
Pagi-pagi sekali bukanlah hal sopan untuk datang bertamu ke tempat seseorang, tetapi Sean dan Kenzo Karrin nekat melakukannya. Apalagi dengan persetujuan dari si tuan rumah yang tidak lain adalah Soraya Billian.
Di lantai 22 gedung apartemen Golden Royal, tepat pada kamar 2223, Sean mengetuk pelan daun pintu ruangan itu. Tidak lama, seorang wanita dengan rambut sebahu keluar dan menyapa mereka. Dia adalah Soraya dengan penampilan berbeda dari yang biasa dilihat Sean ataupun Kenzo Karrin.
Soraya Bellian tampak lebih santai dengan pakaian longgar ketimbang setelan kerja yang sering dia kenakan. Namun, wajahnya masih sama cantik, apalagi kepribadiannya yang tegas menjelaskan bahwa dia adalah wanita mandiri dengan ego tinggi. Cukup sesuai dengan kepribadian Kenzo Karrin yang tidak jauh berbeda.
“Kalian sudah datang? Masuklah.” sapa Soraya Bellian mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk.
Tidak di ruang tamu, tetapi Soraya Billian menunjuk sebuah kamar yang terkunci dari dalam dan berbisik pada Sean. “Dia ada di dalam, apa kau bisa menanganinya?”
Pemilik kamar itu adalah Shiren Bellian yang setelah mengalami suatu peristiwa menjadikan dirinya sebagai anti sosial. Setiap hari dia gunakan untuk mengunci diri di kamarnya tanpa keluar selangkah pun. Dia pun enggan berinteraksi dengan Soraya Bellian yang adalah satu-satunya keluarga yang Shiren miliki.
Soraya Bellian yang sudah angkat tangan hanya bisa meletakkan makanan dan minuman pada meja di samping pintu kamar. Saat tidak ada orang, Shiren akan mengambil makanannya dan kembali mengunci di kamar.
Melihat situasi yang tampak rumit, Sean hanya bisa mengangkat bahu, seolah dia sendiri belum mempersiapkan rencana untuk menghadapi Shiren Bellian. Hanya saja, Sean mengerti bahwa wanita yang ada di dalam kamar itu tampak tidak ingin menemui kakaknya sendiri.
Sean menyarankan agar Soraya Bellian pergi bersama Kenzo dan memberikan sesuatu padanya.
“Apa ini?” tanya Soraya tidak mengerti. Dia menerima dua lembar kertas yang ternyata adalah tiket bioskop. Soraya membaca tiket itu dan kembali beralih pada Sean. “Mengapa kau memberikan ini padaku?”
“Aku hanya ingin membuat suasana yang tidak banyak orang dimana Shiren dapat terganggu dengan itu,” jawab Sean yang menatap Kenzo Karrin dan memberikan kode agar pria itu berada di pihaknya.
Kenzo yang mengerti itu mencoba melihat dua tiket yang diberikan Sean. Bukan sembarang tiket karena jadwal tayang film tepat tengah malam. Dari sisi ini Kenzo benar-benar mengerti bahwa dia membutuhkan banyak waktu untuk berbicara dua mata dengan Shiren tanpa ada di bawah pengawasan Soraya.
“Apa kau tidak suka filmnya? Aku akan mencarikan film lain yang kau inginkan.” Dengan cukup piawai memainkan perannya, Kenzo menatap Soraya Billian. Wanita itu tampak keberatan dengan ide Sean, tetapi saat Kenzo berbicara … rasa keberatan itu hilang seperempatnya.
__ADS_1
“Tidak seperti yang kau pikirkan, Aku hanya mengkhawatirkan adikku. Dia bukan tidak mudah dihadapi.” Soraya Billan mencoba menjelaskan sehingga baik Sean maupun Kenzo Karrin memberikan kesempatan untuknya berbicara. Namun, sebenarnya tucapan wanita itu tidak berpengaruh bagi mereka yang sudah menetap pada rencana awal.
“Shiren tidak suka diganggu! Saat aku mencoba masuk ke kamarnya, dia memberontak dan berperilaku agresif. Akan berbahaya bila dia memukul ataupun melemparkan benda-benda yang ada di kamarnya,” sambung Soraya dengan serius. Ekspresi yang ditunjukkan wanita itu pun tidak main-main, dengan tegasnya dia menolak membiarkan Sean menghadapi adiknya sendirian.
Sejenak Sean berpikir, menghadapi seorang yang agresif bukanlah keahliannya. Tujuan pemuda itu hanya mencari lukisan ‘Chain of Eros’ sehingga dia harus mencari akal agar bisa menghadapi Shiren.
Kepercayaan yang diberikan Sean pada Kenzo Karrin membuat dirinya harus membujuk Soraya Bellian dan berhasil pada akhirnya. Dengan berat hati, Soraya terpaksa menyetujuinya, tetapi sebelum pergi Kenzo Karrin menghampiri Sean dan berbisik lirih.
“Seorang pria dan wanita yang sudah dewasa berada di dalam rumah sendirian. Berhati-hatilah dengan naluri priamu,” Kata Kenzo Karrin dengan nada mengancam. Peringatan keras itu membuat Sean terpaksa menenggak liurnya sendiri.
Hal yang ditakutkan pria itu tidak akan pernah terjadi, bagaimana Sean bisa menyentuh adik dari Soraya Bellian yang memiliki teman seorang pelukis psikopat seperti Kenzo? Tidak ada jaminan darah Sean akan aman tanpa dijadikan cat lukis oleh psikopat itu.
***
Tidak ada pergerakan apapun, tetapi lima menit kemudian pintu sedikit terbuka dari dalam. Shiren Bellian menunjukkan wajahnya yang serupa dengan Soraya dan dengan tatapan waspada matanya menatap ke segala arah. Saat memastikan tidak ada orang lain di sekitarnya, wanita itu mengendap keluar dan mengambil set makanan yang sengaja dijadikan umpan oleh Sean.
Setelah mendapatkan jatah makan pagi, Shiren hendak menutup pintu kamar, tetapi sebelum pintu benar-benar tertutup, Sean datang dan menahannya.
“Siapa kau? Pencuri! Pencuri!” Melihat orang yang tidak dikenalnya ada di dalam rumah reflek membuat Shiren berteriak. Dengan sekuat tenaga dia menghalau Sean masuk kamar sehingga kedua orang itu saling mendorong pintu ke arah yang berlawanan.
“Buka dulu pintunya, aku bukan pencuri!”
Sean mencoba menjelaskan, tetapi Shieren yang sudah terlanjur panik tidak bisa mendengarkan ucapan Sean dengan benar. Pemuda itu terus-menerus mencoba memberikan penjelasan, tetapi hanya membuat teriakan Shiren semakin keras. Beruntung rumah ini dibangun dengan memikirkan kedap suara sehingga teriakan Shiren tidak sampai keluar. Bila tidak … sudah pasti seluruh penghuni komplek apartemen berdatangan dan petugas keamanan akan menyeret Sean ke kantor polisi.
“Dasar pencuri! Keluar!” teriakan Shiren Bellian menjadi.
__ADS_1
Meskipun Shiren memberikan perlawanan, tetapi tenaga Sean lebih besar ketimbang seorang wanita yang bahkan belum menyentuh makan paginya. Dengan serangan mengejutkan, Sean berhasil mendorong pintu hingga terbuka dan tidak sengaja membuat Shiren jatuh terpental.
“Tenanglah, aku hanya ingin bicara denganmu.” Kata-kata yang keluar dari mulut Sean tampak sia-sia. Tidak ada satu huruf pun dari perkataannya yang berhasil menembus telinga Shiren Bellian.
Tampak sudah terpojok, Shiren bangkit dan melemparkan apapun di sekitarnya pada Sean.
"Hentikan itu!" Sean hanya bisa menghalau serangan Shiren tanpa bisa membalasnya.
Meskipun begitu, Sean yang menyuruhnya berhenti, justru membuat Shiren melakukan hal yang berlawanan. Dengan agresif dia melempar semua bantal-bantal di atas kasur hingga buku-buku di atas meja. Sampai tiba Shiren mengambil sebuah buku tebal secara random dan melemparkannya tepat di kepala Sean.
'Brak!' Buku tebal itu mengenai kepala dan Sean jatuh terlunglai di atas lantai bersama kesadarannya.
Melihat lawannya tidak bergerak lagi membuat pergerakan Shiren Bellian tertahan sementara. Dengan wajah panik dia menghentikan serangannya.
Penuh waspada Shiren Bellian mendatanginya dan mengguncang pelan ujung kaki Sean. "Hei, apakah kau mati?"
Deg!
Tidak ada reaksi ataupun pergerakan dari Sean. Takut tubuh pria yang ada di kamarnya sudah menjadi mayat, Shiren memastikan pergerakan dada Sean yang naik-turun.
"Syukurlah masih hidup," ungkap Shiren dapat bernapas lega.
Dengan bersusah payah Shiren menyeret tubuh Sean di atas ranjang dan memberikan perawatan luka kecil di atas pelipisnya.
“Dasar pencuri merepotkan!” gerutu Shiren sekali lagi.
__ADS_1