu siap digambar!


“Aku harus melakukannya dengan cepat sebelum waktunya habis.” ungkap Sean.


Melukis 60 wajah teman sekelasnya adalah hal mustahil untuk diselelsaikan, tetapi Sean memiliki cara lain untuk dapat diakui sistem dan menyelesaikan hukumannya.


Dengan melihat kelemahan sistem, Sean tidak perlu melukis sketsa wajah yang bisa menghabiskan waktu seharian. Sistem tidak menuliskan detail dari hukumannya, sistem hanya mengatakan untuk menulis teman satu kelas Sean.


Berdasarkan hal itu, Sean mempersingkat proses lama dari lukisannya. Dia melukis wajah-wajah mereka tanpa warna dan hanya menonjolkan ciri-ciri fisik tanpa memperhatikan detail. Tidak akan menyita banyak waktu untuk sekedar melukis gambar sederhana dan acak-acakan. Sean bisa terlepas dari hukuman itu.


Sean  menyelesaikannya hingga tidak sadar matahari sudah akan terbenam. "Yes, selesai!"

__ADS_1


Pemuda itu menutup buku gambarnya. Saat itu juga, jendela sistem muncul.


[Selamat! Hukuman telah diselesaikan]


[Tidak ada hadiah dalam penyelesaian hukuman]


[Misi harian akan diberikan setelah 24 jam]


Ekspresi lelah Sean bercampur dengan kecewa. Seharusnya dia menyelesaikan misi harian ketimbang mendapat hukuman. Namun, semua sudah terlambat dan Sean tidak memiliki cara selain membiarkannya berlalu.


Sean kembali dikejutkan dengan kemunculan lain pada jendela sistem.


[Anda mendapatkan bonus!]


[Makan gratis di restoran bintang]


[Voucher hanya berlaku untuk hari ini dan akan hangus setelah restoran tutup]


[Voucher akan dikirimkan melalui email]


[Selamat menikmati!]


Sesuai apa yang dituliskan, voucher gratis makan sepuasnya di restoran bintang. Itu adalah restoran mewah yang ada di lantai dasar hotel New Town. Restoran itu terkenal dengan citra rasa dari makanannya, tempat yang nyaman dan merupakan tempat berkumpulnya para sosialita negeri. Tanpa sistem, orang  seperti Sean tidak akan mampu masuk di tempat itu.


Sean tidak akan membuang kesempatan itu. Dia segera bergegas untuk pergi dan memuaskan perutnya yang sudah keroncongan.


***


Setelah sampai di restoran bintang, dia menyerahkan voucher di ponselnya pada pelayan yang berjaga di depan pintu masuk. Setelah menerima itu, pelayan wanita mengantarkan Sean di privat room.


Restoran ini memiliki meja dalam ruangan dan beberapa meja di ruangan terpisah yang nyaman. Tidak disangka sistem memiliki selera tinggi dan Sean begitu beruntung mendapatkan voucher ini.


Sean masuk di salah satu ruang yang cukup luas dan terdapat sebuah meja panjang dengan delapan kursi. Cukup disayangkan hanya Sean  seorang yang menikmati fasilitas privat room


Segera, pelayan itu memberikan buku menu.


"Apakah voucher memiliki batasan harga atau menu tersendiri?" Sean bertanya sambil melihat-lihat tulisan di buku menu.


"Tidak ada batasan, anda bebas memilih menu apapun sepuasnya."

__ADS_1


Sean tersenyum girang tanpa perlu ketakutan akan membayar sejumlah uang untuk makanannya. Bila terjadi hal di luar kendali, Sean tidak perlu khawatir akan kekurangan yang harus dibayar selama 1 miliar ada di dalam ATM.


 


"Rekomendasikan saja menu handalan restoran ini dan untuk menu minuman pilihkan yang mengandung soda," pinta Sean.


Pelayan pergi dan beberapa saat kembali datang membawa pesanannya. Saat ini, di atas meja sudah ada jumbo lobster, bebek peking, beberapa olahan daging sebagai hidangan utama, cream soup sebagai hidangan pembuka, custard sebagai hidangan penutup.


Jumlah yang cukup berlebihan bila hanya disantap satu orang saja, tetapi sebisa mungkin Sean tidak akan menyisakan satu pun piring di mejanya.


Minuman pesanan Sean belum juga disajikan, itu membuat Sean berencana pergi menemui salah satu pelayan, tetapi saat pintu ruangan sedikit dibuka, sebuah obrolan terdengar.


"Apa yang ayah lakukan dengan mengirim Sean di universitas?" 


“Ya, aku yang mengirimnya.”


Mendengar namanya disebut membuat Sean membatalkan niatnya untuk keluar.


Kedua suara dalam percakapan itu terdengar tidak asing. Apalagi nama Sean sudah disebut dalam percakapan tadi.


Untuk berjaga-jaga agar kehadirannya tidak diketahui orang yang Sean kenal, dia bersembunyi di balik pintu. Mata hitam Sean mengintip di sela pintu yang sengaja dibukanya.


 


Benar saja, pemilik dari kedua suara itu adalah Frans dan ayahnya. Mereka tampak keluar dari privat room.


“Mengapa ayah melakukan itu?” desak Frans.


"Ini adalah keputusan ayah. Sean harus banyak belajar agar dapat kita manfaatkan, kecuali kau bisa jadi lebih baik dari Sean sehingga aku tidak membutuhkan bocah itu lagi,” komentar ayahnya dengan ringan.


Tampak wajah Frans tidak terima, dia masih bersikukuh atas kebenaran pendapatnya. “Dia sudah cacat, tetapi kau tetap memberikan kesempatan menjadi asisten kurator di galeri. Padahal, ayah telah melarangku untuk ikut campur urusan galeri sebelum aku bisa membuktikan nilaiku pada ayah, tetapi mengapa Sean tidak begitu?”


“Kau bertanya padaku, Frans?” Rift Ellinden terkekeh. “Karena tanpa tangannya pun, kemampuan seninya sudah menonjol dan penglihatan seorang Ellinden tidak akan pernah salah.


Sean melihat, Rift Ellinden pergi dahulu dan saat ini hanya ada Frans yang ekspresinya begitu kecewa. 


Tidak ingin ketahuan, Sean menutup pintunya rapat-rapat. Dia mendesah kesal atas percakapan yang baru saja didengar.


“Aku tahu bagaimana perasaanmu, Frans. Dibandingkan sibuk menghancurkan diriku akan lebih baik jika kau sendiri yang menambah nilaimu di mata Tuan Ellinden,” saran Sean yang tidak sampai pada Frans.

__ADS_1


__ADS_2