
Tubuh Ayu terhuyung lemas rasanya saat mendengarkan percakapan kedua Kakaknya. Lengan kanannya menopang tubuh di sebuah sandaran kursi yang berada tak jauh dari Dika dan Fani.
"Nggak mungkin..." lirihnya terkejut. Apakah mungkin hal ini yang membuat Bagas sangat putus asa tadi?
"Dek.." Kedua kakaknya langsung berdiri dan menghampirinya.
"Kakak dengar dari mana omong kosong itu?!" Pekik Ayu tak terima, membayangkan sikapnya selama ini kepada Bagas membuat batin Ayu terasa jijik Jika memang benar mereka saudara.
"Kamu tidak bertanya padanya? Kamu tidak melihat foto kecilnya bersama Ayah?!"
Kegaduhan mereka berdua membuat Fani bingung, bertahun-tahun ia berdoa semoga tak terlibat dengan masalalu Ayahnya. Namun sepertinya Tuhan tidak mendengar doanya.
"Bagas bukan saudara kita Kak. Aku pernah ke makam Ayahnya.... tunggu, jadi dia mengatakan pernah melihat Kalian di pemakaman itu karena..." Barulah semuanya terasa masuk akal. Kenapa Bagas bersikeras mengatakan bahwa ia melihat keluarganya di sana. Dan ia tidak mengingat itu karena dirinya sendiri lah yang menolak di ajak ke pemakaman dengan alasan ia tak mengenal Ayahnya.
Ayu berjongkok sambil memegangi kepalanya "nggak.. nggak mungkin! nggak mungkin!"
"Kerubung Jati.. di sana kan Kamu mengunjungi makam Ayah nya. itu lah makam Ayah kita!" tekan Dika meyakinkan Ayu.
Tangan Ayu mulai bergetar, sedikit demi sedikit telapak tangannya mulai terasa dingin. Kacau... seluruh pikiran dan hati Ayu benar-benar pecah hancur berkeping. Ia bahkan mempertimbangkan perasaan Bagas kepadanya. Ia mengakui dalam hatinya bahwa sudah mulai tumbuh benih cinta untuk Pria itu. Tapi kenapa mereka harus di pertemukan dengan ikatan perasaan yang menyimpang dari tali persaudaraan. Dari pada saling menaruh rasa, Ayu lebih berharap Tuhan mempertemukan mereka sebagai dua orang yang saling membenci dan menyakiti.
...~...
Seluruh keluarga Ayu belum berani mengambil tindakan terhadap Ayu yang terus mengurung diri di dalam kamarnya selama Tiga hari. Mereka semua bingung bagaimana membuat Ayu bisa menerima kejadian itu.
Selain belum bisa menerima keadaan ini, Ayu juga sangat marah kepada seluruh keluarganya karena telah berbohong sewaktu Ayu mengungkit soal pemakaman Ayahnya. Andai saja dari awal keluarganya jujur, dia pasti tidak akan terlibat lebih jauh dengan Bagas.
Desas-desus itu pun sampai ke telinga Rey, namun bukannya merasa senang karena minim persaingan. Ia malah merasa ini semua tidaklah masuk akal.
"Permisi..." ucap Rey memasuki rumah Adit. Seluruh keluarga yang tengah berkumpul di ruang tamu pun langsung menoleh serempak.
"Rey? ada apa? ini kan akhir pekan, Saya juga tidak memberimu pekerjaan tambahan bukan?" tanya Adit, ia seolah tak ingin ada orang lain di antara kekacauan ini.
"Dimas yang menyuruh dia kemari Pa.." sahutnya memijat pelipis yang terasa mau pecah.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Adit lagi.
"Ayu tidak mau keluar dari kamarnya sejak kemarin, bahkan dia tidak mau makan. Maka itu Dimas memanggil nya siapa tau dia bisa membujuk Ayu."
Seluruh anggota keluarga hanya manggut-manggut mendengar jawaban Dimas itu. Masuk akal juga, Ayu kan marah kepada seluruh keluarganya. Tapi siapa tau dengan Rey dia tidak marah karena Rey tidak mempunyai sangkut paut dengan masalah ini.
Setelah semua setuju dengan usul Dimas, Rey pun mendatangi kamar Ayu. Sementara keluarga yang lain bersembunyi agar Ayu bisa leluasa keluar rumah.
Rey mengetuk kasar pintu kamar Ayu. Ia sungguh jengkel dengan sikap kekanakan Ayu yang selalu saja seperti itu. Mengurung diri di kamar berhari-hari bila ada masalah.
"Ayu! Keluar..." panggil Rey membuat telinga Ayu risih.
Sementara Adit dan Dimas yang mengintip dari bawah malah di buat tepuk jidat oleh kelakuan Rey.
"Astaga.. nggak ada lembutnya itu anak." gumam Adit bingung, mana bisa membujuk orang yang sedang merajuk dengan cara seperti itu.
"Papa kan tau sendiri dia agak lain dari pada yang lain.." sahut Dimas pula, ia sudah tak heran dengan kelakuan Lelaki setengah matang itu.
Ternyata Ayu membukakan pintu kamar, seketika keraguan Dimas dan Adit terlempar jauh dari otak mereka.
"isss..!" desis Rey menutupi hidungnya dengan jari.
"Sampai kapan Kamu mau begini?" sungut Rey kesal.
"ihh.. apa sih! pergi sana..!" Ayu menutup pintu kamarnya, namun Rey menahan pintu itu hingga tidak tertutup sempurna.
"Saya tunggu di sini lima menit, bersiaplah.. Saya akan membawamu ke suatu tempat dengan banyak makanan lezat." rayu nya, namun terdengar seperti ancaman.
"Nggak selera! pergi aja sendiri.." Ayu mendorong kuat pintu itu, namun tenaga Rey terlalu kuat.
"Tidak mau? haruskah Saya beritahu keluarga mu kalau kemarin kita...?"
Ayu sontak membuka lebar pintunya "JANGAN! oke Lima menit!"
__ADS_1
Setelah Ayu kembali masuk untuk bersiap, Rey memberikan jempol ke arah Adit dan Dimas pertanda bujukannya berhasil.
Adit dan Dimas pun mengacungkan kedua jempol mereka atas suksesnya misi ini. Sekarang mereka tinggal membuktikan apakah Bagas benar-benar tidak mengetahui ikatan darah di antara Ayu, atau Bagas mempunyai rencana untuk membalas dendam seperti yang di lakukan Mei dahulu.
...~...
Di dalam mobil, Ayu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Beberapa helai rambut Bagas yang menempel di hodie nya saat Bagas menangis sesenggukan kemarin.
"Apa itu?" tanya Rey penasaran.
"Tolong antarkan Ayu ke rumah sakit dulu." pinta Ayu sembari menarik sehelai rambutnya dan di masukkan ke sebuah kantong plastik.
"Rumah sakit? Kami mau menemui Dika?"
"Bukan. jangan ke rumah sakit itu, cari rumah sakit lain." ia berencana mengetes DNA dirinya dan Bagas.
Rey paham pun maksut tujuan Ayu "Kamu mau mengetes DNA?"
Ayu tak menjawab, pikirannya benar-benar kalut saat itu. Perasaan yang entah bagaimana cara Ayu menjelaskannya. Perasaan tak menentu itu seolah memaksa air mata Ayu untuk terus mengalir.
"Kamu tampak tak terima dengan kejadian ini. Kenapa? hati mu sudah tercuri olehnya?" tak bisa di pungkiri Rey kecewa dengan respon Ayu yang tampak dingin.
"Kalau Bapak di posisi Saya, bisakah Bapak langsung percaya?"
Lagi-lagi Ayu menyebut dirinya seperti orang asing, dan itu membuat sayatan kecil di perasaan Rey yang entah kenapa tak nyaman dengan sebutan itu.
"Memangnya apa bedanya? Kalau ternyata dia bukan saudaramu Kamu mau apa?"
"Entah lah.." seloroh Ayu mendengus kesal. ia terdiam sejenak kemudian mengatakan "Mungkin Aku akan menerima nya..."
Rey menatap kaku wajah Ayu yang tertunduk sayu, sungguh ia tak menyangka setelah apa yang mereka lewati kemarin Ayu malah berbicara mengenai perasaannya untuk orang lain.
"Kamu sudah tidak menganggap Saya lagi?" Ia menepikan mobilnya, helaan nafas berat terdengar jelas dari dada bidangnya itu.
__ADS_1
"Lalu apa arti dari ciuman kita kemarin? tidakkah itu sangat berarti untukmu? kenapa Kamu bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa sekarang? Setelah apa yang kita lakukan kenapa Kamu malah membicarakan perasaan orang lain di hadapan Saya?"
...**********...