
Setelah puas bermain air, mereka semua masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Sementara Rey membersihkan dirinya di kamar tamu.
Ia terbayang oleh wajah sembab Ayu "Pasti dia menangis karena bocah itu.." rutuk Rey kesal. Entah sudah berapa kali Rey mengatakan agar Ayu waspada terhadap laki-laki. namun Ayu tetap saja mudah terbawa perasaan.
...~~...
Malam pun tiba, Karena harus menyelesaikan pekerjaannya Rey di minta menginap oleh Adit malam ini. Sekaligus ia ingin menyelidiki apakah Rey mempunyai niat terselubung kepada Dika.
Merasa bosan, Ayu pun menghampiri Rey di ruang kerja Papa nya. Siapa tau ada yang bisa ia bantu agar kejenuhannya berkurang.
"Belum tidur?" tanya Rey memandangi Ayu yang berjalan ke arahnya.
Ayu menghempaskan diri di sebelah Rey, untuk kali ini saja ia benar-benar ingin melupakan semua yang telah terjadi antara dirinya dan Bagas.
"Terimakasih hadiahnya.." lirih Ayu meraih beberapa berkas di atas meja untuk di baca.
"Syukurlah Kamu suka.."
"hmm..." sahut Ayu tersenyum tipis, senyum yang mengandung rasa gamang tak terucapkan.
"Bisakah Bapak berhenti menyadap ponselku?" Ayu merasa ini saat yang tepat untuk curhat dengan Lita, namun dengan penyadapan itu mana bisa ia leluasa bercerita.
Rey tak menjawab, ia bahkan tidak melirik sedikitpun demi menyembunyikan kegugupannya.
"Ayu merasa nggak punya privasi Pak, Pliss..." pintanya mengguncangkan pelan lengan Rey menggunakan ujung jari.
Rey menghela nafasnya, ia bergerak untuk memindah posisi duduknya. Namun Ayu malah salah paham dan langsung beranjak karena mengira Rey akan menciumnya.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Rey heran.
Menyadari dirinya salah paham, Ayu pun memejamkan matanya sambil menghela nafas. Kemudian kembali duduk di posisi semula.
"e.. Ayu kira Bapak mau pergi...." seketika bibirnya terkatup rapat saat Rey merebahkan kepala di bahunya.
"Sebentar saja..." bisik Rey saat Ayu berusaha menghindar.
"Saya ingin tahu, bagaimana rasanya dekat dengan mu."
"Bukannya selama ini kita sudah dekat?" pungkas Ayu gugup. Ia menggerakkan bahunya agar Rey menepi.
"Tapi tidak sedekat ini." Rey memejamkan matanya, menghirup dalam aroma rambut Ayu yang masih lembab sehabis mandi.
Tanpa di duga, Adit datang ke sana sambil membawakan berkas tambahan yang akan di analisis oleh Rey. Ia hanya melihat Ayu, karena Rey bersandar di bahu Ayu tubuhnya pun tertutup oleh sofa yang membelakangi pintu masuk.
Ayu menoleh, Rey pun hendak bangkit namun dengan cepat Ayu mendorong tubuh Rey hingga jatuh tersungkur di lantai.
"Itu Pa.. sepertinya dia ketiduran di sana." sahut Ayu gugup. Sementara Rey meringis kesakitan sambil berpura-pura tidur mengikuti skenario Ayu.
Adit berjalan ke arah sofa, dan didapatinya Rey yang tengah terlungkup di bawah sofa tepat di dekat kaki meja.
"Astaga anak ini... Kenapa tidak pergi ke kamar tamu kalau ingin tidur?" gumam Adit geleng kepala. Ia tak mengamati wajah Ayu yang merah padam karena hampir ketahuan mesra-mesraan.
...~~...
Malam berganti pagi, dengan wajah kacau tak menentu Ayu menyusuri lorong kampus menuju kelasnya. Beribu kenangan yang di berikan Bagas seolah membuat hatinya terasa kosong saat itu. Ia benar-benar masih tak percaya bahwa Bagas menusukkan duri diam-diam kepadanya. Senyum yang selama ini mereka lewati seolah membuat warna cerah di hati Ayu berubah kelabu.
__ADS_1
Sesampainya di kelas, matanya terpaku pada meja Bagas. Meja itu benar-benar kosong haru ini. Haru menyelimuti saat ia menatap meja itu, marah dan sedih bercampur membuat suasana hati Ayu tak menentu.
...~~~...
Sementara di rumahnya, Bagas sedang merapikan seluruh pakaiannya. Dengan berat hati ia harus meninggalkan tempat yang menyimpan banyak kenangan itu.
Seandainya ia tak menaruh dendam kepada Ayu, seandainya ia tahu lebih awal bahwa mereka bukanlah saudara, seandainya ia tahu bahwa justru Ayah kandung Ayu yang menolong Ibunya. Maka semua tidak akan jadi seperti ini. Jika saja ia mampu mengendalikan dendam atas kesengsaraan yang mereka rasakan, maka sampai saat ini ia masih akan tertawa bersama Ayu sambil menikmati embun pagi di lorong Kampus.
Cinta palsu yang selama ini ia pakai untuk menusuk Ayu ternyata berbalik menusuk dirinya sendiri. Kenyamanan yang terjalin di atas rencana jahatnya kini membuat hatinya remuk dua kali lipat.
"Maafkan Aku Ayu..." lirihnya sambil meneteskan air mata. Hanya itu yang bisa ia ucapkan.
...~~...
Saat Dosen tengah menjelaskan mata pelajaran, Ayu malah sibuk sendiri dengan penyesalannya.
"Aku menyia-nyiakan cinta pertamaku demi lelaki penipu itu... Aku sangat malu, sangat malu.." rengek nya dalam hati.
...~...
Kesempatan tidak datang dua kali, sekarang Aku mencintainya dan dia sudah lama mencintaiku. Apalagi yang harus dipikirkan? pembatas yang di bangun, penghalang yang menghadang kini semua itu runtuh seolah di terjang oleh kuatnya ikatan batin.
Begitu lah pikiran Rey sedari tadi, ia terus meyakinkan dirinya sendiri di depan pintu sebuah toko perhiasan. Matanya tak terlepas dari sepasang cincin putih yang melambangkan kesucian dua hati yang saling mencintai.
"Masuk.. nggak, masuk.. nggak, masuk.." akhirnya pilihan pun terpatri pada selembar kelopak bunga yang ia ambil dari vas besar di sebelahnya.
Ia memantapkan diri sebelum akhirnya masuk ke dalam toko itu. Toko yang akan merubah seluruh jalan ceritanya mulai saat ini.
__ADS_1
...***********...