My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 65 : Dendam yang salah


__ADS_3

"Kenapa dia melakukan itu..?" tanya Ayu menatap kosong batu nisan Ibu nya Bagas. Momen haru yang mereka ukir bersama saat hari pemakaman itu sangat jelas berputar di kepala Ayu.


Rey merangkul bahu Ayu untuk berdiri. "Tenanglah... jangan berasumsi yang tidak-tidak. Bisa saja hanya kebetulan nama Ibu mereka sama."


"Kalau ternyata memang dia..?"


Rey hening sesaat menatap wajah bingung Ayu. "Maka kembali lah..." bisik nya menatap lekat. Kembali lah ke pelukan ku, kembali ke jiwa ku yang sudah terlena akan indahnya penantianmu.


Itu lah yang ingin di ucapkan, namun Rey tak bisa mengungkap kata hatinya di saat situasi tengah berantakan seperti ini.


...~~~~~...


Kembali kepada Ayu dan Bagas yang tengah terlibat perselisihan di atap gedung Kampus. Semua terasa cocok dengan apa yang ia selidiki bersama Rey kemarin.


Seluruh tubuhnya hampir tak mempunyai tenaga saat mengetahui Bagas lah dalang yang sesungguhnya. Sungguh skenario yang sangat tersusun rapi. Kini Bagas menunjukkan wujud asli nya sebagai Badar Andeswara.


Ayu berusaha kuat menarik tuas pintu, panik dan takut menjadi satu membuat pergelangan tangannya gemetar.


"Aku rasa Kamu membutuhkan ini..." ucap Bagas setengah berbisik. ia menyandarkan kedua tangannya di pintu dan mengurung Ayu di dalam kungkungannya.


Ayu melirik ke arah kunci yang ada di tangan Bagas. "Menjauh lah... Aku mulai jijik mengingat semua yang kita lewati bersama! Dengan lihai Kau berpura-pura membantuku."


"Maaf..." potong Bagas sembari menempelkan dahinya di pucuk kepala Ayu, membuat amarah Ayu terjeda.


"Biarkan Aku pergi..!" tukas Ayu berusaha mendorong. Namun Bagas tak bergerak sedikitpun.


"Aku yang akan pergi.. tapi sebelum itu izinkan Aku meminta maaf pada mu." semuanya sungguh di luar dugaan. Kini ia benar-benar merasa bersalah karena membuat Ayu tersakiti oleh kebohongan orang tua nya sendiri.


"Jelaskan apa alasanmu melakukan ini. kenapa Bagas? Apa Aku pernah menyakitimu? Aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya. Kesalahan apa yang telah ku lakukan pada mu Bagas..!" ia mendorong kuat tubuh Bagas, air mata pun tak dapat lagi ia sembunyikan.

__ADS_1


"Karena Aku pikir kita bersaudara.. Kamu tau seberapa menderitanya Aku dan Ibu? sedangkan Ayah ku tidak pernah ada untuk Kami. Aku dan Ibu menderita sepanjang hidup Kami, sedangkan orang yang ku pikir Ayahku tak pernah memperdulikan Kami. Itu sebabnya Aku mengikuti mu sejak lama. Aku memang berniat menganggumu, membuatmu merasakan kekhawatiran yang Ku rasakan selama ini. Tapi tidak ku sangka Aku terjebak dalam permainanku sendiri. Hingga tes DNA harus kita lakukan dan ternyata... Aku adalah seorang anak mafia Kamu tau itu kan?" tuturnya menahan emosi, tangis di redam sekuat mungkin. Ia sungguh merasa bersalah karena telah mempermainkan dan menyakiti gadis tak berdosa itu.


Untuk kesekian kalinya Ayu merasa dirinya sangat bodoh. Jatuh hati dan menaruh simpati kepada orang yang salah. Terlalu mudah baginya untuk menaruh rasa. Kini ia tak tau perasaan seperti apa yang tertinggal di sana.


"Maafkan Aku Ayu..." Bagas menatap Ayu penuh harap. Setidaknya ia bisa berdamai dengan Ayu untuk yang terakhir kali nya.


Jangankan memaafkan, melihat wajahnya pun membuat batin Ayu sesak. "Baiklah.. lupakan semuanya! Aku akan menganggap kita sama-sama korban di sini."


Ayu merebut kunci dari tangan Bagas kemudian segera keluar dari sana. Tak pula terbesit di benak Ayu untuk membalas perbuatan Bagas seperti yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Mengingat kebencian untuknya adalah karena orang tua mereka.


Di lorong yang sepi, Ayu berhenti dan menumpahkan semua tangisnya. Perasaan yang di berikan Bagas sungguh membekas di dalam dirinya. Hingga pada akhirnya perasaan itu hangus bersama kebenaran yang amat pahit.


Tangisnya menggema di sana, ia menepuk dada berulang kali karena terasa sesak di dalamnya. Tenggorokannya seperti tercekat sesuatu membuat nafasnya terasa sulit.


"Ayu..? Kamu sakit?" Laura yang tak sengaja lewat di sana langsung berlari menghampiri Ayu.


Ayu menggeleng, namun tangisnya tak bisa berhenti hingga membuat Laura tak yakin kalau Ayu sedang baik-baik saja.


"Kalau Kamu baik-baik saja berhentilah menangis." Ia dan wajah datarnya membawa kepala Ayu bersandar di bahunya. Mereka cukup dekat untuk melakukan itu, bertahun-tahun mereka berteman walau Laura tau sejak lama bahwa Ayu adalah saudarinya.


"Aku minta maaf kalau perkataan ku kemarin menyakitimu. Kalau Kamu mau marah aku pun tidak keberatan, karena memang Aku dan Ibu..."


"Diam lah kalau berniat menenangkan ku." lirih Ayu tersengguk. Ia berusaha menghentikan tangisnya namun tak bisa.


"haissss.. berhentilah, Kamu sanggup memarahiku tapi tak sanggup berhenti menangis." Laura mengguncang bahu Ayu sambil terkekeh pelan.


Ayu mengangkat kepalanya dan memandang Laura dengan mata sembab "Hati ku sakit.."


"Karena Aku..?" tanya Laura merasa tak enak, ia sungguh tidak berniat menyakiti Ayu kemarin. Justru selama ini ia sengaja menyembunyikan identitasnya agar Ayu bisa hidup tenang tanpa bayangan masa lalu orang tua mereka.

__ADS_1


Ayu menggeleng pelan, ia merasa malu karena dengan mudah percaya perkataan Bagas bahwa Laura lah pelakunya.


Laura menegakkan kepalanya "jadi siapa orang nya? siapa yang membuat sahabatku ini menangis seperti ini? dimana orang nya? Ayo kita hajar sampai tamat!"


"Cukup Laura.. jangan membuatku malu dengan kelakuanmu itu." ledek Ayu tertawa kecil. Ia hapal betul sikap Laura yang sok jagoan, tapi bila lawannya benar-benar muncul ia pasti mundur dan membuat Amanda yang menyelesaikannya.


"hahahahah... berdiri lah, hari sudah hampir sore." Laura memberikan tangannya kepada Ayu, dan Ayu pun menyambut lalu berdiri perlahan.


"Terimakasih... tunggu kita seumuran kan? jadi tetap bisa memanggil nama bukan?"


"ssstt... jangan sampai ada yang tau, Kamu tau kan gosip di sini cepat menyebar." bisik Laura menengok sekeliling.


"Tunggu... Kita benar-benar tetap bisa berteman kan? jangan-jangan Kamu punya niat jahat seperti Bagas." keluh Ayu menatap sinis Laura.


"OMG.. Aku ketahuan, memang benar Aku punya niat untuk merebut hartamu.. warisan mu.. saudarimu.. dan kekasih mu hahahahahah...."


"Dih.. jangan ngeledek deh Lau, Kamu pasti tau Bagas dan Aku sudah kandas sekarang." Ayu menepis ucapan Laura. Namun wajah Laura tetap saja meledeknya.


"Bukan Bagas.. maksudku Pak sekertaris yang selalu menjemputmu." Laura menyenggol Ayu dengan bahunya sambil tertawa kecil.


"ihh.. Laura bisa diam nggak?"


"Beneran kan..? ngaku hayo... jangan-jangan waktu kalian di gosipin pacaran kemarin memang benar. tapi kamu malah menutupi dengan bilang kalau dia itu belok hahahahahah.."


"Laura sumpah ya Kamu..! Kamu pikir cuma Kamu yang tau segalanya hah? Kamu pikir Aku nggak tau ada apa antara Kamu dan Kak Ryan?"


Wajah Laura langsung merah padam saat nama itu di sebut. Mereka pun keluar gedung sambil saling meledek satu sama lain. Ryan dan Rey, nama itu terus bersahutan dari mulut mereka sambil saling menjulurkan lidah.


Sementara beberapa Siswa lain yang melihat kekonyolan mereka hanya menggeleng saja. "Dasar mereka itu, seperti kembar beda alam."

__ADS_1


...*****************...


__ADS_2