
[Misi harian]
[Datang ke pelelangan Under Tower dan menangkan Lukisan ‘Hidden Treasure’]
[Tiket masuk akan segera dikirim melalui email]
Pagi buta jendela sistem muncul membawa misi harian. Sean yang mulai terbiasa dengan hal itu kembali membaca misi yang diberikan sistem kali ini.
“Hanya mencari sebuah lukisan?” Sean kembali berpikir di atas ranjangnya.
Entah apa yang direncanakan sistem, tetapi dia berterima kasih atas misi hari ini. Beruntung sistem tidak meminta Sean untuk melukis lagi, tangan kanannya masih kaku dan dia akan benar-benar menangis bila sistem memberikan hukuman seperti kemarin.
Layar pada ponsel Sean menyala dan terdapat sebuah notifikasi email masuk.
[Pelelangan Under Tower]
[No kursi 202]
[Tanggal: 5 Januari 2020]
[Waktu: 16.00 WIB]
[Tempat: Atrium hotel Twin Art]
Tanpa berkomentar sedikit pun Sean menutup email pada ponsel dan menarik tinggi selimut. Kini dia melanjutkan kembali tidurnya.
***
Tepat pukul empat sore, Sean tiba di depan hotel Twin Art. Tidak mau membuang waktu, pemuda itu memasuki atrium dan duduk di kursi yang telah ditentukan.
Kursi nomor 202 bukanlah kursi eksklusif, letaknya ada di baris belakang yang membuat pandangannya terbatas. Namun, Sean mengabaikan itu, dia tidak perlu susah payah mengamati tiap barang yang dilelangkan selama dia sudah mengantongi nama barang yang dicari.
“Hidden Treasure? Sebaik apa lukisan itu sehingga aku harus mendapatkannya?” tanya Sean memikirkan misi dari sistem.
Kursi kosong sudah terisi. Semua orang di tempat itu mengenakan pakaian formal yang mewah. Gaun-gaun yang dipakai tamu wanita begitu anggun dan para tamu pria mengenakan jas gelap dari perancang ternama. Hal ini berbalik untuk Sean yang hanya memakai kemeja kotak.
Tak lama berselang, lampu di atas atrium padam dan cahaya terang tersorot hanya di atas panggung. Seorang host berdiri dan mulai membuka pelelangan. Dia melelangkan berbagai barang berkualitas, mulai dari gerabah antìk, patung, kuningan dan banyak barang sampai pada sebuah lukisan.
Sean tersenyum saat host mulai memperlihatkan sebuah lukisan dengan nama ‘Hidden Treasure.’
“Benar! Tidak salah lagi kalau itu lukisan yang harus aku dapatkan.” batin Sean begitu antusias.
Lukisan yang berukuran kecil itu terlihat tidak begitu mahal. Hanya sebuah lukisan dengan warna-warna cerah yang saling bertabrakan. Namun, Sean tidak memperdulikan itu, dia harus mendapatkannya apapun caranya.
Sesi Lelang dimulai! Harga terendah dari lukisan itu adalah 10 juta rupiah.
__ADS_1
Di luar penampilannya yang tampak murah, host memasang harga terendah dengan nominal cukup tinggi. Namun, tidak banyak orang yang tertarik benda itu.
Sean mengangkat tangan dengan harga cukup tinggi untuk sebuah tawaran pertama. “20 juta rupiah.”
Mata Sean berkeliling, semua peserta di tempat duduknya tampak diam dan tidak berencana untuk memberikan harga, tetapi itu sangat menguntungkan Sean. Dia dapat mendapatkan lukisan itu dengan harga rendah.
“25 juta rupiah.” Seorang pria bertopi mendadak menaikkan harga.
Pria itu duduk di barisan paling ujung. Penampilannya yang memakai pakaian serba hitam dan menutupi wajahnya dengan topi sedikit mencolok. Namun, dari suaranya terdengar bahwa dia adalah pria muda seumuran Sean
Host bertepuk tangan puas akan barang lelangnya. Ekspresinya menunjukkan bahwa harga dari barang itu di luar ekspetasinya. “Siapa lagi yang ingin memasang harga?”
Sean tidak bisa menyerah begitu saja. Nilai 1 miliar di dalam ATM -nya tidaklah berarti dengan harga yang sedang disaingkan.
“40 juta.” Sean tidak ingin kehilangan barang incarannya.
Namun, pria yang mengenakan topi itu tenang-tenang saja. Dia mengangkat tangannya kembali dengan harga yang fantastik untuk sebuah lukisan. "100 juta rupiah.
Host bersorak puas akan harga yang diberikan pria bertopi itu. "Waow! Lihatlah harganya sudah mencapai 100 juta, bagaimana? Apakah ada yang berani bersaing harga?”
Sean dibuatnya heran dengan tawaran 100 juta untuk sekedar lukisan yang tidak terkenal.
Sepertinya, lawan Sean benar-benar tertarik akan lukisan itu, atau lukisan itu memang memiliki nilai yang tinggi?
Palu hampir diketuk dan nyaris saja Sean kehilangan barang itu. Bisa gawat bila dia tidak mendapatkannya, bisa-bisa hukuman yang diberikan sistem akan lebih berat lagi.
"300 juta rupiah? Pria misterius itu kembali meningkatkan harga tanpa ragu.
Mendengar itu, seluruh tamu mendadak diam dan kembali ricuh membicarakan 300 juta yang ditawarkan, tidak seperti Sean yang sedang berpikir keras.
Sean memijat pelan keningnya, dia berpikir bagaimana lawannya dengan mudah memberikan tawaran tinggi. Setidaknya orang itu memiliki banyak uang dan bisa jadi dia adalah salah satu generasi konglomerat yang sedang gabut.
Mau bagaimana lagi …. "500 juta rupiah."
Hadirin dibuatnya tercengang. Mereka berbisik-bisik tentang nilai lukisan itu dan kembali membandingkan penampilan Sean yang sederhana.
"Apakah dia tidak bisa memberikan penilaian yang baik?" Salah satu pria membicarakan Sean pada orang yang duduk di sebelahnya.
"Bagaimana ini? Anak itu pasti akan mendapatkan kerugian besar." Pria lainnya ikut berkomentar.
"Aku rasa dia hanya ingin menghamburkan uangnya." Perempuan muda menanggapinya dengan candaan.
"Apakah bocah itu sanggup membayarnya? Aku pikir dia bercanda." Seorang lain justru menaruh curiga.
Bisikan mereka terdengar sampai telinga Sean, tetapi pemuda itu mengabaikan ucapan mereka.
__ADS_1
Apa yang dikatakan mereka tidaklah benar-benar salah, tetapi apapun caranya Sean harus mendapatkan benda itu meskipun harus mengambil setengah dari 1 miliarnya.
Dilihat sejauh ini, lawannya tidak memberikan pergerakan. Dia tampak sudah menyerah dan melewatkan lukisan itu dimiliki Sean.
Palu diketuk dan dengan ini Sean memenangkan pelelangannya. Semua orang berpura-pura bertepuk tangan dan pelelangan kembali berjalan.
***
Setelah acara selesai, Sean membayar lukisan itu melalui rekening bank. Pihak pelelangan menunjukkan dari dekat lukisan yang disebutnya 'Hidden Treasure'.
Sean hanya mengerjap atas lukisan yang baru saja dibelinya. Lukisan dengan ukuran 80x80 itu tidak memiliki keistimewaan dan hanya tampak warna-warna cerah yang saling bertabrakan. Objek yang ada di dalam lukisan itu pun tidak terlihat jelas, semua begitu abstrak.
"Mengapa aku membeli lukisan ini dengan 500 juta?" batinnya sedikit menyesal. Namun, semua tidak mau berpikir lagi, yang penting baginya saat ini adalah menyelesaikan misi harian.
[Selamat! Anda telah menyelesaikan misi harian]
[Hadiah: … loading]
Jendela sistem muncul, Sean tidak sabar untuk melihat hadiah yang akan diberikan oleh sistem.
[Hadiah: Studio seni 'SH Studio']
"Wow studio!" Sean kegirangan.
Hadiah sebuah studio seni memanglah sebanding dengan uang setengah miliar yang dihabiskan untuk misi.
[Tempat itu atas kepemilikan Sean Herdian]
[Batas waktu: Selama pengguna terikat dengan sistem]
[Kunci studio akan segera dikirimkan]
"Memuaskan," komentarnya.
Sean segera mengisi data administrasi dan memberikan alamat studio agar 'Hidden Treasure' dapat dikirim pihak pelelangan ke tempat itu.
Setelah menyelesaikan semua urusan di pelelangan, Sean segera pulang. Zavier menemui Sean setelah dia tiba.
"Ada paket lagi untukmu." Zavier menyerahkan sebuah bungkusan yang ukurannya lebih kecil dari sebelumnya.
Sean menerima bungkusan itu setelah mengucapkan terimakasih dan kembali ke kamar.
Di mejanya dia membuka benda itu dan sebuah kunci ada di dalam. "Kunci studio baruku sudah datang. Aku tidak menyangka secepat ini!"
Ekspresi Sean tampak puas, tetapi perhatiannya tertuju pada benda di atas meja Luis. Sebuah topi hitam yang tidak asing bagi Sean ada di tempat itu.
__ADS_1
Sean mengingat kembali tentang lawan saingnya di pelelangan. Topi itu mirip dengan apa yang digunakan orang asing itu, tetapi apa benar itu adalah Luis?
"Tidak mungkin, pasti topi itu dijual di banyak toko." Sean mencoba berpikir kemungkinan lain.