MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Berburu Tinta


__ADS_3

Kenzo Karrin melihat isi ponselnya dengan wajah serius. Seseorang di dalam kontaknya sedang mengirimnya pesan sehingga menahan Kenzo untuk tidak kembali mengemudikan mobil.


Perhatian Sean beralih pada Kenzo Karrin, tetapi pria itu justru dengan tidak sadar telah menyebutkan nama seseorang di dalam pikirannya.


"Soraya Bellian," sebutnya kembali terfokus pada ponselnya lagi.


"Soraya Bellian? Wanita yang bekerja sebagai perancang interior?" sahut Sean yang kembali teringat akan wanita kenalan Kenzo. Dia adalah wanita yang akan membuat rancangan interior dari galerinya "Apa desain untuk Vase Art Gallery selesai?"


Sejenak Kenzo Karrin beralih pada Sean. "Benar! Dia bilang telah menyelesaikan rancangan gambar dan akan menunjukkannya padamu."


Wajah Sean tampak cerah. Tebakannya atas gambar rancangan dari Soraya Bellian selesai lebih cepat daripada ekspektasinya membuat Sean lebih tampak lebih bersemangat lagi. Sean tidak sabar ingin bertemu dengan wanita itu malam ini juga, tetapi Kenzo Karrin menyarankan untuk menundanya. Ada suatu tempat lain yang harus mereka kunjungi.


"Abaikan soal Soraya Bellian dan kita harus menuju suatu tempat." 


Ucapan Kenzo Karrin tidak dimengerti Sean. Dia hanya menyipitkan mata dan menatapnya penuh penasaran. "Dimana?"


"Mendapatkan tinta lukis yang kau cari." Kenzo Karrin tersenyum bangga.


Mendengar ucapan itu membuat mata Sean melebar cerah. "Benarkah?"


Kenzo Karrin mengangguk yakin. "Benar! Ada seorang kolektor yang memiliki tinta lukis seperti yang kau maksudkan.” 


Memiliki hubungan dekat dengan Kenzo Karrin memanglah menguntungkan. Bayangkan saja, pria itu berhasil mendapatkan informasi yang Sean minta bahkan sebelum 24 jam berakhir. Kemampuan mencari relasi pria itu memang tidak bisa diragukan lagi.


"Jadi … siapa yang memiliki tinta itu?"


“Apa kau ingat dengan seorang kolektor tua bernama Levin Milline?”  jawab Kenzo Karrin dengan menyebutkan nama yang tidak asing bagi Sean.


Sean menatap ke atas, berusaha menggali ingatannya akan nama itu.  “Levin Milline? Bukankah dia adalah kolektor yang sudah memberiku lukisan ‘Cursed Chain.”


Tebakan Sean tidaklah salah. Pria berusia 50 tahunan itu sebelumnya adalah pemilik lukisan 'Cursed Chain'. Namun, lukisan yang dianggap terkutuk olehnya diberikan pada Sean secara cuma-cuma.


Pemikiran Sean dibenarkan oleh Kenzo Karrin. Namun, untuk kedua kalinya Kenzo memberikan Sean peringatan bahwa Levin Milline bukanlah seorang yang mudah ditangani.


Reaksi pemuda itu hanya tersenyum penuh arti, seolah dia tahu bagaimana Levin Milline sebenarnya.


Meskipun Levin termasuk kategori pria sensitif yang tidak kooperatif, setidaknya Sean memiliki celah yang dapat digunakannya untuk menaklukan Levin Milline.

__ADS_1


"Ayo, kita ke tempat Levin Milline," ajak Sean tanpa ragu.


Atas perintah Sean, Kenzo Karrin kembali mengemudikan mobilnya dan meluncur kencang ke tempat tujuan.


***


Rumah kediaman Levin Milline,


Pintu diketuk dan seorang dari dalam membukanya. Dia adalah Levin Milline sendiri-pria yang sudah dicari-cari oleh Sean dan Kenzo Karrin.


"Senang berjumpa lagi denganmu, Mister?" sapa Sean. 


Sayangnya, keramahan Sean tidak disambut baik oleh Levin. 


Kedua mata pria itu terbelalak dan rahang terbuka setelah melihat Sean berdiri di hadapannya.


“A-apa? Apa kau sudah mati?” tanyanya meracau tidak dimengerti.


Mati? Bagaimana bisa pria itu menganggap Sean sudah mati? Seolah telah menjadi dewa kematian, Levin Milline terus menunjuk diri Sean. "Seharusnya kau sudah mati!".


Dari sini, kesabaran Sean dipertaruhkan. Sean tersenyum getir “Sir, aku bukan hantu. Apa kau mengingatku?”


Perlakuan pria itu tidaklah jauh dari pengaruh 'Cursed Chain' yang diberikannya untuk Sean.


Lukisan terkutuk itu dianggap akan membawa kesialan pada pemiliknya, bahkan tidak memungkinkan juga bisa membawa kematian.


"Tentu saja tidak. Kami kesini untuk meminta sesuatu darimu." Sejurus dari ucapan Sean yang langsung ditolak Levin saat itu juga.


"Pergilah, aku tidak berniat memberikan apapun kepadamu." Saat Levin Milline hendak menutup pintu, Sean mencoba menahannya.


"Bahkan kau belum juga mendengar apa yang aku minta," protes Sean penuh perlawanan.


"Tidak perlu, aku tidak akan memberikan apapun bahkan saat kau menggantinya dengan harga tinggi," tolak Levin Milline lagi.


Kedua orang itu saling mendorong secara berlawanan sampai Levin yang melihatnya merasa kesal dan menahan pintu itu.


"Levin Milline, mari kita berbicara dengan tenang."

__ADS_1


Ucapan Kenzo Karrin berhasil menghentikan pertikaian mereka dan dengan terpaksa Levin Milline membawa mereka masuk ke dalam.


"Aku membutuhkan tinta lukis tradisional." Sean enggan berbasa-basi lagi. Dia segera mengucapkan tujuannya datang dengan lugas.


Levin Milline yang tadinya enggan memandang Sean kini berbalik menatapnya. "Tinta tradisional yang sudah 10 tahun tidak diproduksi lagi? Kau meminta itu dan aku tidak akan memberikannya!"


Benar-benar pria keras kepala yang merepotkan! 


Ucapan Kenzo Karrin memanglah 100% benar saat mengatakan bahwa dia adalah pria yang sulit untuk ditangani. Namun, tampak sekali Kenzo tidak ingin berbuat apa-apa. Dia lebih memilih melihat bagaimana Sean dapat menyelesaikan masalahnya.


Sean yang mengetahui itu kembali tenang dan mempertebal kesabarannya untuk menghadapi Levin.


"Aku akan menukar tinta itu dengan sebuah lukisan." Kalimat singkat Sean berhasil menarik perhatian Levin Milline.


"Apa yang bisa kau tukarkan?" Tatapan Levin Milline ada pada Sean, tetapi sejenak beralih pada Kenzo Karrin di sampingnya. Sambil tersenyum penuh harapan, jari Levin menunjuk pada Kenzo Karrin lagi. "Apakah kau bisa menukar dengan lukisan karyanya?"


Mendengar keinginan Levin Milline tidak membuat Kenzo terpengaruh. Dengan duduk dan menyilangkan kaki, Sean juga bersedekap dengan ekspresi rumit.


"Sebagai kolektor seharusnya kau tahu bahwa Kenzo Karrin tidak bisa kembali melukis dan semua karya darinya juga hilang dalam sekejap."


Ucapan Sean tidak membuat Levin Milline tampak terpengaruh. Dia tetap pada kesepakatannya … tidak memberikan tinta itu atau berikan lukisan Kenzo Karrin.


Sean tidak kehabisan akal. Dia tersenyum penuh arti dan berbicara lirih. "Kau tahu lukisan 'Seven Golden Fish'? Aku dengar lukisan itu pembawa keberuntungan dan siapapun  yang memilikinya … akan menjadi orang berjaya dimasanya."


Wajah Levin Milline menjadi cerah seketika. "Apakah kau memilikinya?"


Seperti halnya tikus masuk dalam perangkap, Levin Milline tidak bisa lepas dari godaan. Hal itu membuat Sean tersenyum puas bahkan sebelum menang dari pertempuran.


"Tentu saja itu adalah pertukaran yang adil. Bagaimana … apa kau menyetujuinya?" tanya Sean.


Dengan pasti, Levin Milline bersepakat akan tawaran itu.


***


Kembali di mobil, Levin hanya menatap Sean penuh keraguan. "Apa kau benar memiliki lukisan itu?"


"Lukisan apa? 'Seven Golden Fish' yang kau maksud?" Sean membalas tatapan Kenzo Karin dengan penuh kelicikan, bahkan dia berhasil menyembunyikan aparencananya. "Tentu saja tidak, aku hanya tinggal membuatnya, bukan?"

__ADS_1


Mendengar itu, Kenzo hanya diam terperangah. Bagaimana bisa bocah seperti Sean berhasil mengelabui Levin Milline?


Untuk menjawab itu, Sean memiliki jawaban yang pasti. Levin Milline adalah pria yang percaya akan tahayul, maka dari itu Sean menggunakan kelemahannya untuk dapat menukar dengan tinta lukis yang dia incar.


__ADS_2