MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Misi Gila 'Klandestin'


__ADS_3

Sean melihat punggung Dev Morgan menghilang dari pintu keluar. Melihat keadaan sudah aman, Sean memberanikan untuk menampakkan diri dari ruangannya dan melihat keadaan Luis dari jarak itu.


Tidak ada satu pun kata yang terdengar keluar dari mulut Luis. pemuda itu hanya diam terduduk dan menekan emosinya dengan cukup baik.


Dengan ekspresi yang masih tampak kacau, Luis keluar dari ruangannya dan langkah pemuda itu terhenti saat melihat Sean.


“Mau makan siang bersama?” Sean yang tidak mencoba bersembunyi menawarkan makan siang pada Luis.


Meskipun suasana hati Luis tampak tidak baik, dia tetap menerima tawaran dari Sean. Tanpa menjawab apa-apa dia masuk ke dalam ruangan dan duduk di atas meja. Sean hanya tersenyum dan mengikutinya dari belakang.


“Aku memesan banyak makanan, ayo kita makan bersama,” ajak Sean sebelum menunjukkan tujuannya yang tersembunyi.


Tanpa berkata lagi Luis mengambil sumpitnya dan segera menyantap hidangan di atas meja.


“Kau melihatnya, kan?” ekspresi Luis tampak serius. Dia menatap tajam Sean penuh dengan tekanan. “Kau juga mendengar semua yang dikatakan ayahku, kan?”


Itu bukanlah hal sopan untuk menonton pertengkaran seorang ayah dan anak. Sean hanya menunduk dan meminta maaf. Dia juga tidak menyangkal tuduhan dari Luis.


“Hah!” desah Luis lagi. Dia membuang wajahnya dengan perasaan kesal. “Apa salahnya bila aku melukis? Toh, aku juga belajar dengan benar. Aku benar-benar iri denganmu, Sean. Kau bisa melukis apapun dan menjualnya secara natural.”


Sean kembali membalas tatapan Luis dengan ekspresi yang juga sama seriusnya. “Apa kau tetap ingin berkarya?”


Atmosfer di dalam ruangan itu seketika menjadi berat. Mereka saling bertatap pandang dan hanya memberi kontak mata, Luis mengiyakan pertanyaan Sean.


Kepala Sean penuh dengan rencana, tetapi dia mendekatkan wajahnya dan berkata lirih. “Melukislah secara diam-diam karena aku membutuhkan bantuanmu.” 


Luis tersenyum tanpa arti, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya. "Apa yang kau inginkan, Sean?"


"Lukisanmu," jawab singkat Sean.


Tanpa penjelasan yang detail hanya bisa membuat Luis mengangkat alisnya. Luis kembali bertanya lagi tentang lukisan yang Sean maksud.


"Aku menginginkan lukisan 'Klandestin' karyamu, Luis!" sambung Sean yang tidak juga bisa dimengerti oleh Luis.

__ADS_1


“Klandestin?” Luis kembali mengulang pertanyaan Sean. “Apa itu? Aku tidak mengerti ucapanmu.”


Duar!


Bagaimana ini bisa terjadi? Sean mencoba berpikir apakah kemungkinan sistem eror terjadi lagi. Informasi yang diberikan sistem tidak sesuai karena tampaknya Luis benar-benar tidak memiliki ‘Klandestin’.


Sejenak Sean kembali termenung akan ingatannya. Jelas-jelas sistem mengatakan bahwa 'Klandestin' adalah karya dari Luis Morgan. Dari sini Sean mulai menerka hal yang tidak masuk akal. Tentunya tidak akan mungkin bila ada dua nama Luis Morgan di tempat ini.


Sean kembali memastikan nama-nama Lukisan yang dimiliki Luis, tetapi tetap saja tidak ada nama ‘Klandestin’ di dalamnya. Seketika itu tubuh Sean lemas dan dia meletakkan kepalanya di atas meja.


“Identifikasi Klandestin.” Begitu lirih Sean mengucapkan hal yang ditujukan pada sistem. Beruntung Luis yang kembali menikmati makan siangnya tidak mendengar Sean.


[‘Klandestin’ adalah lukisan karya Luis Morgan]


“Tetap saja Luis tidak memilikinya,” desah Sean putus asa.


Namun, sistem kembali muncul dan menuliskan kata-kata yang sama. ‘Klandestin’ adalah lukisan karya Luis Morgan dan itu ditulis sistem berkali-kali hingga membuat Sean kesal.


“Hah! membuatku pusing saja!” Tanpa sadar telah meninggikan suaranya, Sean berseru hingga perhatian Luis beralih padanya.


“Kau ingin aku melukis lagi dengan judul ‘Klandestin?” tanya Luis sedang menimang keputusannya.


Kepala Sean sudah gelap, dia tidak mengetahui lagi bagaimana mendapatkan ‘Klandestin’ bila pelukis yang ditunjuk sistem tidak memilikinya. Tidak ada cara selain membuatnya, bukan? Sistem hanya menginginkan dua kata, ‘Klandestin’ dan Luis Morgan. Tidak ada petunjuk apapun selain itu sehingga Sean berinisiatif mencoba agar Luis mau melukis menggunakan nama ‘Klandestin’.


“Bagaimana?” desak Sean.


Luis Morgan di depannya belum mendapatkan keputusan, tetapi pandangannya beralih pada Sean dengan serius. “Aku akan membuatnya, hanya saja … aku tidak tahu apa yang aku lukis dengan nama ‘Klandestin’. Kau sendiri tahu, kan, bila lukisanku selama ini adalah potrait dari Carla Edena?”


Ucapan Luis benar masuk akal. Selama ini dia hanya menghasilkan beberapa karya tetapi semuanya adalah pose dari Carla yang melenggak-lenggok bagaikan punuk burung unta yang berjalan. Plagiarisme yang dilakukan Luis saat melakukan pada lukisan Najwa Wong tidak dihitung karena dia melakukannya dengan mengcopy lukisan yang sama.


Melukis dengan model ataupun dengan mengcopy lukisan lain membuat Sean sadar bahwa kesempurnaan Luis melukis ternyata memiliki cela yang mirip jurang curam.


Bagaimana tidak, kemampuan melukis Luis dan kelebihan foto memorinya tidak akan berguna bila dia sendiri tidak bisa menentukan objek yang akan dilukisnya.

__ADS_1


Hal itu benar-benar membuat Sean sakit kepala. Dia pikir sudah mengenal Luis lebih dalam ternyata dia hanya mengenali cangkangnya saja. Namun, Sean tidak bisa menyerah dari misi ini.


“Luis, ‘Klandestin' adalah sesuatu yang dilakukan secara diam-diam. Apa kau tidak memiliki sesuatu yang kau pikirkan dengan nama itu?” tanya Sean dengan kata-kata tegas.


Luis tampak kembali berpikir. “Entahlah, selama ini aku hanya melukis dengan Carla, tetapi sesuatu yang bisa aku lakukan dengan diam-diam … sepertinya aku tahu.”


“Benarkah!” Dengan wajah berseri, Sean kembali menatap Luis penuh harap.


“Benar sekali, sepertinya aku bisa membantumu, Sean! Aku bisa melukis Carla secara diam-diam!” Kali ini ekspresi Luis tampak lebih antusias dibandingkan Sean.


Entah apa yang dipikirkan pemuda tampan itu, tetapi melihat ekspresinya yang berapi-api membuat perasaan Sean berubah menjadi buruk. Sean mencium bau-bau masalah yang akan dilakukan Luis.


“Jadi … apa yang akan kau lakukan pada Carla?” 


Kedua mata Sean kembali memandangi Luis dengan penuh curiga, tetapi Luis di depan terlalu girang dengan pemikirannya sendiri. 


Puas dengan itu, Luis membalas tatapan Sean. “Klandestin! Aku akan melukis Carla yang sedang mandi secara diam-diam!” 


Duar! Ini adalah petaka! Wajar bila saat ini Sean meneriaki gila pada Luis.


***


‘Klandestin’, misi kali ini benar-benar membahayakan hidup Sean!


Di depan pintu apartemen Rich Palm, kamar 1320, Sean berdiri tidak berkomentar. Itu adalah kamar dari Carla Edian dan di depannya sudah ada Luis yang mencoba membuka kunci apartemen dengan menggunakan kode angka.


“Bagaimana kau tahu kunci kode kamar Carla? Kau menguntitnya?”


Mendengar tuduhan dari Sean tentu dielak Luis. “Aku yang mencarikan tempat tinggal untuknya, tentu saja aku tahu kode kamar Carla.”


“Mengapa kau tidak melakukannya sendiri?” Tidak puas dengan itu Sean kembali merengek akan ide gila dari Luis. “Kau tidak harus mengajakku untuk mengintip Carla mandi, bukan?”


“Tentu saja aku tidak ingin mati sendirian bila aku ketahuan.” Luis meringis kegirangan sebelum dia mengajak Sean masuk.

__ADS_1


Dengan penuh kehati-hatian mereka masuk mengendap-endap layaknya seorang ninja yang bahkan suara langkahnya saja tidak terdengar. Melihat keadaan kamar yang sepi, Luis memandu Sean pada sebuah kamar mandi dan saat pintu kamar itu sedikit terbuka … mereka dapat melihat Carla yang sednag bergubang dengan pancuran shower di atasnya.


Deg!


__ADS_2