My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 10: Promosi Salon


__ADS_3

Asap nuklir berhembus kencang melalui telinga Rey. Benar saja, hanya dalam beberapa detik nuklir yang di dapatkan dari komentar tersebut meledak hingga memporak porandakan seluruh emosi Rey.


Ia menghela nafas panjang dengan bibir terkatup, ia menekan kuat layar ponsel seperti hendak melubangi ponsel itu dengan kedua ibu jarinya.


"ARRHHH!! sumpah aku tidak apa-apa jika mereka mengatakan aku tidak cocok sebagai pacar, tapi Paman?!! bukankah ini penghinaan? mereka benar-benar kelewatan!" rutuk Rey mengumpat para penulis komentar itu.


[Aku bukan paman atau kerabatnya, tapi aku cukup dekat dengannya.] tulis Rey membalas komentar mereka, masih saja ia berlagak dingin padahal aslinya ia menulis komentar tersebut sambil merutuki mereka.


...~~~~...


Pagi hari yang tenang dan damai akhirnya menyapa Ayu. selain karena weekend, ia juga amat bahagia karena hari ini tidak ada tugas dari Dosen. seribu satu momen plong seperti ini karena biasanya walaupun libur Ayu tetap mendapat tugas tambahan.


tok..tok..tok..


"Ayu.. bangun nak, kita sarapan di taman belakang." ajak Rianti dari luar kamar. jika libur tiba mereka akan sarapan di taman belakang rumah ala-ala camping.


Karena merasa ingin melanjutkan tidurnya, Ayu hanya menggeliat lalu menyahuti panggilan sang Mama dengan suara parau.


"Mama duluan aja, Ayu masih ngantuk."


"ehh.. bangun dong, kakak kamu pada datang loh."


Ayu langsung terduduk saat mendengar itu "Kak Fani dan Kak Nur ma?"


"iya.. makanya cepat bangun." sahut Rianti lalu beranjak turun meninggalkan Ayu.


...-...


...-...


Tampak di taman belakang sudah ramai oleh gelak tawa anak kecil. siapa lagi kalau bukan si kembar Ica dan Kei, El dan adiknya yang baru belajar berjalan.


Bayi perempuan Vino dan Nurul itu tampak menggemaskan dengan tas kecil berwarna merah muda, ia tersenyum memamerkan dua gigi bawahnya kala melihat Papa nya melambaikan tangan kearah nya.



Bayi mungil berusia 22 bulan itu mereka beri nama Azalea Davina Giandra. Langkah kecilnya selalu menjadi sorakan bagi para orang dewasa yang menyaksikannya.


"iyaa.. pinter anak Ayah, sini nak ayo..." ujar Vino kegirangan sambil menanti sang anak yang berjalan pelan ke arah nya.


"Jangan ke Ayah Alea..! sama Kakak aja sini." bujuk El tak ingin kalah saing dari sang Ayah. ia memamerkan bungkus jajanan dan mengguncangkan nya hingga membuat mata Alea langsung berpaling.


Karena tak mau di abaikan, Vino mengangkat El ke pangkuan nya.


"Begini saja El, biar kita sama-sama menangkap Alea."


"Lucu ya Mas." bisik Fani tersenyum gemas, melihat kedua anaknya sudah tumbuh besar membuat Fani rindu masa-masa balita mereka.


"Yuk kita bikin lagi Sayang." balas Dimas menaik turunkan alisnya.


"Semangat banget kalau soal bikin bikin."

__ADS_1


"Oh ya jelas.. harus itu." sahut Dimas mantap.


Tak lama turun lah si bungsu yang mereka tunggu dari tadi, Ayu keluar masih memakai piyama serta nampan berisi potongan buah yang ia bawa dari dapur. di sisi kanan dan kiri nya juga ada ART yang tengah membawakan menu sarapan mereka pagi ini.


"Widihhhh... belum mandi." celetuk Dika menyambet sepotong buah yang di bawa Ayu.


"ih Kak! nggak sopan main comot begitu."


"Lah kenapa? kan Aku nggak nyuri dek." sahut Dika mengunyah santai lalu mengambil sepotong lagi.


"Ya tapi ini untuk makan nanti! jangan comot terus orang yang lain belum pada nyicip." dengus Ayu kesal, ia tidak suka jika hidangan untuk keluarga belum di cicipi orang tertua eh sudah di comot duluan.


Namun bukan Dika nama nya kalau tidak membuat kesabaran adik-adiknya terkuras. ia tetap mengambil lagi bahkan dengan kedua tangannya.


"Woy bucin nya Gaby!!" teriak Ayu dengan suara melengking.


"Bocil! sudah berapa kali kakak bilang jangan panggil Aku budak cinta, panggil Aku pangeran cinta hahahahah."


"Bodo amat! bucin Alay.... weekk" Ayu menjulurkan lidah sambil menarik hidungnya seperti hidung babi.


"Hei.. udah duduk, kalian ini nggak pernah tenang kalau kumpul." tegur Rianti menyela adu mulut Ayu dan Dika.


"Iya Ma.." sahut mereka serempak, mereka duduk di kedua sisi Rianti. memang mulut mereka diam, tapi mereka tetap saling mengejek di balik punggung Rianti.


...~~~~...


Setelah selesai acara sarapan bersama keluarga besar, Ayu pergi ke rumah salah satu temannya yang bernama Lita. mereka cukup akrab, hanya saja mereka beda kampus sehingga jarang bertemu.


"Lituttt.....!" panggil Ayu saat memasuki toko.


"Eh.. Ayu, masuk masuk." sahut Ibu nya Lita, ia sudah tidak kaget lagi dengan panggilan Ayu kepada putrinya.


"Lita lagi ngapain Bu?" tanya Ayu sambil mencicipi cupcake di etalase.


"Ada di atas, dia nungguin kamu dari tadi. oh iya Ibu buat cookies variant baru nih, coba kamu cicipi. biasanya selera kamu selalu klop di pelanggan Ibu." ia menyuapkan sepotong cookies buatannya kepada Ayu.


Saat potongan cookies memasuki mulut Ayu, matanya langsung terpejam karena lelehan cokelat yang menyapu lembut lidahnya "uummmhhh... ENAK! enak banget Bu.."


"serius Yu? syukurlah. Ibu jadi percaya diri buat launching menu ini." selera Ayu memang selalu menjadi kegemaran para pelanggan di sana. mungkin karena Ayu biasa makan makanan mahal jadi ia bisa mengoreksi resep Ibunya Lita agar sesuai dengan budget remaja yang berlangganan di sana.


...-...


...-...


Lita mengajak Ayu keliling di sekitar rumahnya, mereka berjalan kaki menyusuri jalanan yang di penuhi para pedagang jajanan kaki lima.


"ini.. kesukaan mu, otak otak saus pedas." Lita menyodorkan seplastik otak-otak yang ia beli di abang-abang.


"wiiihii.. akhirnya. ntar ku gant5u duitmu hahah." seorang Ayu nggak punya duit? nggak lah. dia cuma nggak punya uang recehan.


"btw. gimana Crush mu? belum ada perubahan?" tanya Lita soal Rey.

__ADS_1


"Entahlah. Aku hampir hilang rasa akhir-akhir ini." sahut Ayu malas.


Mendengar itu Lita terheran, sebab ia melihat kemarin Rey memposting foto dengan Ayu.


"Kamu belum buka IG?"


"Dua hari ini belum sih, kenapa?" Ayu langsung bisa menebak pasti ada yang tidak beres. ia segera mengeluarkan ponselnya dan mendapati pemberitahuan teratas yang mencengangkan.


"Astaga! ngapain sih mereka berdua? mau pansos?" rutuk Ayu kesal lalu menutup kembali ponselnya.


"Ya ampun Ayu kusuma! kamu nggak peka banget ya. sini aku jelasin pelan-pelan... kemarin tepat jam dua siang, teman laki-laki mu itu posting dan menandai akunmu. lalu banyak komentar yang bilang dan menebak kalau kalian pacaran. setengah jam kemudian, Pak Rey posting foto kalian juga dan menandai akunmu juga! tebak kenapa dia ikut-ikutan posting?" tanya Lita dengan nada sok misterius.


"Kebetulan kali. dia memang begitu orang nya." lagian apalagi maksut Rey selain iseng? masa iya hati nya berubah secepat itu.


"Dia panas 00N! aku yakin dia cemburu karena si Bagas itu!" Lita tampak sangat bersemangat mengutarakan kesimpulannya.


"aisshh! udah deh nggak usah ngawur kamu.. jangan bikin tambah runyam kepalaku deh." tampik Ayu tak ingin membahas manusia berhati batu itu. tujuan mereka bertemukan untuk seru seruan, bukan untuk membahas si penyuka batang-batangan.


Lagi asik-asiknya ngobrol, tiba-tiba mereka di berhentikan oleh dua orang pelayan salon yang tengah mengadakan promosi sulam alis dan perawatan kuku.


"Mampir kakak kakak cantik, kita sedia sulam alis dan perawatan kuku kak. mau sambung rambut atau crembath juga bisa kak. sulam alis kita kualitas premium kak, murah tapi nggak murahan ya kak ya." salah satu pelayan itu langsung mengoleskan contoh tinta sulam alis ke punggung tangan Ayu.


"Aduh.. nggak kak, nggak." tolak Ayu sedikit kesal, karena tinta sulam itu.


"Kita juga ada paket lulur kak, lagi promo loh kak. bisa menghilanglan belang karena motor-motoran." lagi ia langsung mengoleskan sample lulur ke tangan Ayu dan Lita.


"Promo lainnya ada?" tanya Lita malah memperluas kerunyaman. ingin rasanya Ayu menendang tulang kering Lita saat itu, ia risih hendak pergi malah jadi nyangkut di sana.


"Ada kak, ambil paket pijat Spa bayar satu gratis satu kakak cantik.☺️ khusus hari ini loh.."


Langsung meronta-ronta lah jiwa diskonan di otak Lita, ia menarik Ayu masuk dan melakukan pijat Spa bersama. wajah muak Ayu pun tak di abaikan olehnya.


Berjajar lah mereka berdua di atas kasur yang sudah di sediakan, sambil menunggu lulur racikan di siapkan, Ayu terus merutuki Lita yang sedari tadi cengengesan.


"Dasar mata diskonan!" umpat Ayu setengah berbisik.


"Ye.. ngatain. kamu juga kalau di Mall liat diskonan langsung keluar mata nya!" ejek Lita menjulurkan lidahnya.


"Bu..." panggil Bagas saat memasuki pintu salon Ibunya. ia baru selesai bermain basket di lapangan bersama teman-teman nya.


Bagas mendekati sang Ibu yang tengah meracik lulur untuk pelanggannya.


"Bu, potongkan rambutku ya."


"Iya nanti.. Ibu masih ada pelanggan."


Dari dalam kamar pijat yang hanya di sekat dinding kayu, Ayu samar-samar mendengar suara yang tak asing bagi nya.


"Suara nya.. "


...********...

__ADS_1


__ADS_2