
"Bagaimana hasil tes DNA nya?" tanya Rey menengahi suasana tegang yang mereka ciptakan sendiri.
Ayu melepaskan pandangannya keluar jendela sembari menyeruput kopi yang ia bawa, seolah menunggu jawaban pasti yang akan menjadi garis hidup kedepannya.
"Belum keluar..." hanya itu yang bisa Ayu ucapkan membuat risau di benak Rey bertambah.
"Bapak yakin tidak ingin membawa Kakek ke rumah sakit?"
"Dokter Dani bilang Kakek tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut saja tadi.."
"Bukankah kita seperti orang asing sekarang?" tambah Rey, Ayu menaikkan alisnya di sertai raut wajah yang gugup.
"Nggak ah, perasaan Bapak saja.." tepis Ayu membenahi tatanan rambutnya yang tidak berserak.
"Duduk lah.. ada yang ingin Saya bicarakan." Rey menunjuk sofa di sebelahnya dengan pandangan dingin.
Ayu pun menurut saja, ia melangkah pelan ke sana. Sepertinya memang jarak di antara mereka cukup jelas sejak perdebatan waktu itu.
Namun tak di sangka, sepatu anti badai yang di kenakan Ayu malah membuat masalah. Ia terjegal lantai akibat kurang tinggi mengangkat langkah nya yang gugup. Jika sepatu biasa, mungkin Ayu akan tergelincir dan tersungkur, sayangnya tapak sepatu Ayu begitu kesat membuatnya tak bisa menyeimbangkan badan hingga jatuh ke pangkuan Rey.
"Kopi ku..." lirihnya sesaat setelah menjadikan leher Rey sebagai pertahanan.
"Kamu pintar sekali mengambil kesempatan.." bisik Rey menggoda Ayu, tampak nya gadis itu belum sadar kalau ia mendarat di tempat yang salah.
"b..bukan.."
"Dengar tidak detak jantung Saya?" tanya Rey memotong penjelasan Ayu.
Ayu hening sejenak, bukan hanya detak jantung Rey yang bergemuruh di sana. Gemuruh yang di rasakan Ayu juga tak kalah hebat hingga terdengar bersahutan.
"Kita...." ucapan Rey terhenti oleh dering ponsel Ayu.
Nafas Ayu sampai tersengal ketika tersadar dari momen yang cukup meresahkan itu. Ia bangkit dari pangkuan Rey dan segera pamit.
"Permisi..." ucapnya pelan sambil menundukkan kepala.
Tanpa di sadari, ternyata Kakek sudah siuman sejak 10 menit yang lalu. Ia membuka mata dan melihat Rey yang sedang memangku Ayu, lalu ia pura-pura memejamkan matanya tadi.
Batin Kakek pun langsung bertanya-tanya, tidak pernah pacaran? Lalu kenapa terlihat sangat dekat bahkan tampak mesra.
...~...
__ADS_1
Saat menuju ke ruangannya, Ayu memeriksa pesan yang masuk. Ternyata itu pesan dari rumah sakit dimana Ayu mengetes DNA mereka.
"Sudah keluar..." batinnya amat antusias. Ia menyiapkan perasaannya untuk kemungkinan yang akan terjadi nanti. Yang pasti ia sungguh berharap Bagas bukanlah saudara nya.
Ia pun mengabari Bagas untuk mengambil tes DNA tersebut bersama. Akhirnya, hal yang membuat risau selama beberapa hari ini akan tuntas.
...-...
...-...
Ayu dan Bagas duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di rumah sakit. Sebuah amplop putih sudah berada di tangan Ayu, namun ia sedang mengumpulkan kekuatan untuk membuka isi amplop tersebut.
"Kalau ternyata kita saudara, apa yang akan Kamu lakukan?" tanya Ayu tertunduk, jemarinya meremas kuat amplop putih itu.
"mmm.. Sayang sekali, Padahal Aku sudah menemukan pelaku yang meneror mu." di balik kerisauan nya, Bagas masih berusaha menghangatkan suasana untuk membuat Ayu tersenyum.
"Serius? siapa?" Ayu membelalak, secepat itu Bagas mengungkap pelakunya.
"Bukankah kalau ku temukan pelakunya kita akan berpacaran?" bisik Bagas dengan senyum manisnya.
"hhh.. di saat seperti ini masih saja Kamu membahas itu." sahut Ayu terkekeh pelan.
"Kamu sudah berjanji kan?"
"Kalau kita saudara?" tanya Ayu masih ingin mendengar jawaban Bagas.
Bagas merebahkan kepalanya di sandaran kursi. "ssss... itu berarti Kamu adikku kan? mau gimana lagi.."
"Benar..." gumam Ayu memicingkan mata saat perlahan kertas putih bertuliskan hasil DNA ia buka.
"Bagas..." bisik Ayu, ia baca berulang kali tulisan yang mengatakan bahwa DNA mereka berbeda/tidak cocok.
"Ini nggak salah?" wajah Bagas seperti meradang, bukan nya ia tak senang dengan hasil itu. Namun ini seperti membuka teka-teki baru untuk Bagas yang tak mengetahui siapa Ayah kandungnya.
"Kamu anak siapa dong?" celetuk Ayu pula membuat pikiran Bagas semakin liar.
Bagas mengepalkan tangannya seolah kecewa, entah perasaan seperti apa yang tepat untuk menggambarkan suasana hatinya saat itu. Yang pasti ia sungguh kacau sekarang.
"Bagas.." panggil Ayu, ia bahkan memegang tangan Bagas yang terasa panas.
"Kita bicara lagi nanti..." ucap nya, ia segera melangkah meninggalkan Ayu yang sedang bingung di sana.
__ADS_1
"Pelakunya! siapa pelakunya..!" pekik Ayu tak bisa lagi menahan diri.
"Laura..." ucap Bagas kemudian melanjutkan langkah kaki nya.
"Laura..?" apakah Bagas tidak bercanda? kenapa Laura melakukan perbuatan itu pada nya? mereka bahkan sangat akrab dan tak pernah terlibat masalah sekalipun. Lalu apa alasannya?
...~...
Sesampainya di rumah, Bagas mengobrak-abrik lemari ibunya. Ia berusaha mencari sesuatu yang mungkin bisa menjawab siapa sosok Ayah kandung nya.
Mendengar suara gaduh dari atas, Tari segera naik memeriksa. "Bagas..? Apa yang Kamu cari di sana?"
Bagas menoleh dengan tatapan kasar, berapa banyak yang ia tidak ketahui selama ini? berapa banyak pula Tari ikut menyembunyikan kebenaran ini?
"Bude tau kan siapa Ayah kandungku?"
Jantung Tari tersentak, ia bingung dengan pertanyaan itu, ia berusaha menghindari tatapan tajam Bagas yang sangat menusuk itu.
"Maksud Kamu gimana? Bukannya baru kemarin Kamu mengunjungi makamnya?"
"Dia bukan Ayah kandungku! Bude tau itu kan?!" pekik Bagas membuat Tari ketakutan, dari mana ia mendapat prasangka seperti itu.
"Apa saja yang nggak ku ketahui Bude? Apa Ibu juga bukan Ibu kandung ku!" teriaknya tepat di depan wajah Tari.
"Bagas..." lirih Tari gemetar, apakah ini saatnya ia menceritakan rahasia itu? Lalu bagaimana janjinya dengan mendiang Ibunya Bagas?
Bagas berbalik dan berteriak sekuat tenaga. Lemari kayu yang tampak tua itu pun menjadi sasaran kemarahan Bagas, ia menendang lemari itu hingga menimbulkan suara yang membuat Tari terlonjak kaget.
"Siapa sebenarnya orang yang ku anggap Ayah itu? dan siapa Ayah kandung ku!"
Mungkin inilah saatnya, dengan berat hati Tari harus mengatakan yang sebenarnya terjadi di masalalu mengenai Ibunya, Ayah kandungnya, serta hubungannya dengan Ayah kandung Ayu.
"Sebenarnya.. Ibu dan Ayah mu tidak pernah menikah." ucap Tari terbata, sungguh berat lidahnya untuk menyampaikan kebenaran itu.
Bagas menarik dalam nafasnya, serumit apa fakta itu hingga Bagas tidak berhak mengetahui siapa Ayah kandungnya.
"Lalu siapa Ayah kandung ku?" tekan Bagas mengepalkan kedua tangannya.
Tari menelan sesuatu yang mencekat tenggorokannya, ia bahkan meminta maaf di dalam hati pada mendiang Ibunya Bagas.
"Demian Andeswara... dia Ayah kandung mu."
__ADS_1
"APA..?" Bagas sangat syok mendengar nama itu. Nama ketua gembong narkoba yang tempo hari ia lihat di sebuah koran. Koran yang tersimpan rapi di lemari pakaian Sang Ibu.
...***********...