
Tolong biarkan mimpi ini mengalir dengan semestinya, biarkan sekali ini saja Aku melampiaskannya. kenapa terus dia yang muncul di mimpi ku? wajah cantiknya akhir-akhir ini mengusik tidur nyenyak ku. maka biarkan sekali ini saja Aku melengkapi cerita mimpi yang selalu terputus ini.
Mimpi mimpi itu terus berputar di ingatan Rey hingga membuat seluruh pembuluh darahnya berdesir.
Telapak tangannya yang dingin ia gerakkan ke dalam helaian rambut hingga menyentuh kulit tengkuk yang lembut nan halus.
Matanya terpaku pada bibir mungil berwarna merah muda itu, perlahan ia mendekat dan...
PLAAKK!!
Tamparan keras melayang di pelipis Rey hingga membuat kacamata nya miring hampir terjatuh.
Rey langsung mundur dengan wajah panik, ia gelagapan dan membelalak ke arah Ayu.
"Apa yang Saya lakukan?!"
"Seharusnya Saya yang nanya!" pekik Ayu juga ikut panik, seluruh tubuhnya panas dingin dan kelu.
"Ini bukan mimpi?"
"MIMPI?" Ayu menatap heran wajah Rey yang masih tak percaya dengan kejadian barusan.
"Berarti Bapak sering mimpi mesum seperti ini?" ia menyilangkan lengannya di atas dada.
"Jadi ini bukan mimpi?" Rey masih tak percaya bahwa ini benar-benar terjadi.
"BUKAN!" pekik Ayu.
"Ayu, Saya bisa jelaskan. ini nggak seperti yang kamu pikirkan."
"Oke, coba jelaskan. jelaskan sejelas-jelasnya sekarang!"
"Itu.." harus dari mana ia menjelaskan? masa iya harus di ceritakan kalau akhir-akhir ini ia sering memimpikan hal hal erotis bersama Ayu.
"Apa selama ini Bapak pura-pura G4y? selama ini Bapak diam-diam punya niat kotor?" tudingan tak berdasar pun meluncur begitu saja dari mulut Ayu.
"Jangan keras-keras..!" Rey meminta Ayu mengecilkan suaranya, kalau sampai ada yang mendengar bisa hancur reputasinya sebagai Pria.
"Tolong jangan menuduh Saya yang bukan-bukan. Saya sama sekali nggak punya pikiran kotor seperti yang kamu bilang. apalagi mesUm? tolong jangan langsung memandang dengan tatapan jijik seperti itu, lagi pula Kamu menyukai Saya kan? bukankah seharusnya ini hal yang menguntungkan?" mulut Rey benar-benar kacau hingga mengatakan semua perkataan ngawur itu.
"Menguntungkan? wah... laki-laki memang otak nya busuk semua!" rutuk Ayu kesal.
"Memang Saya suka sama Bapak! tapi bukan berarti Saya bisa jadi bahan untuk menyalurkan hasrat yang sudah lama menyimpang itu! Saya akui memang Saya cinta sama Bapak, tapi yang Saya maksut menjalin hubungan seperti pacaran, kencan dan saling mengenal lebih jauh. bukan malah di jadikan.."
"Kalau begitu Ayo kita pacaran." potong Rey cepat.
"Hah??"
😳
__ADS_1
"Ayo kita pacaran dengan serius, bukan berpura-pura, bukan sandiwara. hubungan yang benar-benar serius antara kita berdua." Rey menatap dalam wajah Ayu, kali ini ia benar-benar serius dengan perkataannya.
"Apa ini mimpi?" tanya Ayu hampir tak sadarkan diri.
"Bukan! ini kenyataan, kenyataan yang terasa seperti mimpi."
"Kenapa tiba-tiba? apa yang membuat Bapak tiba-tiba berubah? apa Bapak beneran sudah menyukai lawan jenis? ini bukan karena Bapak kasihan kan?"
ddrrrttt...drrrttt..
Rey mengangkat ponselnya yang terus berdering.
"Kau dimana? kita ada rapat 5 menit lagi." ucap Dimas dari dalam telepon.
"Baik Pak.." Rey menutup teleponnya, ia menatap Ayu tanpa jawaban sepatah pun dari banyaknya pertanyaan tadi.
"Pikirkanlah.." ucap Rey sembari membenahi helaian rambut di dahi Ayu kemudian beranjak pergi dari sana.
AAAAAAAAKKKKKKK!!!!
Ayu berteriak sekencang-kencangnya hingga beberapa burung yang tengah bertengger langsung pergi tergesa-gesa.
...~...
Hari ke 2...
"Ayu.. kok belum bangun nak?" panggil Rianti dari luar kamar.
"Kenapa? kamu sakit? mau Mama panggilkan tante Duma?"
"Nggak kok Ma, Ayu cuma pengen istirahat." lirihnya dengan wajah lesu. lingkaran hitam di bawah mata menunjukkan bahwa ia tak bisa tidur semalaman.
Ayu yang di kenal gigih dan semangat dalam belajar, tiba-tiba memutuskan untuk bolos dengan alasan tak enak badan. Rianti mengerti pasti ada sesuatu yang membuat putri nya itu tidak mau ke kampus hari ini.
"Mau Mama ambilkan sarapan?"
"Nggak usah Ma, nanti Ayu turun kalau lapar."
"Ya sudah, Mama ke bawah ya." Rianti lantas beranjak dari sana karena sepertinya putri bungsunya itu sedang tak ingin di ganggu.
Karena merasa buntu soal perasaannya, ia berpikiran untuk meminta pendapat pada Lita sahabatnya. Ayu pun menelpon Lita dengan harapan mendapatkan solusi.
"Iya halo, kenapa Yu?" sahut Lita dari dalam telepon di iringi suara piring berdenting dan keran air.
"Kamu sibuk nggak? Aku butuh solusi.." pinta Ayu memelas.
"Nggak sibuk sih, cerita aja solusi apa yang bisa ku bantu."
Dengan mata pedas dan mulut bolak-balik menguap Ayu menceritakan dari A sampai Z mengenai dua Pria yang mengajak nya berkencan secara bersamaan.
__ADS_1
"DAEBAK!! Orang itu itu minta kamu jadi pacarnya? wahh gila sih ini. terus apalagi yang kamu pikirkan? kenapa nggak terima aja? bukannya kamu sudah lama suka sama dia?"
Lita malah syok mendengar keajaiban itu, akhirnya setelah sekian lama perasaan Ayu terbalaskan.
"Lita pliss.. Aku butuh solusi, kamu malah berdiri di satu pihak. kalau Aku terima Pak Rey terus Bagas gimana? masa iya Aku tolak dia mentah-mentah. Aku nggak punya alasan juga buat nolak karena dia memang ideal juga di jadikan pasangan. prilaku nya selama ini juga baik dan perhatian banget sama Aku, terus Aku nolak dia pakai alasan apa dong."
Lita hanya bisa mengelus dada dengan sikap bimbang Ayu, kok bisa cinta yang bertahun-tahun terpendam untuk Rey seketika goyah hanya karena orang baru yang juga menyatakan cinta.
"Terus perasaanmu sendiri gimana? coba kamu ingat-ingat jantung mu paling bergejolak di dekat siapa."
Ayu diam sejenak sembari memikirkan momen yang paling mendebarkan di antara dua Lelaki itu.
"Kalau Kamu jadi Aku, Kamu bakal milih Lelaki yang Kamu cintai atau Lelaki yang mencintaimu?"
"Aku pasti milih yang paling tampan HAHAHAHAHAHHA..."
"Jangan bercanda Lita. Aku cuma punya waktu 5 hari lagi untuk menentukan ini."
"Waaahh, kok buru-buru sekali?"
"Bagas cuma memberiku waktu 7 hari, dan 2 hari sudah terlewati."
" I like it! ternyata cowok salon itu ambisius sekali. begini saja, habiskan waktu satu atau dua hari bersama masing-masing mereka. periksa perasaan dan detak jantung mu, siapa yang paling membuatmu tak bisa jauh bahkan hanya satu detik. setelah itu putuskan kemana hatimu berlabuh."
"Begitu kah?"
Namun bagaimana jika ternyata hati Ayu berdebar sama rata pada keduanya? mengingat singkatnya waktu kebersamaan dengan Bagas terasa sangat berkesan dan menantang. rasa asam, manis dan pilu mereka lalui dalam waktu singkat hingga meninggalkan rasa di kedua nya.
Dan Rey, dia lah cinta pertama Ayu sejak dulu hingga saat ini. setelah sekian lama akhirnya ia memiliki kesempatan untuk menjalin hubungan, namun entah kenapa tiba-tiba rasa yang amat kuat itu tampak goyah.
...-...
...-...
Merasa sudah dapat pencerahan, Ayu keluar menuju kantor untuk menjalankan misi nya yakni memeriksa debaran jantung.
"Ma.." baru hendak pamitan, Ayu terkejut saat melihat Bagas yang tengah mengobrol dengan Mamanya di halaman depan.
"Itu anaknya, Tante tinggal dulu ya." Rianti segera melenggang dari sana.
"Kamu nggak kuliah?" tanya Ayu agak terkejut. nilai Bagas yang selalu merah bisa tambah anjlok kalau sering-sering bolos begini.
Bagas mengejar tatapan Ayu yang seperti menghindari kontak mata. "Kamu sendiri kenapa nggak ke kampus? sengaja menghindar dariku?"
Ayu hanya menunduk sambil menggigit bibirnya.
"Ayo ikut Aku." ajak Bagas sambil memakaikan helm pada Ayu.
"Ke..mana?"
__ADS_1
"Cari angin." ucap Bagas tersenyum kecil. memang kalau punya keinginan Bagas akan selalu berusaha mewujudkannya. sama halnya dengan hati Ayu, ia menginginkannya maka ia harus cepat mendapatkannya.
...**********...