
[Misi harian]
[Membantu orang lain dengan bakat anda]
Jendela sistem muncul dengan misi barunya. Sean yang masih ada di dalam studio hanya menatap layar transparan itu. Pikirannya kembali melayang dengan apa yang harus dilakukan pada misi.
“Membantu orang lain?” Sean memegang dagunya tanpa memperoleh jalan keluar dari apa yang sedang dipikirkan.
Tidak ada orang yang membutuhkan bantuan si orang cacat seperti Sean. Akan tetapi pemuda itu teringat akan Ellian. Dia berencana menggunakan gadis itu untuk menyelesaikan misinya.
Sean akan membantu Ellian untuk melukis, itu adalah cara termudah dari jawaban misinya. Tanpa membuang waktu, Sean menghubungi Ellian untuk bertemu dan gadis itu mempersilahkannya untuk datang ke rumahnya lagi.
“Astaga, lagi-lagi harus berduaan dengan Ellian. Bisa gawat bila naluri liarku sebagai laki-laki muncul. Tidak boleh! Kenzo akan menghajarku habis-habisan.” gumam Sean membayangkan apa yang terjadi bila dirinya tidak berhati-hati.
Sean segera menghardik pikirannya sendiri dan pergi ke rumah Ellian. Setelah sampai di rumahnya, segera Ellian membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.
“Sean, aku membutuhkan bantuanmu!” pintanya secara terang-terangan.
Benar! Kata-kata inilah yang ditunggu Sean. Pemuda itu datang di tempat yang tepat karena tahu bahwa Ellian bergantung padanya.
“Apa yang bisa aku bantu? Apakah ada kesulitan dalam proses latihan lukismu? Ataukah kau ingin aku membantu mengerjakan tugas seni rupa dari gurumu?” Pertanyaan-pertanyaan Sean menjadi berjejal tidak ada habisnya, tetapi Ellian hanya menggeleng.
“Masuklah, aku akan memberitahukanmu detailnya.”
Sean pun mengikuti Ellian. Namun, sesampainya di ruang tamu, seorang gadis duduk di atas sofa dengan tersedu.
Sean dapat menebak siapa gadis itu berdasarkan seragam sekolah yang dipakainya, sudah pasti dia adalah teman sekolah dari Ellian.
“Ini adalah Alice, dia teman satu kelasku.” Orang yang dipanggil namanya oleh Ellian mencoba menahan tangisannya. Namun, Ellian beralih menatap Sean. “Soal bantuan yang kau tawarkan, aku ingin kau membantuku untuk mencari kucing Alice yang hilang.”
Duar! Seperti sedang di palu Thor, Sean tercengang tidak bisa bicara. Dia tidak menyangka bahwa rencananya tidak akan berjalan dengan baik kali ini.
Sistem memang memberikan misi untuk membantu orang lain, tetapi sistem sudah menggaris bawahi bahwa bantuan itu harus berhubungan dengan bakat Sean. Mencari kucing hilang memang tidak berfaedah untuk kemampuan seninya.
“K-kucing? Apa kau menyuruhku membantu untuk menemukan kucing temanmu?” Sean bertanya tidak yakin. Disisi lain dia berharap agar Ellian bisa mengubah apa yang telah diucapkannya tadi.
Alice mengambil alih dalam pembicaraan mereka. “Benar, semalam aku kehilangan kucing, namanya Boboy. Sepertinya dia mengendap-endap keluar untuk mencari kucing betina komplek. Boboy tidak pulang, dia tersesat. Aku khawatir dia akan pingsan karena tidak bisa mencari makanannya sendiri.”
__ADS_1
“Jadi kalian meminta bantuanku untuk mencari Bo … Bo … apa namanya? Boboy?” tanya Sean yang tidak bisa mengingat benar nama kucing itu.
Kucing dengan nama aneh itu benar-benar membuat Sean frustasi. Pemuda itu ingin menolak permintaan yang tidak ada hubunganya dengan melukis, tetapi saat melihat kedua wajah gadis yang penuh harap, membuat Sean terpaksa menerimanya.
Rumah Alice tidak jauh dari tempat tinggal Ellian, bahkan hanya beberapa langkah dari rumahnya. Benar-benar tetangga yang merepotkan.
Pada akhirnya, Sean memutuskan untuk berkeliling mencari seorang kucing yang dipanggil-panggil dengan sebutan Boboy. Pencarian itu tidak membuahkan hasil, dengan perasaan kusut mereka kembali di rumah Ellian.
“Tidak ketemu!” jelas Sean yang membuat mata gadis cengeng itu berlinang air mata.
“Huwaaa! Bagaimana ini? Boboy adalah kucing baik, penurut, tampan, tidak banyak tingkah dan bla … blaa …. Dia pasti menderita bla … blaa …” Rengekan Alice benar-benar membuat telinga Sean menjadi panas.
Ellian kembali menenangkan Alice. Namun, dia memberikan tatapan tajam pada Sean yang tidak bersimpati sedikit pun. “Apa tidak ada cara lain untuk mencarinya?”
Sean sedikit berpikir. “Mungkin dengan menunjukkan foto Bo-Boboy pada orang-orang disekitar.”
“Tetapi aku tidak memiliki foto kucing itu huu huu!” sahut Alice kembali terisak.
“Tidak masalah, aku bisa menggambarkannya untukmu.” Ide Sean disambut dengan antusias. Ellian segera menyiapkan alat gambarnya dan Alice mendeskripsikan ciri-ciri kucingnya pada Sean.
Kucing jantan gendut, mata kuning, warna bulu putih dengan tutul-tutul hitam dan berekor panjang. Ciri mencolok adalah Hidung yang juga berwarna hitam. Sean cukup membayangkannya saja dan menoreh pensil warna di atas kertas.
Alice melihat dari dekat hasil dari lukisan Sean, dia benar-benar tidak percaya bahwa Sean dapat menggambar kucingnya walau dengan deskripsi singkat. Bila saat ini Sean mengaku sebagai profiler, semua orang di tempat itu akan percaya begitu saja.
“Keren! Bagaimana kau bisa melakukannya?” puji Alice takjub dengan karya Sean.
“Hah, Sean ini mahasiswa seni. Aku belajar melukis darinya.” sahut Ellian tanpa ditanya.
“Apakah aku juga bisa ikut bergabung?” Dengan ini Alice mengajukan diri sebagai murid kedua Sean.
Ellian langsung mengiyakan tanpa persetujuan dari Sean, sedangkan Sean tampak kalah dengan sikap kedua gadis itu yang sesukanya.
“Selamat Sean! Bebanmu bertambah!” batin Sean dari dalam hati.
Sean tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain, dia harus segera menemukan si Boboy dan melanjutkan untuk menyelesaikan misinya.
Mereka pun kembali mencari dengan menggunakan gambar dari Sean. Setelah beberapa orang yang ditemuinya mengatakan tidak tahu, mereka bertemu seorang satpam yang mengatakan melihat kucing dengan ciri-ciri yang sama tadi pagi.
__ADS_1
Satpam itu menunjuk suatu tempat yang adalah warung makan. Di sana terlihat kucing gendut dengan ciri-ciri yang sama sedang asik menikmati ikan goreng pemberian ibu warung. Benar-benar kucing tanpa akhlak!
Saat kedua gadis itu senang menemukan kucing yang dia cari, Sean kembali dikejutkan oleh kemunculan jendela sistem.
[Selamat! Anda berhasil menyelesaikan misi]
“Misi hadiah? Bagaimana bisa? Aku belum melakukan apapun untuk menyelesaikan misi.” gumannya pada diri sendiri.
Sean tersadar akan apa yang telah dia lakukan untuk membantu mencari Boboy. Benar, secara tidak sadar Sean menggambar Boboy untuk dapat segera ditemukan. Bantuan kecil itu benar-benar tidak terpikirkan sebelumnya!
[Hadiah misi: Brain Memory]
[Kemampuan yang dapat digunakan untuk mengingat bentuk grafis dengan sangat detail]
[Kemampuan hanya digunakan 10 detik setiap pemakaian]
“Waow! Kemampuan penting yang tidak semua dimiliki setiap seniman.” Setelah puas dengan apa yang dia dapatkan, Sean segera kembali di asrama.
***
“Sean, ada seorang yang mencarimu.” Zavier langsung menyampaikan kedatangan seorang tamu setelah melihat Sean.
Sean tidak berpikir telah memiliki janji untuk bertemu di asrama, tetapi rasa penasarannya tidak akan terjawab sebelum dia melihat langsung siapa orang yang ingin menemuinya.
Saat Sean pergi ke ruang tunggu, betapa tidak percayanya Sean dengan apa yang telah dia lihat.
Deg!
Jantung Sean seakan berhenti.
“Sean, kemarilah dan duduk.” Setelah melihatnya, pria pirang yang dilihat Sean menyuruhnya duduk.
Bagaimana Sean harus tetap berdiri tanpa mengindahkan perintah pria itu. Dia adalah Rift Ellinden. Entah apa tujuan pria itu datang mencari Sean, tetapi Sean duduk patuh dan mendengarkan apa yang akan dibicarakannya.
Ellinden menyerahkan sebuah amplop cokelat untuknya. “Aku sudah mengurus rekomendasi untuk bekerja di Ellinden Galeri dan kau akan menjadi pekerja magang sebagai asisten kurator. Bekerjalah di akhir pekanmu.” terang Ellinden.
“Baiklah, Tuan, besok saya akan mulai bekerja.” Sean terpaksa mengucapkan apa yang telah bertentangan dengan isi hatinya.
__ADS_1
Tidak banyak yang dibicarakan lagi, Ellinden tersenyum puas dan kembali pergi.