
Di atas ranjang, Sean merebahkan tubuhnya yang lelah. Sesekali dia berguling dan enggan untuk bangkit meskipun matahari sudah benar-benar tinggi.
“Misi tersembunyi,” kata Sean yang ditujukan pada sistem.
Serentak dari itu, sistem muncul dengan layar yang bertuliskan misi tersembunyi. Dengan berhasilnya mendapatkan lukisan ‘Chain of Eros’, berarti sudah ada tiga misi yang dia selesaikan. Meskipun begitu, Sean tampak tidak puas hanya dengan mendapatkan tiga lukisan itu.
[Lukisan Marionette: Belum diselesaikan]
[Lukisan Speak with Vagia: Belum diselesaikan]
[Lukisan Anathema: Belum diselesaikan]
[Lukisan Hidden Paradise: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Klandestin: Belum diselesaikan]
[Lukisan Skeptis: Belum diselesaikan]
[Lukisan Zero Balance: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Chain of Eros: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Mind Hole: Belum diselesaikan]
Setelah membaca tulisan dari sistem, Sean memutuskan untuk memilih satu misi lagi. Diantara nama-nama lukisan itu, tatapan Sean terhenti pada lukisan ‘Mind Hole.”
“Baiklah, ‘Identifikasi data ‘Mind Hole’.”
[Mind Hole sedang diproses ….]
Tidak lama sistem kembali muncul dengan membawa informasi dari lukisan itu.
[Mind Holes adalah karya dari Endian Ellison]
[Datang di tempat klinik psikiater jam 03.00 pm]
[Alamat: Green Hill 3-3-35 Street]
[Dapatkan lukisan ‘Mind Hole’]
__ADS_1
Dengan kesal, Sean menutup matanya. Tampak jelas ekspresi Sean frustasi saat melihat nama pelukis dari ‘Mind Hole’ yang adalah seorang wanita.
Kejadian dengan Shiren membuat mental Sean sedikit terguncang, bagaimana tidak, Sean terpaksa terlibat dalam perasaan cinta di antara Shiren dan Nico Azer yang abstrak. Dia hanya tidak berharap pelukis 'Mind Hole' juga akan melakukan hal yang sama seperti mereka.
“Benar-benar melelahkan!” gumam Sean frustasi.
Di tengah itu, Sean teringat akan Ellian. Sudah lama dia mengabaikan telepon dari gadis itu, padahal jelas Sean sudah berjanji untuk memberikan bantuan dan ilmunya untuk mengajari Ellian.
Pemuda itu segera mengambil ponselnya dan menuliskan sebuah pesan singkat bahwa dia ingin bertemu siang ini. Tidak lama, Ellian memberikan respon baik dengan membalas pesan Sean.
“Baiklah aku akan mentraktirnya minum,” serunya sedikit bersemangat.
***
Di cafe Langit Malam, Sean sudah mencari tempat duduk dan memesan sebuah americano untuk dirinya. Dia berjalan di antara barisan tempat duduk dan memilih sebuah meja yang ada di samping meja seorang wanita seusianya.
Sambil menunggu kedatangan Ellian, Sean membuka buku gambar dan mengerjakan tugas-tugas dari dosen. Sesekali dia tampak menyesap kopi hitam yang dari wajahnya tampak berasa pahit.
Pintu cafe terbuka, seorang gadis yang ditunggu Sean datang. Pandangannya bengandar di sekeliling dan saat melihat Sean, Ellian melambaikan tangan.
Gadis itu menghampiri Sean dan langsung duduk pada kursi yang ada di depannya. Ellian meminta maaf akan keterlambatannya, tetapi Sean tidak keberatan beberapa menit untuk menunggu Ellian. Seragam sekolah yang Ellian kenakan membuktikan bahwa gadis itu memiliki beberapa urusan di sekolah.
“Kau pasti lelah, apa yang ingin kau minum?” tanya Sean menunjuk papan menu pada dinding konter. Tampaknya Ellian kesulitan melihat tulisan dari kejauhan, matanya memicing dan pada akhirnya dia gagal membacanya.
“Ah, belikan aku juga satu minuman dingin. Kau bisa memilihkannya untukku,” pinta Sean yang membuat Ellian meninggalkan kursinya. Gadis itu segera menuju konter dan memesan dua minuman dingin.
Dari tempatnya Sean tampak memperhatikan Ellian. Dia membawa dua gelas minuman dengan dua tangan. Satu ice tea di tangan kanan dan satunya lemonde untuk Sean yang dibawa dengan tangan satunya.
‘Brak!”
Saat Ellian berjalan kembali, seorang wanita yang duduk di samping mejanya bangkit secara tiba-tiba hingga menyenggol lemonde yang Ellian bawa.
“Astaga! Maaf!” Sontak Ellian yang tampak panik segera meminta maaf, tetapi wanita yang ditabraknya sudah terlanjur basah tersiram minuman Ellian. “Aku benar-benar tidak sengaja.”
Melihat kegaduhan itu, Sean berinisiatif menolong. Dia segera menelungkupkan kemeja pada wanita itu agar pakaian basahnya tidak sampai menembus pada pakaian dalam.
“Maaf, temanku tidak sengaja melakukannya. Pakailah Kemejaku agar tidak masuk angin,” ucap Sean pada wanita di depannya.
Kejadian ini mengingatkan Sean akan kali pertama pertemuannya dengan Ellian. Gadis ceroboh itu juga tidak sengaja menumpahkan minumannya pada Sean. Bila tahu akan terjadi hal seperti ini, tentunya Sean tidak akan membiarkan Ellian memesan sendiri minumannya.
__ADS_1
Meskipun Ellian dan Sean sudah meminta maaf secara bersamaan, wanita yang ada di depannya tidak bereaksi. Rambut panjangnya basah, pakiannya juga sama basahnya. Namun, dia hanya diam dengan wajah pucat dan berdiri seperti patung lilin.
“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Sean.
Melihat kejanggalan itu, Sean kembali bertanya tentang keadaannya. Namun, tetap saja tidak ada reaksi. Saat wanita itu sedikit sadar dari lamunannya, matanya mengedip pelan dengan pandangan yang kosong. Tidak hanya itu juga, tubuhnya bergetar sesaat membuat Sean tampak khawatir.
Meskipun tampak sama seperti reaksi kedinginan, tetapi segelas lemonde dingin tidak akan cukup membuat seorang menjadi beku.
Melihat hal itu, Ellian tidak hanya merasa bersalah, dia juga merasa harus bertanggung jawab dengan wanita yang ditabraknya barusan. Dengan tergopoh, Ellian mengambil sapu tangan di tas dan memberikannya pada wanita itu.
Namun, sayangnya Ellian tidak bisa mengubah sikap cerobohnya dalam satu menit. Dengan tidak sengaja dia juga ikut menumpahkan gelas ice tea
“Klang!’ Gelas terjatuh, tetapi tidak sampai menyiram tubuh wanita itu seperti sebelumnya, tetapi tetap saja gelas Ellian tumpah di atas lantai dan mengalir di bawah sepatu wanita itu
“Maaf! Maafkan aku sekali lagi! Aku benar-benar tidak sengaja!” Ellian kembali meminta maaf.
Sean dapat melihat tubuh wanita di depannya semakin bergetar dan tanpa dia sendiri sadari, bibirnya tergigit oleh geligi.
Dari sini, Sean benar-benar meyakini bahwa wanita di depannya benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
“Kalau kau memiliki waktu, ikutlah dengan kami untuk membelikan baju untukmu agar tidak kedinginan. Kau akan sakit bila terus mengenakan baju basah," ajak Sean pada wanita itu.
Mata bundarnya menatap Sean tanpa alasan dan tanpa meninggalkan kata-kata dia berbalik pergi begitu saja.
Tidak ada yang bisa Ellian dan Sean lakukan untuk menahannya. Dia lebih memilih membiarkan wanita itu pergi.
Sean segera menyuruh Ellian untuk duduk di kursinya, sedangkan dirinya sendiri pergi untuk memesan minuman yang baru. Tidak lupa Sean memberikan uang tips pada petugas kebersihan untuk membersihkan kekacauan yang Ellian buat.
“Minumlah ini!” ucap Sean setelah memberikan segelas minuman pada Ellian.
Ellian tampak sibuk menulis sesuatu di atas kertas. Sadar dari tadi Sean memperhatikan, gadis membalas tatapannya.
"Ah, ini?" Sean menunjuk kertas yang ada di depannya. "Ini adalah form untuk masuk universitas seni. Aku sudah kelas akhir, sudah seharusnya mencari universitas yang aku inginkan."
Sean melihat form yang ditulis Ellian adalah universitas dimana Sean menempuh pendidikan. Bila nanti Ellian diterima di universitas itu, mereka berdua akan menjadi satu almamater.
Sean mengabaikan apa yang belum tentu terjadi, tetapi ujian masuk universitas membuat Sean teringat akan Steven Smith.
Kali ini Sean meminta tolong pada Ellian untuk memberikan satu lagi form pendaftaran ujian masuk universitas seni untuk Sean yang akan diberikannya pada Steven Smith.
__ADS_1
Di tengah itu, Sean sadar bahwa dirinya telah melewatkan banyak waktu untuk duduk bersama Ellian. Saat melihat jarum pendek pada arloji sudah hampir menuju 4, Sean segera bangun dari kursinya, Dia benar-benar lupa harus pergi ke klinik psikologi jam 3 tadi.
Sean benar-benar melupakan misinya mencari wanita yang bernama Endian Ellison.