My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 39: Nyaman dan Cinta


__ADS_3

Bukti nyata yang bagaimana yang di maksut oleh Ayu? sudah pasti Rey menangkap kalimat itu sebagai arti bahwa pembuktian yang nyata adalah yang paling terlihat.


"hiss! apa yang Bapak pikirkan?" gerutu Ayu sembari memicingkan mata.


"Ternyata Kamu cepat tanggap juga." gumam Rey setengah berbisik.


"Jadi bukti yang seperti apa yang Kamu mau? kenapa Kamu malah mempersulit orang yang Kamu idamkan ini untuk menjadi kekasihmu?"


Ayu menyeringai tipis, entah dari mana Rey mendapatkan kepercayaan diri mengatakan itu. sebagai orang yang beribu kali di tolak bukankah wajar kalau ia bersikap waspada? apalagi dulu Ayu pernah di jadikan alasan agar Rey bisa mendekati Vino.


"Apa yang Bapak sukai dari Ayu?"


Rey memutar bola matanya ke atas seperti sedang mencari jawaban. ia tak tau dari mana awal debaran seperti ini muncul, yang ia tau pasti belakangan Ayu selalu muncul di mimpi Rey seolah-olah mereka memang sedang menjalin cinta. masa iya Rey harus mengatakan itu sebagai alasan? yang ada malah di pandang sebagai pria otak mesUm.


"Tidak tau..." ujar Rey dengan entengnya.


...~~~~...


Setibanya di rumah, Ayu berjalan ke kamarnya sembari menghentakkan kaki sampai terasa bergetar ubin yang di lewatinya.


JDARRR!!!


Pintu pun ia banting karena terbawa emosi.


"Tidak tau katanya!! Aku punya berjuta alasan menyukainya dan dia bilang tidak tau?!"


HAAAAAAHHHHHHH...!!!!!!


Ayu meremas kuat tasnya sambil berteriak meluapkan lava panas di dada.


...~...


Hari ke 4...


Ayu duduk di depan kolam renang sambil memikirkan waktu yang kian menipis. hanya tersisa dua hari lagi dan dia belum tau jawaban apa yang akan ia ucapkan pada Bagas.


Bisa saja dia mengabaikan pernyataan Bagas, namun mendengar Bagas akan membiarkan wanita lain mendekatinya jika ia di tolak, hati Ayu merasa tidak rela. ia ingin sikap hangat Bagas hanya untuknya.


"Aku tidak siap jika melihatnya tersenyum hangat pada gadis lain.." lirih Ayu dengan wajah sendu.


Fani yang sedari tadi memperhatikan adik bungsunya murung pun datang menghampiri. "Ada masalah?" ia duduk di sebelah Ayu dengan sepiring kentang goreng.


"Kakak dulu pernah pacaran nggak?"


Fani tersenyum mendengar itu, ternyata Ayu sedang dirundung masalah cinta.


"Pernah, tapi ya sekedar cinta monyet."


"Sebelum Kakak memutuskan bersama Mas Dimas, ada nggak seseorang yang membuat Kakak bimbang?"


"Satu-satunya yang membuat Kakak bimbang itu ya kalian. apakah nanti kita akan hidup terpisah? bagaimana Ibu menjaga kalian? dan bagaimana kelanjutan pendidikan kalian. tapi nyatanya takdir membawa kita semua berada di sini bersama."


"Ayu bingung Kak, dua orang teman Ayu menyatakan perasaan." tatapan Ayu tampak kosong walau pikirannya sangat bergemuruh.

__ADS_1


"Ohh.. cinta segitiga ternyata, bilang dong dari tadi." Fani berusaha menahan tawanya karena mendengar itu, masa-masa seperti Ayu itu memang sedang gencar-gencarnya memikirkan cinta.


"Siapa yang terlibat cinta segitiga? bukan Kamu kan Sayang?" celetuk Dimas ingin tahu.


"Bukan lah Mas, ini Ayu minta pendapat sama Fani."


Dimas menguyah kentang goreng yang di bawa Fani sembari tersenyum lebar.


"ngapain Kamu minta pendapat dengan Kakakmu ini? Kamu tau sendiri kan semenjak bertemu dengan Saya pikiran dan matanya hanya ada Saya. mana mungkin dia terlibat perasaan segi tiga seperti itu hahahaha.."


"Benar Yu, Kakak nggak sempat melirik ke Laki-laki lain karena di pepet terus sama Mas mu."


"Bukan Sayang, Kamu yang terus-terusan menggoda Mas makanya Mas luluh." Dimas mengatakan itu dengan percaya diri padahal faktanya dia lah yang dulu membelenggu Fani dengan perasaannya.


"idihh... Mas nggak ingat siapa yang curi-curi pandang duluan? ngaku hayo..!" goda Fani menudingkan jari telunjuknya.


Mendengar debat pasutri yang malah nostalgia itu Ayu hanya bisa menghembuskan nafas lesu. hhhhhffff...


Dimas dan Fani pun langsung sadar akan situasi itu, mereka saling memberi kode lewat tatapan mata.


"Kalau Kamu ingin referensi yang baik tentang cinta segitiga, mendingan Kamu tanya dengan Nurul. siapa dari kita yang tidak tau kalau dia dulu terjepit antara Bian dan Vino. tapi akhirnya dia malah memilih si tengik daripada Dokter Bian." ucap Dimas menyayangkan pilihan Nurul, padahal Vino itu sepupunya.


"Percuma kalau kamu tanya Kakakmu yang ini, karena dari sebelum lahir pun dia sudah mencintai Saya."


Telinga Fani terasa geli mendengar sikap narsis suaminya itu.


"Benar juga.." ucap Ayu pelan.


...~...


"Ya Ampun Anak Pak VINO!!" teriak Nurul terduduk lemas karena lukisan yang tengah ia siapkan untuk pameran minggu depan malah di coret coret oleh Alea, putri kecilnya.


Vino yang melihat itu dari balik pintu langsung bersembunyi "mampus Aku!" batinnya ketakutan.


Satu jam yang lalu Vino mengatakan akan menjaga Alea agar Nurul bisa menyelesaikan lukisannya. namun saat Nurul pergi ke kamarnya untuk mengambil kuas baru Alea malah lepas dari pengawasan Vino. masuklah ia keruangan Bundanya, nama nya anak kecil pasti senang melihat benda warna warni berjajar di dekat kanvas yang tengah di lukis Nurul.


Akhirnya gadis kecil itu melukis karya nya sendiri menggunakan telapak tangan. sementara Vino malah bermain game di ponsel nya.


Saat mendengar teriakan istrinya, barulah ia sadar kalau nyawanya sedang dalam bahaya.


Alea yang tertangkap basah oleh Bundanya malah tertawa memamerkan empat giginya.


"Alea, Ayah mana nak?"


bababam... oceh Alea, ia mengatakan Ayahnya sedang bermain bam (tembak).


"Mas.. mau masuk atau Nur yang ke sana." Nurul melirik tajam ke arah Vino yang tengah bersembunyi di dekat pintu.


"heheh.. Bunda.." rayu Vino persis seperti El kalau kepergok berbuat salah.


Nurul menggendong putri nya sambil tersenyum penuh rasa jengkel.


"Tadi Bunda bilang apa Ayah sayang...?"

__ADS_1


"Biar bibi yang menjaga Alea.." sahut Vino pelan, ia tetap tersenyum walau keringatnya banjir di dahi.


"Lalu Ayah bilang apa?" tanya Nurul lagi tetap tersenyum.


"Biar Ayah yang jaga hehehe.."


"Bagus..!" ketus Ayu.


"hehehe.. skincare nya masih ada nggak sayang? kita belanja yuk, sekalian beli camilan. Store kita punya koleksi baru loh, satu set kalung dan anting dengan permata murni."


"Mau lari dari kesalahan? minta di lukis ini muka nya Ayah kamu nak."


"Ayah... Bunda.. Biyu datang." panggil El berlari kegirangan.


"Anak Ayah memang penyelamat." batin Vino lega, terpaksa Nurul harus menahan emosi nya untuk saat ini.


Vino keluar dari ruang lukis menghampiri Ayu.


"Kenapa repot-repot mengantar El ke sini? Saya baru akan menjemputnya."


"heheh, sekalian main Mas. Kak Nur mana?"


"Ada di ruangannya.." bisik Vino.


Ayu pun menghampiri Nurul ke ruangan lukisnya berharap bisa mendapatkan solusi.


"Kak, Ayu butuh bantuan kakak." ia langsung duduk dan menyandarkan tubuhnya di salah satu sofa.


"Bantuan apa dek? tugas kuliah?" tanya Nurul sembari membersihkan tangan Alea yang berlumuran cat.


"Kakak dulu cinta nggak sama bang Bian?"


"his..! kok tiba-tiba bahas Bian? kalau Ayahnya El dengar bisa di selidiki habis-habisan kakak." panik lah, bisa berubah jadi reog si Vino kalau mendengar nama Bian.


"Kakak jangan bilang siapa-siapa ya! Pak Rey ngajak Ayu pacaran kak."


"HAH? Pak Rey ngajak pacaran? kok bisa? bukannya dia error?"


"Ayu juga bingung Kak. dia beneran atau nggak, kemarin Ayu pastikan lagi dan dia serius."


"Tapi ada bagusnya dong, kan kamu udah lama suka sama dia.." Nurul melirik jahil pada adik bungsunya itu.


"Nah itu dia masalahnya Kak, teman Ayu si Bagas itu juga ngajak pacaran. makanya Ayu butuh bantuan kakak, dulu gimana cara kakak memutuskan pilihan kepada Mas Vino. Ayu bingung kak. Ayu nyaman sama Bagas, tapi Aku suka Pak Rey. gimana dong..." rengek Ayu meminta petunjuk.


"Pilih orang yang mencintaimu. sebanyak apapun kekurangan orang yang mencintai kita, dia akan berusaha menjadikan kita Prioritasnya."


"Berarti dulu Kakak mencintai Bang Bian? tapi malah memilih Mas Vino yang mencintai Kakak?"


"hahaha.. Kalau kasus Kakak berbeda. sebenarnya dari awal Kakak sudah ada perasaan untuk Mas Vino, namun Kami tak bisa menjalin hubungan karena Mas Vino melakukan kesalahan dengan Mama nya El."


"Maka itu, jangan menjalin hubungan hanya karena rasa nyaman. karena nyaman dan Cinta itu dua hal yang berbeda. kalau Cinta sudah pasti nyaman, tapi kalau nyaman belum tentu Cinta." tambah Nurul sangat yakin. ia hanya ingin yang terbaik untuk adiknya itu. apapun pilihannya nanti, semoga mereka benar-benar bisa saling menjaga dan melindungi.


...************...

__ADS_1


__ADS_2