
Mereka saling melempar pandangan seolah mengajak kembali mengingat momen saat itu. momen dimana Rey sangat hancur hingga ingin mengakhiri semuanya, dan Ayu berdiri kokoh di sebelahnya memberi sandaran untuk Rey agar kembali percaya bahwa suatu saat hidup akan berjalan dengan indah.
"Kata-kata kasar Saya kemarin bukan untuk kamu." ujar Rey perlahan.
"h..hah?" kenapa baru sekarang Rey mengatakan itu?
"Kamu tau Riko? dia mengganggu Saya dari pagi sampai Saya merasa sangat kesal, itu sebabnya Saya membentak mu karena Saya pikir kamu Riko."
"Kalau memang begitu, bukankah seharusnya Bapak menjelaskan saat itu? atau setidaknya minta maaf kek." ia menepuk dadanya yang terasa sesak selama berhari-hari.
"Saya bingung harus bagaimana.."
Ayu berdecit kesal "hh.. berhari-hari Bapak kebingungan? tau nggak seberapa terluka nya Ayu selama beberapa hari ini cuma karena kesalahpahaman? kata-kata itu cukup membuat Ayu yakin kalau Bapak benar-benar muak, benar-benar membenci Ayu. dan bukannya meluruskan, Bapak malah diam selama berhari-hari? mungkin memang ini cuma salah paham, tapi luka yang Ayu rasakan cukup nyata Pak."
"Saya minta maaf, Saya benar-benar tidak ada maksut melukaimu. Saya terima kalau kamu mau membenci Saya sekarang." perkataan Rey masih saja kaku bahkan setelah ia merasakan bagaimana dampak kesalahpahaman itu bagi Ayu.
Sungguh Ayu tak bisa mengerti kenapa harus serumit ini, jika saja ia tak menaruh rasa begitu dalam pada Rey. maka ia pasti takkan merasakan sakit sekalipun Rey benar-benar membentaknya waktu itu.
"Tau apa yang paling menyebalkan? Kau selalu berhasil melukaiku, tapi Aku selalu gagal untuk membenci mu..." batinnya sembari menatap Pria tak berperasaan itu.
"Maaf.." ucap Rey sekali lagi.
Andai saja di bolehkan, ingin rasanya Ayu menendang wajah Rey sebagai pembalasan atas sikapnya itu.
"Lanjut! nggak selesai-selesai nanti. muak Aku melihat tumpukan kertas ini." ketusnya tak menjawab perkataan Rey.
Tiba-tiba saja Rey menjadi kesal karena Ayu menyebut 'Aku' di depannya. mungkin karena telinganya sudah amat nyaman mendengar Ayu menyebut dirinya dengan nama.
"Salah sendiri." tukas Rey kesal.
Langsung Ayu menghunuskan tatapan tajamnya mendengar perkataan itu. baru saja minta maaf, kok malah mau cari gara-gara lagi.
"Apa?" Rey mendongakkan dagunya.
"Memang ini salahmu kan? coba pikir karena apa kita di sini? karena kamu kepergok berduaan di toilet sama bocah amburadul itu! dan mungkin dia sekarang sedang tidur pulas di rumahnya, sedangkan Saya? Saya duduk di sini bersama kamu dengan semua kertas memuakkan ini!" air liurnya sampai muncrat menghambur ke arah Ayu.
"Dasar bocah-bocah M€SUM!!" umpatnya sambil melemparkan lembaran kertas ke atas meja.
Ayu menyeringai kesal hingga ujung bibirnya naik sebelah. "Kami bukan m€sum!"
"Dua manusia lawan jenis di ruangan tertutup! apa namanya kalau bukan M€SUM?"
"ssss!! kenapa semua orang berpikiran negatif tentang itu? waktu itu kita juga di kamar Bapak berdua apa ada kita berbuat m€sum?!"
"Saya BEDA! Saya laki-laki.."
"NGGAK NORMAL!" tukas Ayu memotong pernyataan Rey.
__ADS_1
Mulut Rey yang tadinya nyerocos bak knalpot racing langsung tertutup rapat mendengar penghinaan nyata itu.
"NGGAK NORMAL? maksud mu apa hah? berarti kamu juga perempuan abnormal karena suka sama Saya!"
"Iya! Aku nggak normal! dan Aku suka sama Bapak. PUAS?" pekik Ayu membuat Rey lagi-lagi terdiam mematung.
"Berisik banget kalian! sudah selesai belum?" tanya Adit dari lantai atas.
"Belum Pak/Belum Pa.." sahut mereka bersamaan.
Mereka pun menyelesaikan penyesuaian berkas itu sambil saling melempar tatapan jengah.
...~~~~...
Hari masih sangat pagi, para mahasiswa belum datang saat itu. hanya ada petugas kebersihan serta beberapa siswa yang tengah mempersiapkan Acara lomba siang nanti.
Tak seperti biasanya, Ayu dan Bagas sudah tiba disana untuk melihat rekaman CCTV berharap bisa menemukan pelaku yang selalu mengusik Ayu.
"Stop! itu dia.." Bagas menghentikan rekaman CCTV saat si pelaku tengah beraksi.
"Apa ada masalah?" tanya sang petugas pengawas dari sebelah mereka.
Ayu yang tidak mau kasus ini di ketahui banyak orang pun terpaksa berbohong kalau ia mengecek CCTV itu hanya untuk mencari barangnya yang tertinggal.
Mereka mengirim potongan Video itu ke ponsel masing-masing, dengan izin sang Pengawas tentunya. setelah itu merekapun keluar dari ruangan tersebut.
...-...
...-...
"Pandai sekali dia, Aku bahkan nggak bisa melihat warna kulitnya."
Pelaku memang memakai pakaian serba hitam yang menutupi seluruh badannya. hanya rambut bergelombang yang bisa mereka lihat.
"Rambut nya.. banyak sih yang punya rambut begitu." Ayu pun bingung, bahkan dua temannya yang ia curigai juga memiliki rambut bergelombang seperti itu
"Tentang spidol itu, Kamu sudah bertanya dengan Laura? siapa tau itu miliknya." usul Bagas.
"Belum.. tapi kalau memang dia pelakunya, untuk apa dia menyematkan huruf A di setiap aksinya? karena huruf itulah Aku menduga Amanda pelakunya."
"Bisa jadi memang Laura, namanya Rania Laura kan? ada empat huruf A di namanya. bisa jadi dia memakai itu sebagai alasan."
"Kalau begitu Kamu pun pantas di curigai." sahut Ayu tak bersemangat mendengar asumsi Bagas yang terdengar ngawur itu.
"Aku? kenapa?" mata Bagas membelalak heran.
"Bagaskara. nama mu juga ada e
__ADS_1
Empat huruf A." tunjuk Ayu ke arah Bagas.
"Hai guys.. lagi pada ngapain?" sapa Laura yang juga hendak menyaksikan pertandingan.
Mata Ayu dan Bagas langsung tertuju pada rambut dan postur tubuh Laura.
"Apa kau merasa kehilangan suatu barang?" tanya Bagas tanpa aba-aba. bahkan tatapannya bak seorang intel yang siap menangkap sasarannya.
Bagi orang yang tidak tau apa-apa seperti Laura, tentu saja ia akan terkejut di tanyai begitu tiba-tiba.
"Barang? ku rasa Aku kehilangan banyak barang akhir-akhir ini." sahutnya ragu, sebab memang ia jadi sasaran para murid nakal yang senang merampas.
Ayu mencubit kecil lengan Bagas karena sangat tau kondisi Laura.
"Bisa sebutkan salah satunya? barang yang paling kau sayangi contohnya." tanya Bagas lagi lebih intens.
Melihat raut wajah menyebalkan itu, Laura mendengus kesal. "kenapa kau seolah menginterogasi ku? kau lupa kemarin merampas dua kupon makan gratis terakhirku?!"
"Kamu juga malak dia?" Ayu seperti merobek wajah Bagas dengan tatapannya.
"Aku terpaksa.. lagi pula dia kan sering dapat kupon, untuk apa merasa rugi jika hanya kehilangan dua kupon?" tukas Bagas membela diri.
"Walau cuma dua itu sangat berarti bagi orang sepertiku!"
"Begitupun denganku, posisi kita sama bukan? kenapa kita tidak saling memahami saja?"
"Memahami? percuma Kau punya teman kaya kalau harus merampas kupon makan rakyat jelata sepertiku."
"Mana bisa Aku menyuruh orang yang ku sukai untuk membayar makananku!"
Kedua telinga Ayu hampir terbakar rasanya mendengar pertikaian mereka soal kupon makan itu.
"STOP! pertandingan mu hampir di mulai." pekiknya melerai.
Laura menghembuskan nafas jengah, lalu beranjak melewati Ayu dan Bagas.
"Perampas.." gerutu nya saat melewati Bagas.
Bagas yang bisa mendengar itu pun tersinggung lalu menjulurkan kakinya hingga membuat Laura hampir terjatuh, beruntung Laura cepat mengelak dan berpegangan pada pembatas tribun. tubuhnya setengah terhuyung hingga membuat kalung yang tersembunyi di balik baju terjuntai menampakkan inisial A berwarna putih perak yang tampak berkilau. dengan cepat ia memasukkan kembali kalung itu lalu berdiri meninggalkan arena pertandingan.
...~~~~...
Di saat yang lain tengah asik menonton pertandingan, seseorang tampak menata lokernya sambil tergesa-gesa. ia juga menaruh sebuah jaket hitam ke bagian paling belakang loker lalu menutupinya dengan beberapa buku.
Tak jauh darinya, Laura yang tengah berlari hendak ke toilet menabrak ember berisi air pel hingga membuat orang yang tengah menata loker itu terkejut lalu segera menutup lokernya.
...*********...
__ADS_1