
Di hadapan Sean, sebuah lukisan berukuran besar tampak mengalihkan perhatiannya.
Lukisan itu berbeda halnya dengan lukisan lain yang pernah Sean jumpai karena bentuknya yang menyerupai abstrak, tetapi dengan adanya garis-garis geometri lebih mirip disebut sebagai lukisan kubisme.
“Ini benar-benar ‘Mind Hole’!” Hampir tidak bisa Sean percaya bahwa lukisan yang dicarinya ada di depan mata.
Dalam misi ini, Sean tidak perlu kesulitan mencari lukisan yang diminta misi, lukisan itu muncul di depan matanya dan sebuah huruf yang ada di ujung kanvas dan bertuliskan ‘Mind Hole’ mengkonfirmasi kebenaran dari lukisan itu.
“Benar lukisan itu bernama ‘Mind Hole’,” sahut Edian Ellison dari belakang. Wanita itu berjalan dan berdiri mensejajari Sean dengan secangkir teh yang dibawanya. Saat pemuda itu berbalik menatap, bibir merah muda Edian tersenyum ramah sembari memberikan cangkir itu padanya. “Sebenarnya aku memberi nama itu karena tidak mengingat nama asli dari lukisan ini sebelumnya.”
Dengan ragu, Sean menerima cangkir itu, tetapi tidak langsung mencicipinya juga. Ucapan Edian Ellison barusan tampak mengganggunya. Hal itu tercermin dari ekspresi Sean yang penuh tanya dan garis keningnya tampak mengkerut jelas. “Tidak bisa mengingat? Bagaimana bisa kau melupakan nama lukisan yang pernah kau lukis sendiri?”
Tanpa memberi penjelasan, Edian Ellison kembali memaksakan senyumnya. Itu adalah batas dimana Sean tidak bisa bertanya lebih dalam lagi. Di mata Edian Ellison, Sean hanyalah seorang pria yang baru saja ditemui pada kejadian yang tidak disengaja dan hal itu sepenuhnya dimengerti Sean. Dia harus menunda keingintahuan tentang ‘Mind Hole’ dan beralih pada pembicaraan lain.
“Sebelumnya, aku harus meminta maaf karena tidak sempat mengucapkan terimakasih padamu. Seharusnya aku berterimakasih karena kau telah meminjamkan kemeja padaku,” ucap Edian tiba-tiba.
Kejadian di cafe itu membuat Sean tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. “Mengapa tadi kau ketakutan? tubuhmu bergetar hebat dan ekspresimu saat itu tampak tidak baik.”
Edian tampak terkikik dengan wajah yang hangat, hal ini jelas berbeda pada ekspresinya yang seperti es batu saat di cafe tadi.
“Kau tidak perlu memikirkan hal itu, aku hanya memiliki trauma dengan air. Jadi pada saat teman gadismu menumpahkan air minumnya, tanpa bisa ditahan tubuhku bereaksi ketakutan. Aku pikir saat itu aku hanya terkejut sesaat. Maafkan aku.”
Mata Sean melirik tidak mengerti. “Trauma? Kau memiliki fobia? Jadi … yang kau maksudkan bahwa kau fobia pada air, bukan?”
“Tidak seperti itu.” Kepala Edian menggeleng untuk memberikan penyangkalan. “Saat air tersiram tepat di mataku, aku jadi teringat kejadian yang mengerikan. Namun, kau tidak perlu khawatir karena aku bisa menangani ketakutanku sendiri.”
Ucapan Edian Ellson tentang menangani ketakutannya sendiri tidak akan membuat Sean percaya.
__ADS_1
Bagaimana wanita yang bisa mengatasi fobianya masih datang ke klinik psikiatri? Rupanya tempat itu berhubungan dengan ketakutan Edian Ellison.
Satu poin bahwa Edian Ellison memiliki trauma bukanlah informasi besar bagi Sean. Hal itu dinilai tidak akan mempengaruhi lukisan yang Sean cari. Tidak akan ada hubungan antara kejadian traumatis Edian Ellian dan ‘Mind Hole’, itulah yang Sean pikirkan sebelumnya.
Pembicaraan beralih pada hal yang lain. Sambil minum teh, Edian Ellison menceritakan kesehariannya yang bekerja sebagai pegawai serabutan di sebuah pabrik kayu untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari sini Sean mulai mencium ada sesuatu yang tidak beres.
Sambil diam-diam memperhatikan kembali ‘Mind Hole’ yang tergantung pada dinding di belakangnya, pemuda itu jelas merasakan ketimpangan jauh antara jenis pekerjaan Edian Ellison.
Lukisan dengan nilai tinggi itu tidak mungkin membuat pelukisnya hidup pas-pasan. Seharusnya Edian bisa menghasilkan karya lagi dan menjualnya, itu akan cukup besar ketimbang gajinya yang saat ini.
Menyadari bahwa Edian Ellison adalah wanita tertutup yang tidak sembarangan menceritakan masalahnya, Sean menyerah dan berpamit pulang. Di tengah perjalanan Edian mengantarkan Sean sampai pintu, pemuda itu berbalik dan menatapnya, seolah ada beberapa kalimat yang masih menyangkut pada tenggorokannya.
“Tempat tinggalmu menunjukkan sepertinya kau hanya tinggal seorang diri di unit ini?” Tebakan Sean memang benar, apa lagi dengan sedikit resah Edian Ellison mengangguk pelan. Sebagai seorang yang hidup sebatang kara, sudah seharusnya Edian fokus pada dirinya. “Tidak seharusnya kau membawa orang lain masuk ke tempat tinggalmu, tidak ada jaminan bahwa kau tidak akan mengalami tindakan kriminal dari mereka.”
Nasihat Sean tidak bisa disangkal Edian lagi, hanya saja dia kembali mengelak dengan intuisinya. “Ya, karena aku tahu bahwa Sean adalah pria baik.”
Entah mengapa perkataan ringan darinya membuat hati Sean ditumbuhi bunga-bunga yang bermekaran. Meskipun begitu, pemuda itu tidak ingin terlihat gampangan di depan wanita sehingga dia hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang tersipu.
***
Hari berikutnya adalah hari paling sibuk bagi Sean. Jadwal kelasnya sudah penuh, bahkan materi terakhir sudah membuatnya mual. Apalagi sebuah hal tidak terduga terjadi di kelas.
Saat pelajaran seorang dosen wanita, pintu diketuk dan seorang mahasiswa masuk dalam keadaan terlambat, tetapi jelas dosen berhati-hati dalam bersikap bahkan dia tidak ingin menegurnya.
Siapa yang berani menegur mahasiswa itu? Nama Ellinden yang Frans bawa memang benar-benar berdampak besar. Dia lolos dari keterlambatannya dan segera mencari tempat duduk.
Dari beberapa kursi kosong yang ada di kelas, entah mengapa Frans lebih memilih kursi kosong yang ada di sebelah Sean.
__ADS_1
Itu adalah mimpi buruk bagi Sean, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa duduk sambil mencegah pandangannya agar tidak sampai menatap Frans.
“Aku yang memiliki kaki sehat mengapa bisa terlambat dibandingkan dirimu yang salah satu kakinya pincang?” Frans tiba-tiba melontarkan kata-katanya.
Sean benar-benar tidak tahu atas arah dari ucapan Frans padanya. Namun, dia tahu betul bahwa setiap kata-kata dari mulut pemuda itu adalah hal buruk.
“Aku melihatmu berjalan normal,” terang Frans yang membuat mata Sean terbelalak lebar.
Deg!
Seakan sebuah meteor datang menghantam kepala Sean, pikirannya pun menjadi gelap. Kali ini dia akan mendapatkan masalah dari Frans.
Di tengah pikirannya yang sedang kosong, Sean berusaha mengisinya dengan sisa-sisa ingatan dan mengoreksi dimana letak kecerobohan yang membuat rahasianya terungkap oleh Frans.
Tidak mungkin Frans mengetahuinya, Sean selalu berhati-hati dengan langkahnya saat ada di lingkungan universitas ataupun asrama. Kalaupun kedok Sean terbongkar, pastinya tanpa sengaja Frans melihat Sean berjalan melenggang bebas saat ada di luar.
Kemungkinan-kemungkinan yang tidak menentu itu membuat kaki Sean bergetar. Tidak ingin Frans mendengar suara itu, Sean berusaha menahannya. Tanpa sepengetahuan Frans, Sean menghela napas panjang dan kembali pada mode tenang.
“Benarkah?” Dengan berani Sean berbalik menatap dan sedikit mengangkat salah satu sudut bibirnya, seolah dia ingin menantang Frans dengan omong kosong yang tidak terbukti benar. “Hei, Frans. Bila saja kau melihatku berjalan normal, sudah pasti kau kan mematahkan kedua kakiku karena berani menipumu. Aku tidak akan melakukan hal bodoh meski terpaksa.”
Wajah serius frans mengendur sesaat. “Kau benar, aku akan langsung mematahkan kakimu menjadi dua bagian bila saja kau terbukti berbohong.”
Dari ucapan Frans, membuktikan bahwa ucapannya barusan hanyalah sebuah asumsi. Pemuda itu hanya memberikan sebuah jebakan. Bila saja dari awal Sean tidak mengelaknya, sudah pasti dirinya sendiri yang akan masuk dari jebakan Frans.
“Aku masih membutuhkan waktu untuk pemulihan kakiku,” kata Sean penuh dengan ketidakjujuran, meskipun begitu Frans yang ada di sampingnya tidak bisa menebak bila ucapan Sean barusan hanyalah sebuah bualan.
Frans kembali menatap Sean tajam. “Lebih baik cepat lakukan itu, bila tidak … aku akan mengurungkan niatanku untuk mengirimmu kembali di kamar Felix di lantai 4 karena aku juga memiliki kamar di lantai satu yang bisa mempermudah pria pincang sepertimu."
__ADS_1
Ini adalah hal terburuk yang Sean lupakan. Salah satu penghuni kamar lantai bawah adalah Frans, tetapi sejauh ini dia tidak ingin berbagi kamarnya dengan siapapun, bahkan Felix yang merupakan orang terdekatnya. Meskipun begitu tidak ada yang bisa menerka pikiran Frans karena dia adalah orang yang berbuat sesuka hatinya.
Ketegangan dari ucapan Frans benar-benar terdengar menekan dan berhasil membuat Sean bergidik seram. Namun, di tengah itu, ponsel Sean bergetar dan Edian Ellison adalah nama pengirim pesan itu. Dia telah mengkonfirmasi bahwa dia akan mengembalikan kemeja Sean yang sudah dia pinjaman.