MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Pengaturan Kamar


__ADS_3

Setelah menyelesaikan kelasnya, Sean buru-buru mendatangi penanggung jawab asrama. Di sana dia bertemu dengan Zavier-orang yang sudah dicari-carinya.


Pria 26 tahun itu bertampang menyebalkan. Bagi Sean, melihat Zavier sama halnya dengan melihat Felix. Kesamaan wajahnya dengan Felix membuat Sean muak. Tentu saja karena mereka juga memiliki hubungan darah.


Zavier adalah kakak sepupu dari Felix dan tentunya dia tidak akan memihak pada Sean yang sering kali di bully adik sepupunya itu. Namun, sedikit perbedaan pada sikap baik darinya, dia tidak mau terlibat dalam urusan anak-anak asrama.


“Apa yang membawamu datang ke tempat ini?” Sejenak, Zavier menghentikan pekerjaannya dan menatap Sean yang baru datang. Namun, tak lama pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sean masuk lebih dalam pada ruangan Zavier dengan kaki yang tertatih, bahkan kali ini dia juga melebih-lebihkan kakinya.


“Kak Zavi, apakah aku bisa mengubah kamarku di lantai bawah?” pinta Sean sedikit memberikan ekspresi penderitaan.


Sebelumnya, Sean harus satu kamar dengan Felix di lantai tiga. Berulang kali dia meminta untuk mengubah kamarnya, tetapi Zavier menolak karena Sean tidak memiliki alasan khusus. Namun, kali ini Sean sudah menyiapkan pertunjukkan yang tidak bisa ditolaknya.


“Kak Zavi, dengarkan aku dulu.” Sean memelas. “Keadaan kakiku sedang tidak baik dan aku kesulitan untuk naik ke kamarku sendiri. Aku akan benar-benar kehilangan kakiku bila terus-menerus naik-turun di lantai tiga.”


Zavier kembali menghentikan pekerjaannya dan mengoreksi keadaan kaki Sean. “Apa keadaan kakimu ada hubungannya dengan dirimu yang melompat dari atap?”


“Entahlah, tetapi setelah kejadian itu kakiku menjadi bermasalah. Apa aku bisa mendapatkan kamar di lantai bawah?”


Tanpa menjawab Zavier pergi mengambil sesuatu dan tidak lama dia kembali. Pria itu memberikan sebuah kunci pada Sean. “Nomor kamarmu 106.”


Dengan senyum mengembang Sean mengucapkan banyak terimakasih dan pergi. Namun, selangkah dia keluar dari pintu, tampak Frans dan Felix menghadangnya.


“Apa yang kau lakukan, Pecundang?” Segera Felix memojokkan Sean. Pandangan mata Felix tertuju pada kunci yang ada di tangan Sean. “Kau mau kabur dari kamarku, hah?”


“Itu tidak benar, aku hanya kesulitan untuk naik sampai tiga lantai.” Demi apapun Sean berusaha mengontrol kesabarannya dalam menjawab.


Mengingat apa yang telah Felix lakukan, membuat Sean benar-benar ingin membunuhnya. Namun, kewarasan pemuda itu telah berhasil mencegahnya untuk berbuat kriminal.

__ADS_1


Benar, penderitaanku tidak akan cukup hanya dengan mengakhiri hidupnya. Felix harus menderita dan Sean hanya perlu menunggu saat dia memiliki kesempatan untuk membalaskan hal itu.


“Bukannya kau yang telah melompat dari atap, mengapa sekarang kau harus memiliki kamar di lantai bawah? Aku pikir kau menyukai ketinggian.” Suara Frans muncul dengan sebuah cemoohan.


Sean benar-benar menahan amarahnya, mengapa Frans begitu bodoh tidak pernah berpikir bahwa alasan dia melompat dari atap karena perintahnya pada Felix untuk menyakiti Sean.


Tidak mengubah ekspresi, Sean berhasil mengontrol perasaan. Dalam kepalanya, dia sedang menuliskan nama Frans Ellinden sebagai daftar orang kedua dalam balas dendam Sean. Dengan sistem yang baru, sudah pasti Sean dapat melawan Ellinden. Sean benar-benar tidak sabar menunggu saat itu tiba.


“Aku tahu aku salah, tetapi aku benar-benar membutuhkan kamar lantai bawah,” jawab Sean.


Dengan Sikap arogan, Felix yang ada di samping Frans langsung mengangkat kerah baju Sean. Dari tangannya yang sudah mengepal, tampak jelas dia akan segera mendaratkan tinjunya pada pemuda itu.


“Siapa yang telah mengizinkanmu berbuat lancang, hah?” sergah Felix yang semakin merapatkan cengkramannya.


Cengkraman itu begitu erat sehingga Sean kesulitan untuk melebarkan pita suaranya. Namun, tidak disangka suara seseorang dibelakang datang untuk membela Sean.


“Aku sebagai penanggung jawab asrama ini telah mengizinkannya.” Zavier menjawab dengan nada ringan. Pria itu datang pada adik sepupunya sehingga mau tidak mau Felix harus melepaskan kerah baju Sean.


“Tidak ada peraturan dari asrama yang melarangnya mengganti kamar dalam keadaan seperti itu.” Dengan bijak Zavier menjawab rengekan adik sepupunya tanpa kesulitan.


“Aku yakin dia hanya berpura-pura, Kak!” Felix tetap berkelit untuk mempertahankan sikap kekanak-kanakannya.


Namun Zavier hanya meringis, dia berpikir hanya dengan kaki yang pincang cukup bagus untuk kondisi seorang yang telah terjun dari atap.


“Kau pikir begitu? Itu terserah pada dirimu, silahkan berpikir sesuka hati. Namun, sepertinya kau memiliki banyak waktu luang jadi … aku memintamu untuk membereskan barang-barang Sean di kamarmu dan membawanya di lantai bawah.”


Mata Felix mendelik tidak percaya atas apa yang telah diucapkan kakak sepupunya sendiri. “Aku?”


“Sean tidak bisa naik untuk mengambil barangnya, dan kebetulan kau adalah teman sekamarnya. Apa kau butuh alasan lain?”

__ADS_1


Setelah mengucapkan kata-kata satu pihak, Zavier pergi dan meninggalkan adik sepupunya. Tidak ada yang bisa dilakukan Felix selain mengerjap dan menatap Frans.


“Lakukan seperti yang disuruh sepupumu. Aku harus kembali ke kamar.” Frans mengatakan itu tanpa mengubah ekspresinya, meskipun Sean tahu harga dirinya sedang terluka.


***


Di dalam kamar barunya, tidak ada seorang pun di sana. Ada dua ranjang tingkat, dua meja belajar dan dua lemari. Namun, salah satunya sudah terisi barang-barang, itu berarti seseorang sudah tinggal di sini jauh sebelumnya.


Tidak sempat memikirkan siapa teman kamarnya, Sean dibuat bingung oleh sesuatu.


[Misi Harian]


[Melukis dengan model]


Jendela sistem kembali muncul membawa misi baru.


Sean belum bisa berkomentar atas tugas harian dari sistem. Pikiranya sedang mencari-cari siapa model yang bisa dijadikan objek lukisannya?


Sean tidak memiliki banyak teman, apalagi dia harus berpura-pura menjadi cacat di lingkungan universitas. Tidak ada yang boleh tahu kemampuan melukisnya saat ini. Salah melangkah, kabar itu bisa langsung mencapai telinga Frans.


Tidak ada pilihan lain bagi Sean selain mencari model di luar lingkungannya. Setidaknya dia harus pergi ke tempat ramai sehingga dia dapat menemukan model yang cocok untuknya.


Sean segera membawa alat lukisnya dan hendak pergi. Namun, saat dia sudah ada di muka pintu, daun pintu terbuka dengan kasar dan sosok Felix ada di baliknya. Dia berdiri dengan membawa dua tas jinjing milik Sean yang tampak berat.


“Pecundang sialan! Aku akan membalas semua ini saat kakimu sembuh. Akan ku patahkan keduanya tanpa ampun!” ucap Felix dengan wajah yang ingin mengunyah jantung Sean.


Felix melempar kedua tas itu ke dalam kamar dan berbalik pergi meninggalkan sisa amarah, hingga dari kejauhan pun Sean dapat mendengar betul caciannya yang tidak bisa dihentikan.


“Pasti harga dirinya sedang terluka, tetapi mengapa Kak Zavi membantuku?” pikir  sean yang kembali disanggah sendirinya.

__ADS_1


Sean benar-benar tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain. Dia harus segera pergi untuk memenuhi misi hariannya dengan berpura-pura pincang. Berjalan dengan melenggang bebas di tempat ini akan memberikan resiko besar, tentunya Felix tidak akan sungkan untuk mematahkan kedua kaki normal Sean bila ketahuan.


“Mengerikan!” Dia bergidik sendirinya.


__ADS_2