MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Awal dari 'Vase Art Gallery'


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, tidur Sean terganggu akan suara ketukan pintu di kamarnya. Kedua matanya terasa berat sehingga dia berencana melanjutkan tidur dan mengabaikan suara itu.


'Bukk!'


Di ranjang atas, Luis melempar bantal pada Sean. "Bangunlah, Sean! Buka pintunya!" 


"Tidak mau, lakukan sendiri!" tolak Sean dengan setenga sadar dan kembali melanjutkan tidurnya. Namun, Luis di atas kembali melempar bantal lain padanya.


"Jangan lupa, kau ada kelas pagi ini." Luis mengingatkan.


Mendengar kata-kata itu Sean terpaksa bangun untuk membuka pintu dan seperti biasa Zavier ada di luar sebagai kurir barang.


"Ada paket untukmu, Sean," katanya sambil menyerahkan tiga paket untuknya. Sean segera menerima barang-barang itu, tetapi Zavier tidak juga pergi setelahnya.


"Kau membutuhkan sesuatu yang lain, Kak Zavi?" Sean bertanya dengan penasaran. Namun, mata Zavier beralih ke dalam kamar Sean, seolah sedang mencari seseorang selain dirinya.


"Dimana, Luis?"


Luis yang ada di atas ranjang terpanggil dan turun setelah namanya disebut. "Zav?"


"Ayo ke kamarku, ada yang harus aku tunjukkan." Kedua orang itu segera  pergi meski penampilan Luis yang baru bangun tidur tampak kacau.


Entah apa yang akan dibicarakan kedua orang itu, tetapi Sean tampak tidak peduli dan lebih memilih untuk mengabaikan mereka. Dia kembali masuk ke kamar untuk melihat isi paket yang didapatkannya.


Paket pertama adalah kotak berisi sebuah kunci dan hanya kata 'Vase Art Gallery' yang tertera di dalamnya.


"Kunci galeriku?" Sean bertanya sendirinya. Mata hitam miliknya memperhatikan kunci itu dengan begitu cermat. "Tidak salah lagi! Namun, lebih baik aku mencoba sendiri untuk memastikannya."


Pandangan Sean beralih pada barang lain yang tersisa. Salah satu amplop cokelat dibukanya dan tidak ada hal menarik kecuali berkas penting dari galeri. Tumpukan kertas itu disimpan Sean di dalam laci dengan ragu-ragu.


Kamar ini bukanlah tempat aman untuk menyimpan benda seperti itu. Kapan pun Frans dan Felix bisa saja masuk dan mendapati dokumen-dokumen Sean. Akan terjadi sebuah kiamat bila mereka benar-benar mendapatkannya.


Sean berpikir sejenak. "Lebih baik aku mempertimbangkan kembali untuk membeli tempat tinggal sendiri."

__ADS_1


Meskipun sudah berpikir seperti itu, Sean tidak juga segera memberikan langkah awal. Pemuda itu lebih memilih beralih pada satu paket yang tersisa di mejanya.


Sean teringat kembali akan hadiah penyelesaian misi dari sistem. Seharusnya dia hanya menerima 2 paket untuk hari ini, tetapi yang didapatkan lebih dari itu.


"Mari kita lihat." Sean kembali memperhatikan setiap sisi dari benda itu dan saat dia melihat nama tujuan dari paket, Sean menyadari bahwa paket terakhir bukan untuk dirinya. 


"Sepertinya Kak Zavi memberikan pada kamar yang salah," gerutunya.


Dengan membawa benda itu, Sean segera pergi ke kamar Zavier untuk mengembalikannya. Namun, saat dia sudah sampai ... bukan lagi Zavier yang membuka pintu, tetapi seorang wanita yang hanya mengenakan kemeja Zavier ada di dalam.


"Astaga! Mawar?" sentak Sean setelah melihat wanita yang ada di hadapannya.


Ini terlalu bahaya! Membawa masuk seorang wanita di dalam kamar asrama adalah sebuah pelanggaran. Tidak boleh satu pun mahasiswa yang tinggal di tempat itu melakukannya. Namun, ini bukan lagi pelanggaran penghuni asrama, tetapi sudah masuk pelanggaran yang dilakukan pengurusnya. 


Bila sampai ada orang lain yang tahu, sudah bisa dipastikan bahwa Zavier akan kehilangan pekerjaannya dan dalam satu malam akan menjadi seorang gelandangan. Apalagi bila kejadian itu sampai pada telinga Frans, dia tidak akan tinggal diam setelah tahu bahwa Carla Edena sudah keluar dari Canaria.


Sean mengawasi keadaan di sekitar dan beruntung tidak ada satu pun orang ada di tempat itu. Segera Sean masuk setelah mendorong Carla Edena dan pintu ditutup rapat.


"Mawar? Kau gila, mengapa ada di tempat ini?" Dengan penuh frustasi Sean menggosok kepalanya, tetapi orang yang membuatnya menjadi frustasi justru terkikik senang.


Merasa naluri liarnya sudah di ujung gerbang, Sean melangkah mundur, tetapi Carla tetap menjaga jarak dekat dengannya sehingga Sean benar-benar terpojok di sudut dinding.


"Tidak! Tidak! Apa yang kau lakukan?" Sean panik! Wajahnya sudah memerah dan keringat dingin mengguyur deras di atas pelipis. Namun, ekspresi itulah yang ditunggu-tunggu Carla, wanita itu tampak puas menikmatinya.


Di antara ketengangan yang semakin tegang, dari luar seorang tampak melangkah mendekati pintu dan ….


'Ctak!'


Pintu terbuka dari luar, tampak Zavier dan Luis datang cepat-cepat menutup kembali pintu kamarnya.


Kedua orang itu terlihat baru saja kembali dari luar asrama. Mereka  pergi membeli setelan baju dan beberapa keperluan untuk Carla.


Tanpa terlihat sedikit pun keterkejutan di antara mereka, Luis menarik Carla menjauh dari Sean. "Berhentilah mengganggu Sean, jangan menodai kepolosan tubuhnya."

__ADS_1


Carla Edena tidak merespon, keinginan untuk menggoda Sean terlihat begitu jelas dalam ekspresinya. Namun, tampaknya dia akan berlaku baik dengan menuruti perintah Luis. 


"Sayang sekali," gerutunya.


"Pergilah ke kamar mandi dan pakai baju. Aku dan Luis akan membelikan pakaian lagi nantinya." Zavier yang ada di belakang menyahut dan memberikan setelan baju baru untuk Carla.


Luis membawa keluar Carla Edena dari Canaria tanpa persiapan. Satu baju pun sama sekali tidak sempat dibawa. Bahkan, Luis tidak memiliki tempat untuk wanita itu tinggali. Oleh sebab itu dia membawa Carla untuk tinggal di kamar Zavier, sementara Zavier sendiri tidur di ruang kerjanya.


Dengan patuh Carla membawa pakaian itu dan memakainya di kamar mandi.


"Kau gila, Kak Zavi! Bagaimana bisa kau membawa masuk wanita itu ke dalam asrama? Kau tahu apa yang akan dilakukan Frans bila mengetahui Carla Edena ada di tempat ini? Dia tidak akan segan membawanya kembali ke Canaria dan membuatmu kehilangan pekerjaan di tempat ini!" Seru Sean tidak tenang. 


Zavier tidak merespon kekhawatiran Sean. Dia hanya menyuruhnya untuk duduk tenang di atas sofa dan mulai berbicara.


Saat itu mereka menceritakan kronologi kejadian setelah berhasil membawa Carla Edena keluar dari Canaria. Namun, mereka semua tidak bisa melakukan apapun selain menyembunyikan Carla dengan baik.


***


Setelah kejadian di kamar Zavier, Sean harus segera mengikuti kelas. Namun, pikirannya sedang tidak tenang saat terngiang-ngiang Carla Edena ada di tempat yang tidak aman.


Dia tahu, Zavier dan Luis tidak akan menyentuh wanita itu dengan pikiran kotor, tetapi berada di tempat yang dekat dengan kehadiran Frans sama halnya dengan berada satu kandang bersama singa.


Sean mencoba mengabaikannya lagi dan fokus pada kelasnya. Setelah kelas selesai, Sean tidak memiliki waktu untuk kembali memikirkan soal Carla Edena. Pemuda itu memutuskan pergi ke suatu tempat.


"Middle Road 21-25 Street." Sean mengingat alamat dari Vase Art Gallery yang diberikan oleh sistem.


Alamat itu membawa Sean pada jalan utama di sektor perdagangan yang sangat strategis. Letaknya tidak jauh dari studio dan tidak jauh juga dari asrama tempat tinggalnya.


Setelah sampai pada tujuan, Sean dibuat tercengang oleh apa yang telah dia lihat. "Waow! Fantastik!"


Sebuah gedung tiga lantai dengan gaya geometri dengan kesan futuristik kuat di dalamnya. Bagian depan dipenuhi dengan kaca dan diselubungi oleh bidang-bidang geometri yang tersusun random dengan sentuhan artistik.


Semua itu tampak keren dengan sebuah tulisan besar 'Vase Art Gallery' di atas gedung.

__ADS_1


Sean tidak bisa melepaskan  pandangannya, dia berdesah lagi, "Bahkan, Ellinden Gallery tidak cukup besar untuk menyaingi tempat itu."


__ADS_2