
Baru satu langkah memasuki kelas, Ayu di kejutkan oleh kerumunan murid yang mengerubungi papan tulis. kali ini coretan nya berwarna merah, namun masih dengan aroma tinta yang sama.
"Siapa yang nulis ya?"
"Saudara nya siapa?"
"Aku anak tunggal.."
"Aku juga.."
"Saudara ku namanya bukan ini.."
"Iya bukan Aku.."
Para murid yang penasaran siapa orang iseng yang mencoret papan tulis mereka itu terus saja bergumam dan menebak. ada pula yang bersikap masa bodoh dengan hal itu.
Ayu menyelinap di antara mereka, benar saja dugaannya. melihat nama kakak kakaknya tertulis di sana ia sangat yakin bahwa coretan di papan tulis selama ini memang di tujukan untuknya.
Ia memutar badan lalu berlari menuju toilet guna menenangkan pikirannya. apa maksut orang yang menulis itu? punya dendam kepadanya? atau hanya iseng saja? lalu kenapa sampai membawa-bawa nama keluarganya?
Semua pertanyaan itu berkecamuk di benak Ayu, di kampus ini bisa di bilang hanya segelintir orang yang mengenal keluarga Ayu. jadi sudah pasti pelakunya adalah orang yang sangat ia kenal.
Bagas yang merasa sesuatu terjadi pada Ayu langsung mengikutinya. bahkan ia berlari agar tak kehilangan jejak Ayu yang berjalan dengan cepat.
Sampai lah Ayu di salah satu toilet di ujung lorong, ia masuk lalu membasuh wajahnya untuk menjernihkan pikiran.
"Siapa kau!" rutuknya sambil menggosok wajah sekuat mungkin.
plak.. tiba-tiba Bagas menepuk bahu Ayu.
"Ya AMPUN BAGAS! bikin kaget aja."
"Kenapa kamu?" Bagas meraih tangan Ayu yang tampak gemetaran.
"Apa ada masalah? kamu lagi sakit?"
"Tulisan itu.." lirih Ayu sambil mengusap wajahnya.
Bagas menunduk melihat wajah gusar Ayu "apa?"
"Fania, Shandika, Kirana.. mereka kakak kandungku."
"Hah? jadi selama ini tulisan itu untuk mu? kenapa Kamu nggak cerita sama Aku?"
"Tadinya Aku juga nggak yakin, tapi kali ini sudah pasti Aku orang yang di maksut si pelaku."
"Kamu tenang oke? Aku pasti bantu cari siapa pelakunya." Bagas mengusap lembut kepala Ayu sambil memandangi wajah bingung yang masih tampak cantik itu.
__ADS_1
"Sejauh ini kamu ada pentunjuk? atau seseorang yang kamu curigai?"
Ayu menunduk dan mengatur nafasnya, sedari tadi ia merasa ada yang janggal, dan baru lah ia sadar.
"Bagas..." panggilnya berbisik.
"hmm?" sahut Bahas lembut.
Ayu membelalakkan matanya "ini kan toilet perempuan.."
"Lah iya... MAMPUS..!" mereka langsung panik saat mendengar langkah kaki menuju kesana. Ayu pun menarik tangan Bagas dan mengajaknya bersembunyi di salah satu bilik WC.
Bagas duduk di atas kloset agar kakinya tak terlihat dari kolong pintu, sementara Ayu berdiri tepat di depan Bagas agar seolah sedang BAB.
"kamu harum..." bisik Bagas, Ayu langsung menyikut kepalanya agar ia tak membuka mulut. mereka berdua sama sama menahan tawa karena posisi kaki Ayu berdiri seperti sedang memasang kuda-kuda untuk silat.
Setelah beberapa siswi pergi, mereka langsung keluar dan tertawa tanpa suara.
"Toilet perempuan sempit banget ya.." ucap Bagas sambil mencuci tangannya.
"Badan kamu yang kebesaran.." Ayu memercikkan air ke wajah Bagas.
Tak mau kalah, Bagas menampung air di telapak tangannya lalu ia memegangi kepala Ayu dan mengusapkan air ke wajah mungil itu.
"ih.. curang hahahah.." Ayu membalas pula dengan cara yang sama.
Hingga saat tangan mereka sedang saling memegang kepala, pintu toilet di buka oleh salah satu Asisten Dosen yang hendak buang air kecil.
"Ikut Saya!" bentak nya lalu berbalik badan.
...~~~~...
Tak tanggung-tanggung, mereka di bawa langsung menghadap ke Pak Rektor yang tak lain adalah teman dekat Adit.
Di sana tampak Ayu duduk cemas sambil mengusap-usap kedua lututnya dan Bagas duduk santai sambil menggoyangkan kakinya.
Semantara Adit melihat rekaman CCTV yang dimana tampak Bagas menyusul Ayu ke dalam toilet.
"Ngapain kamu kesana?" tanya Pak Rektor dengan tatapan garangnya.
"Saya nggak tau Pak. Saya cuma penasaran kenapa Ayu cemas, lalu Saya.."
"Nggak tau kalau itu toilet perempuan? atau nggak tau kalau anak Saya perempuan!" potong Adit membentak Bagas, namun yang terkejut malah Ayu.
"Kalian jangan berkilah lagi! sudah jelas Senior kalian mengatakan kalian sedang bermesraan di sana!" imbuh Pak Rektor.
Ayu tak berani menjawab, bibirnya kelu di rasa hingga ia takut makin memperkeruh keadaan kalau sampai salah bicara.
__ADS_1
"Bermesraan apanya? orang cuma megang kepala doang." sahut Bagas amat santai, ya lagipula mereka benar-benar tidak melakukan hal senonoh di sana.
Adit semakin murka mendengar jawaban tengil dari Bagas.
"Kalau kalian melakukan itu di koridor atau di lapangan nggak masalah, nggak bakal ada yang curiga juga. ini kalian melakukannya di toilet, ruangan tertutup loh." pukas senior mereka juga angkat bicara.
"Kalau emang Saya berniat demikian masih sanggup kok Saya bayar penginapan remang-remang. ngapain di toilet." ucap Bagas meyakinkan mereka semua.
"Iya kan Yu?" imbuhnya lagi sambil tersenyum pada Ayu.
Ayu tak bergeming, ia heran kenapa Bagas bisa sesantai itu. sementara dirinya dari tadi ketar-ketir ingin semuanya cepat berakhir.
Adit hanya bisa menggeratkan giginya saat mendengar jawaban Bagas. kalau bisa ingin ia masukkan wajah tengik Bagas itu ke dalam ember pel.
...~~~~...
Saat tiba di rumah, Ayu di seret oleh Papanya. tak henti-hentinya Adit mengomeli Ayu atas insiden barusan.
"huh! punya anak gadis satu aja bikin geger terus, yang pacaran sama Anak baj1ngan. yang berduaan di toilet sama anak ber4ndalan. pusing Papa Yu, lama-lama Papa nikahin kamu mau? biar momong anak aja di rumah." oceh Adit bak burung beo.
"Papa.. Bagas itu baik! dan Ayu nggak ngapa-ngapain sama dia. kalau soal momong anak Ayu udah sering tau momong bocil empat ekor Keenan, Ica, El dan Alea." sahut Ayu sewot sambil berlari kecil mengikuti langkah Papanya.
"Iya Papa bisa percaya sama kamu, tapi bagaimana kalau sampai orang luar dengar berita ini? seorang putri pengusaha terkenal kepergok di toilet bersama laki-laki... bayangkan, mau di taruh mana muka Papa?"
Ayu hanya menunduk, namun bola matanya menatap sinis Papanya yang dari tadi tidak berhenti mengoceh.
...~~~~...
Hukuman akibat kelalaian Ayu kali ini benar-benar berat. jika di suruh memilih ia pasti lebih baik membersihkan kolam renang, atau menyapu seluruh halaman rumah dan seisinya ketimbang duduk di depan Rey untuk mencocokkan data Administrasi.
Bukannya risih atau tak mau lagi melihat Rey, tapi Ayu kan masih marah dengan Rey. belum lagi Papanya menceritakan semua insiden tadi siang kepada Rey. malunya setengah mati! rasanya lebih baik Ayu pergi ke alam baka saat itu.
Rey: "Tanggal 10 Februari, naik sekitar 23 persen dan masuk ke akomodasi 0,7 persen."
"Pajak 0,8 persen perunitnya selama satu minggu, terjual 15 unit. deposit masuk dari 25 persen penghuni dan 0,6 persen keuntungan di kirim ke 20 investor." Ayu menjabarkan yang tertulis di kertas dengan suara pelan.
"Oke cocok. lanjut ke tanggan 17 Februari.." Rey hampir tak bisa membaca tulisan di kertas itu.
"Tulisan siapa ini? berantakan sekali. Coba bacakan lebih dulu." pintanya pada Ayu, sementara ia melihat ke dalam laptopnya siapa yang menandatangani dokumen 17 Februari tersebut.
"hah? Pak Dimas.." gumamnya tak percaya.
"Bapak kan cuti waktu itu!" ketus Ayu kesal, padahal jelas tertera di bawah dokumen itu tanda tangan Dimas.
"Saya nggak pernah cuti kalau nggak ada keperluan. bentar Saya telpon Pak Dimas, pasti ada kesalahan."
"17 Februari itu waktu wajah Bapak lebam semua!" tukas Ayu menaikkan suara nya semakin kesal, bisa bisanya hanya dia yang mengingat moment itu.
__ADS_1
Rey langsung meletakkan ponselnya kembali di atas meja lalu menatap canggung ke arah Ayu. ia baru ingat kejadian itu.
...*******...