
[Selamat! Anda telah menyelesaikan misi harian]
[Hadiah: … loading]
Apa yang diharapkan Sean akhirnya muncul. Dia benar-benar tidak sabar akan hadiah yang diberikan sistem kali ini.
[Konfirmasi hadiah]
[Anda mendapatkan ‘Broom Sweeper’]
Meskipun tampak kecewa karena bukan sekian miliar lagi yang dia dapatkan, Sean menaruh ketertarikannya pada hadiah misi.
“Broom Sweeper? Apa itu sejenis kemampuan?”
[Broom Sweeper adalah set kuas dengan kemampuan seni tinggi]
[Anda dapat menggunakan Broom Sweeper tanpa ada batas penggunaan]
[Keterangan: Set akan segera dikirim dari tempat anda]
Sean memegang dagunya dan tampak berpikir keras.
Sebuah kuas? Benar dia memang membutuhkan sebuah kuas karena sebelumnya kuas miliknya sudah usang.
Dia berencana akan membelikan set kuas dan peralatan cat berkualitas dengan mengambil sedikit dari 1 miliarnya, tetapi bukan ide buruk untuk mendapatkannya gratis dari sistem.
Sean berencana segera kembali di asrama, tetapi dia kembali menunjukkan akting pincangnya meski suasana malam itu tampak sepi.
‘Ctak!’
Pintu kamar terbuka, betapa terkejutnya saat Sean melihat seorang di dalam kamar asramanya.
“K-kau … Luis?” Sean mengkonfirmasi Luis yang sedang duduk di salah satu meja dengan sebuah buku tebal.
Sontak pemuda yang dipanggilnya Luis itu mengalihkan pandangannya dari buku dan menatapnya dengan sedikit heran.
“Kak Zavi bilang aku akan mendapatkan teman sekamar, ternyata kau sudah datang. Sean Herdian, benar kan itu namamu?” Luis tersenyum ramah menyambut kedatangannya.
Luis Morgan adalah jajaran pria yang namanya populer di universitas. Dia adalah mahasiswa bisnis tingkat tiga yang dikenal sebagai pewaris satu-satunya Morgan Investment, sebuah perusahaan investasi internasional yang telah sukses menanam saham di berbagai perusahaan bisnis.
Berbeda dari latar belakangnya, Luis dikenal sebagai orang yang ramah dan dikelilingi banyak teman. Kehidupan sosialnya begitu menyenangkan, apalagi wajah tampannya yang serupa dengan Frans.
__ADS_1
Mereka sama-sama memiliki darah Eropa, hanya saja Luis memiliki warna rambut cokelat yang serupa dengan iris matanya. Itu lebih baik ketimbang harus warna pirang yang mengingatkan Sean sebagai karakter dalam kejadian traumatisnya.
Tidak hanya tampangnya saja, tubuhnya juga tinggi melebihi Frans, apalagi soal kemampuannya. Luis jauh lebih unggul ketimbang dirinya. Dengan temperamen buruk dari Frans dapat menambah nilai minusnya sendiri.
“Hallo, mohon kerjasamanya. Kita akan menjadi teman sekamar sampai kedepan,” lanjut Luis melambaikan tangan.
Sean benar-benar tidak menyangka bahwa dia akan mendapatkan teman kamar yang begitu dikagumi. Sebagai mahasiswa manajemen bisnis, prestasi Luis begitu menonjol sehingga tidak ada harapan untuk Sean walau hanya menyapanya. Kini, pemuda yang lebih tua setahun darinya justru berbicara di hadapannya.
***
Kamar Sean diketuk dan saat Sean keluar dengan akting pincang, ternyata Zavier sudah ada di depan pintu. Pria penjaga asrama itu datang dengan membawa sebuah bungkusan berbentuk persegi.
“Aku mengambilkan paket untukmu,” katanya sambil menyerahkan bungkusan itu.
Sean sedikit bingung tentang siapa yang mengirimkan paket untuknya. Seingatnya, dia tidak berbelanja online atau memesan apapun di toko.
“Apa benar ini untukku?” tanya Sean.
Zavier kembali memastikan nama yang tertera dalam paketan itu, “Di sini tertulis Sean Herdiana. Itu namamu, kan?” Sean mengangguk atas pertanyaan Zavier.
Pemuda itu tidak punya pilihan selain menerima paketnya dan tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Zavier.
Di meja belajar, Sean membuka bungkusan itu. Sebuah kotak kayu berisi set kuas ada di dalamnya.
Tidak disangka hadiah sistem dapat sampai padanya bahkan hanya berselang beberapa jam dari pemberitahuan. Sistem adalah program ajaib!
Nama kuas itu adalah Broom Sweeper dan terdapat lima kuas dengan betuk dan ketebalan yang berbeda.
Satu kuas flat yang berbentuk seperti sapu, kuas fan yang melebar seperti bentuk kipas tangan, kuas dengan ujung runcing untuk membuat detail garis dan kuas dengan rambut yang lebih kecil dikenal sebagai detail round atau kuas runcing.
Itu bukanlah sekedar barang biasa, kuas premium yang ditaksir dengan harga mahal tersebut tidak diproduksi di pabrik.
“Aku pikir itu adalah kuas mahal,” sela Luis yang sengaja melihat isi dari paket Sean karena penasaran.
Komentar Luis membuat Sean terkejut dan reflek menyingkirkan benda itu ke dalam salah satu laci meja belajar, seolah dia tidak ingin Luis ikut melihatnya.
Semua orang di tempat ini tahu bahwa Sean adalah si anak miskin yang hidupnya menumpang untuk Ellinden. Tidak akan ada yang percaya bahwa kuas itu adalah miliknya sendiri, mereka akan berpikir bahwa dia telah mencurinya dari Frans.
Luis yang duduk di samping mejanya merasa heran dengan sikap Sean, tetapi dia menyadari bahwa tidak seharusnya dirinya ikut campur urusan bocah itu.
“Aku dengar kau adalah mahasiswa seni, apakah kau pandai melukis?” Luis mengubah arah bicaranya.
__ADS_1
Hampir saja Sean kelepasan dalam bicara. Dengan mencolok dia menunjukkan tangan kanannya yang diperban pada pemuda itu. “Aku tidak akan bisa lagi melukis dengan baik, jari tanganku tidak bisa digunakan dengan normal.”
Sean harus tetap berpura-pura menjadi cacat meski pada teman kamar barunya. Bagi Sean semua orang mencurigakan dan dia harus tetap menjaga kewaspadaannya meskipun Luis dikenal dengan kepribadian yang baik.
Dengan jelas, Sean berusaha menghindarinya. Dia kembali ke tempat tidur dengan cara berjalan yang pincang.
“Dan kakimu itu ….” Ucapan Luis terdengar sedikit tidak yakin, tetapi saat Sean ikut berhenti berjalan dengan wajah resah, membuatnya berpikir lain. “Kakimu baik-baik saja, kan?”
Duar! Seperti disambar petir, tubuh Sean seakan tersengat oleh ucapan Luis barusan.
Bagaimana dia dapat mengetahui apa yang disembunyikan Sean, padahal semua orang telah mempercayai aktingnya. Bahkan, Frans yang selalu curigaan dapat dikelabui dengan mudah.
Sean berbalik dan berusaha tersenyum untuk menutupi keresahan hatinya. “Kau pasti sudah mendengar berita aku jatuh dari atap. Ya, aku mendapatkan masalah pada kaki kananku setelah kejadian itu.”
Luis tidak bisa mengubah kecurigaan. Sebelum itu benar-benar terjadi, Sean tidak ingin memberikan kesempatan Luis untuk berbicara lagi. Dia berbalik dan kembali ke atas ranjang.
***
Saat lampu sudah padam dan Luis sudah tidur, diam-diam Sean bangkit dan menyibak pelan selimutnya. Dia turun dari ranjang dan dengan begitu hati-hati menginjak lantai.
Sesekali dia menoleh pada ranjang Luis untuk memastikan bahwa teman sekamarnya tidak terjaga dan mendapati dirinya sedang melakukan sesuatu yang mencurigakan.
Tidak ada pilihan bagi Sean. Meskipun dia berpura-pura menjadi cacat, tetapi dirinya harus belajar dan berlatih untuk dapat mengubah takdirnya sendiri sebagai sapi perah Ellinden.
Itu adalah keputusan bulat dan agar harapannya bisa menjadi nyata, dia harus diam-diam melukis setelah Luis tidur. Seperti apa yang telah Sean lakukan kali ini.
Pemuda itu menuju meja belajarnya dan dengan lampu kuning di atas meja, dia mengeluarkan sebuah kertas dan kotak kuas.
“Saatnya mencoba.” ucap Sean lirih. “Aktifkan Broom Sweeper.”
[Broom Sweeper: Kuas yang dapat menyatukan imajinasi dari pengguna dengan karya yang akan dibuat]
[Catatan: Barang langkah dan hanya ada satu di dunia]
[Semua kemampuan Broom Sweeper akan hilang bila salah satunya hilang]
Sistem memberikan peringatan untuk menjaga agar salah satu kuas tidak sampai jatuh di tangan orang lain. Meskipun tidak dijelaskan apa dampaknya, peringatan itu tampak menakutkan.
[Apakah anda yakin untuk mengaktifkan Broom Sweeper?]
“Ya!”
__ADS_1
[Broom Sweeper diaktifkan]
Dengan pengaktifan dari kuas itu, Sean segera mencoba melukis sesuatu di atas kertas. Tak lama berselang, Sean tersenyum puas. “Mengagumkan!”