My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 15 : Bunga Flamboyan


__ADS_3

Di sebuah lahan kosong berumput hijau, Rey berdiri menggunakan setelan serba hitam dengan seikat bunga matahari di tangannya. di bawah rindangnya pohon flamboyan yang mengeluarkan bunga merah merekah, di sana lah Mamanya Rey beristirahat.


Rey berjongkok kemudian meletakkan seikat bunga matahari di dekat batu nisan.


"Apakah Mama tau? lelaki yang mama nikahi sekarang menjelma menjadi sosok yang menyeramkan. lihatlah luka ini.. dia memukuliku tanpa ampun saat tau aku tidak seperti lelaki pada umumnya. jika itu Mama, pasti Mama tidak akan marah, Mama pasti dengan sabar menasehati ku, memperhatikanku seperti yang di lakukan oleh gadis itu..." air matanya menitik tepat menjatuhi batu nisan, rasanya ingin sekali ia berbaring di dalam sana agar bisa bersandar di pundak Ibu nya.


"Aku gagal menjadi anak Lelakimu Ma. Aku gagal.." ucapnya hampir tak bersuara karena menahan tangis.


"Aku selalu berdoa pada Tuhan untuk menjadikanku 'lelaki' yang hebat. tapi sepertinya Tuhan enggan menjawab doaku. bisakah Mama yang meminta Padanya agar Aku bisa menjalani kehidupanku dengan normal? Aku yakin pasti Tuhan mau mengabulkan permintaan orang baik seperti Mama."


Seketika angin berhembus kencang hingga membuat kelopak bunga di atas pohon berguguran seperti tengah menghibur kesedihan Rey. kelopak yang berjatuhan di atas bahunya seolah menguatkan Rey untuk menjalani kehidupan yang belum ada titik terang nya.


Rerumputan yang berguncang terbawa hembusan angin seolah menjadi teman yang meramaikan kesunyian hati nya. tempat yang indah nan tenang itu kini terancam oleh lelaki yang dulu memasangkan cincin di jari manis sang pemilik pusara.


...~~~~...


"Bik... lihat cardigan ku nggak?" tanya Ayu kepada bibik yang tadi pagi mencuci pakaian nya.


"Enggak non.." seru si bibik dari dapur.


Ayu menyandarkan dahinya di pagar tangga, kakinya di goyangkan menggesek kelantai berusaha mengingat di mana cardigan kesayangannya itu.


"Ayu.. sudah siap belum kamu? ini Papa sudah buat list apa saja yang akan di beli." seru Adit yang sudah gagah dan rapi hendak menghadiri pertemuan di kampusnya Ayu.


Sebagai salah satu tiang atas berdirinya Universitas Nusantara Internasional College (NIC) tentu saja Adit harus ikut andil atas kecelakaan yang menimpa teman satu kelas Ayu. ia akan mengurus kompensasi berdasarkan persetujuan orang tua murid. sementara Ayu di suruh memberikan sumbangan berupa keperluan para korban yang sedang di rawat di rumah sakit.


"Kenapa harus Ayu sih Pa.." rengek nya memasang muka melas agar tetap bisa baringan di rumah.


"Karena kamu anak Papa dan kamu satu-satu nya orang yang tidak mengalami kecelakaan itu. anggap aja ini sebagai ungkapan belasungkawa kita pada teman-teman mu."


"Oh iya.. Papa dengar ada satu orang lagi yang tidak ikut waktu itu"


"Boleh ajak dia Pa?" potong Ayu saat Adit belum selesai bicara.


"Boleh.. sekalian suruh dia yang membawa belanjaan nya nanti. dia laki-laki kan?"


"hehehe.. oke.." Ayu sigap mengambil catatan di tangan Adit lalu berlari keluar rumah. entah kenapa saat bersama Bagas semua nya terasa seru dan berbeda.

__ADS_1


...~~~~...


Setelah bersiap, Bagas berpamitan dengan Ibunya lalu menemui Ayu di depan rumah.


"Pakai mobil?" tanya Bagas sambil menenteng dua helm. ia kira mereka akan naik motor seperti kemarin.


"Iya.. kita mau belanja dulu untuk teman-teman yang di rumah sakit. kamu bisa nyetir mobil kan?"


"heheh.." Bagas menggeleng dan tertawa.


Lagi-lagi hari Ayu yang selalu berbunga kini sedikit berubah karena ini pertama kalinya Ayu menyetir mobil saat ada lelaki di dalam mobilnya. biasanya ia akan santai selama perjalanan, namun kali ini dia lah yang menjadi supirnya.


Lalu apakah bunga yang selalu ada di setiap lembaran hidup Ayu gugur karena Bagas? Tidak, bukan gugur melainkan seperti tumbuh tunas baru di setiap cabangnya.


...-...


...-...


Di salah satu supermarket, mereka memilih makanan serta buah-buahan yang bisa di nikmati teman-teman mereka. tak hanya itu, mereka juga mengambil jajanan ringan serta keperluan mandi seperti sikat gigi, shampo, bahkan beberapa kosmetik karena Ayu hapal ada beberapa temannya yang tak bisa hidup tanpa make-up dan skincare.


"Untuk apa itu?" tanya Ayu saat Bagas mengambil satu kardus cokelat Golden queen.


Ayu tertawa kecil, sempat-sempatnya Bagas memikirkan popularitasnya sebagai pria tamvan di kelas. "dasar buaya.. hahahahah.."


Aagggrrr.... Bagas mengaum cosplay jadi buaya. ekpresi wajahnya membuat Ayu tertawa geli hingga ia duduk di lantai.


"ahahahah.... air liur mu muncrat!" ucapnya dengan wajah merona kaku menahan tawa.


Entah datang dari sudut sebelah mana, Rey yang tengah berbelanja makanan siap saji menggeret trolinya ke arah suara ngakak Ayu yang begitu familiar di telinganya.


"Ayu?"


"eh.. Pak Rey, ngapain di sini Pak? sudah sembuh?" ia langsung berdiri dan pasang wajah anggun. tak lupa ia merapikan rambutnya yang menjuntai di wajah.


Bagas yang mengamati tingkah Ayu hanya bisa mengangkat sebelah alisnya. bisa di bilang ia terkejut dengan perubahan sikap Ayu barusan yang sangat kontras.


"ck..ck.." hanya itu yang terbesit di benaknya.

__ADS_1


"Untuk santunan korban?" tunjuk Rey ke beberapa troli yang berjajar di belakang Ayu.


"mm.." Ayu mengangguk pelan, sebenarnya tak perlu sebanyak itu juga ia belanja. tapi perempuan mana yang tak silap mata jika sedang belanja?


"Mau ikut?" ajak Ayu tepat sebelum mulut Rey terbuka hendak menawarkan dirinya ikut.


Merekapun pergi bertiga, Rey yang menyetir mobil, Bagas duduk di sebelah Rey, dan Ayu duduk di belakang sambil memakan snack tanpa memperdulikan Bagas dan Rey yang saling melempar lirikan.


"tcih.. pakaian sobek-sobek begitu kok di pakai. apa kurang bahan." gumam Rey sengaja agak keras agar Bagas mendengarnya.


Sambil berpura-pura tidak mendengar, Bagas juga bergumam soal penampilan Rey "pakaian kok serba hitam. seperti habis ke makam.."


"Saya memang dari makam.." sahut Rey enteng, seketika wajah Bagas merasa bersalah karena asal bicara. Ayu pun langsung menatap Rey penuh belas kasihan, pantas saja wajah Rey tampak sembab.


"Maaf.." ucap Bagas terbata.


"Sama-sama.." sahut Rey mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum. bulu kuduk Ayu sampai berdiri melihat senyuman itu, takut kalau Bagas menjadi tipe ideal Rey yang kesekian kalinya.


...-...


...-...


Setelah membagikan makanan dan kebutuhan teman-temannya. Ayu, Bagas dan Rey langsung berpamitan kepada mereka yang tengah di rawat.


"Aku ke toilet bentar ya.." ia meninggalkan mereka berdua di lorong yang sepi. walaupun Ayu was-was meninggalkan Bagas dengan Rey, ia tak punya pilihan lain karena perutnya sangat sakit.


Mereka berdua berdiri berjauhan sambil bersedekap, sesekali juga mereka saling menatap namun enggan untuk membuka obrolan.


"Kalian tampak sangat dekat, apa sebenarnya hubungan kalian?" tanya Bagas agak ragu, sebenarnya ia tak punya hak bertanya begitu. namun pertanyaan itu selalu berputar di kepalanya.


"Tidak ada." sahut Rey malas, lagipula ia dan Ayu memang tak ada hubungan.


"Syukurlah.. Ku kira kalian saling menyukai." imbuh Bagas menghembuskan nafas lega.


"Tapi dia menyukaiku..."


Kepala Bagas langsung menoleh saat mendengar perkataan Rey barusan. antara percaya dan tidak, tapi jika melihat gelagat Ayu saat bersama Rey sepertinya memang begitu, pikir Bagas.

__ADS_1


...********...


__ADS_2