MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
'Spring of Canaria'


__ADS_3

Setelah kembali di kamar asrama, Sean langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Namun, saat pandangannya terangkat di atas, Sean tampak terkejut dengan apa yang sudah dilihatnya. 


Lukisan 'Spring of Kanaria' menggantung pada dinding kamarnya sehingga saat Sean ada di atas ranjang, dia dapat melihat lukisan itu dengan jelas. Bagaimana Sean dapat tidur tanpa bermimpi bila yang dilihatnya adalah lukisan erotis seperti itu.


Sudah pasti Luis yang menggantungkannya di tempat itu, entah apa motifnya.


"Di balik penampilan polosnya ternyata di menyukai hal-hal seperti juga," desah Sean yang tidak tahan berlama-lama menatap lukisan itu.


Di luar kamar, pintu diketuk dan saat Sean membuka pintu tampak Zavier datang. Pria itu membawa beberapa paket untuk Sean.


"Paket-paketmu datang, tetapi kau sering tidak terlihat di kamar. Jadi aku menyimpannya untukmu," ucap Zavier yang tidak langsung menyerahkan barang-barang itu. "Ini terlalu banyak, dimana aku bisa menaruhnya?"


"Tolong letakkan di atas meja, Kak," balas Sean dengan santun. "Terimakasih sudah membawanya."


Zavier masuk di kamar dan meletakkan barang-barang Sean di atas meja, saat dia akan pergi, langkahnya tertahan di atas lantai. Tubuh Zavier tidak tergerak sedikitpun saat pandangannya terkunci pada lukisan 'Spring of Canaria'.


Sean mengikuti sudut mata Zavier dan dia menyadari  sesuatu …. Benar, lukisan vulgar itu pasti ada dalam aturan asrama.


Zavier yang pekerjaannya mengelola asrama pasti sudah mengetahui aturan itu. Tidak boleh menempel gambar tak senonoh di dalam kamar asrama! Akan tetapi sampai saat ini pun, dia hanya membisu dengan tatapan yang tidak teralihkan.


Merasa dirinya telah melanggar aturan asrama, Sean lebih dulu mengakui dosanya. "Sepertinya lukisan seperti itu tidak boleh ada di tempat ini, kan? Maafkan aku, Kak Zavi. Aku akan membicarakannya pada Luis dan memintanya untuk menurunkan lukisan itu."


Di dalam hati Sean tentu saja dia ingin mengutuk Luis. Menggantungkan ‘Spring of Canaria di dinding kamarnya membuat mereka tampak seperti orang mesum. Namun, itu tidaklah ada artinya bagi Zavier. Pria itu tampak mengabaikan Sean dan terlarut lebih dalam pada 'Spring of Canaria'.


Sean tahu paras wanita yang menjadi objek lukisannya begitu cantik, tetapi dia tidak habis pikir bahwa kecantikan Mawar juga dapat menghipnotis Zavier. Diam-diam Sean terkekeh atas pikirannya sendiri, bisa jadi Zavier memiliki selera tak senonoh yang sama dengan Luis.


"Wanita itu …." Zavier kembali diam saat menelan pikirannya lebih dalam. "Apakah kau yang melukis wanita itu?"

__ADS_1


"Benar, aku menyewa sebagai model lukisan. Maaf bila aku memintanya melakukan hal yang vulgar," ungkap Sean yang tidak juga mempengaruhi ekspresi Zavier.


Zavier hanya bergeming, sedetik kemudian dia beralih menatap Sean. "Ada yang harus aku tunjukkan padamu."


***


Tanpa kejelasan apa-apa, Zavier membawa Sean ke kamarnya. Kamar di lantai satu yang tidak jauh dari tempat Sean. Karena tidak bisa meninggalkan asrama kecuali pada musim libur tahunan, Zavier harus tinggal di tempat itu.


"Masuk dan duduklah dimana pun kau suka," ungkapnya yang lagi-lagi mengabaikan Sean. Pria itu tampak sedang menelpon seseorang dan menyuruhnya datang, tetapi hal itu tidak ada hubungannya dengan Sean. Pandangan pemuda itu berkeliling di tiap sudut kamar Zavier.


Untuk pertama kalinya Sean melihat kamar Zavier yang ukurannya lebih besar ketimbang kamar-kamar lain di asrama ini. Ini adalah kamar paling nyaman dan memiliki fasilitas lebih lengkap.


Ada satu ranjang besar, lemari tinggi 3 pintu, meja belajar dan sebuah sofa kecil. Di sofa itu, Sean duduk di salah satunya sambil melihat Zavier sibuk mengobrak-abrik isi lemarinya dan mengeluarkan sebuah kotak.


Sean hanya melihat tak berkomentar sampai Zavier mengeluarkan sebuah foto dan memperlihatkannya pada Sean.


Sebuah potrait dari seorang pemuda sedang bersama seorang gadis dengan wajah familiar membuat Sean kembali menggali ingatannya.


Mawar! Satu nama itu terngiang saat melihat kesamaan Mawar dengan gadis di dalam foto. Wajahnya terlalu mirip untuk dikatakan sebagai sebuah kebetulan dan tidak mungkin ada orang yang menyangkal bila kedua gadis itu adalah orang yang sama.


“Aku tidak tahu nama gadis itu, orang yang ada di samping fotonya adalah adik laki-lakiku yang telah meninggal. Sebelumnya, beberapa kali aku mendapati mereka berdua bertemu diam-diam di pintu belakang asrama. Aku pikir hubungan mereka biasa, tetapi saat setelah kematian adikku … aku menemukan foto ini di dalam mejanya. Aku pikir hubungan mereka lebih dekat dari yang aku kira.” Penjelasan yang di luar dugaan itu sampai pada telinga Sean. Meskipun begitu, Sean tidak bisa langsung mengambil kesimpulan dan hanya menyusun hipotesanya saja.


Di saat itulah, Luis menerobos pintu kamar Zavier dan masuk. Terdengar napasnya terengah-engah seolah tidak ada lagi udara yang tersisa di dalam ruang parunya.


“Kau memanggilku, Zavi? Ada apa? Di telepon kau mengatakan sesuatu tentang Rain.” Ucapan Luis membuat Sean mengetahui bahwa orang yang sedang berbicara dengan Zavier di dalam telepon adalah dirinya. Hanya saja, ada satu nama asing bagi Sean yang disebutkan Luis … Rain.


Menyadari bahwa di kamar itu tidak hanya ada Zavier seorang, pandangan Luis beralih pada Sean. Ekspresi wajahnya begitu buruk, seolah di saat seperti ini kehadiran Sean tidak diharapkan ada. “Sean? Kenapa kau ada di tempat ini?”

__ADS_1


Belum juga Sean menjawab pertanyaan Luis, Zavier menyuruhnya duduk. Dia mengambil sofa yang ada di samping Sean sehingga tidak sengaja matanya melihat foto yang ada pada Sean. Luis tampak mengenalinya.


“Foto itu … bukannya dia wanita di Canaria? Mengapa dia ada bersama Rain di dalam foto?” Pertanyaan dari Luis membuat Sean dan Zavier saling memandang dengan ekspresi serius. Rupanya apa yang dipikirkan kedua orang ini sama dengan apa yang Luis pikirkan. 


Luis yang ikut memandangi mereka mengerutkan dahi, dia kembali beralih mengambil foto potrait itu dan melihatnya lebih dekat.


“Apakah wanita itu benar mawar? Sepertinya aku mengingat wajah itu.” Dengan penuh teka-teki, Luis kembali menggali ingatannya. Namun, dirinya tampak menyangkal apa yang ada di dalam pikirannya. “Tidak, sepertinya itu tidak mungkin.”


“Kau tahu siapa orang yang ada pada foto ini, Luis?” Zavier tampak tidak sabaran. Pria itu beranjak dari duduknya dan mengguncang lengan Luis.


“Carla Edena.” Hanya sepenggal nama yang keluar dari mulut Luis. Nama seorang wanita itu tidaklah pernah didengar Zavier ataupun Sean, tetapi Luis tampak yakin dengan hal itu. “Dia adalah mahasiswa seni musik yang ada di tahun yang sama dengan Sean.”


Hidup Sean benar-benar terpuruk karena yang dia kenali hanya Sean dan Felix, tanpa mengetahui bahwa ada mahasiswa seni musik bernama Carla Edena, tetapi itu tidak cukup membuatnya paham tentang Carla Edena, Mawar dan wanita di dalam foto itu.


“Sial! Mengapa aku tidak mengenali Carla saat di Canaria!” gerutu Luis akan ketidaktahuannya. 


Sean tahu betul saat di Canaria, Luis benar-benar menjaga matanya. Demi bisa mengontrol naluri prianya, Luis harus berpaling pada kemolekan wanita di Canaria. Bagaimana dia dapat melihat Mawar dengan benar bila dia terus-menerus berpaling darinya?


“Aku tidak akan tahu apa-apa bila hanya diam saja di tempat ini. Wanita yang kalian temui di Canaria itu … aku harus segera mencarinya.”


Zavier hendak pergi, tetapi dicegah Luis. Tanpa menatap pria itu, dia menahan tangannya dan menyuruhnya kembali duduk.


“Jangan gegabah, kita tidak boleh menuduh orang yang salah.” Dalam pembicaraan ini, hanya Luis saja yang terlihat normal. Dia dapat mendinginkan pikirannya meskipun Sean dapat melihat hatinya dibungkam gelisah.


“Jadi apa yang harus kita lakukan?” Zavier kembali bertanya.


Tampak jelas Sean sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya, tetapi matanya kembali cerah seakan dia sudah menemukan jawaban akan masalah ini.

__ADS_1


“Ada! Ayo bersiap, Sean! Malam ini kita ke Canaria!” seru Luis lebih antusias dibandingkan saat pertama kali dia pergi ke tempat itu.


__ADS_2