My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 6: Garam


__ADS_3

20 Tahun yang lalu...


Di sebuah apartemen mewah sepasang suami istri tengah berdebat setelah acara makan malam keluarga. mereka adalah Ben dan Lisa yang tak lain kedua orang tua Rey.


Lisa yang tengah mengandung lima bulan terpaksa harus menerima amarah Ben karena Ayahnya memberikan lebih dari setengah saham kepada Faro putra sulung Lisa.


"Apa menurutmu itu masuk akal? Aku mempunyai Rey dan bayi yang ada di perutmu kenapa Ayahmu malah memberikan 60 persen saham kepada Faro?" hardik Ben tak terima, ia menghamburkan semua berkas yang ada di kamarnya hingga bertebaran di lantai.


Lisa tak habis pikir dengan suaminya itu "Faro yang paling tua, jadi wajar jika dia yang di harapkan Ayahku untuk meneruskan perusahaannya. kau jangan khawatir dengan Rey ataupun calon bayi kita, mereka adik kandungnya Faro. tidak mungkin Faro akan diam saja saat mereka sudah besar nanti."


"Kau tidak ingat siapa yang memukuli Rey setiap hari?! siapa yang setiap hari merampas makanan Rey? dan siapa yang waktu itu membuat Rey tenggelam di kolam? Faro yang melakukannya!"


"Mereka saling pukul jika sedang berkelahi, mereka memang suka saling berebut makanan dan Faro justru ingin menolong Rey waktu itu! bukankah wajar jika dua bersaudara berkelahi?"


"Wajar?? mungkin wajar jika mereka berdua sebaya. menurut mu hal yang wajar jika seorang anak 15 tahun bersikap begitu pada adiknya yang berumur 8 tahun!" letusan emosi di mata Ben membidik tajam wajah Lisa yang tengah menahan tangis nya.


"Mungkin memang begitu cara mereka berbaur, apalagi mereka berdua laki-laki. walaupun mereka selalu bertengkar, bukankah ada juga masa nya mereka saling menyayangi? kenapa kau bersikap berlebihan seolah Faro tidak berhak mendapat tempat di rumah ini? dia juga anak kita!"


Ben mencengkram erat lengan Lisa "dia anak mantan suami mu!"


Kata-kata itu seketika membuat kepala Lisa terasa pecah. dadanya sesak seolah dihimpit tembok besar yang amat berat. Pria yang dulu berbicara dengan lembut akan menerima kekurangannya, Pria yang dulu membuka tangannya dan memeluk hangat dirinya kini berubah menjadi seorang Pria yang mengerikan.


...-...


...-...


Beberapa bulan berselang, tibalah saatnya Lisa akan melahirkan putri nya. para dokter dan suster tengah berjuang di sana, tampak Rey dan Faro berdiri di sisi kanan dan kiri Lisa karena Papa mereka tidak bisa datang ke sana.


"Adik, sebaiknya kalian tunggu di luar saja." ucap sang Dokter tampak kasihan kepada Rey dan Faro.


"Rey, ayo kita tunggu di luar. aku tidak sanggup lagi." bisik Faro, selain ia mual dan takut. ia juga tak mau adiknya yang masih berumur 8 tahun itu menyaksikan hal yang bukan seharusnya.


"Kakak saja yang keluar, Aku mau menemani Mama di sini." wajah Rey tidak bisa berbohong kalau dia juga sebenarnya takut. tapi ia tak mau melepaskan tangan Mama nya.


Dokter dan suster membujuk bahkan sedikit memaksa Rey untuk keluar, namun Rey bersikeras ingin menemani Ibu nya sampai selesai persalinan.


Hampir satu jam Rey melawan rasa takutnya, dan selama itu pula ia mendengar teriakan Ibunya yang tengah berjuang melahirkan sang adik. namun hal yang tak pernah di bayangkan Rey terjadi, suara Lisa perlahan melemah begitu pula dengan genggaman tangannya. dan saat sang janin yang ia lahirkan ternyata sudah tiada, mata nya perlahan tertutup di iringi detak jantung yang perlahan berhenti berdetak.


Ttttiiiiiiiitt...........


Suara lurus dari monitor membuat tangis Rey seketika pecah.


...-...


...-...

__ADS_1


"MAMAA!" Rey terbangun dari mimpi buruknya, wajahnya sampai basah kuyup karena seluruh dahinya mengalirkan keringat.


Ia menatap lurus langit langit kamar sembari membayangkan wajah Ibunya yang sangat ia rindukan.


Tak terasa air mata menitik mengaliri pelipisnya "maafkan kami Ma.." lirihnya, ia merasa sangat merasa bersalah setiap kali memimpikan kejadian buruk itu.


...~~~~...


Kembali ke Bagas dan Ayu yang tengah bertatapan di koridor kampus.


"Apa kau punya Pacar?"


"h..hah??" Ayu terpaku sejenak melihat mata indah Bagas yang menyorot sendu ke arahnya.


Bagas memutar bola mata karena menganggap Ayu tidak mengerti maksud pertanyaan nya.


"Kau tidak tau istilah 'pacar'? seorang laki-laki yang menjalin komitmen dengan mu lalu kalian berjanji untuk saling mencintai. apa kau punya laki-laki itu?"


Saat hendak menjawab, malah wajah Rey melayang di otak nya.


"iis.. itu mah bukan komitmen!" rutuk nya menepis jauh bayangan Rey.


"Nggak." sahut Ayu setelah lama berpikir.


"Serius?!" mata Bagas berbinar terang mendengar itu.


"mmm.. tidak ada yang khusus, yang jelas aku menyukai laki-laki yang lebih tua dari ku."


"Kalau begitu masukkan aku ke dalam tipe ideal mu, karena aku lebih tua tiga tahun dari mu."


"akan ku pertimbangkan hahahah..." sahut Ayu tertawa lepas.


...~~~...


Setelah kelas berakhir, Bagas berjalan menuju parkiran. Ayu tampak berkali-kali mengecek ponselnya berharap ada kabar dari Rey, namun Rey bahkan tidak memberikan tanda 'suka' di sosmed nya hari ini.


"Kau bawa mobil sendiri?" mata Bagas terbelalak saat melihat Ayu memegang kunci mobil bermerk mewah.


"hmm.." Ayu mengangguk.


Jangan nyerah Bagas, walau tembok pembatas tampak amat jelas jangan putus asa.


Minder? pasti lah, ia hanya seorang cowok kere modal tampang dan mulut manis sedangkan idaman hatinya bak seorang bidadari keturunan bangsawan.


"Jangan mundur Bagas.. ikan di laut dan sayur di darat pun bisa bertemu di atas piring kalau sudah waktunya." bisik otak kanan Bagas menyemangati agar dirinya tidak mundur begitu saja.

__ADS_1


"Tapi nggak semua orang makan pake ikan Gas, ada juga yang cuma pake sayur sama garam." sahut otak kiri nya seketika membuat dirinya sadar diri.


"aisss!! memang apa yang salah dengan garam hah?" ia mengusir dua suara yang di rasa melayang di atas kepala itu.


Ayu hampir melempar ponselnya karena terkejut dengan ulah Bagas.


"Kenapa sih Gas? kamu susah mengerti pelajaran yang tadi? soal garam apa? Kation atau Natrium klorida?"


"ee..? nggak ini Ibu ku bilang aku salah beli garam." elak nya tersenyum kaku.


"Ibu mu? dimana?" Ayu mengamati kedua tangan Bagas yang sedang tidak memegang ponsel. lewat apa Ibunya bilang kalau Bagas salah beli garam? telepati?


...~~~~...


Dari kampus, Ayu tidak langsung pulang kerumah. melainkan ia ke kantor untuk mengantarkan berkas yang telah di salin tadi malam.


"Tunggu, kalau aku kesana sekarang ketemu dong sama Pak Rey. kalau dia mikir aku sengaja kesana untuk ketemu dia gimana? apa aku suruh Mas Dimas aja yang ambil berkas ini? eh tapi, biar deh. malah bagus kan kalau aku bisa memperlihatkan dengan jelas apa itu berhenti berharap."


Setibanya di kantor, Ayu langsung menuju ke ruangan Dimas.


"Mas Di...." ia menghentikan suaranya saat melihat hanya ada Rey di sana.


"Ada apa?" tanya Rey masih tetap memandang komputernya.


Ayu berjalan masuk lalu meletakkan beberapa berkas di atas meja Dimas.


"Sampaikam ke Mas Dimas ini berkas dari Ayu." ia segera berbalik badan hendak keluar dari sana.


"Langsung pergi?" Rey merasa janggal, biasanya Ayu akan berbasa basi dulu pada nya.


"hmm." sahut Ayu singkat tanpa berbalik badan. namun langkahnya seketika terhenti saat lengannya di raih oleh Rey.


"Terimakasih." ucap Rey pelan, wajah ceria nya hari ini tampak putus asa dan hambar.


Melihat raut wajah runyam Rey, pandangan cuek Ayu berubah jadi simpatik.


"Iya. tapi ingat, Ayu nggak mau kalau Bapak minta bantuan seperti itu lagi."


Tanpa melepaskan lengan Ayu, Rey duduk di sandaran sofa dan menatapnya amat dalam.


"seharusnya Saya jujur saja kepada Papa kan?" sorot mata Rey turun menunjukkan kebimbangan.


"Tentang apa?" Ayu menunduk mengikuti pandangan Rey.


"Tentang Saya..." berat sekali rasanya bahkan hanya untuk menceritakan itu. padahal Ayu orang yang tau betul seperti apa dirinya.

__ADS_1


...***********...


__ADS_2