MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Hukuman


__ADS_3

[Misi Harian]


Jendela sistem muncul dengan misi harian baru.


Sean yang masih ada di bawah selimut hanya bisa mengerjap dengan sisa rasa kantuk. “Tugas sulit macam apa lagi yang kau berikan?”


[Mendapatkan seorang sponsor]


“Seorang sponsor? Hah?” Menyadari apa misi kali ini membuat Sean terperanjat dan terpaksa sadar dari mimpinya. “Sistem gila! Kau pikir cari sponsor itu mudah?”


Sean tidak sengaja meninggikan kata-katanya, dia juga tidak sengaja melempar bantal miliknya di sembarang arah.


“Sean, apakah kau baik-baik saja?” Di sudut kamar, Luis berdiri memandangi Sean. Tampak dia sedang membenahi lengan kemejanya dan merapikan diri.


Hal itu membuat Sean terkejut. Tentu saja karena dia melupakan keberadaan teman sekamarnya.


“Ah, ya. Aku hanya bermimpi buruk.” Sean berkelit.


Pemuda itu berusaha menyembunyikan keberadaan sistem yang ada pada dirinya. Meskipun dia mengakui yang sebenarnya, tidak ada jaminan bahwa Luis tidak akan menganggapnya gila. Benar-benar memalukan!


“Ah, baiklah. Apa kau tidak ada kelas hari ini?” tanya Luis yang membuat Sean kembali mengingat-ingat jadwal.


Sean bangkit dari ranjang dan mengambil ponselnya. Dia sedang melihat jadwal kelas, tetapi justru jadwal kegiatan hari ini yang dia temukan. 


Hari ini dia sudah terikat janji untuk menjadi tutor dari gadis yang ditemui di taman kemarin. Sean harus memenuhi janjinya karena Ellian yang sudah bersuka hati menjadi modelnya berkontribusi dalam keberhasilan menyelesaikan misi harian dari sistem.


“Tidak ada kelas hari ini, tetapi aku harus bersiap pergi di suatu tempat,” jelasnya.


Tidak ada pertanyaan lain dari Luis, pemuda berambut cokelat itu lebih memilih menata rambut dan bersiap-siap untuk berangkat. Sementara, Sean masih tertahan di kamar asramanya. Dia sedang sibuk membalas pesan dari Ellian.


“Hari ini aku akan menjadi tutor yang baik,” gumam Sean segera bersiap.


***


Sean datang lebih awal di tempat janjian, tetapi orang yang ditunggunya belum juga datang. Dia tidak menyangka harus menunggu kedatangan seorang gadis di taman. Pertemuan ini lebih mirip dianggap kencan.


“Apa yang kau pikirkan Sean!” Sean menghardik pemikirannya sendiri. Bahkan, tanpa sadar dia menggeleng seakan sesuatu hal kotor memasuki kepalanya.

__ADS_1


“Apa yang sedang kau pikirkan?” Suara seseorang menyadarkan lamunannya.


Di hadapan Sean sudah ada Ellian yang berdiri dengan pakaian serba branded. Pakaian mahal tampak begitu serasi melekat ditubuhnya. Pemuda itu tercengang sesat, tetapi kembali sadar bahwa Ellian sudah datang beberapa saat lalu.


“Hanya memikirkan beberapa tugas di kampus. Aku harus bisa membagi waktuku untuk kuliah dan menjadi tutormu.” Sean berbohong demi mencari alibi.


Pembicaraan ringan itu berlalu dan mereka segera membuka buku gambar masing-masing. Di sana Sean memulai dengan pelajaran remeh-temeh, misalkan hanya menarik garis lurus, menggambar lingkaran sempurna … yang lama-kelamaan membuat kesabaran Ellian hilang tak tersisa.


“Apakah aku harus mempelajari ini semua?” kesal Ellian semakin menjadi. Gadis itu menutup buku gambarnya dengan keras dan menjauhkan benda itu dari dirinya.


Sean memahami kebosanan Ellian, tetapi itu tidak berarti karena dia telah mendapatkan ide singkat di kepalanya. Pemuda itu hanya ingin melihat kemampuan awal dari Ellian.


“Baiklah kita coba yang lain.” Sean membuka buku gambar dan mencari porto lukisannya. Salah satu lukisan sederhana ditunjukkan pada Ellian yang tengah menguap beberapa kali. “Kau bisa lihat ini? Coba tirulah gambar ini sekarang.”


Sean memperlihatkan sebuah lukisan seorang gadis bertopi membawa rangkaian bunga dengan latar hamparan mawar. Itu bukan sebuah lukisan yang menunjukkan detail yang sulit dan tampak mudah untuk sekedar menirunya.


Bagi orang awam seperti Ellian, kemungkinan besar dia tidak akan bisa menirunya dengan sempurna, tetapi Sean sudah berekspektasi bahwa hasilnya tidak akan terlalu buruk juga.


“Kau menyuruhku untuk melukis ini?” Tanggapan ringan Ellian tampak meyakinkan bahwa lukisan itu bukanlah hal sulit untuk dirinya. Saat Sean mengangguk, Ellian segera menggoreskan warna di atas kertas. “Percayalah, itu bukan hal sulit.”


Sejenak Ellian serius dalam mengerjakan pekerjaan yang diberikan Sean, itu membuat pemuda itu sedikit lega karena gadis yang akan ditutorinya setidaknya dapat menguasai dasar dari teknik lukisan. Namun nyatanya ….


Hancur! Bagaimana bisa Ellian menghancurkan lukisannya sendiri?


Gadis di dalam lukisan Ellian tidak tampak seperti gadis normal, itu justru lebih mirip dengan karakter Zombie dengan panci di kepalanya dalam serial game ‘Plants of Zombie’. Tidak hanya itu saja, karangan bunga yang dibawa dalam lukisan itu lebih tampak seperti bunga bangkai dan berlatar lautan darah. Sungguh epic sekali!


Sean benar-benar ingin menangis saat meratapi karya dari Ellian. 


“Apa? Apa hasilnya buruk?” tanya Ellian dengan wajah polosnya.


Dalam hati Sean sudah penuh cercaan akan lukisan itu, tetapi dia terpaksa tersenyum dan membalikkan fakta. “Cukup bagus untuk seorang pemula.”


“Benarkah?” Ellian bereaksi atas pujian itu. Namun, wajah cerahnya kembali layu saat dia menyadari bahwa tutornya sedang tidak berkata jujur.


“Akan lebih baik bila kita kembali ke pelajaran awal.” Sean kembali membuka lembaran kertas kosong untuk Ellian.


Tidak ada pilihan bagi Ellian untuk menuruti apa yang dikatakan Sean sampai jam pertemuannya berakhir.

__ADS_1


***


Setelah menjadi tutor Ellian, Sean segera kembali pada asrama sebelum gerbang utama ditutup. Dia akan menjadi gelandangan bila satu menit saja terlambat datang.


Sean terburu masuk kamar dan dia mendapati Luis yang sudah meringkuk di dalam selimut. Luis sedang tidur, bahkan tidak ada yang menyadari bahwa pemuda itu hanya berpura-pura saja.


Sean mengambil posisi duduk di atas kursi belajar sambil memikirkan misi harian yang tidak masuk akal pagi ini. Bagaimana mungkin dia dapat mencari seorang sponsor dengan mudah?


Itu adalah hal sulit, tetapi bukan juga hal yang mustahil bagi Sean. Keluarga Ellinden yang membiayai penuh atas pendidikannya di tempat ini secara tidak langsung adalah tindakan untuk menyeponsorinya, tetapi sistem tidak bereaksi. Jendela sistem tidak menunjukkan keberhasilan dalam menyelesaikan misi. Itu berarti apa yang sudah dilakukan Sean sebelum misi harian turun tidak akan valid.


Sean bersandar pada kursinya sambil menatap jam di atas dinding.


Sudah tidak ada waktu baginya untuk mencari sponsor lagi, orang lain tidak akan memberikan sponsor dengan cuma-cuma, pasti ada maksud di balik kebaikan mereka dan itu tidak ada bedanya seperti keluarga Ellinden.


[Misi berakhir]


[Anda telah gagal menyelesaikan misi]


Sean sudah menduga hal ini akan terjadi, tetapi dia kembali dikejutkan dengan kemunculan kembali jendela sistem.


[Hukuman dalam kegagalan misi]


[ … loading]


"Apa? Hukuman?" sontak itu membuat Sean terjingkat dan hampir berteriak. Untung saja dengan reflek dia membungkam mulutnya sendiri.


Sean tidak mengetahui bahwa ada hukuman dalam misi yang gagal. Hal itu tidak pernah terjadi sebelum  pembaruan pada sistem. Memang hadiah yang besar juga memiliki resiko yang besar dan jangan harapkan hadiah 1 miliar itu akan diberikan secara cuma-cuma.


"Ayo kita dengarkan dulu hukuman apa yang diberikan oleh sistem." Tantang Sean dengan penasaran.


Tidak lama jendela sistem kembali muncul.


[Hukuman: Lukis wajah dari semua teman kelas anda]


[Batas waktu anda 24 jam]


[Misi tidak akan diberikan sebelum anda menyelesaikan hukuman]

__ADS_1


[Hukuman akan diberikan 2 kali lipat bila tidak memenuhi batas waktu]


Ini benar-benar mimpi buruk!


__ADS_2