
Di balik sela kamar mandi, Sean dan Luis dapat melihat tubuh basah Carla Edena di bawah pancuran Shower.
Kedua mata pemuda itu terbelalak dengan wajah yang memerah. Tidak hanya itu, air dingin yang membuat suasana kamar mandi menjadi lembab tidak berpengaruh pada suhu tubuh mereka yang sudah panas. Ada sesuatu yang menekan pada diri mereka.
‘Srak!’ Keduanya kompak berbalik dan bersandar di bawah dinding.
Ini bukanlah kali pertama Sean maupun Luis melihat tubuh Carla, tetap saja perbedaan dari sebelumnya terlihat jelas.
Saat di Canaria, Sean dan Luis memiliki keteguhan hati dengan hanya melukiskan tubuh Carla, tetapi saat ini … meskipun tujuannya hampir sama untuk melukis, tetap saja sensasi mengintip terasa lebih menegangkan dan mendebarkan.
Sean menatap Luis dengan penuh kecurigaan dan Luis yang merasa ditekan kembali bertanya. “Apa? Bila kau ingin membicarakan sesuatu … katakan saja.”
“Ini pertama kalinya kau melakukan hal ini pada Carla, kan? Kau tidak pernah mengintip Carla mandi sebelumnya, benar?” tuduh Sean secara blak-blakan.
Ide datang menyusup masuk ke tempat Carla adalah milik Luis, tetapi Sean tidak menyangka bahwa perhitungan Luis sangat tepat. Bagaimana dia bisa tahu pada jam ini adalah jadwal Carla Edena mandi?
Bila hubungan Luis dan Carla tidak sedekat dimana Luis sering bertamu di tempat ini, menjadi penguntit adalah satu-satunya jawaban yang masuk akal bagi Sean.
“Apa yang kau bicarakan, heh? Apa kau pikir aku pria mesum yang suka mengintip seseorang mandi?” Wajah Luis menjadi bertambah merah, tetapi dia tetap memberikan penyangkalan. Padahal jelas, Sean dapat melihat ada bagian dirinya yang mengeras seperti baja. “Sudahlah, hentikan omong kosongmu dan ayo selesaikan tujuan kita hari ini.”
Meskipun Luis menunjukkan gelagat yang mencurigakan, Sean tidak bisa memperpanjangkan masalah ini, menentukan lukisan ‘Klandestin’ adalah tujuannya dan Sean ingin menyelesaikan secepat mungkin dari situasi ini.
Secara bersamaan mereka berbalik dan kembali memandangi sela kamar mandi, akan tetapi ….
'Brak!'
Dengan cepat, Carla membuka pintu dari dalam dan melihat kedua pria yang ada di baliknya.
“Apa yang kalian lakukan di depan kamar mandiku!” geram Carla yang sudah berdiri tepat di belakang mereka.
Suaranya begitu mengejutkan, sontak saja membuat mereka mendongak ke atas dan betapa terkejutnya saat mereka melihat Carla Edena. Wanita itu sudah jelas menangkap basah keduanya.
Carla yang sudah memakai handuk berdiri dan melipat tangannya. Pandangannya meluncur pada Sean dan Luis yang masih terduduk di lantai tanpa bisa bergerak seperti patung batu.
Kiamat! Ini benar-benar kiamat bagi Sean dan Luis. Apalagi dia bisa merasakan kobaran api melahap emosi dari wanita itu. Mereka benar-benar tidak akan selamat!
Keributan yang dilakukan kedua pria itu rupanya terdengar oleh Carla. Menyadari bahwa di dalam kamarnya ada orang lain selain dirinya, dia segera memakai handuk dan melihat apa yang terjadi. Tidak disangka bahwa Carla menemukan dua pria mesum yang kembali bersiap untuk mengintipnya lagi.
“Apa ada di antara kalian yang bisa menjelaskannya padaku?” tanya Carla penuh dengan penekanan.
__ADS_1
***
Di atas sofa, Sean duduk dan kembali bersampingan dengan Luis. Mereka duduk tanpa berani memperlihatkan wajahnya, sedangkan Carla berdiri di hadapan mereka dan bersiap mengadili keduanya.
“Jadi … siapa dari kalian yang bisa menjelaskannya padaku terlebih dulu?” Pertanyaan tegas Carla Edena tidak seperti biasanya.
Sean hanya diam tanpa memberikan jawaban apapun, begitu juga dengan Luis yang hanya dengan sengaja menyenggol pelan kaki Sean. Sean yang melihat itu hanya membalas dengan pergerakan yang sama.
“Apa yang kalian lakukan di tempat ini?”
“Bagaimana kalian bisa masuk kamarku?”
“Mengintip?”
“Apa kalian benar-benar ingin mati, berani-beraninya mengintip seorang wanita mandi?”
Pertanyaan-pertanyaan Carla Edena berjejal dan tidak bisa membuat Sean berkutik. Tidak hanya malu dicap sebagai seorang pria mesum, Sean juga tahu perbuatannya untuk mengintip Carla mandi memang tidak sopan.
“Aku tidak melakukannya.” Kali ini Luis yang terlebih dahulu angkat bicara. Namun, tidak ada keyakinan di wajah Carla kala itu. Dengan tatapan tajam Carla berbalik menatap Sean.
“Maaf kami melakukannya.” Pengakuan Sean mendapatkan kecaman keras oleh Luis. Pria bermata cokelat itu menatapnya penuh kata-kata, seolah Luis mempertanyakan bagaimana Sean bisa mengakui itu. Namun, Sean tidak bisa menghindar dari masalah. Dia kembali mengakuinya. “Kami sengaja mengintipmu saat sedang mandi, tetapi kami memiliki alasan."
“Kau bilang memiliki alasan, bukan?” tanya Carla pada Sean. “Jadi, kenapa tidak kau katakan saja sekarang?”
Dengan terpaksa Sean menceritakan kejadian awal yang mereka lakukan dan berakhir pada perbuatannya yang ketahuan. Tidak ada kebohongan dari penjelasan itu, kecuali saat menyangkut dengan keberadaan sistem yang memberikan misi ‘Klandestin’ padanya.
Penjelasan Sean sedikit berpengaruh pada Carla. Dia merenggangkan jarak pada Sean dan kemarahannya sekejap menghilang.
“Sepertinya aku akan segera mengganti nomor kunci kamarku.” Hanya itu kata-kata Carla sebelum mengakhiri persidangan untuk Sean dan Luis. Kali ini, kedua pria itu selamat, tetapi Carla tidak akan memaafkan untuk kedua kalinya.
***
Setelah turun dari apartemen Carla, Sean membawa Luis pergi ke studionya dengan menggunakan taxi. Tidak ada tempat yang nyaman untuk digunakan melukis selain studionya.
Taxi berhenti tepat pada tempat tujuan dan saat Sean turun, dia melihat seorang wanita berdiri di depan studio.
“Siapa?” Luis dibelakang menyusul Sean.
Sean berusaha melihat wanita itu, tetapi terhalang oleh kegelapan. “Entahlah, aku tidak melihatnya dengan jelas."
__ADS_1
Lampu-lampu kendaraan yang lewat memberikan sedikit penerangan di tempat itu dan ketika cahaya jatuh tepat pada wanita itu, sungguh Sean dapat melihat Edian Ellison.
Tidak banyak orang yang tahu tempat studio Sean, tetapi Sean lupa bahwa dirinya sempat memberikan kartu nama pada Edian.
Mengenali wanita yang berdiri di depan studio adalah Edian membuat Sean berlari menghampirinya. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Edian Ellison memberikan salamnya yang lembut, saat melihat ada orang lain di belakang Sean … Edian juga melakukan hal yang sama pada Luis.
“Aku datang membawa cemilan untukmu,” ucapnya sedikit tersipu. Pandangan Sean beralih pada barang yang dibawanya. “Aku membuat cake untukmu. Aku pikir setidaknya harus berterima kasih karena mengenalkan seorang dokter psikiatri padaku.”
“Ah, apa keadaanmu sudah membaik?” Sean bertanya dan Edian Ellison hanya mengangguk. “Seharusnya kau tidak perlu repot-repot kemari, cukup menelponku dan aku akan datang ke tempatmu.”
Edian sudah melakukannya. Berulang kali dia menelpon Sean tetapi tidak ada satu pun jawaban darinya. Pada akhirnya Edian memutuskan datang pada alamat yang ada di kartu nama Sean.
Sean menatap arlojinya, sudah cukup malam untuk seorang wanita pulang sendiri. Tidak mungkin juga dia membawa Edian masuk ke dalam studio dengan dua orang pria di dalamnya.
Tatapan Sean beralih pada Luis di belakangnya. “Luis masuklah dulu dan buat ‘Klandestin’,” ucap Sean saat membuka pintu studio. “Aku akan mengantar Edian pulang. Tidak baik seorang wanita pulang sendiri di malam hari.”
"Serahkan saja padaku." Luis mencoba memahami situasi Sean dan segera melakukan hal yang telah diminta. Sementara Sean mengantar Edian pulang dengan taxi.
***
Tidak ada pembicaraan khusus di dalam taxi. Mereka lebih banyak diam dan hanya berbicara tentang keadaan trauma Edian. Namun sayangnya pembicaraan itu berakhir setelah mereka sampai ke tempat tujuan. Edian segera turun dan melambaikan tangan untuk salam perpisahaan. Tidak lupa dia juga mengucapkan terimakasih yang berarti dan berbalik pergi.
“Ya, ampun … mengapa dia merepotkan dirinya seperti ini,” gumam Sean sendirinya.
Pria itu segera kembali ke studio dan begitu sampai … Sean diketerkejutkan oleh sesuatu.
“Astaga! ‘Klandestin’? Kau sudah meneyelesaikannya?” seru Sean takjub.
Sean segera mendekati lukisan yang masih basah. Kedua matanya terbelakak tidak menyangka.
Pada lukisan berukuran besar itu, Sean dapat melihat Seorang wanita di bawah pancuran shower yang dipenuhi titik-titik air. Bahkan pencahayaan yang terang dan penuh harmoni menyamarkan bagian tubuh objek.
Dari sini, Sean benar-benar mengakui bahwa Luis benar-benar memiliki bakat besar dalam lukisannya. Benar-benar disayangkan bila Luis diantara keluarga Morgan.
"Hei Luis!" panggil Sean yang membuat Luis datang. "Tulislah sebuah nama di sudut kanvas, asal bukan namamu yang mudah dikenali. Kau tidak ingin bila ayahmu mengendus karyamu lagi, bukan."
Luis mengangguk dan tampak66y sedikit berpikir. Pikirannya sedang dipenuhi nama-nama yang akan digunakan untuk lukisannya.
__ADS_1
"MG dari Morgan," jawab Luis singkat penuh arti.