
Di depan lantai dua sebuah hunian, Sean menelpon Ellian kembali dan tidak lama gadis itu keluar. Dia menyapa Sean dan mempersilahkannya masuk di rumahnya.
“Kau tinggal di sini?” Sean bertanya basa-basi.
“Benar, tetapi kedua orang tuaku bekerja di luar negeri dan aku hanya tinggal dengan seorang kakak laki-laki, tetapi dia sedang tidak ada di rumah, dia begitu sibuk bekerja dan jarang pulang,” jelas Ellian.
Mendengar itu, Sean tidak bisa menahan liurnya. Bagaimana seorang pria normal seperti Sean bisa berduaan saja dengan seorang gadis cantik di dalam rumah?
Pikiran kotor Sean segera lenyap saat sebuah lukisan mencuri perhatiannya. Sebuah Lukisan dengan ukuran 2x1 meter yang tergantung di salah satu dinding terlihat mencolok. Warna merah mendominasi lukisan itu dan keping-keping baja tampak tenggelam di dalamnya.
Kekaguman Sean tampak jelas di matanya dan Ellian yang menyadari hal itu hanya tersenyum. Dia kembali menatap lukisan itu dengan dalam. “Namanya ‘Blood of a Patriot’, Bagus, bukan?”
“Lukisan ini tidak hanya bagus, tetapi sangat luar biasa. Aku dapat merasakan sebuah jiwa ada di dalamnya.” jawab Sean dengan kagum.
Sean kembali menatap Ellian yang ikut terhanyut ke dalam keindahan karya itu. Lukisan itu adalah jenis surrealism yang sudah langkah. Tidak banyak pelukis surrealism karena tingkat kesulitan dari ide gambaran yang lebih mirip fantasi.
Dilihat dari detail garis dan kesinambungan antara pemilihan warna yang cocok, lukisan itu dilukis dengan teknik yang sulit dan memakan waktu lama dalam prosesnya. Benar-benar mahakarya seorang seniman.
Pada sudut lukisan itu, tertera inisial pelukis. KK dan pada baris Kedua tertulis nama lain ‘Karrin’. Melihat nama Karrin membuat Sean hanya mengerjap tidak asing. Pemuda itu mencoba menggali ingatannya, tetapi tidak ditemukan orang-orang dengan nama Karrin di dalam memorinya.
“Siapa pelukisnya?” Sean tampak begitu antusias.
Ellian hanya tersenyum, dia tahu bukan hanya Sean saja yang dapat menilai lukisan itu dengan baik. Orang-orang yang awam akan seni juga mengaguminya dan bahkan lukisan itu sering kali ditawar dengan harga tinggi. Namun, tetap saja lukisan itu tidak pernah dijual dan terus tergantung di dinding rumah Ellian.
“Kakakku yang melukisnya.” Ellian menjawabnya dengan bangga.
“Kakakmu seorang pelukis?” Sean kembali bertanya lagi.
Pertanyaan Sean membuat Ellian menurunkan pandangannya dan dia terpaksa tersenyum kecut, “Dulunya dia adalah pelukis yang diakui dunia, tetapi dia sudah berhenti melukis. Kemampuannya mendadak menghilang dan dia tidak pernah melakukannya lagi. Sedangkan, 'Blood of a Patriot' adalah lukisannya yang terakhir."
Benar-benar disayangkan pelukis dengan karya yang menakjubkan menghentikan karirnya. Apalagi kehilangan kemampuan dalam satu malam adalah hal mustahil, kecuali seperti apa yang pernah dialami Sean saat lalu.
__ADS_1
"Maaf, apakah kakakmu mengalami kecelakaan?" Rasa penasaran Sean membuatnya kembali bertanya.
Ellian yang ada di sampingnya menggeleng, ada kesedihan terlukis di matanya. "Tidak seperti itu. Aku juga tidak tahu betul apa yang terjadi. Seingatku, saat terjadi badai di malam hari, kakak pulang dengan keadaan kacau dan mengatakan bahwa dia tidak bisa melukis lagi."
"Maaf, aku seharusnya tidak bertanya hal yang membuatmu sedih," ungkap Sean ikut menyesal.
Mereka mengakhiri obrolannya dan kembali pada tujuan awal kedatangan Sean. Dengan begitu ketat, pemuda itu mengajari Ellian tahap awal dari melukis.
***
Tiga jam Sean tertahan di rumah Ellian. Dia berencana menyudahi pelajaran hari ini dan menyuruh Ellian untuk rajin berlatih. Namun, saat Ellian mengantar Sean keluar … pintu terbuka dan seorang pria sudah berdiri di sana.
"Kakak?" Sapa Ellian pada pria itu.
Tidak sengaja, pandangan Sean beralih pada pria berkacamata yang telah dipanggil kakak oleh Ellian. Namun, pemuda itu begitu terkejut dengan apa yang ditemukannya.
"K-Kenzo Karrin?" Tanpa sadar Sean mengucapkan sebuah nama.
Sean menyadari bahwa inisial 'KK' dalam lukisan itu adalah Kenzo Karrin. Benar-benar tidak terduga!
"Apakah kalian saling mengenal?" Pertanyaan Ellian membuat kedua pria itu menoleh padanya. Tidak ada yang ingin menjawabnya lebih dulu, tetapi pada akhirnya Kenzo yang memberikan pernyataan padanya.
"Sean Herdian, kakak pernah sekali bertemu dengannya di galeri. Saat itu, kakak juga memberikan kartu nama padanya." Ucapan Kenzo membuat Sean merasa senang. Meskipun hanya sekali mereka bertemu, pelukis hebat seperti Kenzo masih mengingat namanya dengan benar.
"Benar, saat itu aku ingin mengajukan salah satu lukisan di galeri tempat kakakmu bekerja." Sean mengkonfirmasi kebenaran dari cerita Kenzo pada Ellian.
Ekspresi Ellian tampak cerah dan kedua matanya melebar senang. "Apakah ini suatu kebetulan? Seperti yang sudah aku ceritakan pada kakak bahwa aku memiliki seorang tutor yang bersedia mengajariku untuk melukis dan Sean adalah orangnya.
Kenzo Karrin menoleh pada Sean dan tersenyum. "Aku sudah mendengarnya dari adikku, terimakasih sudah mengajarkan seni padanya dan bila Sean berkenan, bisakah kita bicara berdua saja. Ada yang ingin aku bicarakan."
'Deg!'
__ADS_1
Jantung Sean berdebar karena terlalu senang, tanpa bisa menolak Sean mengiyakan ajakan dari Kenzo Karrin.
***
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Sean bertanya setelah jeda lama keduanya diam.
"Aku akan memilih sebuah tempat untuk bicara, jawabnya.
Kedua orang itu masuk ke dalam sedan hitam dan dikendarai Kenzo. Pria berkacamata itu menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe. Kini Sean dan Kenzo Karrin duduk berhadapan setelah memesan minuman.
"Aku ingin mengajukan diri sebagai gurumu." Kenzo Karrin mengucapkan kata-kata itu dengan penuh ketenangan, berbeda dari Sean yang tersedak setelah menenggak americano di hadapannya. Beruntung, Sean tidak sampai menyemburkan cairan itu ke muka Kenzo.
"Apa yang barusan kau katakan? Apa aku tidak salah dengar?" ucap Sean dengan suara terbatuk. Namun, pria di hadapannya tidak bereaksi.
"Apakah aku harus mengulanginya lagi? Aku mengatakan, bahwa aku mengajukan diri sebagai gurumu. Bagaimana dengan pendapatmu?"
Seorang pelukis hebat dengan karya 'Blood of a Patriot' mengajukan diri untuk menjadi guru Sean? Bagaimana kesempatan ini bisa ditolaknya, menjadi murid seorang pelukis hebat seperti Kenzo Karrin, tetapi ada sesuatu yang membuat hatinya terasa berat.
"Aku hanya berpikir tentang apa yang dikatakan Ellian tentangmu. Apakah kau bisa melakukannya?" Pembicaraan Sean mengungkit pada Kenzo yang tidak bisa melukis lagi. Namun, menyadari kata-katanya yang salah dalam berucap, Sean meminta maaf. "Maaf, seharusnya aku tidak berkata seperti itu. Aku hanya mendengar dirimu dari Ellian. Meskipun begitu, aku senang bils kau yang menjadi guruku."
Kenzo tersenyum kecil sambil menenggak cangkir di depannya. "Semua yang dikatakan adikku memang benar, tetapi bukan berarti aku tidak bisa melakukannya. Aku ingin membuat lukisanmu lebih besar dibandingkan milikku. Kau akan menjadi pelukis hebat kedepannya."
Pujian-pujian dari Kenzo Karrin membuat Sean terbang di angan-angan, tetapi dia kembali tersadar akan sesuatu. "Mengapa kau hanya mengajariku, bukan Adikmu sendiri?"
"Aku tidak ingin berbagi ilmu dengan sembarang orang dan hanya calon pelukis besar saja yang aku inginkan." Penjelasan Kenzo Karrin terdengar begitu kejam bagi Ellian, padahal gadis itu tampak begitu mengagumi kakaknya sendiri. Sudah pasti dia menginginkan Kenzo sebagai tutornya, bukan Sean yang hanya pelukis pemula.
"Ada satu lagi pertanyaan." Sean sedikit ragu akan mengucapkannya, tetapi saat Kenzo Karrin menatap tajam, dia tidak punya pilihan lain. Mengapa harus aku? Aku yakin kau pasti dengan mudah menemukan pelukis berbakat ketimbang aku."
Pertanyaan itu membuat suasana di antara mereka menjadi sunyi. Tidak ada yang berkata, sampai Kenzo Karrin tersenyum sendiri. "Karena Sean mengingatkanku dengan diriku yang dulu."
Mereka mengakhiri pembicaraan itu dengan sebuah kesepakatan. Mulai saat ini Kenzo Karrin adalah guru Sean!
__ADS_1