
Hanya sejengkal jarak wajah mereka berdua. hidung yang menjulang seperti hendak beradu. Bagas mengepalkan tangannya di sebelah Ayu seolah sedang mengumpulkan keberanian.
Tatapan mereka saling terpaku, perlahan jarak semakin menipis membuat nafas mereka terdengar berderu. indahnya suasana seolah menyatu membalut keduanya.
"AAAK...! APA INI!"
Teriak Ayu sambil mengangkat kakinya. suasana romantis yang di ciptakan Bagas pun buyar begitu saja.
Bagas juga terkejut saat melihat hewan kecil berwarna coklat menempel di kaki Ayu. itu adalah ulat air yang apabila menggigit akan menimbulkan sensasi gatal luar biasa.
"ihhh.. ambil Bagas! cepet ambil!" rengek Ayu berteriak ketakutan. ia sangat geli melihat ulat itu menempel di kaki nya sambil menggeliat.
"Sabar, tenang, sabar..." Bagas pun kelabakan karena Ayu sangat panik.
xxxxzzzz.. cuuakksss!
Air liur keramat di semburkan oleh Bagas tepat mengenai ulat itu. kemudian ia menyingkirkan makhluk pengganggu tersebut menggunakan ranting kayu.
"Ih.. jorok!" ketus Ayu menyeringai jijik. apes banget hari ini, kepala diguyur air kobokan. kaki ketempelan ulat, diludahin pula.
"Biar licin, kalau nggak begitu bakal susah lepasnya." ujar Bagas sambil membilas kaki Ayu menggunakan air sungai.
"Asal kamu tau saja, tak banyak orang yang mengetahui kalau air liur yang paling mujarab melepaskan ulat itu. kebanyakan mereka menggunakan pasir untuk melepaskan nya."
"Kok kamu tau banyak tentang hewan itu? sering di gigit?"
"Dulu.. Ayahku yang mengajarkan menggunakan air liur biar cepat lepas." senyum tipis tersirat, sepertinya ia sedang mengenang kebersamaan dengan kedua orang tuanya.
"Maaf ya, hari ini Kamu jadi kacau gara-gara Aku." ujar Bagas sambil mengusap-usap bekas ulat di betis Ayu agar racunnya tak menyebar.
"Seperti yang kubilang tadi, hari-hari ku penuh kejutan karena mu hahahhaha... oh iya, bagaimana caranya tadi?"
"Cara melepaskan ulat?"
"Bukan, cara mengetahui perasaanku untukmu." tanya Ayu malu-malu.
"sial... mana bisa ku ulangi lagi adegan tadi. sudah hancur feel nya gara-gara ulat pengacau itu!" rutuk Bagas dalam hatinya.
Bagas mengusap batang hidungnya, ia menghindari kontak mata langsung dengan Ayu karena merasa malu.
"Ayo kita pulang. Aku takut Kamu apes lagi kalau kita di sini lebih lama."
"hei tunggu. gimana caranya? bukankah Aku harus mengetahui perasaanku?"
"Lupakan.. kita lakukan lain kali." Bagas mendorong tubuh Ayu yang selalu menoleh kebelakang. namun kepala Ayu tetap menoleh ke arah Bagas yang mengawalnya dari belakang.
"Lain kali kapan? Kamu cuma kasih Aku waktu satu minggu!"
__ADS_1
"Kan masih ada 5 hari." ucap Bagas.
"Aku harus memastikan perasaanku untuk orang lain juga. maka itu waktuku sangat singkat."
"Siapa?" Bagas langsung memutar tubuh Ayu agar menghadap ke arahnya.
Ayu menyeringai gugup "ada.. seseorang."
"Siapa? Orang tua itu?" tatapan Bagas tampak sangat mengintimidasi.
"Bukan!" jawab Ayu menekan kalimat. matanya membelalak dan wajahnya menjadi merah padam.
"Ku rasa memang dia."
"BUKAN! Ku bilang bukan!"
...~...
Hari ke 3....
Karena pulang kuliah lebih awal, Ayu langsung bersiap menuju kantor untuk melanjutkan tugasnya sebagai mentor anggota magang.
Hari ini ia terselamatkan dari Bagas yang tengah sibuk berlatih basket untuk pertandingan. jadi mereka tak banyak bertemu dan tak sempat membahas soal perasaan.
Ayu berjalan memasuki kantor sambil menggunakan kartu tanda pengenal. ia berjalan bersama Dimas yang akan memberinya tugas.
Ayu mengepalkan tangannya karena merasa cemas. sementara Rey, ingin rasanya ia menghilang dari muka bumi jika ingat kegilaannya kemarin.
"Selamat..." Rey baru hendak melontarkan sapaan, eh Ayu berlari cepat melewatinya begitu saja.
"Kenapa dia? seperti melihat hantu saja." gumam Rey tercengang. ia menoleh ke arah kaca di sebelahnya untuk memastikan bahwa penampilannya hari ini tidak ada yang salah.
...-...
...-...
"Permisi Bu, ini hasil yang Tim kami buat. rencana akan kami serahkan kepada Pak Rey lusa." karyawan magang berusia 25 tahun itu meminta pendapat Ayu, apakah desain milik tim-nya sudah pantas untuk di ajukan ke dalam proposal pembangunan.
"Bagus.. tapi coba di kurangi bagian yang terlalu mencolok. tata letak dan tinggi ruangan juga sudah cocok untuk tipe minimalis. anggaran dan desain cadangan jangan lupa di siapkan karena kemungkinan besar Pak Dimas akan meminta versi yang lain." Ayu menjabarkan dengan penuh kelembutan agar karyawan itu tak patah semangat. kita tidak ada yang tau kan keadaan mental seseorang.mengingat persaingan untuk mendapatkan posisi karyawan tetap sangat sengit, Ayu dan para mentor lainnya harus benar-benar membimbing mereka dengan hati-hati.
"Baik Bu, terimakasih." karyawan itu segera kembali ke meja tim nya.
...-...
...-...
Waktu menunjukkan pukul 17:00. Ayu dan para karyawan lainnya bersiap untuk pulang sambil saling memberikan semangat.
__ADS_1
"Kerja bagus hari ini.." ucap mereka dengan wajah lelah dan senyum kecut karena seharian berkutat di depan komputer.
Saat berjalan menuju lobi, Ayu mendengar langkah kaki yang seperti sedang mengikutinya.
"Ayu.." panggil Rey sembari menepuk pundaknya.
Tentu saja Ayu terlonjak kaget karena sedang memikirkan sesuatu.
"Apa?" sahut Ayu berpura-pura cuek.
Rey bingung harus memulai pembicaraan dari mana, alhasil ia malah memuji kemampuan Ayu sebagai mentor.
"Saya tidak menyangka Kamu cukup bisa di andalkan. kalau Kamu serius bergabung pasti Kamu bisa langsung duduk di posisi seperti Saya." Rey tak berani menatap lurus gadis di hadapannya itu karena malu dan gugup.
Ayu mengerenyitkan Alisnya, ia tau bukan itu yang ingin di bicarakam oleh Rey. namun ia malah ikutan gugup dan mau tak mau menyahuti perkataan Rey.
"Semua berkat kerja keras Bapak hehe.." senyum palsu Ayu mengembang namun bibirnya bergetar.
"Kerja keras dia? yang bener aja mulut mu Yu! ini semua berkat kegigihanmu sendiri bukan karena Pak Rey!" rutuk Ayu memarahi dirinya sendiri.
"Bagaimana?" tanya Rey. ia memang tak pandai jika harus berbasa-basi tentang perasaan.
"Apanya Pak?" Ayu bingung, apa yang bagaimana?
"Soal kemarin, Kalau Kamu merasa risih Kamu bisa kok anggap itu tak terjadi. karena jujur saja Saya juga malu karena..."
"Bagaimana dengan Bapak? apa ucapan Bapak kemarin serius atau hanya asal bicara saja?" perasaan mereka memang harus segera di perjelas. kalau tidak lama kelamaan akan semakin tidak jelas.
"Kalau pun serius apa alasannya? apa yang membuat Bapak berubah pikiran? apa benar Bapak sudah berubah? bukannya dulu Bapak bilang Bapak nggak akan pernah menaruh rasa sama Saya sekalipun Bapak sudah berubah?"
Ayu meluncurkan berbagai pertanyaan yang semalaman membuatnya tak bisa tidur. ia sungguh tak mau kalau Rey menyatakan cinta karena merasa kasihan.
Rey maju dua langkah membuat jarak mereka semakin dekat. "sudah berapa kali Saya bilang jangan menyebut dirimu menggunakan kata Saya "
"Kenapa memangnya?" Ayu mendongak membulatkan matanya.
"Ayu. selalu sebut dirimu dengan nama itu kalau tak ingin mengundang masalah." tegas Rey tepat di depan wajah Ayu.
"Dan jangan melarikan pembicaraan kalau Bapak tak ingin dalam masalah!"
"Justru kamu yang melarikan pembicaraan, Saya sudah bertanya tentang jawabanmu dari awal."
"Saya butuh alasan Pak. bertahun-tahun Saya menunggu tapi Bapak selalu mengatakan tidak akan pernah menyukai Saya. dan sekarang tiba-tiba Bapak mengajak Saya berpacaran? Setidaknya kasih Saya bukti nyata kalau Bapak benar-benar sudah normal!"
Rey mengusap tengkuknya sambil melihat ke sekeliling. "Bukti nyata.. maksut Kamu bukan itu kan?"
"hah?" Ayu sadar kalau Rey salah menangkap maksut perkataannya.
__ADS_1
...*******...