MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Keberhasilan Misi


__ADS_3

Urban Spaces.


Pada siang hari, tepat pukul 12 siang, Sean menyeret Nico Azer di dalam High Tower, dimana acara itu adalah acara tahunan dimana ratusan pelukis hadir disana.


“Aku sudah bilang tidak akan datang di tempat ini, tetapi kau membawaku dengan paksa! Menyebalkan!” gerutu Nico Azer yang mencoba melarikan diri, tetapi gagal. Tanpa memberikannya sedikit celah, dia menarik pria itu sampai dia menghentikan akhir dari langkahnya.


Dengan sedikit kesal Sean hanya menatapnya tajam Nico Azer. “Kau sendiri yang memberiku syarat untuk mendapatkan ‘Chain of Eros’, jadi diam dan ikuti saja rencanaku.”


Meskipun dengan seribu oceha Nico Azer, Sean tidak memperdulikannya. Dia terus berjalan melewati keramaian dan di ujung itu tampak Shiren berdiri dan tanpa sengaja tatapannya mengarah pada Sean. Tidak lama, tatapan wanita itu beralih pada orang yang ada di belakang Sean.


“Nico!” dengan mengabaikan keberadaan Sean, Shiren berlari kecil untuk segera tiba di hadapan Nico Azer. Tidak berani berkomentar, Shiren hanya menatap penampilan baru pria itu saat ini.


Perbedaan dari Nico yang dikenal Shiren sungguh bertimpang jauh dari pria yang ada di hadapannya saat ini. Pria gondrong yang selalu dilihatnya dengan rambut yang asal diikat kini tampak klimis dengan meninggalkan rambut panjangnya, Tidak hanya itu, pakaian yang selalu acakadul dengan noda cat yang ada dimana-mana kini lebih rapi dengan setelan kemeja polos dan pantofel mengkilap.


“K-kau benar-benar Nico Azer?” tanya Shiren terkesimah sesaat, sebelum wanita itu kembali memastikan identitas pria di depannya.


Tidak ada jawaban dari Nico Azer. Gerutu panjangnya yang dilontarkan terus-menerus pada Sean kini lenyap bersamaan kedatangan Shiren Bellian. Namun, wanita yang di depannya mengabaikan perasaan Nico Azer dan lebih memilih untuk memuaskan rasa rindunya. Tanpa peduli sedang ada di tempat umum, Shiren Bellian melingkarkan lengannya pada leher Nico.


“Aku benar-benar merindukanmu, mengapa kau tidak pernah membalas pesanku?”


Pertanyaan itu seharusnya dapat dijawab Nico Azer dengan mudah. Tentu saja karena pria itu memblokir nomor Shiren dan mengabaikan setiap pesan yang diterimanya. Namun, kenyataan itu tidaklah mudah untuk diucapkan dan pada akhirnya Nico lebih memilih diam menyimpan pengakuan sebelumnya.


Takut kehilangan Nico Azer, Shiren Bellian menambah pelukan eratnya, bahkan kepalanya dengan nyaman disandarkan pada dada Nico.


Tidak memberontak, Shiren pikir Nico menyetujui perbuatannya. Namun, Nico Azer berkata lain.


“Lepas!” Suara lugas dari Nico menghancurkan suasana romantis itu. Shiren yang masih memeluknya sedikit terkejut seolah tidak mungkin d


Orang yang dipeluknya berkata padanya dengan nada dingin. “Aku bilang lepas!”


Dengan tidak percaya, Shiren melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nico Azer yang sama dingin dengan kata-katanya. “Mengapa?”


"Mengapa kau tetap menghubungiku? Hubungan kita sudah berakhir dan …."


Belum selesai Nico melanjutkan kata-kata penolakan, Sean mulai mengambil alih suasana. Dia menepuk bahu Nico dan tersenyum.


"Maaf sekali, aku disini tidak mempertemukan kalian untuk beradu mulut.” Ucapan Sean sukses membuat Shiren dan Nico Azer beralih menatapnya. “Sesuai dengan kesepakatan, aku akan membantumu untuk memenangkan hati kakak Shiren.”


Raut wajah tegang Shiren mengendur seketika dan menyambut senang ucapan Sean, tetapi saat Sean hendak pergi Nico menahannya. Dia berbisik dengan sebuah penekanan kata.

__ADS_1


“Dengan berubahnya penampilanku tidak akan cukup untuk membuat kakak Shiren mengubah keputusannya. Perasaannya akan tetap sama tidak sukanya terhadapku.”


Sean menggeleng, “Aku pernah mengatakan sebelumnya, bahwa sisanya aku yang akan mengurus semuanya.”


Karena tidak mendengarkan ucapan Nico Azer, pria itu terpaksa mengikuti kepergian Sean dan Shiren yang terlebih dulu ada di depan. 


***


Setelah berada di lantai Low Tower, suasana di tempat itu lebih renggang ketimbang lantai atas. Banyak gerai-gerai restoran menyajikan view indah dan dengan berbagai citra rasa, tetapi tidak membuat Sean tertarik pada satu pun tempat kecuali sebuah restoran yang memiliki fasilitas ruang privat dimana dia bisa berbicara leluasa di tempat itu.


Saat mereka datang, seorang pemandu membawa mereka di sebuah tempat yang sudah di pesan. Sungguh terkejutnya saat tahu bahwa Soraya Bellian sudah duduk menunggu mereka di tempat itu.


Tanpa berkata, wanita itu menatap tajam ke arah Nico tanpa menutupi perasaan ketidaksukaannya. Melihat itu, baik Shiren maupun Nico Azer hanya terpaku tanpa berinisiatif untuk melangkah maju.


“Ayo!” ajak Sean, tetapi ajakan itu tidak bisa mengubah apapun.


Beruntung, Kenzo Karrin yang duduk di samping Soraya menghampiri mereka dan mempersilahkannya untuk masuk.


Kenzo kembali duduk di samping Soraya Bellian, sedangkan di depannya, Sean menengahi Shiren maupun Nico Azer.


Melihat Nico begitu tegang dengan raut kaku, Sean membisikkan sebuah kata agar Nico dengan berani mengatakan keinginannya agar Soraya Bellian menyetujui hubungan mereka. Jelas Nico Azer langsung menyangkal, dia tetap bertahan dengan harga dirinya.


“Apa kau pikir dengan berpenampilan seperti ini akan merubah mengubah keputusanku?” Kata-kata tidak berperasaan dari Soraya Bellian meluncur lebih dulu, bahkan kata-kata tajam itu terlontar tanpa sebuah salam. “Kau salah, kau bukanlah orang yang pantas masuk di keluarga Bellian.”


Suasana ruang privat yang harusnya hangat dengan aksen-aksen kayu dan cahaya matahari menyorot dari sebuah jendela lebar, mendadak menjadi dingin. Atmosfer di tempat itu menjadi sesak saat Shiren dan Soraya saling bertatap mata.


Tidak ingin rencananya gagal di tengah jalan, Sean segera berbuat sesuatu. Dia memberikan sebuah dokumen yang sudah disiapkannya pada Kenzo Karrin.


“Lihatlah! Dokumen itu berisi koleksi-koleksi lukisan Nico Azer yang dia kerjakan bersama Shiren. Lukisan itu memiliki daya tarik tersendiri ketimbang bila dia melukis secara tunggal. Kau akan lihat perbedaannya.”


Saat mendengar penjelasan dari Sean, Kenzo Karrin segera memeriksa gambar lukisan mereka yang dicetak di dalam dokumen itu. Wajah Kenzo menjadi lebih serius dan pikirannya tenggelam pada gambar-gambar lukisan mereka.


“Jangan bilang ….” Kenzo Karrin yang tadinya menatap dokumen kini beralih pada Shiren dan Nico. “Jangan bilang karya ‘Chain of Eros’ bukan hanya lukisan Shiren, tetapi dia melakukannya bersama Nico Azer?”


Shiren begitu terkejut karena lukisan yang dia lukis diam-diam itu ternyata diketahui Kenzo Karrin. Tidak hanya Kenzo Karrin, ternyata kakaknya juga mengetahuinya. 


Awal mula saat Soraya Bellian yang kesal akan hubungan mereka mengirim lukisan itu pada Kenzo untuk menjualnya, tetapi Kenzo menolak dan mengirimkan lukisan itu pada Nico Azer. Itulah mengapa ‘Chain of Eros’ berakhir di tangan pria itu.


Sean kembali pada perannya sebagai penengah. Dia segera menjelaskan secara terperinci letak kelebihan dari lukisan mereka.

__ADS_1


Meskipun sama-sama melukis dengan konsep abstrak, sifat dari pelukis membuat pengaruh pada goresan gambarnya. Shiren memiliki teknik garis tegas dan kasar, berbeda dari Nico Azer yang di balik harga dirinya, dia memiliki teknik garis yang lebih lembut dan dapat membaur dengan cat sekitarnya.


Kedua perbedaan itulah yang membuat karya-karya gabungan mereka memiliki nilai tinggi ketimbang harus melukisnya sendiri-sendiri. Dengan itu masalah Nico Azer sebagai pelukis jalanan yang hanya memiliki pendapatan rendah dapat terpecahkan. 


Meskipun sudah mendengar penjelasan Sean tidak membuat ekspresi Soraya Bellian berubah. Padahal jelas, Sean sudah mengatakan bahwa dia akan menyerahkan lukisan-lukisan itu untuk dijual Kenzo Karrin dan dengan itu Nico Azer dapat hidup dengan layak bersama Shiren.


“Kakak, aku sudah dewasa! Aku bisa memutuskan dengan siapa aku harus berkencan bahkan tanpa persetujuan darimu!” Ucapan pertentangan dari Shiren menyadarkan Soraya Bellian bahwa dia terlalu khawatir akan masa depan adiknya.


Kedua orang tua mereka sudah meninggal, wajar bila Soraya harus mengambil peran ibunya untuk melindungi Shiren. Namun, beban itulah yang membuat Soraya salah dalam mengambil keputusan.


“Nico adalah orang baik. Meskipun begitu … jangan samakan dia dengan level dari orang yang kakak sukai.” 


Semua di ruangan itu saling bertatapan seolah tidak mengerti ucapan Shiren. Mendengar namanya disebut, Kenzo hanya diam penuh penasaran, tetapi pria itu mencoba untuk tenang dan mendengarkan semua ucapan Shiren. Berbeda dengan Soraya yang wajahnya begitu terkejut, dia mendelik seolah tidak ingin Shiren melanjutkan ucapannya. Namun, terlambat, Shiren sudah melontarkan kata-kata yang ada di pikirannya.


“Aku tahu kakak menyukai Kenzo Karrin,” sambung Shiren. “Meskipun dia adalah pria yang elegan berbeda dengan Nico Azer, tetapi keduanya memiliki kelebihan masing-masing.”


Duar! Seakan perayaan kembang api tahun baru meledak di dalam ruangan itu. Semuanya terkejut, baik Nico Azer maupun Sean. Tidak terkecuali pada Kenzo Karrin yang tidak menyangka Shiren dapat mengetahui perasaan dari Soraya Bellian.


Keringat dingin dan mata terbelalak penuh keresahan adalah ekspresi yang ditunjukkan Soraya Bellian, tetapi wanita itu tidak bisa menyangkal dari kebenaran perasaannya. Tidak sampai itu saja, Shiren kembali menegaskan bahwa dia sudah bisa mengambil keputusannya untuk berkencan dengan siapapun, baik itu dengan Nico Azer yang tidak kakaknya sukai.


Tanpa bisa berkata lagi, Soraya hanya diam dengan wajah memerah semu. Kesempatan itulah digunakan Shiren untuk kabur bersama Nico Azer.


***


Di dalam ruangan privat, hanya ada Sean dan Kenzo Karrin yang diam memandangi Soraya Bellian.


“Jangan percaya!” Soraya mulai dapat menyangkal. “Shiren hanya mengatakan hal yang mustahil.”


Meskipun mengatakan hal itu, Sean dapat mengerti pertentangan dari isi hati Soraya Bellian. Apa yang dikatakan adiknya jelas ada benarnya, tetapi Kenzo Karrin yang acuh tidak ingin menanggapinya.


Tidak ingin mengganggu kencan antara Soraya Bellian dan Kenzo Karrin, Sean cepat-cepat pergi sebelum pamit dan betapa terkejutnya saat Nico Azer sudah menunggunya di depan restoran.


“Aku masih belum tahu apakah ini akan berhasil untuk kakak Shiren, tetapi mulai dari sini aku akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan restunya sendiri.” Pesan Nico Azer yang membuat hati Sean begitu lega.


“Lalu … bagaimana dengan ‘Chain of Eros’?” tanya Sean.


“Jangan khawatir, aku akan memberikannya padamu.” Nico Azer menjawab pertanyaan Sean sebelum pergi.


Benar-benar jackpot, Sean tidak menyangka akan mendapatkan lukisan yang dia mau dengan cara seperti ini.

__ADS_1


[Selamat anda berhasil mendapatkan ‘Chain of Eros’]


Sean tidak bisa menahan senyum kepuasannya saat membaca tulisan yang ada di dalam jendela sistem.


__ADS_2