
Di dalam Ellinden Gallery, semua orang bersorak setelah mendapatkan berita baik dari Najwa Wong. Pelukis itu mengatakan akan berkontribusi atas lima karyanya dalam pameran 'Unsense' mendatang.
Itu bukanlah jumlah yang sedikit, tetapi lima lukisan dari Najwa Wong yang bernilai tinggi akan berpengaruh dari kesuksesan pameran itu sendiri.
Sudah pasti saat ini Rift Ellinden sedang menghitung dollar yang akan dia dapatkan, sedangkan bawahannya … ah, mereka sedang bersalaman sambil setor muka pada pelukis terkenal seperti Najwa Wong. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa wanita itu sedang dalam masa berduka.
Semua di tempat itu menyelamati Hendri, sang kurator yang mengklaim bahwa dialah orang yang berhasil membawa lima lukisan Najwa Wong untuk dipamerkan di 'Unsense' kedepannya mulai memperlihatkan keangkuhannya.
Sean yang melihat pertunjukkan itu hanya terkekeh di dalam hati, bagaimanapun dia rela diperlakulan tidak adil oleh Hendri karena tujuan membawa Najwa Wong bukan untuk Ellinden Gallery, tetapi Sean tidak ingin kecintaan wanita itu akan seni dikubur bersama kesendiriannya.
"Bisakah kita berbicara berdua?" Sean dikagetkan dengan ucapan Najwa Wong yang pergi setelah memberikan kode untuk mengikutinya.
"Apakah ada yang bisa saya bantu lagi?" Setelah berada di tempat cukup nyaman, Sean menawarkan lagi bantuannya, tetapi Najwa Wong menggeleng dan tersenyum.
"Aku benar-benar berterima kasih untukmu, kau telah menemukan 'Hidden Treasure' dan memberikannya untukku. Sebagai gantinya, aku akan memberikan lukisanku untukmu. Ah, aku tidak ingin menerima penolakan." Najwa Wong berkata dan dia mengeluarkan sebuah kartu nama. "Hubungi aku di nomor ini bila kau membutuhkan bantuanku."
Sean tercengang sesaat, sedetik kemudian dia membungkukkan badan sebagai sikap hormat. "Terimakasih, saya akan menjaga pemberianmu."
Di tempat ini mereka berpisah dan Sean harus kembali ke mejanya. Namun, moodnya hilang seketika saat dia melihat Hendri sedang berdiri di samping Rift Ellinden.
".... kita harus bangga dengan kurator kita yang telah berhasil membawa lima lukisan dari Najwa Wong. Berikan tepuk tangan kalian." Pemberitahuan Rift Ellinden disambut dengan tepuk tangan meriah.
Di sudut ruangan, Sean kembali melihat drama yang memuakkan, bagaimana bisa hasil dari usahanya diakui oleh pria bermata empat itu?
Sebenarnya, Sean bisa saja menggerakkan Najwa Wong untuk menarik lukisannya, tetapi dia tidak ingin memanfaatkan orang lain untuk pembalasan dendamnya. Jadi, Sean hanya bersandar di dinding sambil menikmati tontonannya.
Sesuai yang Rift Ellinden janjikan, siapa yang berhasil mendapatkan lukisan Najwa Wong akan mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi Hendri tidak seculun penampilannya. Dia meminta karyanya diikutsertakan dalam pameran. Benar-benar sebuah nepotisme.
Saat Rift Ellinden pergi, seluruh pegawai di ruangan bubar dan kembali ke tempat duduknya, berbeda dengan Sean yang terang-terangan mendekati Hendri.
"Aku harus meninggalkan galeri saat ini. Satu jam lagi aku ada kelas." Sean meminta izin pada pria berkacamata itu.
Hendri merasa tidak nyaman dengan kehadiran Sean, dia pun mengiyakan keinginan Sean, tetapi melihat ekspresinya yang ketakutan membuat Sean ingin meminta lebih.
__ADS_1
Sean berbisik, "Aku lelah karena mengejar Najwa Wong, apakah 1 minggu izin tidak masuk kerja membuatmu keberatan?"
Benar saja, Hendri tampak ketakutan bila Sean sampai membocorkan siapa yang berjasa pada kasus Najwa Wong dan pada akhirnya dia menyerah atas ancaman Sean.
"Baiklah, aku akan mengurus izinmu," ucap Hendri dengan terpaksa. Akhirnya makhluk bermata empat itu buru-buru pergi meninggalkan Sean. Begitu pun dengan Sean yang bersiap-siap pulang dan kembali ke kampus.
***
Saat Sean tiba, kelas sedang berjalan sehingga mereka semua menatap kedatangannya.
Sean yang tidak sadar bila dirinya terlambat menatap arloji. Sudah 45 menit kelas berjalan dan hanya tersisa 30 menit lagi dari sekarang.
"Hari ini praktik menggambar objek dan akan dikumpulkan setelah jam mata pelajaran saya berakhir. Tidak ada tambahan jam untuk yang terlambat." Sial bagi Sean, dia harus terlambat saat jam Pak Klano.
Semua orang di kelas menahan tawa, tetapi Sean tidak memperdulikan. Dengan berpura-pura pincang, pemuda itu duduk melingkar dan mengambil sisi objek yang akan digambar.
Sean mengeluarkan buku gambar dan mencoba menggambar objek keranjang buah di depannya.
Waktu telah berlalu 15 menit dan Sean hanya selesai mengerjakan 10 persen gambarannya.
Pura-pura menjadi orang cacat membuat dirinya kesulitan. Sean tidak bisa menggunakan tangan kanan, apalagi Frans dan Felix sedang mengawasinya. Dia juga tidak terbiasa menggunakan tangan kiri dan sukses membuat kinerjanya melambat.
Kali ini Sean benar-benar tidak punya pilihan. Dia harus menggunakan kemampuan yang dimiliki saat semua orang tidak memperhatikannya.
"Aktifkan Spider Hand," ucapnya lirih.
[Spider Hand]
[Kemampuan digunakan untuk mempercepat pengerjaan karya seni sampai batas 5x lipat]
[Apakah anda ingin menggunakan kemampuan 'Spider Hand'?]
Sean Kembali memberikan konfirmasi. "Ya."
__ADS_1
['Spider Hand' diaktifkan]
[Kemampuan hanya berlaku 1x24 jam]
Sean segera menggunakan kemampuan itu untuk menggambar objek dengan menggunakan pensil warna. Meskipun menggunakan tangan kiri yang tidak dominan, Sean berhasil mempersingkat waktu penyelesaiannya. Benar-benar kemampuan yang bermanfaat.
Setelah kelas berakhir, Sean kembali ke kamar asrama. Tidak tampak Luis ada di dalam sehingga Sean leluasa menggunakan kamar tanpa berpura-pura menjadi cacat.
Pemuda itu pergi ke mejanya dan membuka kertas gambar. Dengan tangan kanan, Sean mencoba berlatih. Bila tidak dilakukan, bisa jadi tangan kanannya akan benar-benar kehilangan kemampuan untuk melukis.
Di tengah itu, Sean merasa seseorang telah mengawasinya. Benar saja, saat pandangannya terangkat, sudah ada Luis yang terperangah menatapnya. Sontak, Sean segera melepaskan pensil di tangan kanan dan berenjak dengan salah tingkah.
"Lu-Luis? Sejak kapan kau ada di sana?" Sean bertanya dengan panik. "Sa-sampai mana kau melihatnya?"
Luis tetap diam di muka pintu. Itu adalah hal yang menghawatirkan, sudah pasti Luis melihat Sean dari awal dia mulai menggunakan tangan kanan.
Sean terlalu hanyut saat mengambar sehingga dia tidak sadar akan kedatangan Luis.
Luis menutup pintu dan mendatangi Sean. "Tangan kananmu itu …?"
"Maaf!" Tanpa mendengar penjelasan Luis lebih lanjut, wajah Sean sudah tertunduk dengan menyembunyikan ekspresi resahnya. "Maaf, aku telah menipu banyak orang dengar berpura-pura cacat."
Luis menahan pertanyaan-pertanyaan yang berjejal di kepala. Sebenarnya, pemuda itu sudah mengira bila Sean bisa menggunakan kaki dan tangan kanannya dengan baik, tetapi Luis diam karena menghormati keputusan Sean. Luis hanya penasaran, bagaimana seorang pelukis rela berpura-pura kehilangan kemampuan tangan dominan miliknya?
"Kau tidak bertanya apapun tentang apa yang telah kau lihat?" Sean melontarkan sebuah pertanyaan saat dia ragu bahwa Luis mulai diam.
"Bila aku bertanya, apa kau akan berkata jujur?" Luis balik bertanya.
Sean sedikit tertunduk. "Aku bisa memberitahumu, tetapi bisakah kau berjanji untuk tidak mengetakannya pada siapa pun?"
Saat Luis mengangguk, Sean menceritakan perjalanannnya. Semua itu dimulai dari kekerasan yang dilakukan oleh Frans dan Felix. Namun, Sean tidak mengikutsertakan kisahnya tentang keberadaan sistem pads Luis
Mulai saat ini, rahasia besar Sean ada di tangan Luis!
__ADS_1