My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 50: Nuansa Klasik


__ADS_3

Bagas menepis tangan Dika dari lehernya. "Aku mencintainya!" ujar Bagas menekan suaranya.


Hal itu membuat Dika lebih menggila lagi. "Kau tidak mengetahui ini? benarkah Kau tidak mengetahui kalau kita satu Ayah?"


"Kalau Aku tau mana mungkin Aku mencintai dia! aasssss....! sekarang apa?" sungguh kalut pikiran Bagas saat itu. Bagaimana mungkin ia melanjutkan perasaannya dengan Ayu jika begini?


Dika pun merasa sangat putus asa, setelah kemarin memberi lampu hijau untuk hubungan mereka bagaimana bisa sekarang seperti berbalik arah.


...~...


Sesampainya di rumah, Dika hanya melamun di atas ranjangnya. apa yang harus ia katakan kepada Ayu? memberitahu bahwa Bagas ternyata adalah saudara kandung mereka? Pasti akan membuat Ayu sangat terpukul mengetahui itu.


Bagas pula mengurung dirinya di kamar, ia tak menyangka yang ia lakukan selama ini merupakan sebuah dosa besar karena telah menaruh Cinta pada saudarinya.


Merasa semuanya samar, Bagas menemui Tari untuk menceritakan apa saja rahasia Ayah dan Ibunya di masa lalu.


"Bude... Bolehlah Aku bertanya tentang Ayah dan Ibu?"


Tari yang sedang menata salon langsung berhenti dan membalikkan badannya. Ia berpikir mungkin Bagas sedang merindukan orang tuanya.


"Ada apa Bagas? tanya saja, Bude akan jawab yang Bude tau."


"Siapa Ayah ku? Apa dia punya wanita lain selain Ibu?"


Denyut jantung Tari sontak berdegup hebat mendengar pertanyaan itu. Bagaimana ia menjawabnya? sementara Ibunya Bagas pernah melarang Tari agar tidak menceritakan siapa Ayahnya Bagas.


"Ayah punya istri lain, Bude tau itu kan? Apa ini sebabnya Ibu melarang ku mendekati pemakaman Ayah waktu itu? Apa ini sebabnya Ayah meninggalkan kami di saat Aku masih kecil? Jawab Bude!" Amuk Bagas tak terbendung, ia membanting semua barang yang ada di atas meja.


"Bagas.. tenang dulu nak, tenang." ujar Tari mengelus lengan Bagas agar sedikit lebih tenang.


"Jadi benar? Ayah punya keluarga lain? Ayah meninggalkan Kami demi wanita lain?"


"Nggak Bagas.." Sungguh tari bingung harus memulai semuanya dari mana. Cerita keluarga Bagas bukan hanya sekedar kehadiran orang ketiga, lebih rumit dari itu semua.

__ADS_1


Sepersekian detik Bagas teringat dengan Kakak-kakak Ayu yang usianya jauh lebih tua dari dirinya. Batinnya pun menebak apa jangan-jangan dia dan Ibunya lah benalu dalam keluarga Ayu?


"Ibu nggak mungkin jadi wanita simpanan kan Bude?" Bagas menatap lekat lekat wanita paruh baya di hadapannya itu.


"Nggak Bagas.. Ibu mu wanita baik-baik. Ayah kamu juga orang baik."


"Orang baik apanya! Berapa banyak lagi istri Ayah yang tidak Aku ketahui? berapa banyak lagi Bude?"


"Bude belum bisa menjelaskan sekarang nak, Bude butuh waktu. Satu hal yang perlu Kamu ketahui nak, Ibu dan Ayahmu tidak seburuk yang Kamu pikirkan."


Bagas tak menjawab, amarah yang bertumpuk di matanya cukup membuat Tari bergetar. Apakah Tari harus melanggar janji kepada mendiang sahabatnya untuk tetap menjaga rahasia keluarga ini?


...~...


Setelah terungkapnya siapa itu Bagas, Dika tak bisa tenang bahkan hanya sedetik. Ia sangat bingung bagaimana cara menyampaikan ini kepada keluarganya khususnya Ayu.


"Kak?" panggil Ayu sembari menepuk bahu Dika.


"hm?" sahut Dika agak terkejut, namun ia berusaha menyembunyikan raut bimbang di wajahnya.


"Nggak! sebaiknya mulai sekarang Kamu jauh-jauh dari dia Dek." tegas Dika, ini sungguh berbanding terbalik dengan dirinya yang waktu itu berpihak penuh kepada Bagas.


Ayu mengernyit heran "Kenapa? apa dia membuat masalah dengan Kakak?"


"Nggak.. Pokoknya nurut kata Kakak!" titah Dika langsung melenggang dari sana.


...~...


Jam pelajaran usai....


Hari ini Bagas tidak hadir tanpa keterangan, bahkan ia tidak memberi kabar kepada Ayu. Tidak biasanya Bagas begini. Ayu juga bolak-balik mengecek ponselnya namun tak ada panggilan maupun pesan dari Bagas.


Niat hati ingin mendatangi rumah Bagas untuk memastikan keadaannya, Namun waktu tak memungkinkan mengingat ia harus segera datang ke kantor untuk membuat presentasi hasil Desain tim-nya.

__ADS_1


Ayu pun hanya mengirimkan pesan saja [Bagas, Kamu dimana? Kenapa hari ini tidak masuk? Kamu baik-baik saja kan?]


...~...


Setibanya di Kantor, Ayu segera memasuki ruang meeting di mana para tim-nya sudah siap menunggu. Ada dua orang Supervisor di sana yang akan menilai apakah hasil Desain interior mereka pantas untuk di serahkan kepada Adimas.


Tak banyak bicara Ayu langsung naik ke atas podium sambil membawa tablet yang sudah terhubung ke layar monitor.


"Selamat siang semuanya... Saya akan langsung memulai Presentasi yang..." baru memulai pembukaan. Tiba-tiba Rey masuk ke ruangan itu membuat kaki Ayu terasa lemas seketika.


Ayu hampir saja menjatuhkan Tablet yang ia pegang saat melihat Rey duduk di salah satu kursi. Rey bahkan memberikan tatapan penuh makna membuat wajah Ayu bersemu merah.


Tak ingin kalut dalam pikirannya, Ayu pun segera melanjut presentasi dengan penuh percaya diri.


"Desain yang Kami buat mengusung tema klasik minimalis, walaupun dari segi bangunan di rancang tampak moderen. Namun Kami mengusahakan kesan klasik nan elegan tetap menyatu dengan Desain yang sudah di rancang oleh arsitektur...."


Lagi-lagi lidah Ayu terasa kelu saat melihat Rey melonggarkan ikatan dasinya. "Yang tampak longgar... e.. maksut Saya Kami menyusun tata letak ruangan ini agar tampak luas.."


Menyadari kegugupan Ayu, Rey hanya tersenyum tipis. Siapa sangka kehadirannya membuat kepercayaan diri Ayu jadi porak-poranda.


Rey memotong penjelasan Ayu sembari mengangkat ujung jari nya. "Menurut Saya pencahayaannya terlalu cerah."


"Hah?" tanggap Ayu grogi, ia malah mengingat temaramnya suasana kamar saat itu.


"Dengan tema Klasik, Saya pikir lebih bagus apabila mengambil warna dasar untuk dinding nya seperti cream, broken white atau pun warna nude lainnya. Pencahayaan putih serta kombinasi berwarna legam seperti itu memang Aesthetic, tapi kesannya menjadi sangat modern."


Ayu mengecap bibirnya, ia berusaha menelan ludah dengan susah payah. "b..baik Pak."


"Dan tirai berwarna cerah sebaiknya di ganti dengan yang agak gelap agar kesan Vintage semakin menonjol." tutur Rey dengan senyuman menggoda, senyuman yang mengandung banyak arti di mata Ayu.


Ayu berusaha membuka mulut menyampaikan pendapatnya, lagipula kemarin dia sudah membahas ini, dan Rey bilang sudah oke. Kenapa sekarang malah banyak sekali hal yang harus di koreksi.


"Bukankah menurut Bapak konsep ini sesuai dengan nuansa elegannya? Tim Saya membuatnya tampak cerah agar kesan mewah tetap ada di dalamnya.."

__ADS_1


"Karena target pasarnya orang yang mencintai tema klasik. Kebanyakan mereka nyaman dengan sentuhan remang di banding nuansa cerah." Tak salah lagi, Rey sengaja mengingatkan Ayu akan momen mesra mereka kemarin. Melihat wajah gugup Ayu malah membuatnya semakin senang.


...*************...


__ADS_2