
Seharian Sean melalui hari yang berat. Namun, semua yang sudah dilakukannya bersama Steven Smith terbayar dengan lukisan 'Hidden Paradise’ yang sekarang ini ada di tangannya.
Dengan sisa tenaga, Sean hendak kembali ke asrama dan segera beristirahat. Namun, semua itu tidak akan terjadi setelah Sean gagal membuka kunci kamar.
"Sial! Mengapa tidak bisa terbuka?" Decit Sean menendang daun pintu dengan kesal, kemudian dia mengintip lubang kunci dan tidak ada yang bisa memberikan jawaban apapun atas kesialan Sean. "Apa ada masalah dengan kuncinya?"
Dengan sangat frustasi, Sean menggosok kepalanya, semua rencana indah untuk segera beristirahat terhambat sudah. Bila, Sean tidak juga bisa membuka pintu kamar, tidak akan ada ranjang yang nyaman untuknya tidur malam ini. Pemuda itu tidak akan bisa masuk dan mau tidak mau dia hanya tidur di atas sofa keras ruang tunggu asrama.
Tidak ada pilihan baginya selain mencari kunci pengganti yang disimpan oleh pengurus asrama.
Sean segera mencari pengurus asrama di ruangannya yang tidak lain adalah Zavier, tetapi orang yang dicari Sean tidak ada di dalam. Sejenak, Sean terdiam dan mencoba memikirkan suatu tempat yang biasa Zavier singgahi. Tidak ada tempat lain selain kamarnya sendiri. Meskipun Sean tahu bahwa kamar Zavier dihuni oleh Carla Edena, tetapi tidak menutup kemungkinan dia ada di tempat itu.
Atas pemikirannya, Sean beralih ke kamar Zavier. Setelah Sean tiba, pintu diketuk, tetapi tidak ada jawaban ataupun respon dari dalam.
“Hei, apakah Kak Zavi ada di dalam kamar bersamamu?” Pertanyaan Sean ditujukan pada Carla Edena, tetapi kata-kata itu terhenti sebelum seluruhnya selesai diucapkan.
Dari sela daun pintu, Sean dapat melihat sosok Zavier dari dalam sehingga dia segera memasuki ruangan seperti biasa. Namun, tiga langkahnya dari pintu mendadak terhenti.
“Kau?” Mata Sean terbelalak melihat orang yang dikiranya Zavier ternyata adalah Felix
Sebagai adik sepupu, penampilan Felix tidak jauh berbeda dengan Zavier. Pembeda yang mencolok hanya dari segi usia dan semua orang yang melihatnya akan mengatakan bahwa mereka bersaudara.
'Deg!'
Ini benar-benar di luar dugaan. Tidak seharusnya Felix ada di sini, hal itu akan membahayakan Carla Edena yang sementara waktu harus tinggal di kamar Zavier.
Sadar akan Carla, dengan panik Sean segera mencari keberadaannya. Pandangan Sean melesat ke segala arah, tetapi pada setiap sudut ruangan dimana pun Sean tidak menemukan keberadaannya.
Satu pertanyaan yang muncul pada diri Sean saat itu, apakah Carla Edena sudah ketahuan?
“Apa yang kau lihat?” ketus Felix membuat Sean tersentak sesaat. Serentak dengan itu, Sean kembali menarik pandangannya.
“Tidak ada.” Dengan cukup tenang Sean menjawab, tetapi tidak pada hatinya yang tengah gelisah setengah mati. “Aku hanya sedang mencari Kak Zavi dan ….”
Sadar akan menyebutkan nama Carla Edena, Sean segera mengunci perkataannya. Kemungkinan Carla ketahuan tidak sepenuhnya benar. Bila wanita itu ketahuan, tidak mungkin Felix akan bersikap seperti ini pada Sean. Sudah pasti salah satu tangannya akan mencengkram leher Sean bahkan sebelum dia masuk ke ruangan ini.
“Apa?” Felix kembali bertanya tidak mengerti.
Dengan itu Sean jadi semakin yakin bahwa Carla dapat meloloskan diri sebelum kedatangan Felix.
__ADS_1
Agar tidak ketahuan, Sean harus segera mengatakan sesuatu sehingga tidak tampak mencurigakan.
“Ah, maksudku, kunci kamarku rusak, aku … mencari Kak Zavi untuk meminjam kunci cadangan.” Sean mencoba berkelit semampunya.
Dia benar-benar kesulitan untuk mengatasi rasa gugupnya dan hal itu berhasil dibaca Felix. Felix yang dari tadi duduk di atas sofa segera turun dan berjalan memutari Sean. Tidak ada yang bisa Sean lakukan selain menundukkan kepala dan berharap agar Felix segera menghapus rasa curiganya.
“Lalu bagaimana kau bisa dengan seenaknya masuk ke kamar orang tanpa izin?” desak Felix pada Sean yang menganggapnya telah lancang memasuki kamar Zavier.
Merupakan hal wajar bila Sean melakukan itu pada Zavier, tetapi di sini Felix tidak mengetahui kedekatan Sean dengan kakak sepupunya.
“Pintu itu terbuka sendiri dan aku kira … kau adalah Kak Zavi.” Sean mengakui setengah kebenaran yang ada pada dirinya, tetapi setengahnya lagi tentu akan disembunyikan dari Felix.
Usaha keras dari Sean sepertinya membuahkan hasil. Felix tampak percaya akan pengakuannya, walaupun dia terus menatap Sean dengan awas.
"Ikut!" perintah Felix lugas.
Sean mengekor pada Felix yang sudah tiba di ruang kantor asrama. Dia membuka sebuah kotak dimana disimpan semua kunci cadangan setiap asrama disimpan. Namun, saat melihat ke dalam, ekspresi Felix berubah. Pemuda itu mengerutkan alis saat tidak menemukan kunci kamar Sean.
"Aku tidak menemukan kunci kamarmu," ucap Felix. "Mungkin Luis mengambil kunci cadangannya terlebih dulu.”
Meskipun Sean tidak yakin oleh perkataan Felix, tetapi dia berusaha untuk terlihat percaya. Sean mengangguk dan ingin cepat-cepat segera pergi menjauh dari Felix. Namun, mendadak, Felix menahannya.
“Apa?” tanya Sean yang tidak bisa lagi menyembunyikan kegusaran dalam dirinya.
Dalam hati Sean dia berkata bahwa itu tidak akan membuatnya penasaran sedikit pun, tetapi Sean dapat mengetahui apa yang akan disampaikan Felix bukanlah hal baik.
“Aku ingin Kak Zavier memintamu kembali satu kamar denganku. Bukannya itu ide yang bagus, Sean?” Felix sengaja memprovokasi Sean untuk melihat ekspresinya. Namun, Sean berhasil menyembunyikan ekspresi yang diinginkan Felix.
Menanggapi hal itu Sean tidak bisa berkata apapun, bibirnya sudah terkunci rapat, tetapi dia hanya sempat membalas pandangan Felix dengan tajam. Untuk terakhir kalinya, Sean tersenyum kecut dan pergi begitu saja.
***
“Aku sudah menduga ini akan terjadi, tetapi ini terlalu cepat dari prediksiku. Bagaimana Felix bisa mengambil langkah secepat itu?” Di seperjalanan, tidak henti-hentinya Sean berkeluh sendirinya atas ucapan Felix.
Satu kamar lagi bersamanya akan mengulang tragedi. Akan terjadi kiamat yang lebih hebat bila ini benar-benar terjadi. Namun, saat ini bukanlah hal yang tepat untuk memikirkannya sendiri. Masalah ini harus diselesaikan dengan bantuan Zavier dan Luis.
Tanpa sadar, Sean sudah tiba di depan kamarnya. Tidak ingin membuang waktu lebih banyak, Sean mencoba kunci kamarnya tetapi tetap tidak bisa.
‘Brak!’
__ADS_1
Sebuah tinjuan kecil yang sengaja di sasarkan pada pintu kamar membuat Sean tersentak dan sontak dia berbalik melihat orang yang berani-beraninya melakukan itu pada Sean. Mata Sean melebar saat melihat Frans tepat ada di belakangnya
“Kau, apa yang kau lakukan di tempat ini?”
Sean tidak segan berpura-pura lagi untuk menutupi ketidaksenangannya. Namun, pemuda di hadapannya pun berlaku sama. Dengan beraninya Frans memamerkan sebuah pisau lipat di hadapan Sean.
“Bagaimana bisa kau melakukan itu?” ucap Frans tiba-tiba.
Sean yang tidak bisa menebak arah pembicaraan Frans hanya menatapnya heran. “Melakukan apa?”
"Kau tahu pisau ini?" Ujung pisau yang dibawa Frans didekatkan pada Sean, bahkan Sean dapat merasakan sensasi dingin dari logam itu menyentuh pipinya. Beruntung Frans dapat mengontrol emosinya hingga ujung dari pisau lipat tidak sampai menggores Sean. "Dengan pisau ini … aku merobek 'Stuck' dan bagaimana kau bisa membereskan masalah itu dalam semalam?"
Duar! Terpecahkan sudah misteri rusaknya lukisan Najwa Wong.
Meskipun sudah menduganya dari awal, Sean tidak menyangka bahwa Frans akan mengakuinya sendiri. Rasa penasaran mendesaknya untuk mencari tahu cara Sean mengatasi masalah.
Saat ini juga, menit ini dan detik ini, Sean harus menggunakan kepalanya untuk berpikir dengan cepat sebelum ujung pisau Frans benar-benar menyobek pipinya. "Aku menemui Najwa Wong dan dia bersedia melukisnya ulang."
Satu ucapan kebohongan Sean tampak meyakinkan dan dapat dengan mudah dipercaya Frans. Mau dipikir bagaimanapun lukisan 'Stuck' yang dilihat Frans Benar-benar sama dan Najwa Wong sendiri sudah mengkonfirmasi keasliannya.
'Klang!'
Frans menjatuhkan pisaunya dengan sengaja dan kedua tangannya mencengkram kemeja Sean dengan kuat.
"Apa kau ingin melawanku, hah?" geram Frans yang menambahkan kekuatan pada cengkramannya.
Sean mencoba memberontak, tetapi gagal. Dengan kesulitan berbicara dia mencoba menjelaskan. "Jangan bertingkah kekanak-kanakan, Frans!"
"Apa?" Frans tercengang mendengar ucapan Sean yang tampak tidak takut padanya.
Sean mencoba melonggarkan cengkraman Frans. "Aku bilang jangan bertingkah kekanak-kanakan! Itu akan merugikan dirimu sendiri!"
"Saat semua orang tahu bahwa lukisan yang ada di Ellinden Gallery rusak, tidak pernah kah kau berpikir bahwa itu berdampak besar pada galeri Ellinden sendiri. Tidak akan ada pelukis yang mau menitipkan lukisannya di galeri!" sambung Sean melawan.
Alasan yang benar-benar masuk akal itu tidak membuat Frans mengakui kebenaran. Meskipun begitu, Frans bukanlah orang bodoh yang tidak bisa berpikir maksud dari ucapan Sean.
Sean hanya perlu menggaris bawahi alasan untuk dirinya sendiri bahwa dia tidak melakukan itu untuk Ellinden Gallery tetapi untuk jaminan hidup Sean sendiri. Namun, dia berkata sebaliknya agar Frans tidak mengulangi tindakan yang merepotkan itu.
Di tengah pembicaraan serius itu, Luis yang baru tiba segera mendorong Frans menjauh dari Sean.
__ADS_1
"Apa kau memiliki hobi berisik di depan kamar orang lain?" Luis berkata dengan ekspresi dingin.
Tampaknya Frans tidak ingin mawan Luis, dia segera pergi dengan diam.