
Di taman kota, Sean lebih memilih mengamati sekeliling. Wajahnya tampak frustasi karena belum juga mendapatkan model yang cocok untuk objek seninya. Setidaknya dia memiliki masalah yang lebih besar dari hal itu. Sean tidak memiliki kepercayaan diri untuk melukis di depan model.
“Mengapa sistem selalu memberikan pekerjaan yang tidak aku sukai? Tidak bisakah sistem hanya memberikan misi untuk melukis?” Sean menggosok rambutnya dengan frustasi.
Tanpa dapat menemukan model, Sean berencana pergi untuk pulang dan menyerah pada misi yang bisa jadi bernilai sekian miliar, tetapi di tengah perjalanan ada sebuah kejadian mengejutkan.
‘Brak!’
Seseorang menabrak Sean dari depan dan tubuhnya terdorong jatuh.
“Auh!” geram Sean kesakitan.
Dia jatuh di atas tanah dengan menahan seorang gadis di atasnya. Karena Syok, gadis berambut hitam panjang itu hanya terdiam di atas Sean.
“Hanya diam? Tidak bisakah kau menyingkir?” desak Sean. Namun, gadis itu hanya menggeleng tanpa mau bergeser sedikit pun.
Sean yang sudah tidak sabar segera duduk dan mendorongnya menjauh. Saat itulah Sean terperangah melihat wajahnya.
Gadis yang baru berumur 17 tahun itu memiliki kecantikan yang berbeda dengan gadis lain. Kulit putih yang seakan bercahaya, bibir merah mudah seolah dipoles dengan kuas merah muda dan mata hitam dengan sorot lembut. Sean dapat melihat bulu mata yang lebat naik-turun mengikuti pergerakan kelopak matanya. Begitu cantik seperti sebuah karya seni yang nyata. Wajah itu begitu sempurna untuk dijadikan model.
“Maaf,” ucapnya dengan lembut. Mata hitam dari gadis itu terarah pada baju Sean. “Aku tidak sengaja menabrakmu dan … membuat kemejamu kotor.”
“Kotor?” Sontak Sean langsung melihat kemejanya dan saat itu dia menyadari bahwa kemejanya sudah tertempel ice cream lengkap dengan cone -nya. “Hah?”
“Aku minta maaf sekali lagi, aku benar-benar tidak sengaja.” Gadis itu bangkit dan merendahkan tubuhnya dengan penuh penyesalan.
Hari ini benar-benar sial. Sudah gagal menemukan model, sekarang masalah bertambah. Entah bagaimana Sean harus menyingkirkan baju kotornya saat ini.
“Tidak apa-apa, hanya sedikit kotor dan bisa bersih dengan dicuci kembali,” jawab Sean.
Sean lebih memilih membereskan isi dari tasnya yang juga terjatuh dan berserakan di atas tanah. Dengan penuh toleransi, gadis yang ada di depannya ikut membantu.
“Ah, kau pelukis?” tanyanya saat memungut beberapa kuas dan cat.
“Aku hanya mahasiswa seni, sekarang tahun kedua.” Sean menjawabnya dengan asal, tetapi ekspresinya yang membanggakan tampak berlainan.
Ekspresi berbeda ditunjukkan gadis itu, wajahnya tampak cerah dengan mata lebar. Dia begitu antusias saat mengetahui bahwa pemuda yang ditemui adalah mahasiswa seni.
__ADS_1
“Waow, keren!” serunya penuh kekaguman. “Aku juga ingin menjadi pelukis dan berencana mendaftar ke fakultas seni, tetapi aku benar-benar payah dalam itu.”
“Hei apa lukisanmu bagus?” lanjutnya dengan pembicaraan panjang-lebar. Ucapan mendadak membuat Sean sedikit terkejut. Dia mengangkat pandangannya. “Bisakah kau mengajariku? Aku bisa membayarmu untuk itu."
Tidak ada rasa tertarik sedikit pun yang terbaca di wajah Sean. Kemungkinan dia akan tertarik dengan bayaran itu bila saja tidak ada 1 miliar dalam rekening. Namun, dia kembali berpikir untuk mendapatkan apa yang tidak dia miliki.
"Aku Sean, aku bisa mengajarimu apa yang aku bisa, tetapi sebagai bayarannya aku hanya ingin kau menjadi modelku setiap aku membutuhkanmu. Bagaimana?" Dengan tersenyum dia bernegosiasi. Pemuda itu pun tampak tak sungkan mengulurkan tangannya
Tawaran Sean begitu menggiurkan, bahkan gadis itu tampak mudah untuk menerima tawaran dari orang yang ditemui untuk pertama kalinya. "Sean, mari kita bekerja sama. Kau bisa memanggilku Ellian.
***
Di bawah langit sore, cahaya matahari hangat jatuh di atas wajah Ellian yang tengah berpose ringan. Meski tampak tidak melakukan sesuatu dan hanya berdiri sambil bersandar pada sebuah pohon, wajah polosnya telah berhasil menginspirasi Sean
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Sean sedang menatap lurus pada kertas gambar yang ada di depannya tanpa tahu bagaimana harus memulai. Ini adalah kali pertamanya Sean melukis dengan model, apalagi model yang dia miliki berwajah cantik dan pandai berekspresi lembut.
Saat ujung kuas menyentuh media lukisnya, Sean teringat akan kemampuan yang diperoleh dari misi harian.
"Benar, bagaimana cara aku bisa menggunakan kemampuan Dragon's Hand?" pikirnya.
Jendela sistem muncul seakan mengetahui kesulitan Sean. "Benar."
[Keterangan: Dragon's Hand dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan dasar melukis. Anda bisa menggunakannya dalam berbagai jenis lukisan]
[Catatan: Kemampuan hanya bisa digunakan satu kali dalam 24 jam]
Jendela sistem kembali muncul dengan menjelaskan pengaturan penggunaan kemampuan. Sejenak, Sean mencoba mencermati tiap huruf dari tulisan sistem yang tidak memiliki kerugian untuk dirinya sendiri.
[Anda ingin untuk tetap melanjutkan penggunaan kemampuan?]
"Benar," jawab Sean begitu lirih karena tidak ingin dianggap gila oleh modelnya.
[Kemampuan Dragon's Hand berhasil diaktifkan.]
Krik … krik …. Tidak ada yang terjadi setelah itu.
Sebuah cahaya yang keluar dari jari-jari ataupun seekor naga melilit tangannya benar-benar tidak terjadi. Benar-benar tidak sesuai dengan namanya. Akan tetapi Sean menyadari sedikit perubahan bahwa tangannya terasa begitu ringan seperti kapas.
__ADS_1
"Hei, Sean! Berapa lama lagi aku harus menjadi patung seperti ini? Kau tau, kakiku sudah kesemutan," kata Ellian yang tidak bisa mengubah ekspresinya dengan benar.
Sean menatapnya dengan malu, bagaimana bisa 5 menit lamanya dia membiarkan model berpose, sedangkan dia hanya meributkan diri dengan sistem.
"Ah, maaf. Aku akan segera mengakhirinya dengan cepat," hibur Sean langsung mematahkan kebosanan sang model.
***
Sean hampir menyelesaikan lukisannya dan itu membuat dirinya sendiri terkejut. Bagaimana bisa kertas yang dia lukis begitu indah, bahkan seperti bukan dari tangan Sean saja.
Perbedaan dari lukisan sebelumnya begitu mencolok, Sean tidak berpikir bahwa kemampuan yang digunakannya dapat berpengaruh sejauh itu.
Benar-benar keren!
“Sean, bagaimana?” tagih Ellian yang tampak lelah.
“Ahh, sedikit lagi.”
Sean terperanjat dan kembali fokus pada pekerjaannya. Namun, kesabaran Ellian sudah habis. Gadis itu menghancurkan posenya dan mendatangi Sean.
“Waow bagaimana kau dapat melukis sekeren ini!” Ellin terkagum saat melihat lukisan Sean.
Lukisan pada kertas ukuran A4 adalah tipe realistis yang menggambarkan Ellian dari sisi yang berbeda. Benar-benar terlihat begitu indah, bahkan Ellian dapat melihat jiwa dari dirinya berada dalam lukisan itu.
“Aku tidak menyangka akan sebagus ini, apa benar-benar kau adalah seorang mahasiswa? Kau benar-benar jenius!” Ellian mendorong sikunya dengan pelan..
Pujian berlebihan itu membuat Sean tersipu. Meskipun banyak yang telah mengatakan bahwa lukisannya bagus, tetapi dia dapat merasakan kesungguh-sungguhan dalam pujian Ellian.
“Apakah aku layak untuk mengajarimu?” Sean memastikan.
“Benar! Penilaianku pada seseorang memang tidak akan salah. Dengan ini aku tidak akan gagal masuk ujian universitas seni.”
Sean hanya tersenyum melihat kehebohan Ellian. Bahkan setelah dia menyelesaikan lukisannya, gadis itu tetap saja mengagung-agungkan dirinya.
Mereka bertukar nomor dan menjadwalkan hari dimana mereka bisa bertemu lagi. Ellian membutuhkan seorang tutor dan Sean membutuhkan seorang model.
Melukis dengan model tidak seburuk yang Sean pikir.
__ADS_1