My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 13 :


__ADS_3

Sebuah rumah bernuansa putih tampak indah di pandang bukan? namun tidak dengan anggapan Rey. ia merasa muak kembali ke rumah itu, bahkan ia sampai membenci apapun yang bersangkutan dengan rumah itu saat melihat hal serupa di luaran sana.


Rumah yang dulu sangat indah di rasa, rumah tempatnya tumbuh besar bersama sang kakak. kini rumah itu terasa seperti lembah hitam yang mencekam.


"Karena Kau mengabaikan permintaanku kakek mu akan menyerahkan 75 persen sahamnya kepada Faro! Kau masih punya dua bulan sampai ke pernikahan Faro, jika sampai saat itu Kau belum menikah. maka carilah tempat peristirahatan yang nyaman untuk wanita itu!" hardik Ben mengecam Rey tanpa berpikir. yang ada di otaknya hanyalah uang dan kekuasaan.


"Berhenti menyebutnya bak orang asing Pa, dia wanita yang melahirkan ku." air mata Rey tergenang di ujung kelopaknya. laki-laki yang di kenal keras kepala itu akan tampak lemah jika menyangkut nama Ibu nya.


"Dan.. tidak bisakah kau membiarkan keputusan kakek? memangnya jika kakek menyerahkan sahamnya kepada ku, Kau pikir aku mau membaginya denganmu?!" kali ini Rey benar-benar muak dengan kelakuan busuk Papanya.


Ben maju dua langkah hingga wajah mereka hanya berjarak setengah meter. "Kau mau sisa tulang wanita itu ku buang ke limbah sampah?"


Dada Rey naik turun menahan amarah, tangannya mengepal kuat hingga menonjolkan besar pembuluh darahnya.


"Menikahlah, dan jadi anak yang menguntungkan. tidak susah kan? nikahi siapa saja, jika kau tidak suka ceraikan dia setelahnya."


"Kenapa Kau selalu menganggap wanita seperti sebuah benda?! Kau mengambil dan membuang mereka sesukamu! lalu kau memungutnya jika Kau butuh. Kau pikir Aku sama seperti mu HAH?!!


PLAK!! tamparan keras menghajar wajah Rey hingga kaca mata nya jatuh dan pecah di lantai.


"Aku hanya menyuruhmu menikah. jangan bersikap berlebihan. lagipula itu akan menguntungkan jika kau..."


"Aku G4Y! jadi berhenti memintaku menikah!"


"APA?" Ben memandang Rey dengan wajah jengah.


"YA! berita itu tidak salah. Aku memang tidak menyukai..."


Satu lagi kepalan tangan di hujam kan Ben amat kuat tepat mengenai pelipis Rey hingga ia tersungkur.


"Dasar anak bajing4n! Kau pikir Aku membesarkan mu untuk menjadi manusia sampah seperti itu Hah?!" tak cukup tangan, Ben bahkan menendang punggung Rey secara membabi buta. ia mengambil kerah baju Rey laku memukuli wajah Rey hingga babak belur.


Bukannya Rey tak bisa melawan, rasa cintanya sebagai anak membuatnya tak bisa membalas pukulan membabi buta Papa nya. ia pun hanya bisa meringkuk sembari menerima hukuman yang ia rasa sangat pantas ia dapatkan.


...~~~~...


Karena kecelakaan beruntun yang menimpa teman-teman sekelas Ayu, mereka pun di liburkan sampai suasana dan mental korban kembali kondusif.

__ADS_1


Namun ada salah satu korban yang tidak menjadi korban kecelakaan tapi ikutan tumbang. ya dia adalah Bagas yang meringkuk di atas kasurnya karena demam tinggi semalaman.


"Bagas.. makan dulu yuk, nanti minum obat lagi biar cepet sembuh." bujuk Ibunya Bagas membawakan sepiring bubur.


"Nggak Bu, nanti aja." sahut Bagas lemas menggigil.


"Ke rumah sakit yuk, ini panas kamu nggak turun turun loh."


Bagas menggelengkan pelan kepalanya, rasanya seperti akan meledak bola matanya karena terlalu panas. gimana nggak demam tinggi, seharian kemarin dia hujan-hujanan bersama orang yang sedang demam pula. jadi besar kemungkinan demam nya Ayu berpindah ke tubuh Bagas karena imun tubuh Bagas sedang lemah kemarin.


Dalam kondisi setengah sadar, Bagas terus melihat ke arah ponselnya berharap ada pesan ataupun telepon dari Ayu.


"Kalau mendengar suaranya Aku pasti langsung sehat." gumamnya tersenyum kecil.


...-...


...-...


Sementara itu di rumahnya Ayu tengah melamun sambil menunggu kabar dari Rey. keriasauannya timbul saat Dimas menanyakan keberadaan Rey kepadanya, sebab hari ini dia tidak masuk kerja tanpa izin bahkan tanpa mengabari Dimas.


Begitu ponselnya berdering Ayu langsung sigap menangkat panggilan dari Dimas.


"Gimana Mas?" tanya Ayu tampak cemas.


"Kata nya dia lagi ada urusan mendesak dengan Papanya." ucap Dimas dengan suara berat, bakalan repot dong kalau Rey mendadak tidak masuk begini.


Setelah menutup panggilan dari Kakak iparnya, Ayu berusaha menelpon Rey lagi dan lagi walau tak di angkat sama sekali. bagaimana ia tak khawatir, ia tau betul hubungan Rey dan Papanya sedang panas akibat perebutan saham.


Feeling nya kuat mengatakan pasti Rey sedang tidak baik-baik saja sekarang. karena itu ia berniat mendatangi rumah Rey untuk memastikan apakah dia benar-benar sedang bersama Papa nya.


...~~~~...


Ayu menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Rey, tampak sepi seperti biasa. lampu teras yang masih menyala sempat membuat Ayu yakin kalau Rey sedang tidak di rumah.


Namun suara kran mengucur deras membuat Ayu penasaran "Pak..! Pak Rey..."


Ternyata di dalam kamar mandi, Rey tengah mengguyur dirinya di bawah shower. perih di wajah serta punggungnya tak di hiraukan, yang ia rasakan saat ini hanyalah rasa frustasi serta ingin sekali mengakhiri semuanya.

__ADS_1


"Pakk..!" teriak Ayu sambil menggedor kaca jendela rumah Rey. namun Rey tak bisa mendengar karena ia sedang di dalam kamar mandi.


"Apa aku masuk saja?" pikir Ayu, ia menggaruk lehernya yang tidak gatal sambil menoleh ke kanan dan kiri. ia masih ingat kode pintu rumah Rey, itupun kalau belum di ganti.


"eeit.. tapi nanti di kira maling gimana? Tapi Pak Rey.. mudah-mudahan aja dugaanku salah." ia nekat menekan kode pintu nya dan ternyata belum di ganti oleh Rey.


Ayu langsung masuk dan buru-buru menutup pintu itu kembali, ia berjalan pelan menyusuri dari mana suara kran itu berasal.


"Kamar? berarti Pak Rey di rumah? PAK.." panggilnya lagi, namun Rey juga tak bisa mendengar karena suara shower yang ia hidupkan cukup keras.


Ayu memberanikan diri membuka pintu kamar Rey, dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Rey terduduk lemas di bawah guyuran shower dengan wajah penuh luka lebam.


"Ya ampun Pak! Bapak kenapa?" Ayu berlari kearah Rey dengan kaki gemetar. ia mematikan shower dan segera mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh Rey.


"Ngapain di sini?" tanya Rey dengan tatapan kosong.


"Ayu yang seharusnya nanya! Bapak ngapain begini hah? urusan keluarga apa? kenapa Bapak sampai bohong ke Mas Dimas?"


"Ayo berdiri! apa sih yang ada di pikiran Bapak? mau bunuh diri? tanggung banget!" rutuk Ayu jengkel, kesal juga khawatir menjadi satu.


"Apa kau bisa membunuhku saja?" suara Rey terdengar mengambang, sepertinya ia benar-benar sudah muak dengan semua ini.


Ayu terdiam sejenak, ia tak tau kalau ternyata Rey benar-benar merasa sangat frustasi sekarang. ia menuntun pelan Rey lalu mendudukkannya di atas kasur. di amati nya wajah Rey yang di penuhi luka hingga membuat mata dan pelipisnya sedikit membengkak.


"Apa yang terjadi?" tanya Ayu dengan mata berkaca-kaca. siapa yang tidak sedih melihat orang yang di sayangi terluka seperti itu.


Rey menunduk dan melepaskan tangisnya di sana "Saya memberitahu Papa..." ucapnya tersengguk.


Air mata Ayu pun tak terbendung lagi, ia menangis prihatin melihat betapa kuat Rey menyembunyikan kesakitan ini seorang diri.


Ia mengusap pelan pelipis Rey sembari terisak "Dia yang melakukan ini?"


Rey mengangguk, ia benar benar ingin menumpahkan semua tangisnya di sana. semua luka yang ia terima selama ini terasa tak adil.


"Pasti sakit, kenapa Bapak malah main air tadi.." tangisnya semakin menjadi kala melihat luka di punggung Rey akibat di tendangi oleh Papanya.


...~...

__ADS_1


__ADS_2