
Welcome to the Vase Art Gallery!
Dengan desain fasad yang menarik, space ruangan di dalam galeri itu pun tidak kalah menariknya. Sean ikut dibuat kagum dengan setiap ruang lapang di dalam bangunan itu. Semua tampak indah, hanya saja … galeri belum siap dioperasikan.
Sistem hanya memberikan Sean galeri berupa bangunan mewah, tetapi tidak termasuk interior di dalamnya. Pada ruang kosong itu, Sean kembali terfikir untuk pengadaan rancangan desain dan pembuatan furnitur.
“Membuat interior di tempat ini pastinya akan menghabiskan banyak uang,” desah Sean memijat pelan keningnya.
Sean meninggalkan pesan pada Kenzo Karrin untuk mencarikannya seorang desain interior, tetapi tidak ada tanggapan dari Kenzo Karrin.
Di tengah itu, telepon Sean berdering dan sebuah panggilan dari Ellinden Gallery masuk. Di dalam sambungan telepon itu, Hendri yang merupakan seorang kurator di tempat itu memberitahu Sean untuk segera datang di galeri.
Lima lukisan dari Najwa Wong akan sampai hari ini, jadi dia memberikan Sean tanggung jawab untuk keamanan dalam penyimpanan lukisan.
“Benar-benar merepotkan,” gerutu Sean setelah telepon ditutup.
Meskipun Hendri telah memberikan bebas tugas selama satu minggu untuk Sean, tidak juga membuat pemuda itu puas. Namun, karena bekerja di sana adalah keputusan dari Rift Ellinden, Sean tidak bisa membantahnya dan terpaksa bekerja.
“Baiklah, saatnya bekerja lagi!” Sean meninggalkan galerinya dan pergi ke Ellinden Gallery.
***
Di tempat itu, Hendri menyambutnya dengan ekspresi rubah. Dia tersenyum dengan ramah seolah sedang menyambut kedatangan Sean kembali.
“Lama tidak bertemu denganmu, Sean.” Hendri datang menghampiri Sean dan membawanya untuk duduk.
“Ya, bagaimana persiapan pameran? Apakah berjalan dengan baik?” Dengan ekspresi datar, Sean enggan berbasa-basi. Dia duduk dan membaca kertas-kertas yang sudah tertumpuk rapi di atas mejanya.
“Tentu saja semua berjalan dengan baik, aku bekerja keras untuk itu.” Lagi-lagi ungkapan sombong Hendri tidak cocok dengan wajahnya yang tampak kuno. Namun, dapat terlihat dari ekspresi Hendri yang sudah puas dengan apa yang didapatkan sebelumnya. Tentu saja karena ulah liciknya Hendri yang membual bahwa dia lah yang berhasil membawa lukisan Najwa Wong membuat dirinya dibanjiri pujian.
Di tengah pembicaraan itu, seorang masuk dan mengabarkan pada Hendri bahwa lukisan-lukisan dari Najwa Wong yang telah dikirim sudah sampai. Hendri segera keluar bersama Sean untuk melihat keadaan lukisan itu.
Para kurir mengangkat lukisan-lukisan dari dalam mobil box dengan hati-hati dan mereka membuka peti kayu dengan begitu pelan.
“Gantungkan lukisan di sudut ini!” perintah Hendri menunjuk salah satu dinding galeri.
Para pekerja menjalankan perintah sang kurator dengan patuh. Mereka menggantung lima lukisan dengan sejajar. Sean pun tidak mau ketinggalan, dia mencoba bekerja sebaik mungkin.
__ADS_1
Dengan membawa sebuah buku, Sean mencatat nama-nama lukisan itu yang nantinya akan dimasukkan dalam katalog. Sean juga mengambil gambar lukisan itu dengan ponsel miliknya.
Lukisan pertama adalah ‘Wooden Wing’. Tampak lukisan dengan latar di atas awan sedang menunjukkan kumpulan Mallard yang dapat terlihat keanehan bahwa sayap burung itu digambarkan sebagai sayap dari pesawat kayu. burung-burung itu bergerombol dan menarik sebuah pesawat dengan paruhnya.
Gambar berikutnya adalah Faint of Shadow yang tampak sebuah lukisan di ambil dari sudut lensa basah dari kamera. Ditunjukkan bahwa sudut diambil dari jalan aspal gelap dengan lalu lalang bayangan manusia yang membentuk kurva-kurva.
Lukisan ketiga adalah ‘Under Space’ dimana Najwa Wong menggambarkan bawah tanah yang gelap dengan nuansa cahaya seolah ada di atas langit yang cerah.
Namun, Pandangan Sean beralih pada lukisan dengan nama ‘Gemstone’. Gemstone dapat diartikan sebuah permata dimana Najwa Wong melukis kemolekan dari merak dengan bulu-bulu yang penuh warna-warni permata.
Di antaranya, sebuah lukisan yang paling menarik adalah ‘Stuck’, seorang balerina menari di dalam toples kaca.
Dari lukisan-lukisan itu, karya dari Najwa Wong memang sesuai dengan julukannya yaitu ‘Nonsense’.
“Kau sudah mencatat hal yang diperlukan?” Hendri berjalan mensejajari Sean. Dia tampak menempel pada pemuda itu.
Sean yang sedikit tidak nyaman tidak bisa menutupi ekspresinya. “Ya aku sudah melakukannya.”
“Baiklah, susunlah kelima lukisan itu untuk menjadi katalog dan aku akan mengirim sisanya, dan juga …” Hendri memberikan kuci ruang penyimpanan lukisan Najwa Wong pada Sean. “Kau harus benar-benar menjaga lukisan itu.”
Sean mengangguk enggan, meskipun begitu dia menerima tanggung jawabnya. Pemuda itu segera menyingkir dari Hendri dan kembali pada mejanya. Dia segera menyusun lukisan Najwa Wong menjadi isi dari katalog pameran.
***
Sebagai seorang kurator yang bertanggung jawab di tempat itu, Hendri membawanya berkeliling melihat lukisan. Pria berkacamata bundar itu juga menyuruh Sean untuk ikut berkeliling dan menunjukkan lukisan dari Najwa Wong.
Sean tidak memiliki pilihan selain mengikuti perintah dari atasan. Dia menjelaskan satu per satu aspek di dalam lukisan, mulai dari aspek konseptual, fungsional, visual, estetik, teknik artistik dan aspek nilai dari karya itu.
“Kau bekerja dengan baik,” Frans berbisik di telinga Sean, sementara Sean tidak mengubah ekspresinya dalam menanggapi cemoohan itu.
“Apakah ada yang perlu kau butuhkan lagi di tempat ini?” Sean bertanya pada pertanyaan lainnya. Dia ingin menyelesaikan tugasnya dan membuat Frans pergi dari tempat ini. Sean benar-benar tidak ingin berlama-lama ada bersama Frans.
Sebaliknya dari Sean, Frans hanya tersenyum kecut. “Aku pikir pertemuan kita hari ini sudah cukup. Ah, lebih baik kau benar-benar bekerja dengan sungguh-sungguh bila tidak ingin mendapatkan masalah kemudiannya.”
Perkataan Frans yang abstrak itu membuat Sean menjadi tidak nyaman. Perasaannya menjadi tidak tenang, tetapi Sean tidak menunjukkan itu melalui ekspresinya. Dia hanya memandangi Frans yang berlalu pergi dari tempatnya.
“Apalagi yang akan dia lakukan untuk menghancurkan hidupku?” pikir Sean di tengah kesendiriannya.
__ADS_1
Sean mengabaikan pikirannya itu dan kembali bekerja.
Tidak terasa hari sudah malam, satu per satu pekerja sudah pamit untuk pulang, tidak terkecuali dengan Hendri. Kurator yang seharusnya memakai jam lemburnya untuk menyelesaikan persiapan pameran justru dapat melalang pulang dengan santainya. Benar-benar tidak bertanggung jawab!
“Kurang sedikit lagi,” Sean kembali menyelesaikan pekerjaannya. Dia ingin segera menuntaskan semua tugas dari Luis agar dapat meminta bebas tugas kembali. Sebagai seorang pegawai magang, keinginan itu seharusnya bukanlah hal berat untuknya.
Di tengah itu, ponsel Sean berbunyi dan itu adalah panggilan dari Kenzo Karrin. Dia menanggapi pesan Sean pagi tadi yang belum dibalasnya. Kenzo mempunyai kenalan seorang yang bekerja di bidang itu dan akan mengenalkannya pada Sean.
Untuk membicarakan detailnya, Sean meminta bertemu dan menyuruh Kenzo Karrin untuk menjemputnya di Ellinden Galleri.
Dengan tergesa Sean menutup laptop di atas meja kerjanya dan segera pergi keluar saat Kenzo Karrin kembali menghubunginya. Pria itu sudah menunggu di depan Ellinden Gallery. Akan tetapi, Sean tidak sadar bahwa ponselnya tertinggal di atas mejanya.
“Apa yang kau lakukan di tempat ini sampai tengah malam?” sapa Kenzo Karrin setelah melihat Sean masuk di mobilnya.
“Tentu saja bekerja sebagai pegawai magang, kurator gilaku memberikan tanggung jawabnya untukku dan yang mengesalkan aku tidak dibayar sesuai pekerjaanku,” keluh Sean yang sedang membicarakan Hendri dan Rift Ellinden.
Mobil sedan pun segera melesat pergi setelahnya.
***
Di sebuah Resto, Kenzo Karrin membawa Sean pada seorang wanita yang sebaya dengan usia Kenzo. Wanita cantik dan seksih itu mengenalkan diri dengan nama Soraya Bellian.
Soraya Bellian adalah seorang desainer interior yang namanya cukup dikenal. Tidak mudah meminta jasa darinya, butuh waktu lama untuk mendapatkan antrian. Namun, Soraya memberikan perlakuan berbeda untuk Kenzo Karrin.
“Aku membutuhkan bantuanmu untuk membuat interior sebuah galeri,” ungkap Kenzo Karrin yang secara gamblang menjelaskan tujuan dari kedatangan mereka.
“Galerimu? Kau membuat galeri sendiri?" Soraya Bellian kembali bertanya dengan tidak yakin. Bahkan karena ketidak yakinannya itu, dia mendekatkan wajahnya pada Kenzo Karrin tanpa mengedip satu kalipun
"Bukan, tetapi untuk Sean," balas Kenzo yang membuat ekspresi Soraya Bellian menjadi sedikit kecewa.
Mereka pun membahas kembali mengenai permintaan desain dari Sean dan Soraya Bellian berjanji akan menghubunginya lagi.
Setelah pertemuan itu Kenzo hendak membawa Sean kembali di asrama, tetapi mereka tidak bisa kembali secepat itu.
"Aku harus kembali, ponselku tertinggal," kata Sean menyadari bahwa ponselnya masih ada di atas meja kerja.
"Dimana? Ellinden Gallery?" terka Kenzo Karin benar.
__ADS_1
Sean mengangguk untuk mengkonfirmasi kebenarannya dan mereka bergegas untuk pergi ke Ellinden Gallery sebelum kembali pulang.