MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Pertemuan Elit 'Golden Parallel'


__ADS_3

Pagi-pagi, Sean kembali dibangunkan oleh jendela sistem yang muncul tiba-tiba.


[Misi Harian!]


[Datang di acara ‘Golden Paralell’ dan temui  Levin Milline]


[Dapatkan lukisan ‘Curse Chain’ dari Levin Milline]


[Acara akan digelar di gedung Eleven Tower 10.00 wib]


"Golden Parallel?" Sean tampak berpikir dan secara tidak sadar telah menurunkan kedua alisnya. "Acara apa yang dimaksudkan?"


Sean mencoba mencari tahu ‘Golden Parallel' melalui mesin pencarian pintar dan dia menemukan bahwa banyak investor dan kolektor seni berkumpul di dalam acara itu. Tujuannya adalah mencari relasi atau keuntungan lain seperti mencari calon sponsor.


Di saat bersamaan, Najwa Wong mengirim sebuah pesan undangan di acara dan tempat yang sama.


"Bukannya ini terlalu kebetulan?" Sean tersenyum dan bangkit dari ranjangnya.


Di sisi lain, Luis tampak berbenah di depan cermin. Dia memakai pakaian yang terlalu formal untuk sekedar mengikuti kelas.


"Apa kau tidak ada kelas?"  tanya Sean padanya.


"Aku tidak menghadiri beberapa kelas hari ini. Ada sebuah acara yang harus aku hadiri." Luis berkata tanpa menoleh. Perhatiannya lurus pada bidang cermin.


"Ah, baiklah. Ada sebuah acara yang juga harus aku hadiri." Sean bergegas untuk mandi dan ketika dia kembali, Luis sudah tidak ada di tempat. Rupanya dia sedikit terburu untuk pergi.


Tidak seperti Luis yang memiliki koleksi jas mahal, Sean hanya mengenakan kemeja kotak yang ujung lengannya dilingkis. Penampilan yang bisa dikatakan cukup sederhana untuk seorang yang memiliki aset miliaran rupiah.


Ponsel Sean berdering dan nama Kenzo Karrin ada pada layar. Sean menerima panggilan itu sambil mengenakan sebuah jam tangan.


Sungguh, Sean sangat terkejut dengan apa yang diucapkan pria itu di dalam telepon. Kenzo Karrin mengatakan bahwa saat ini dia akan  menjemputnya di ‘Golden Parallel’ dan dirinya sudah berada di depan asrama.


"Kenzo Karrin, kedatanganmu membuat aku berada dalam kesulitan," desah Sean yang setelah menutup panggilan segera bergegas. Dia benar-benar akan kesulitan bila Frans ataupun Felix mengetahui hubungan dekat antara Kenzo Karrin dengan dirinya. Sebisa mungkin, Sean menghindari kemungkinan itu.


Pemuda itu keluar asrama dengan berpura-pura berjalan dengan tertatih. Terlihat sedan hitam milik Kenzo Karrin sudah terparkir di luar gerbang. Setelah dirasa aman, Sean menghentikan aktingnya dan berlari masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Hei, Bung! Jangan menjemputku seenaknya." Peringatan Sean tidak dipedulikan Kenzo Karrin. Pria itu  merapatkan kaca matanya dan menatap Sean dengan heran. 


"Apa yang sudah kau lakukan dengan berjalan seperti itu?" Kenzo bertanya tidak mengerti dengan apa yang sudah dia lihat dari dalam mobil.


Sean mengibas tangannya. "Sudahlah, aku seperti ini dalam kondisi tertentu."


Setelah mendapatkan penjelasan, pandangan Kenzo Karrin tidak juga pergi. Mata pekatnya menetap pada Sean dan tidak sedikit pun berpaling. 


"Apa?" tanya Sean terganggu.


"Apa kau yakin datang ke tempat pertemuan dengan memakai kemeja yang kau pakai?" Kenzo Karrin menggulir pandangannya dari atas ke bawah dan kembali mengomentari penampilan Sean yang dianggapnya tidak pantad. "Lihat dirimu! Kau seperti seorang berandal yang akan pergi untuk nongkrong bersama berandal lain. Bahkan, untuk penampilan laki-laki yang sedang berkencan tampak lebih baik ketimbang penampilanmu saat ini."


"Apa masalahnya? Aku bukan anak konglomerat yang memiliki setelan jas mahal?" protes Sean kesal.


Kenzo Karrin menggeleng beberapa kali, seolah tidak mengerti bagaimana bisa lukisan sekian miliar yang dimiliki Sean tidak dapat menggambarkan dirinya dalam berpenampilan. "Tidak bisa dibiarkan! Kita harus pergi ke suatu tempat sebelum datang ke tempat tujuan."


Mesin mobil dinyalakan dan benda itu melaju kencang di jalanan, tidak lama kendaraan berhenti di depan rumah Kenzo Karrin. Di tempat itu, tidak ada tanda-tanda kehadiran Ellian, tetapi Kenzo Karrin langsung menggelandang Sean untuk naik ke lantai dua tempat tinggalnya.


Di kamar Kenzo, pria itu mengeluarkan stel jas abu muda di dalam lemari dan segera dicocokan pada ukuran tubuh Sean.


Tidak banyak waktu untuk membeli pakaian baru, setidaknya Kenzo Karrin tidak perlu khawatir lagi atas penampilan Sean saat ini. Dia tidak bisa membuat Sean diabaikan oleh orang-orang yang ditemuinya di ‘Golden Parallel’ karena penampilan yang sebatas dengan kemeja kotak.


Di tempat bergengsi seperti ‘Golden Parallel’, penampilan seseorang mempengaruhi mata para investor ataupun kolektor. Itulah sebabnya Kenzo Karrin berusaha mengambil waktu singkatnya untuk merubah penampilan Sean.


"Apa yang harus aku lakukan di tempat itu?" Tiba-tiba Sean bertanya. Hal itu membuat Kenzo Karrin beralih memandangnya.


"Kau datang atas permintaan dari Najwa Wong, bukan? Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Najwa Wong, tetapi setidaknya aku bisa menebak secara garis besar. Dengan membawamu ke tempat itu, aku pikir Najwa Wong ingin mengenalkanmu dengan para investor seni yang dikenalnya."


Diri Sean terpuaskan atas prediksi yang diberikan oleh Kenzo Karrin. Setidaknya, dengan bantuan pelukis ternama sepertinya, akan membuat nama Sean ikut melejit. Kehilangan 500 juta tidak akan ada artinya dengan apa yang akan Najwa Wong berikan padanya.


Mendadak Sean menjadi tertarik dengan acara itu sehingga dia meminta Kenzo Karrin untuk segera membawanya di Eleven Tower.


***


Setiba di gedung, Sean dan Kenzo Karrin mendapatkan pelayan yang memuaskan. Mereka dipandu oleh seorang pelayan wanita untuk masuk ke tempat berlangsungnya acara. Di tempat itulah, mereka melihat Najwa Wong yang melambaikan tangan.

__ADS_1


"Kemarilah, ada orang yang ingin aku kenalkan pada kalian," sapa wanita itu yang langsung menggiring mereka pada sebuah kerumunan kecil. Dengan bangga, Najwa Wong memperkenalkan Sean sebagai calon pelukis hebat dan Kenzo Karrin sebagai seorang kurator yang memiliki penilaian bagus. Para investor itu menyambut kehadiran mereka dengan baik, itu karena pelukis besar seperti Najwa Wong yang membawa mereka.


Setelah berkeliling, Najwa Wong menemui seorang pemuda di meja prasmanan. Sosoknya dari belakang terlihat tinggi dan memiliki rambut cokelat yang mencolok, karakter fisik itu mengingatkan Sean pada diri Luis. Namun, Sean tidak akan percaya dengan apa yang sudah dilihatnya saat ini.


Saat pemuda itu menoleh dan memperlihatkan keseluruhan dari wajahnya, Sean mengenali dengan benar bahwa pemuda itu benar-benar Luis Morgan.


Dari tempat itu, Najwa Wong menyebutkan nama Sean dan Kenzo, tetapi Luis mengkonfirmasi bahwa dia mengenal salah satu dari mereka


"Hei, Sean! Aku tidak menyangka kau ada di tempat seperti ini." Luis terlebih dulu angkat bicara.


"Aku juga tidak menyangka Najwa Wong adalah orang yang kau kenal." Sean berbicara dengan ramah pada pemuda itu, dia juga menjabat tangannya dengan akrab.


Melihat hal itu, Najwa Wong dapat mengambil kesimpulan yang benar bahwa mereka saling mengenal satu sama lainnya.


"Aku pikir kalian sudah saling mengenal?" sela wanita itu pada mereka.


"Benar, Sean adalah teman satu kamarku di asrama." Semua pertanyaan dari Najwa Wong dijawab oleh Luis.


Najwa Wong tampak begitu tertarik antara hubungan Sean dan Luis, tetapi dia sadar bahwa dirinya tidak memiliki banyak waktu untuk memperpanjang pembicaraan. "Itu bagus, aku senang bila kalian lebih akrab dari sekarang. Baiklah, aku hanya perlu mengenalkan kalian dengan formal."


"Ah, Sean, ini adalah Luis Morgan. Dia adalah keponakanku."


Mendengar penjelasan dari wanita itu membuat Sean ingin memijat keningnya. Bagaimana bisa kesamaan nama Morgan yang dia kenal ternyata saling terhubung? Nama belakang dari Luis Morgan menjelaskan identitas aslinya, bahwa dia adalah keponakan dari suami Najwa Wong, yaitu Max Morgan.


Serentak itu, pikiran Sean kembali pada masa lalu dimana dia sempat melihat orang yang mirip dengan Luis di upacara pemakaman Max Morgan. Melihat hubungan darah mereka, sudah bisa ditebak bahwa orang yang Sean lihat benar-benar Luis.


Najwa Wong kembali menatap Luis dan memperkenalkan Sean sebagai salah satu orang yang istimewa baginya. “Luis, Sean adalah orang yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Dia adalah orang yang telah berhasil membawa ‘Hidden Treasure’ padaku.”


Sesaat itu Luis memberikan sebuah ekspresi yang sulit dijelaskan. “Aku dengar bahwa ‘Hidden Treasure’ dilelangkan di Under Tower dengan harga tinggi, tetapi kau berhasil mendapatkannya. Padahal, aku sudah lama mengincar benda itu dan aku tidak menyangka bila pada akhirnya kau yang memenangkannya. Namun sekarang aku dapat bernapas lega karena ternyata kau memberikan ‘Hidden Treasure’ pada pemilik aslinya.”


Sean dapat mengartikan bahwa orang yang bersaing di pelelangan saat itu adalah Luis sendiri. Pantas saja dia menemukan topi yang sama digunakan lawan lelangnya dengan topi Luis yang ada di kamar.


Perkenalan mereka berlanjut cukup seru. Meskipun Sean senang dapat bertemu dengan Luis, tetapi itu bukanlah pertemuan yang bermakna. Sean kembali pada tujuan utamanya, yaitu mencari Levin Milline.


“Levin Milline, di tempat yang penuh sesak ini, dimana aku bisa menemukanmu?”

__ADS_1


__ADS_2