
Celaka! Ini benar-benar adalah hal buruk!
Sudah hampir satu jam Sean melewatkan waktu untuk datang ke klinik psikiatri dan bertemu Edian Ellison, dia benar-benar melewatkannya dan malah duduk santai bersama Ellian.
‘Srak!’
Sean segera bangkit dan pergi tanpa meninggalkan penjelasan apapun pada Ellian. Tidak peduli apa yang dipikirkan gadis itu, Sean menganggap misinya lebih penting. Dibandingkan takut mendapatkan hukuman karena gagal menyelesaikan misi, Sean lebih mengetahui bahwa misi tersembunyi ada untuk memenuhi koleksinya di Vase Art Gallery.
Untuk mengalahkan ketenaran dari Ellinden Gallery, Sean harus memiliki Galeri yang mengungguli tempat itu. Sebuah galeri megah dengan lukisan-lukisan bernilai tinggi yang menjadi koleksinya akan menjadi lawan yang sulit untuk menyaingi Ellinden Gallery. Untuk itu, Sean harus menyelesaikan misi-misi dari sistem.
Dengan tergopoh Sean berlari di tengah arus keramaian. Sial bagi Sean, ini adalah jam pulang kantor, trotoar jalan dipenuhi orang-orang yang baru saja pulang bekerja. Namun, Sean terus berlari mencari celah.
“Sudah hampir tiba!” serunya dalam hati saat melihat gedung berlantai dua yang adalah klinik psikiater.
‘Brak!’
Sebelumnya, beberapa kali Sean sudah menabrak orang-orang yang dilaluinya, tetapi kini dia menabrak lagi seorang wanita hingga terjatuh. Sadar akan kesalahannya, Sean segera mengulurkan tangan.
“Maaf, aku telah menabrakmu. Apakah kau terluka?” tanya Sean yang tidak sepenuh hati.
Meskipun dia tahu bahwa itu adalah kesalahannya, tetapi menyelesaikan misi adalah tujuannya. Dia terlalu buru-buru untuk itu dan tidak memperhatikan wanita yang ditabraknya, bahkan tanpa menunjukkan ekspresi menyesal.
“K-kau?” Sebuah kata-kata keluar dari mulut wanita itu.
Perhatian Sean teralihkan dan saat melihat wanita di depannya, sungguh membuat Sean terkejut. Bahkan, sejenak dia tertegun memperhatikannya.
Wanita itu adalah wanita yang sama saat ada di cafe Langit Malam dan dia adalah wanita yang tanpa Shiren sengaja menumpahkan gelas lemonde. Sean pun mengkonfirmasi kemeja motif kotak miliknya masih digunakan wanita itu untuk menutupi pakaian yang masih basah.
“A-aa, Kau … kau pria yang di cafe itu, kan?” Tidak disangka wanita itu mengingat jelas Sean, padahal tadinya dia hanya terdiam tidak mengucapkan satu kata dengan tubuh yang bergetar. “Sebenarnya tadi ak-”
“Maafkan aku, aku benar-benar harus pergi!” Belum selesai mengucapkan kata-katanya, Sean menyela dan mengakhiri percakapan itu segera.
Sean pun segera berlalu dan meninggalkan wanita itu sendiri.
***
“Edian Ellison. Apakah ada seseorang bernama itu yang bekerja di tempat ini?” tanya Sean setelah tiba di klinik psikiatri.
Seorang wanita berseragam yang duduk di meja resepsionis menanggapi Sean dengan ramah. “Maaf, bila yang kau maksud dengan Nona Edian Ellison, dia tidak bekerja di sini.”
__ADS_1
Tidak bekerja? Perkataan itu membuat Sean diam memikirkan sesuatu. Bagaimana bisa sistem memberikan informasi yang salah padanya? Namun, Pemuda itu menyadari bahwa dia telah melewatkan sesuatu hal yang penting.
Sean salah menalar informasi dari sistem. Tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa Edian Ellison bekerja di tempat ini, tetapi sistem hanya memberikan sedikit penjelasan agar pergi ke klinik psikiatri untuk bertemu dengan Edian Ellison. Bila bukan bekerja di tempat ini, sudah pasti dia adalah pengunjung.
“Apakah dia hanya datang berkunjung di tempat ini?” Sean kembali merevisi ucapannya. Namun, resepsionis di depannya terdiam meski tampak mengerti sesuatu.
Tempat ini adalah klinik psikiatri, informasi tentang pasien atau siapa pun yang mengunjungi tempat ini adalah privasi yang dilindungi. Tidak boleh ada yang sembarangan mengatakan informasi pasien dan aturan ini berlaku pada resepsionis itu.
“Lupakan pertanyaanku tadi.” Sean yang menyadari hal itu segera merevisi ucapannya. “Kali ini aku akan bertanya apakah Edian Ellison masih ada di tempat ini?”
Tampak jelas reaksi resepsionis itu menunjukkan ekspresi resah. Pandangannya melihat sekitar dan di saat keadaan sekeliling sepi, dia beralih pada Sean.
“Dia baru saja keluar beberapa menit sebelum kau datang.” Meski dengan ragu-ragu pada akhirnya resepsionis itu mengatakan hal sejujurnya.
“Baru saja keluar, katamu?” Mendengar hal itu, sontak Sean terkejut. Matanya terbelalak dan tanpa sadar dia meletakkan tangannya di atas meja resepsionis. “Bagaimana penampilannya? Ah, apa pakaian yang dia pakai?”
Resepsionis itu tampak berpikir dan mengingat kembali penampilan dari Edian Ellison, tetapi karena wajahnya yang cantik membuat penampilannya mencolok dan mudah diingat.
“Rambutnya panjang dan lurus.” Resepsionis wanita itu memperagakan rambut dari Edian yang panjang menutupi punggung. “Matanya sipit dan kulitnya putih. Bila tidak salah,dia memakai baju putih dan dia juga memakai kemeja luar dengan motif kotak.
Kriteria yang diberikan resepsionis sungguh terdengar tidak asing bagi Sean. Ada seorang wanita yang berpenampilan seperti itu pada ingatannya dan mata Sean seketika terbelalak seakan dia telah menemukan jawaban.
Tanpa ragu resepsionis itu mengkonfirmasi kebenaran dari ucapan Sean dan itu membuat dirinya lebih terkejut lagi. Pasalnya, dia sudah menyadari bahwa ciri-ciri kemeja yang dikatakannya sama persis dengan kemeja Sean yang diberikan pada wanita di cafe Langit Malam. Bahkan, ciri-ciri fisik wanita itu pun sama persisnya dengan apa yang diucapkan resepsionis. Parahnya, wanita itu adalah wanita yang ditabraknya barusan.
Sean segera keluar dan mencari Edian Ellison ke tempat semula, tetapi nihil. Hanya ada orang-orang yang berlalu-lalang di tempat itu.
“Argh, Sial!” cercah Sean mencemooh atas kegagalan yang ada pada dirinya.
Bila saja dia menanyakan dulu nama wanita yang telah ditabraknya, hal seperti ini tidak akan terjadi. Sean terlalu ceroboh dan itu menyebabkan masalah untuk dirinya sendiri.
“Sistem?” Di tengah keputusasaannya, Sean teringat akan keberadaan sistem. “Identifikasi Edian Ellian.”
[Informasi sedang diproses ….]
Tidak lama jendela sistem kembali muncul dengan informasi. Namun, setelah membaca itu, terlukis jelas ekspresi ketidakpuasan pada wajah Sean.”
[Edian Ellison adalah pelukis ‘Mind Hole’]
[Keterangan: Pasien dari klinik psikologi]
__ADS_1
"Hanya itu?" Protesnya. Tidak lama jendela sistem kembali muncul.
[ … Keterangan lain tidak ditemukan]
“Sistem tidak berguna!” desah Sean kesal.
Meskipun sudah memaki sistem yang ada pada dirinya, Sean tetap merasa buruk. Penyesalannya karena mengabaikan Edian Ellison tidak mudah dihapus begitu saja.
“Maaf?” Sebuah suara yang tidak asing ada di belakang Sean. Ucapan seorang wanita yang tampak ditujukan padanya, sehingga pemuda itu segera berbalik dan sungguh mengejutkan Edian Ellison yang dia cari-cari tepat ada di belakang. ”Kau pria yang tadi kan? Ah, aku menunggumu di sini.”
Entah keberuntungan apa yang Sean dapat kali ini. Edian yang dikiranya sudah tidak ada di tempat justru muncul di belakangnya. Semua akan menyebutkan kebetulan ini sebagai sebuah berkah dari dewi fortuna.
Wanita itu mendekat ke arah Sean sambil memegangi ujung kemejanya dengan rapat. Dari gelagatnya Sean tahu bahwa pakaian Edian masih basah terkena lemonde Ellian.
“Ya? Mengapa kau masih ada di tempat ini?” Meskipun Sean tahu bahwa seharusnya Edian Ellison pergi, dia menutup informasi dari dirinya dan berpura-pura tidak mengerti.
“Itu …” Edian tampak menunduk malu. Saat itu, Sean dapat melihat wajahnya yang bersemu merah dengan mata yang berbinar indah. “Aku hanya ingin mendapatkan nomormu.”
“Kau menungguku disini untuk mendapatkan nomorku?” Sean berbalik bertanya tidak mengerti.
“Aku akan menghubungi saat mengembalikan pakaianmu,” ucap Edian yang masih tertunduk.
Mata Sean melirik pada kemejanya yang masih dipakai Edian. Benar, kemeja itu telah menyelamatkannya. Setidaknya, kemeja itu telah memberi kesempatan pada Sean untuk mendekati Edian Ellison.
Sean memberi kartu nama dan memberikan tumpangan pulang dengan menggunakan taxi. Meskipun awalnya menolak, tetapi pada akhirnya wanita itu menerima tawaran Sean.
Edian Ellison tinggal di kawasan yang tidak jauh dari kampus Sean, tepatnya di sebuah rumah susun berlantai 4 dan dia tinggal di salah satu unit lantai itu.
"Apa kau ingin mampir sambil minum teh?" Dengan berani Edian menawari Sean untuk masuk ke tempat tinggalnya.
Ini adalah apa yang diharapkan, tentunya Sean tidak akan menolak kesempatan langkah ini? Dengan mudah Sean akan menggali informasi tentang lukisan 'Mind Hole'. Namun, saat mata nakal dari Sean melirik tepat pada Edian Ellison, dia menyadari bahwa wanita itu benar-benar cantik.
Edian segera membawa masuk Sean di pintu nomor 405. Sesuai yang diharapkan, unit dari rumah susun itu tidaklah luas. Hanya ada satu petak ruang tamu yang menyatu dengan dapur dan kamar mandi maupun kamar tidur yang terpisah.
Setelah membawa Sean masuk dan duduk di ruang tamu, Edian pergi ke dapur untuk membuatkan teh yang dijanjikannya.
Di tengah kesendirian itu Sean terheran bagaimana wanita polos itu bisa-bisanya membawa pria asing masuk di rumahnya, apalagi Sean memiliki keinginan lain untuk me-ner-kam-nya.
Tidak sempat membuat naluri prianya menjadi lebih buas lagi, tatapan Sean menyasar pada lukisan di salah satu sisi dinding.
__ADS_1
"Astaga! 'Mind Hole'!" seru Sean tampak antusias.