
Seperginya Dika, dalam sekejap Empat orang pengawal berhasil di lumpuhkan orang yang membawa belati itu. Postur tubuhnya yang tinggi kekar membuatnya amat mudah melumpuhkan pengawal tersebut.
Di dalam ruangan, Rianti tengah bertelepon dengan Adit. "Cepat datang Pa, Mama nggak nyaman sendirian di sini."
"Papa terjebak macet Ma, anak-anak belum pada datang?" tanya Adit memastikan.
"Mereka juga terjebak macet.." desis Rianti pelan, ia melihat jam dinding dimana waktu menunjukkan jam pulangnya anak sekolah. sudah pasti jalanan akan macet oleh angkutan umum maupun pribadi.
"Kalau begitu Mama sabar sebentar Ya, Mama mau Papa belikan apa?"
Rianti tak menjawab, ia terkejut saat melihat orang asing itu masuk ke dalam sana sambil menodongkan belati. pandangannya menyusup ke luar pintu dimana para pengawalnya sudah terkulai.
"Siapa Kau!" tukas Rianti panik, ia berusaha meraih tombol darurat di dekat ranjang namun Orang asing itu langsung mengarahkan pisau ke lehernya.
"Ma..! ada apa Ma?" Adit juga terdengar panik mendengar suara istrinya yang sedang ketakutan.
Orang asing itu merebut ponsel Rianti lalu berbicara dengan Adit. "Jika Anda ingin istri Anda selamat, batalkan Investasi Anda di Perusahaan DE sekarang!"
Adit terkejut mendengar itu, bagaimana bisa? belum genap satu jam ia menandatangani kontrak Investasi di Perusahaan DE, sudah ada pihak lawan yang ingin menghentikannya.
"Siapa Kau?" tanya Adit waspada, ia meminta supirnya menerobos jalanan agar cepat sampai ke rumah sakit.
...-...
...-...
Sementara Adit sedang melaju menuju ke sana, ternyata Bagas dan Ayu sudah lebih dulu sampai.
"wahh.. Ku rasa kita akan kena tilang dengan kecepatan tadi." gumam Ayu, ia melepaskan helmnya dan segera berlari ke dalam rumah sakit.
"Ayu.. tunggu!" teriak Bagas juga menyusul, ia sampai lupa melepaskan helm yang ia pakai.
Bian yang melihat itu pun memanggilnya, ia tak tau kalau Rianti sedang di rawat di sana. "Ayu...? ada apa?" panggilnya juga setengah berlari menyusul Ayu.
"Mama sakit Bang.." sahutnya tak menoleh.
Bian pun berniat melihat keadaan Rianti, namun ia di buat salah fokus oleh Bagas yang masih mengenakan helm tanpa sadar.
"Hei..." Bian menepuk bahu Bagas hingga membuat larinya terhenti.
"Apa?" Bagas berbalik, wajah nya tampak tak senang melihat Bian.
"Helm mu.."
__ADS_1
AAAAA!! !!!
Teriakan Ayu sontak membuat mereka terkejut. bagaimana tidak syok, Ayu melihat Empat orang pengawal yang terkapar di lantai. pikirannya sudah melalang buana membayangkan apa yang sedang terjadi dengan Mama nya.
Bagas dan Bian juga tak kalah terkejut menyaksikan pemandangan itu. mereka saling pandang kemudian berjalan diam-diam ke arah ruang rawat Rianti.
"Bagas.. Mama nggak kenapa-kenapa kan Gas?" bisik Ayu menahan tangis, ia memegangi ujung jaket Bagas dan mengikuti langkahnya dengan perasaan berkecamuk.
"ssstt..! Mama Kamu akan baik-baik saja, tenang oke?" bisik Bagas menenangkan.
Mereka pun serentak menerobos masuk ke ruangan itu. tentu saja Orang asing tersebut langsung mengambil tindakan dengan mengarahkan belati ke leher Rianti.
"Maju lah!" ancam Orang asing itu.
Bian dan Bagas tak berani berkutik, sementara Rianti hanya bisa menangis sambil berdoa semoga Tuhan menyelamatkan nyawa nya.
Ini baru kali pertama mereka di ancam seperti itu, sebelumnya Perusahaan mereka aman-aman saja. Hingga saat Adit bekerjasama dengan Perusahaan DE. tampaknya Orang asing tersebut adalah pihak kompetitor yang tak ingin Adit bergabung.
Kemudian datanglah Rey yang berlari tergopoh-gopoh dengan berkas Kontrak di tangannya.
"STOP! STOP! Jauhkan benda itu dari Ibu. Saya membawakan Kontrak nya dan akan Saya tanda tangani pembatalannya sesuai perintah Pak Adit."
"Tanda tangani pembatalannya sekarang!" Kecam orang asing itu.
Orang asing tersebut mendatangi Rey, kemudian Rey pun menandatangi pembatalan kontrak tersebut. namun benar saja firasat Rey, setelah mendapatkan tanda tangannya orang itu malah hendak menikam Rianti.
Beruntung Bagas dengan cepat menendangnya hingga ia tersungkur. "haiss!! dasar bajing4n!!"
Orang asing itu langsung bangkit lagi dan beradu pukulan dengan Bagas. Lalau Rey pun berdiri dan menginjak bahu orang itu, ia menekannya kuat-kuat hingga orang itu meringis pedih.
"Jangan Kau sentuh Bu Rianti jika Kau ingin keluar dari sini hidup-hidup!" tegas Rey amat marah. ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik karena rasa emosi.
Bian dan Ayu menghampiri Rianti dab langsung menenangkannya. Ia amat terguncang.
"its oke Ma.. its oke.." bisik Ayu sembari mengusap punggung Mama nya.
Saat hendak di bekuk oleh Rey, orang asing itu malah melawan. ia mengambil Vas guci berbahan keramik di atas meja lalu melemparkannya ke kepala Bagas.
CTARRR!!!
Guci seukuran setengah meter tersebut pecah saat beradu dengan Helm yang masih di kenakan Bagas.
Ayu sontak terkejut sekaligus lega, untung saja Bagas masih memakai helm nya.
__ADS_1
"sss..!!! Sial helm ku... Tau kah Kau berapa lama Aku mengumpulkan uang untuk membeli helm ini hah?! berani nya Kau merusak hasil kerja keras ku!"
Bagas melayangkan pukulan keras ke wajah orang itu. Satu kali pukulan saja orang itu langsung tersungkur, ia berusaha bangkit dan menyerang lagi. Namun Bagas menendangnya dengan sekuat tenaga di bagian leher hingga orang itu terkapar tak sadarkan diri.
Jiwa tawuran yang telah lama terpendam akhirnya keluar lagi. ternyata ia tak kehilangan bakatnya untuk melumpuhkan lawan dalam satu kali tendangan.
"cih! LEMAH!" decik nya sambil menyeka darah di pipi akibat besutan pecahan Guci.
Karena ikut merasa perih sekaligus kagum, Rey pun mengambil tisu lalu hendak menyeka luka di pipi Bagas.
"Apa yang Anda Lakukan?!" tukas Bagas agak risih, ia bahkan menepis lengan Rey.
"Aku mengasihani mu!" Rey tampak tak terima dengan pandangan jijik Bagas.
Sementara di sebelah ranjang Ayu melirik tajam ke arah Rey. "Normal apanya.." gumam nya kesal.
...-...
...-...
Tak lama berselang, Keluarganya yang lain pun datang. mereka berbondong-bondong segera mengecek keadaan Rianti.
Pelaku kejahatan itu sudah di bawa pengawal mereka yang lain untuk di selidiki. Kini Bagas dan Ayu duduk di kursi luar sementara yang lain membahas kegaduhan tadi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bian sembari memberi mereka air mineral.
Bagas mendapatkan beberapa luka lecet di wajahnya akibat pecahan Guci, namun itu bukanlah masalah. yang ia rasa sedikit sakit justru tulang belikatnya.
"Nggak apa-apa, tapi bisakah Anda memeriksa tulang ku yang ini? Aku merasa nyeri.." Bagas menyodorkan bahu nya kepada Bian.
"Saya tidak bisa." jawab Bian.
"Hah? Dokter apaan nggak bisa memeriksa..."
"Dia Dokter SPOG Bagas." potong Ayu membuat Bagas terdiam sekaligus takjub.
Mereka pun saling mengobrol dan bertukar cerita. walau tampilannya berantakan, Bian tampak menyukai Bagas yang tampak humble dan ceria.
Saat sedang asyik bercerita, Rey datang sambil membawakan handuk kecil. tanpa bicara ia bersimpuh di hadapan Ayu lalu membalutkan handuk tersebut ke telapak tangan Ayu.
"Tenang ya.. semua sudah beres kok." bisik Rey sembari menggenggam tangan Ayu erat-erat.
...********...
__ADS_1