
Nafas Rey berderu tak beraturan, mata nya tertunduk dengan bibir terkatup rapat. ia tak mampu mengatakan apapun, namun genggaman tangannya di lengan Ayu seolah meminta bantuan bagaimana caranya keluar dari keadaan runyam itu.
"Memang nya Bapak nggak mau berusaha untuk sembuh?" tanya Ayu lembut, ia takut kalau membuat Rey tersinggung karena ini topik sensitif.
"Siapa yang ingin bertahan dengan kegilaan ini?" sahut Rey pelan hampir tak terdengar.
"Kalau begitu bertahan lah sebentar lagi, jangan ceritakan apapun kalau Bapak nggak yakin mereka bisa menerima semua ini."
Rey mengangkat pandangannya hingga netra mereka bertemu, sorot mata yang tadinya masih tampak tenang kini gelisah.
"Sampai kapan Saya harus terus seperti ini?"
"itu yang mau kutanyakan Pak, sampai kapan Bapak akan menutup hati dari orang yang sangat mencintaimu ini." batin Ayu sedikit kesal namun juga prihatin kepada Rey dan diri sendiri.
"Yakin lah Pak, akan ada masa nya Bapak merasakan hal yang seharusnya. 10 tahun, atau 20 tahun ke depan pun pasti akan terjadi jika sudah waktunya."
"Kamu.. tolong jangan menjaga jarak lagi dari Saya, cuma kamu yang bisa mengerti Saya. jadi tolong hilangkan batas yang kamu bangun selama ini." pinta Rey terdengar parau.
Ayu sempat terkejut mendengar itu, berarti Rey selama ini sadar betul ia membangun jarak dengannya. rasa kesal pun semakin membuncah kala menyadari dirinya seperti tertipu, karena ternyata Rey menyadari itu namun tak juga menanggapi perasaan Ayu.
Sambil mengangkat sebelah bibirnya Ayu menepis kuat genggaman tangan Rey dari lengannya.
"Jangan jaga jarak Bapak bilang?! emangnya Bapak pikir gampang apa ketemu tatap mata gini sama orang yang nggak membalas perasaan Ayu? nyesek tau!"
Tak pelak Rey terkejut melihat ekpresi Ayu yang berubah drastis "cinta tak bisa di paksa Yu."
"Bisa! ini buktinya Ayu maksa tetep nyimpan rasa ke Bapak walaupun tertimbun dua tahun! kalau besi mah udah karat jadi rongsokan ini."
"Benarkah..?" Rey tersenyum kecil melihat raut wajah Ayu yang tampak sangat kesal.
"Kalau begitu bisakah kamu tetap memaksakan itu... 10 atau 20 tahun kedepan jika mungkin tiba waktunya?"
deg-deg deg-deg- deg-deg
π³ππππ
Detak jantung Ayu seperti sedang berlomba lari mendengar ucapan itu. Ia terpaku dan membeku menatap bola mata Pria yang membuat tubuhnya seolah di aliri aliran listrik hingga ke ujung kaki.
...~...
"Potential Hydrogen merupakan konsentrasi ion hidrogen dalam suatu zat yang menentukan tingkat keasaman atau basa. Standar pH adalah 0-14. Sedangkan pH ideal atau normal untuk manusia adalah 7-7,4. Tubuh manusia....."
Sementara Dosen sedang menjelaskan pelajaran, Ayu malah terus kepikiran perkataan Rey kemarin.
"apa artinya? apa itu lampu hijau? artinya dia mulai mempertimbangkan perasaan ku π tapi.. kenapa nggak langsung aja bilang dia akan membalas perasaanku? kenapa dia **me**minta aku menunggu 10 atau 20 tahun lagi??"
Ia terus berdebat dengan dirinya sendiri, entah itu lampu hijau atau pun lampu kuning. yang jelas Ayu merasakan secercah harapan perasaannya akan terbalas, walau 'jika mungkin waktunya tiba'.
Di saat pikiran Ayu tengah berkecamuk, Bagas malah asik memainkan ujung rambut Ayu dan membentuknya seperti ini...
Setelah sepuluh menit meracau dalam hati, akhirnya Ayu sadar beberapa helai rambutnya serasa di tarik tarik. ia menoleh kebelakang tepat saat Bagas memasangkan karet gelang di ujung rambutnya.
__ADS_1
"Ngapain kamu?" tanya Ayu berbisik.
"Aku bosan.." sahut Bagas berbisik pula.
Ayu tersenyum lalu menarik rambut yang di jadikan objek gabut nya Bagas.
"waahh.. kok bisa kamu buat begini?"
"Aku sering membantu menata rambut di salon."
Salon? pikiran Ayu langsung melayang saat Bagas mengatakan itu, biasanya Laki-laki yang sering berkutat di salon agak melehoy kan?
"Kamu G4Y??!" tanya Ayu gamblang hingga membuat seisi kelas menoleh kearahnya.
"APA?!" sahut Bagas tak kalah terkejut dengan suara keras.
"Ayu! Bagas! Saya perhatikan kalian dari tadi tidak menyimak Saya dan sekarang kalian malah mengacau?" tukas sang Dosen killer berkumis tebal itu.
Ayu dan Bagas menyeringai, siapa yang menyangka akan seperti ini.
"m..maaf Pak.." mereka menunduk menahan malu.
"Bawa tas kalian KELUAR!"
Dosen yang satu ini memang sangat galak dan tak bisa mentolerir walau hanya kesalahan kecil. sekali bikin ulah, langsung out!
Bagas dengan senang hati melangkah keluar kelas karena sedari tadi raga nya meronta-ronta ingin keluar dari sana. sementara Ayu, ia merasa sangat malu karena seumur hidupnya baru kali ini ia di hukum keluar kelas saat jam pelajaran. sepertinya ini juga kali pertama ia akan mendapat nilai 0 di salah satu baris rapor nya.
"Aku yang salah? justru aku kaget Yu, bisa-bisanya kami berpikir begitu ke AKU!?" ia merentangkan tangan guna membuktikan betapa gagah postur tubuhnya.
"Dia bahkan lebih gagah dari mu." gumam Ayu membayangkan Rey.
"Yaa.. maaf, karena sepengetahuanku laki-laki yang sering di salon kan agak belok."
zzhhh... Bagas tersenyum gemas menatap wajah merona Ayu.
"Mau ku buktikan kalau aku lurus?"
Mata Ayu membulat "hihh! ngawur kamu Gas!"
"apanya yang ngawur? kamu mikir apa hayo Hahahahha...."
"Udah ah! gara-gara kamu nilaiku pasti NOL di pelajaran ini. kenapa pas jam kelas Pak Erwin sih!" rutuk nya jengkel sambil menabok tiang di sebelahnya.
"chh.. apalah daya ku yang nilainya nol setiap pelajaran." mereka malah adu nasib di sana.
"oh iya.. mulai besok aku akan latihan basket bersama timku, kamu datang ya."
Bidikan mata Ayu langsung berpindah dari Pilar ke wajah Bagas "untuk apa?"
"Untuk penyemangatku." bisik Bagas menunduk agar wajahnya setara dengan tinggi Ayu.
"Lihat besok."
__ADS_1
Karena mereka tidak ada kelas lagi, mereka pun memutuskan untuk pulang saja. dari pada bosan di sana. lagi pula mood Ayu jadi berantakan karena di keluarkan dari kelas, jadi ia tak bersemangat saat Bagas menawarinya makan di kantin.
"Kamu bawa mobil?"
Ayu menggeleng, ia diantar Pak supir tadi pagi.
Kesempatan dong, Bagas segera menuju ke parkiran motor nya hendak menawari Ayu naik motor. ia yakin pasti Ayu belum pernah merasakan sensasi segar naik motor.
Bagas menaiki motor antiknya ke arah Ayu, namun belum sempat ia menawarkan tumpangan. sebuah mobil mewah lebih dulu berhenti tepat dihadapan Ayu. ya siapa lagi kalau bukan Rey.
"Orang itu lagi." lirih Bagas saat mengenali Rey adalah pria yang menemui Ayu kemarin. ia menghentikan motornya dan hanya memandangi mereka dari jarak lima meter.
"Masuklah..." pinta Rey dari dalam mobilnya.
Ayu berdecik dengan senyum tipis.
"Ngga mau bukain pintu?"
"Manja." ketus Rey singkat.
Saat Ayu menjulurkan tangan hendak membuka pintu mobil, Bagas terlebih dulu membukakan pintunya untuk Ayu.
"silahkan..." ucapnya lembut.
Perasaan Ayu menjadi segan, entah kenapa ia merasa perlakuan Bagas mempunyai arti tersendiri.
Mata elang Rey menatap tajam wajah Bagas, berani-beraninya dia menyentuh mobil yang sudah di anggap seperti anak sendiri dengan wajah playboy itu.
"Nggak jantan banget, masa gadis cantik di biarkan buka pintu sendiri." gerutu Bagas sengaja di perjelas.
Rey keluar dari mobilnya lalu menepis tangan Bagas "hanya orang tertentu yang Saya perlakukan spesial." ucapnya sinis.
Melihat respon negatif Rey pada Bagas, debaran jantung Ayu berdetak tak beraturan karena berharap itu respon cemburu untuknya.
ck..ck. decik Bagas geleng kepala "gadis cantik sepertimu tidak spesial katanya." ia mengelus pucuk kepala Ayu.
Plak!
"Jauhkan tangan berandalan mu itu dari nya!" Rey menghempaskan tangan Bagas dengan wajah kesal.
"Seperti ini sikapmu di kampus? membiarkan siapa saja menyentuhmu? menjaga diri apanya!" Rey mengomeli Ayu sambil membulatkan matanya.
"Apaan sih? biasa aja dong Pak, megang rambut bukan termasuk tindakan mesum kan?" bantah Ayu pasang muka kesal padahal hatinya senang bukan kepalang.
"Pola pikir orang tua memang selalu kolot, jadi maklumi saja." sahut Bagas tersenyum meledek.
Rey menarik nafas dalam-dalam "masalahnya kamu terlalu mudah baper."
"Emang nya kenapa kalau baper? wajar aja kan, memangnya salah kalau Ayu baper ke lawan jenis?"
raut wajah Rey langsung menjadi kikuk, matanya berkedip cepat seolah mencari pembenaran atas perkataannya yang menyuruh Ayu untuk tidak mudah terbawa perasaan.
...*********...
__ADS_1