MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Lukisan Berdarah 'Red Ballerina'


__ADS_3

Matahari sudah hampir terbenam, pemandangan senja dengan latar kebun teh begitu indah. Namun, Kenzo memutuskan untuk segera membawa Sean kembali. Hanya saja Alice tidak pulang bersama mereka, sementara waktu dia akan tinggal di villa bersama Elmi Carens. Begitu juga dengan Ellian yang memutuskan untuk menenani Alice di tempat itu.


Perjalanan pulang tanpa kedua gadis itu begitu sepi, tetapi Sean tampak sudah terbiasa dengan keheningan bersama Kenzo Karrin. Kali ini, kediaman darinya tidaklah biasa. Kepalanya tampak berat seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Ini bukan jalan pulang, dimana kau akan membawaku?" Sean menyadari bahwa mobil melaju bukan pada jalannya. 


Kenzo Karrin enggan untuk menjawab, dia lebih memilih menetapkan pandangannya di depan kemudi. Kediaman darinya membuat Sean sedikit frustasi dan tanpa sadar pemuda itu tertidur di tempatnya.


"Bangunlah, kita sudah sampai." Ucapan  Kenzo Karrin membuat kedua mata Sean terangkat. Dia bangun dan melihat sekeliling.


Tidak terlihat apapun selain gelap, tetapi lampu mobil menyorot pada sebuah bangunan kecil yang sedikit tidak terurus. Tampak warna dinding sudah usang, laba-laba membuat jaring di atas langit-langit dan di sekeliling bangunan rumput-rumput liar sudah tumbuh setinggi lutut seekor gajah.


"Kau ingin mengajakku uji nyali?" Sean menanggapinya tanpa bermaksud membuat Kenzo Karrin tersinggung.


Pria itu tidak ingin berkomentar, dia lebih memilih keluar dari mobil dan membuka pintu Sean. "Barang taruhannya ada di dalam."


Hanya kata singkat itu yang dia ucapkan. Tanpa kejelasan lain, Kenzo mendahului pergi dan Sean yang tidak ingin ketinggalan segera menyusulnya.


Pemandangan di dalam bangunan itu tidak tampak jaug berbeda dengan pemandangan luar. Semua gelap dan bahkan cahaya bulan tidak bisa menembus tempat ini.


‘Ctak!’


Cahaya dari lampu kekuningan mendadak menyala dan membanjir ruangan itu. Rupanya Kenzo Karrin berhasil menekan saklar lampu sehingga Sean tidak kesulitan lagi untuk melihat ke dalam.


Di dalam bangunan, tidak ada sesuatu yang istimewa. Sofa-sofa di tengah ruangan ditutup kain putih dan debu-debu berkumpul di atasnya. Beberapa lukisan yang terpasang di easel juga tampak tertutup kain putih.


"Tempat apa ini?" Sean sedikit merunduk untuk menghindari tirai-tirai yang menjuntai tidak beraturan.


Berbeda dari Sean yang tidak nyaman, Kenzo Karrin tampak tidak sedikit pun terganggu dengan hal itu. Dia berjalan melewatinya dengan biasa, bahkan Kenzo tidak meributkan saat ada sarang laba-laba menyangkut pada setelan jasnya.


"Tempat ini dulunya adalah studio, tetapi sekarang lebih cocok disebut gudang," ungkap Kenzo Karrin.


Penjelasan Kenzo Karrin hanya bisa membuat Sean menurunkan alisnya tanpa bisa bertanya lagi. Padahal Sean begitu penasaran akan peristiwa apa yang membuat bangunan ini berubah fungsi. Namun, Pria itu tidak sedang ingin berbicara, tetapi dia melakukan sebuah  tindakan yang benar-benar mengejutkan Sean.

__ADS_1


Satu per satu kain yang menutupi setiap lukisan dibuka oleh Kenzo Karrin, dan ….


‘Srak!’


Saat semua kain penutup lepas, Sean dibuatnya bergidik. Mata pemuda itu mendelik atas apa yang telah dilihatnya.


“Tidak mungkin kau yang melukis ini semua!” ucap Sean menggeleng tidak percaya.


Dari banyaknya kain yang tersingkap, Sean dapat melihat kengerian dari lukisan Kenzo Karrin. Pelukis yang terkenal dengan aliran surealisme memiliki imajinasi yang di luar nalar Sean.


Bagaimana tidak, semua lukisan di tempat itu menggambarkan penyiksaan, ketragisan, kesakitan, darah dan hal-hal yang mengerikan lainnya. Tubuh Sean terasa ngilu melihat pemandangan dalam lukisan yang tidak biasa.


Sebelumnya, Sean hanya pernah melihat ekspresi-ekspresi indah dan penuh kasih dalam lukisan seseorang, tetapi untuk pertama kalinya dia melihat sendiri lukisan penuh emosional dan ….


Sean merasa mual di tempat yang dikelilingi lukisan-lukisan itu, tetapi untuk tidak menyinggung Kenzo Karrin, dia menahannya hingga seluruh perut Sean terasa teraduk-aduk.


Sean mengetahui sedikit masa lalu Kenzo yang adalah pelukis ternama, tetapi ada satu hal yang dia selidiki tanpa sepengetahuannya. Kenzo lebih dikenal dengan sebutan pelukis misterius. Karyanya adalah karya anti mainstream yang sulit dinalar oleh orang biasa. Namun, Sean tidak menyangka bahwa semua lukisan pria itu adalah imajinasi tentang kebrutalan emosi dirinya.


“Aku dengar semua lukisanmu hilang tanpa jejak dan hanya ‘Blood of a Patriot saja yang tersisa, tetapi aku tidak menyangka ada banyak lukisanmu di sini. Kau … jangan bilang kau telah membeli semua lukisanmu sendiri dan menyimpannya di tempat ini?” Sean menebaknya dengan benar, tetapi dia tidak tahu alasan Kenzo Karrin melakukannya hal seperti itu.


Sean berusaha untuk tidak sedikit pun takut dengan lukisan Kenzo sehingga dia berkeliling dan memperhatikan satu per satu lukisan yang ada di tempat itu.


“Aku menahan jiwa psikopat ku pada lukisan ini.” Kenzo Karrin membuat pengakuan tiba-tiba.


Saat itulah Sean merasa hidupnya dekat dari kematian. Berdampingan dengan seorang yang memiliki jiwa psikopat sama halnya berjalan dengan ujung pisau yang mengarah padanya. Namun, sebisa mungkin Sean tetap tenang dan tidak menganggap Kenzo yang bisa saja menjadi seorang calon pembunuh.


“Aku tidak mengerti apa yang membuatmu seperti ini?” Sean berbicara tanpa menatap lawan bicaranya. Matanya mengamati satu per satu lukisan itu, tetapi sebuah lukisan menetapkan pandangannya. Sean terus saja melihat lukisan dengan nama ‘Red Ballerina’ dengan mendalam.


Kenzo Karrin tersenyum misterius. “Semua ini adalah lukisan sebelum terkontaminasi dengan emosiku.”


Pada awalnya, Kenzo Karrin hanyalah pelukis biasa. Dia selalu melukis sesuatu yang indah untuk diperlihatkan pada ibunya yang sakit dan harus terbaring di atas ranjang. Namun masalah terjadi setelah kematian ibunya.


Ayahnya menikah kembali dengan seorang perempuan muda, tetapi saat ayahnya melihat lukisannya lagi, dia teringat akan sosok ibu Kenzo. Namun, itu membuat istrinya murka dan membakar semua lukisan anak tirinya. Dia melarang Kenzo Karrin memegang kuas lagi.

__ADS_1


Saat itulah semua kemarahan dan rasa frustasi Kenzo dituangkan dalam lukisan. Diam-diam dia datang ke tempat ini dan meletakkan emosionalnya ke atas kanvas.


Kenzo Karrin menceritakan sesuatu yang mengerikan itu tanpa ekspresi, tetapi Sean dapat melihat sisa penderitaannya dalam sorot mata Kenzo.


Sean tidak ingin menghakimi Kenzo, dia berusaha untuk tidak bertanya ataupun melontarkan sedikit pun protes akan perbuatannya. Pemuda itu benar-benar menghargai Kenzo tidak hanya sebagai seorang guru, tetapi juga perasaannya.


“Lukisan mana yang ingin kau berikan sebagai hadiah pertaruhan kita?” Sean kembali mengungkit tentang tujuannya datang di tempat itu.


Kenzo tidak langsung menjawab, dia berjalan mensejajari Sean yang terdiam di depan lukisan ‘Red Ballerina’.


“Ini,” tunjuk Kenzo Karrin pada lukisan yang ada di depan mereka. “Semua karyaku berawal dari lukisan ini.”


“Red Ballerina?” gumam Sean tidak nyaman.


Lukisan seorang balerina dengan latar hitam dilukis dengan cat berwarna merah membuat pikiran Sean menjadi terganggu.


“Ini …?” Ucapan Sean terpenggal dengan pemikirannya sendiri. Dia mendekatkan wajahnya pada lukisan itu dan matanya bergetar tiba-tiba . “Lukisan ini memakai cat darah?”


Sontak dia menatap Kenzo Karrin dengan serius. Sean pun meraih tangan kiri Kenzo dan menarik lengan bajunya ke atas.


Sungguh Sean tidak bisa berkata lagi atas apa yang dilihatnya.


Pada lengan kiri Kenzo terlihat banyak sekali luka sayat yang Sean yakini adalah luka dari hasil Kenzo mencederai dirinya sendiri. Luka-luka itu adalah kisah penderitaannya yang hanya bisa dituangkan di dalam lukisan. “Apa yang kau pikirkan saat melukis ‘Red Ballerina’?”


“Saat ibu tiriku membakar semua lukisan milikku … Aku melihat langit begitu cerah dan api tampak menari di atasnya. Itu adalah pertama kalinya aku melukis realisme dan lukisan balerina itu memang benar menggunakan darahku sendiri.” Kenzo berbalik menatap Sean. “Bagaimana, apa kau mau menerima hadiah taruhan dariku?”


Sean sudah kehabisan kata. Bagi pemuda itu, ‘Red Ballerina’ lebih menakutkan ketimbang lukisan terkutuk ‘Cursed Chain. Namun, dia tidak boleh gegabah dalam memutuskan.


Sean menutup kedua matanya dan tidak lama dia menghela nafas kasar. Sean tersenyum penuh arti dan menurunkan lukisan itu dari tempatnya.


“Tentu saja aku akan menerima hadiah darimu.” Jawaban Sean membuat Kenzo Karrin sedikit terkejut.


“Mengapa? Kau akan merasa jijik, seram dan takut setiap akan melihat lukisan itu. Mengapa kau menerimanya?”

__ADS_1


Sean tersenyum dengan pasti. “Itu karena aku ingin mengambil satu penderitaan darimu. Ingatlah, aku tidak hanya menganggap kau adalah guruku, tetapi lebih dari itu.” 


__ADS_2