
Mendengar nada putus asa Bagas, Ayu cepat-cepat berdiri karena tak mau pertanyaan nya barusan di anggap sarkasme.
"Nggak nggak.. tolong jangan tersinggung dan jawab saja pertanyaan ku barusan. ini bukan pertanyaan untuk mu kok hehehe.."
"ooh.. kalau Aku di kejar-kejar terus, lihat-lihat juga sih orangnya gimana."
"Aku, seumpama orangnya seperti Aku."
"HAHAHHAHAHA... siapa yang bisa nolak orang secantik kamu hah? HAHAHAHA..." tawa Bagas menggelegar.
"Laki-laki mana sih yang nggak jatuh hati dengan paras mu ini. kalaupun kamu yang suka duluan, Aku yakin cuma butuh kurang dari satu detik untuk Lelaki itu membalas perasaanmu."
"Jika laki-laki ya kan.." gumam Ayu mengangguk pasrah, memang benar perkataan Bagas. kalau saja ia tak menaruh rasa pada lelaki imitasi itu, pasti batinnya tidak ngenes seperti ini.
"Sekarang pakai helm mu, kita jalan-jalan menghirup udara segar." Bagas menyerahkan helm kepada Ayu.
"Tapi ke kantor dulu ya, Aku mau antar file penting." walaupun sirna harapannya menebus rindu, setidaknya ia bisa melihat wajah Rey hari ini.
"Oke.." sahut Bagas bersemangat.
...~~~~...
Rey yang tengah serius mengetik di komputernya terus saja di ganggu oleh Riko, Direktur pemasaran yang selalu gabut kalau istrinya sedang libur.
"Rey.. mau main catur? Aku bosan." Riko mengguncang kursi kerja Rey dengan papan catur di tangan kanannya.
"Matamu kemana? tidak lihat Aku sedang sibuk?" bentak Rey kesal karena hari ini sudah yang ke lima kali Riko mengganggunya.
"Mataku selalu di sini..!" balas Riko sewot sambil menunjuk kedua bola matanya.
"Pergilah..! Kau mau ku laporkan ke Pak Dimas karena terus mengangguku hah?!" mata Rey membelalak sangat emosi.
Baru kali ini Riko melihat Rey bicara dengan nada tinggi, biasanya ia akan menolak pelan bahkan sambil tersenyum manis padanya.
"Kenapa dia..?" lirih Riko merinding, ia melangkah keluar sambil memeluk erat papan catur di dadanya.
Sepuluh menit kemudian, Riko datang lagi membawa balok Lego yang sering ia mainkan bersama Rey.
__ADS_1
"Rey.. Lego Lego, Kau pasti tidak menolak ku kali ini hahah." Riko menggantung sekantong besar balok Lego di depan wajah Rey.
Rey menatap sinis Riko sambil menurunkan kaca matanya. "Pergi lah. Aku sudah muak selama tiga jam duduk di depan komputer ini, dan ku mohon Kau jangan menambah beban di otak ku!"
"ohh.. Kau sudah tidak suka main Lego? baiklah Kau akan mencari permainan yang pasti tidak bisa Kau tolak lagi." Riko tersenyum jahil lalu berjalan mundur meninggalkan Rey.
Rey menatap sinis Riko lalu berbalik badan melanjutkan pekerjaannya di layar komputer. gara-gara Riko ia sudah telat 25 menit dari waktu yang sudah di tentukan Dimas. kepalanya benar-benar panas saat ini, ingin sekali rasanya ia menggesekkan wajah Riko di keyboard komputer itu untuk melampiaskan emosinya.
Lima menit kemudian, pintu kantor kembali terbuka lalu sebuah tangan tiba-tiba menepuk bahu Rey tanpa menyapa.
Rey yang menyangka itu Riko hanya menghela nafas berat, kemudian ia memukul kuat keyboard komputernya.
"Tolong untuk kali ini, hari ini saja, jangan muncul di hadapanku! haruskah ku katakan di depan wajahmu kalau Aku benar-benar MUAK melihatmu!" ia meninggikan suaranya dan berbalik badan dengan wajah merah di kuasai amarah.
Namun kemarahannya yang membuncah seketika runtuh dan buyar saat melihat bukan wajah Riko yang ada di hadapannya, melainkan wajah Ayu yang menatap Rey dengan mata berkaca-kaca.
Rey mengatur nafas untuk memulihkan pikirannya sejenak, ia bahkan bingung harus bicara apa saat melihat ekpresi Ayu yang seolah menganggap makian itu untuknya.
Tetapi bungkamnya mulut Rey untuk sepersekian detik membuat Ayu mengambil kesimpulan bahwa kata-kata tajam Rey barusan memang untuknya.
Pandangan Ayu tertunduk, nafasnya seperti bergejolak hebat, kerongkongannya seolah akan pecah menahan tangis di hadapan pria itu.
"Ayu.. tunggu!" panggil Rey, namun Ayu mengabaikannya dan berlari dari sana.
Rey berkacak pinggang lalu mengusap rambutnya kebelakang "apa dia mengira..?"
Persetan dengan pekerjaannya, Rey berlari mengejar Ayu karena seperti dugaannya Ayu pasti salah paham dengan perkataannya tadi.
"Ayu..." panggil Rey seraya meraih tangan Ayu, namun karena Ayu mengelak tangan Rey malah terpeleset hingga menarik tas Ayu sampai talinya putus.
"Apa?" sahut Ayu menahan tangis dan marah.
"Bukannya Bapak Muak? ngapain ngejar Saya?!" rutuk nya sembari berlutut mengambil tas yang terjatuh di lantai.
"Saya kira..." belum selesai Rey menjelaskan 5 Ayu sudah memotong perkataannya.
"Bapak kira Saya akan bersikap tenang seperti biasanya? Saya juga punya hati Pak!"
__ADS_1
Dalam sekejap Rey merasa mereka berdua seperti orang asing karena Ayu menyebut dirinya 'Saya'.
Seumur hidup, belum pernah ia terlibat dengan wanita, apalagi mengenai perasaan. sungguh ia bingung harus bagaimana menyikapi wanitayangl tengah salah paham.
Rey berusaha mengatur kalimat selembut mungkin agar Ayu mengerti.
"Kata-kata itu bukan untuk kamu Yu, ada orang yang selalu mengganggu Saya tadi jadi.."
"Jadi Bapak melampiaskan ke Saya.karena Saya juga penganggu kan?" Ayu berbalik meninggalkan Rey, rasanya tak sanggup lagi ia melihat wajah Rey lebih lama lagi.
Saat tiba di basemen, Ayu berlari sembari menangis ke arah Bagas yang tengah menunggu. suara tangisnya menggema hingga membuat Bagas panik dan berlari menghampirinya.
"Kenapa Yu? kamu jatuh?" tanya Bagas khawatir.
"Ngghhakk...." sahut Ayu terisak.
Tak ingin ada yang mengetahui, Ayu segera menyuruh Bagas meninggalkan gedung itu sambil terus menangis sesenggukan di atas motor.
"Berhenti dong nangisnya, banyak yang lihat tuh." bujuk Bagas sambil tetap fokus menyetir.
"hhhuuuaaaaššš segiu benwi dia sama haaku. aku cuwa mu ketemuuhhhuuuš"
[segitu benci dia sama aku, aku cuma mau ketemu] ujar Ayu dengan suara parau dan nafas tersengal.
...~~~~...
Di sisi lain, Ibunya Bagas tengah berkonsultasi dengan salah satu Dokter spesialis penyakit kanker yang tak lain adalah Dika.
"Jika di operasi, berapa kemungkinan Saya bisa bertahan Dok?"
Dika menggigit bibirnya, pasien di hadapannya itu sudah lebih dari lima tahun menderita kanker otak. dan ini baru ketiga kalinya ia melakukan pemeriksaan, bagaimana caranya menjelaskan bahwa penderita kanker otak bisa bertahan selama lima tahun itu sudah suatu keajaiban dari Tuhan.
"Apa Ibu tidak punya wali?" tanya Dika.
"Berapa lama Saya bisa bertahan tanpa operasi?" Ibunya Bagas tampak tenang walaupun sudah tau nyawanya di ambang kematian.
Dika menjelaskan bahwa sel kanker yang bersarang di kepala Ibunya Bagas tak hanya hampir memakan syaraf motorik, melainkan hampir menjalari kelenjar getah bening. ia bahkan tak bisa memikirkan seberapa banyak rasa sakit yang di derita selama ini tanpa bantuan Dokter.
__ADS_1
Mendengar penjelasan itu, Ibunya Bagas memutuskan untuk tidak melakukan operasi, karena kemungkinan dia bertahan hidup setelah atau tanpa operasi sama kecilnya.
...******...