
[Misi harian]
[Memenangkan negosiasi]
Sean melihat jendela sistem muncul saat dia bersiap untuk pergi mendatangi Najwa Wong.
"Bukannya ini adalah suatu kebetulan?" desah Sean sendirinya.
Sistem memberikan misi yang sesuai ketika dia berencana untuk mencari Najwa Wong dan bernegosiasi dengan pelukis itu.
Bukan hal bagus untuk mengajak Najwa Wong berpartisipasi dalam pameran Ellinden Gallery dengan kondisi suaminya yang kritis. Lagi-lagi Sean akan dicap tidak memiliki rasa simpati.
Sean segera membuang kekhawatirannya dan pergi ke rumah sakit yang dituju. Di tempat itu, perawat melarang Sean masuk dengan alasan keluarga pasien tidak berkenan untuk dijenguk.
Tanpa menyerah, Sean menunggu di koridor rumah sakit dan saat Najwa Wong melintas, Sean segera memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari Ellinden Gallery.
"Maaf bila saya datang di tempat yang tidak tepat." Sean membungkuk hormat. Rupanya sikap sopan Sean sukses mengambil perhatian dari Najwa Wong."
"Bagaimana kalian tahu aku ada di tempat ini? Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa aku adalah wanita yang sudah menikah, apalagi mengetahui bahwa suamiku sedang dalam keadaan kritis."
Sean tidak berani menatap wanita 30 tahun itu, dia tetap menunduk dan tidak menjawab bahwa Kenzo Karrin sebagai informannya.
"Kedatangan saya untuk meminta anda berpartisipasi dalam sebuah pameran yang digelar tiga bulan ke depan. Apakah anda bersedia menerimanya?"
Najwa Wong tersenyum kecut. "Aku tidak akan melukis lagi. Aku pun sudah membakar semua sisa dari karyaku di studio."
Mendengar perkataan itu, sontak pandangan Sean terangkat. Dia benar-benar terkejut akan perbuatan Najwa Wong yang bisa dianggap tidak berpikir jernih. Namun, Sean tidak bisa melakukan apapun. Berhenti di dunia seni adalah keputusan dari wanita itu sendiri.
Sean menyerah akan pekerjaan pertamanya dan hendak pamit. Namun, sebelum dia pergi, Sean memberikan sebuah kartu namanya.
Sungguh disayangkan, pelukis hebat seperti dirinya harus berhenti berkarir karena kondisi suaminya.
Saat selangkah Sean mundur, perawat datang menemui Najwa Wong. Sean dapat melihat ekspresi panik pada perawat itu.
“Nyonya, suami anda ….” ucapnya terburu seakan sedang dikejar malaikat pencabut nyawa.
Melihat ada sesuatu yang tidak beres, Najwa Wong menyadari akan sesuatu. Ekspresi yang tadinya tenang kini ikut gusar. Wanita itu segera berlari ke kamar suaminya.
Sean tidak bisa berpura-pura tidak tahu. Dia berbalik dan mengikuti kepergian Najwa Wong. Di tempat itu, seorang pria terbujur kaku, tubuhnya terlilit selang yang terhubung pada monitor dan di dalam monitor itu hanya tampak sebuah garis lurus yang mendominasi.
Suasana menjadi kacau, dokter datang dan melakukan RJP, sementara Najwa Wong berteriak histeris menyebut-nyebut nama sang suami.
Saat itu juga, dokter menghentikan tindakannya dan pasien dinyatakan meninggal.
__ADS_1
***
Sean berencana menghadiri pemakaman dari suami Najwa Wong. Namun, dia kembali di asramanya untuk mengganti pakaian duka.
Setelah membenahkan diri, Sean keluar dan mencari taxi, tetapi sedan hitam justru berhenti tepat di depannya. Kaca jendela itu terbuka dan Kenzo Karrin memberikan kode pada Sean untuk masuk.
“Aku sengaja menemuimu. Ada berita tentang kematian dari suami Najwa Wong, apa kau sudah mengetahuinya.” Kenzo Karrin mengatakan kata-kata itu tanpa jedah.
Ekspresi Sean tidak berubah, dia menjawab dengan sedikit enggan. “Aku akan ke tempat pemakamannya sekarang.”
“Baiklah aku akan mengantarmu, tetapi ada suatu hal penting yang harus aku sampaikan padamu,” desak Kenzo. “Aku menemukan sesuatu yang bahkan Najwa Wong sendiri tidak mengetahuinya.”
Dengan penasaran Sean menatap Kenzo Karrin, terlihat jelas ketertarikan besar pada kedua matanya. “Apa itu?”
“Suaminya Najwa Wong adalah Max Morgan. Karena tidak mendapatkan restu dari keluarga suaminya, mereka diam-diam menikah dan Najwa Wong tidak mengubah nama belakangnya. Najwa Wong tetap berkarir tanpa mengekspos pernikahannya.”
“Morgan?” Mata Sean terangkat, dia sedang menggali beberapa nama dalam memorinya yang memiliki nama Morgan.
Benar, Luis adalah anak dari keluarga Morgan. Entah apa hubungan Luis dengan suami Najwa Wong, tetapi bisa saja Sean salah. Di negara ini, banyak orang yang memiliki nama serupa.
Sean mengabaikan apa yang ada di pikirannya, dia kembali pada penjelasan Kenzo Karrin.
“Seperti yang diketahui bahwa Max Morgan adalah seorang pengusaha, tetapi … dia juga ahli melukis. Keluarganya yang mayoritas adalah pengusaha sangat menentang bila ada anggota keluarga yang menempuh kehidupan sebagai pelukis. Itulah mengapa Max Morgan mengubur bakatnya.”
Dari sini Sean mulai sedikit paham tentang nasib lukisan dari Max Morgan, “Setinggi apapun nilai dari lukisan itu, akan menjadi tidak berharga bila si pelukis tidak memiliki nama.”
“Benar! Itulah yang terjadi. Pihak galeri secara gelap menjual lukisan itu ke sebuah pelelangan. Menurut rekanku yang bekerja di galeri itu, Max Morgan memberi lukisan itu nama ‘Hidden Treasure’.”
Mendengar kata ‘Hidden Treasure’ yang begitu familiar, mata Sean terbelalak, mulutnya ternganga. Dengan kesadaran penuh dia tahu bahwa ‘Hidden Treasure’ adalah lukisan yang dibelinya 500 juta di pelelangan.
“Putar balik!” seru Sean yang dengan reflek membuat sedan iti memutar jalan. “Kita harus ke studio sebelum menemui Najwa Wong.”
Tanpa bertanya, Kenzo mengemudikan mobilnya sampai pada studio. Melihat bahwa tujuannya sudah sampai, Sean pergi untuk mengambil ‘Hidden Treasure’ dan bergegas datang ke acara pemakaman.
***
Sedan hitam terparkir di depan memorial garden. Terlihat para pelayat yang mengenakan pakaian hitam keluar dari tempat itu. Sepertinya Sean terlambat datang, tetapi dia meyakini bahwa Najwa Wong tidak akan pergi secepat itu.
Sean keluar dan meinggalkan ‘Hidden Treasure’ di dalam mobil. Saat dia akan masuk, dia berpapasan dengan seorang pemuda yang mirip Luis.
“Lu-” Belum sempat memanggil orang yang tampak dikenalnya, Kenzo Karrin mengingatkan untuk segera menemui Najwa Wong sebelum mereka kehilangannya. Sean pun mengabaikan pemuda itu dan masuk lebih dalam di memorial garden.
Tampak Najwa Wong tersedu di tepi makam suaminya, tetapi wanita itu segera menghapus air matanya setelah menyadari kedatangan Sean dan Kenzo Karrin.
__ADS_1
“Ada yang ingin saya katakan,” ucap Sean dengan ekspresi serius.
Najwa Wong membuang ekspresinya. “Bila itu berkaitan dengan kontribusiku dalam pameran Ellinden Gallery … aku benar-benar tidak bisa. Berhenti di dunia seni adalah keputusanku.”
“Saya hanya menyampaikan sesuatu tentang lukisan Mister Max Morgan.” Ucapan Sean semakin lirih, tetapi Najwa Wong mengkonfirmasiya. Wanita itu menatap Sean dengan tajam.
“Apa yang kau maksud?”
Sean terdiam dan berjanji akan menjelaskan semuanya pada Najwa Wong. Mereka memutuskan untuk membicarakan itu di dalam mobil dan pada kursi belakang, Sean dan Najwa Wong duduk dengan atmosfer yang penuh tekanan.
Sean menyerahkan lukisan yang dibawanya pada Najwa Wong, tanpa meminta penjelasan, wanita itu membisu dan tatapannya tidak bisa lepas dari lukisan itu.
“Anda pasti mengenali siapa orang yang melukis ini. Dari gayanya yang unik, goresan warna kuat dan garis-garis yang ditarik kaku adalah ciri khas dari lukisan suami anda. Max Morgan tidak bisa melukis karena dia harus mengikuti kemauan keluarganya untuk fokus dalam bisnis, tetapi diam-diam dia membuat karya ini dan menitipkannya di sebuah galeri.”
Suasana tampak hening, Najwa Wong masih meratapi lukisan itu, sementara Kenzo Karrin diam-diam memperhatikan Sean dan wanita itu melalui spion depan.
“Apakah anda tahu tujuannya untuk menitipkan di galeri?” Pertanyaan itu berhasil memprovokasi Najwa Wong, dia menatap Sean dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, tetapi pemuda itu berhasil mempertahankan ketenangannya.
“Suami anda berharap suatu saat lukisannya akan dipamerkan dan anda akan melihat itu. Dia beranggapan bahwa kecintaan anda kepada seni akan terus membuat anda tetap berkarir dan anda akan menemukan lukisannya. Dengan itu, suami anda memberikan nama … ‘Hidden Treasure-harta yang tersembunyi," lanjut Sean dengan penjelasan akhirnya.
Saat itu tangis dari Najwa Wong pecah dan kedua pria itu diam tidak bisa menenangkan. Wanita itu mengetahui betul bahwa lukisan yang sekarang ada di tangannya adalah satu-satunya lukisan dari suaminya.
***
Setelah kejadian itu, Kenzo mengantar Sean kembali. Saat ini suasana di dalam mobil tampak asing dari biasanya.
“Kau bekerja di Ellinden Gallery? Apakah kau memberikan lukisan yang berharga 1 miliar itu demi pekerjaanmu?” mengetahui itu Kenzo menuntut penjelasan.
“Tidak! Aku tidak melakukannya sebagai orang Ellinden Gallery, tetapi sebagai diriku sendiri-Sean Herdian dan lukisan itu sekarang ada di tangan yang tepat."
Kenzo mengangguk kehabisan komentar. “Tetapi mengapa kau tidak memberitahuku bahwa lukisan itu bernama ‘Hidden Treasure?”
“Lebih penting karena saat ini kita berdua tahu tentang makna dari ‘Hidden Treasure’.”
Itu adalah ucapan terakhir Sean sebelum mobil benar-benar melaju kencang.
[Selamat! Anda telah menyelesaikan misi]
[Hadiah: Kemampuan Ekspression Ink]
[Kemampuan dapat memberikan ekspresi lebih pada karya seni]
[Keterangan: Hanya bisa dipakai 10x]
__ADS_1