
uhuk...uhuk...
Arhan sedari tadi terbatuk, ia mengalamai iritasi saluran pernafasan karena perubahan cuaca. Di tembah usianya yang sudah renta, membuat fisiknya tampak sangat lemah tak berdaya.
"Ini Kek, minum obatnya.." Rey memberikan secangkir air beserta obat yang sudah di resepkan oleh Dokter.
"Kamu tidak khawatir Kakek mati dalam waktu dekat?"
Pertanyaan itu membuat Rey tersentak, memang Kakeknya sering mengucapkan hal-hal seperti itu. Tapi tetap saja Rey tak bisa santai saat Kakek mengucapkannya lagi dan lagi.
"Tentu saja Aku khawatir, makanya Aku mengambilkan obat agar Kakek cepat sembuh."
Kakek mengambil tabletnya, dan memperlihatkan beberapa daftar nama wanita dari berbagai daerah. Ia ingin Rey melakukan kencan buta.
"Pilihlah.. yang mana mau Kamu datangi lebih dulu. Semua nya gadis baik-baik dari berbagai kolega Kakek. Ya, ada juga yang janda sih. hehehe.."
Rey mengernyitkan alisnya, barusan Kakeknya membahas kematian. Kenapa tiba-tiba mengatur kencan untuknya.
"Rey sudah punya pacar Kek." Rey menutup tablet dan mengembalikannya ke pangkuan Kakek.
Mata Pria renta itu langsung berbinar, "Benarkah? Siapa? Kapan Kamu akan mengenalkannya pada Kakek?"
"Ayu.. Kami berpacaran."
Arhan mengurung senyumnya, ia menyangka Rey akan mengelabuinya lagi.
"Kamu pikir Kakek percaya?" ia membuang muka.
"Aku jujur Kek, Kami benar-benar pacaran sekarang. Besok Aku akan membawanya kemari."
"Baiklah, Kakek percaya. Tapi kalau ternyata Kamu berbohong, Kakek akan sangat marah!"
"Aku berjanji tidak akan membuat Kakek marah." ujar Rey tersenyum.
...~~...
Keesokan harinya....
Rey mengantarkan Ayu ke rumah, namun sebelum turun dari mobil. Rey meminta sesuatu pada Ayu.
"Mau kah Kamu ke rumah Kakek? Dia memaksa Saya ikut kencan buta. Saya bilang Kita berpacaran. Tapi dia tidak percaya."
Ayu tertawa, ia bisa mengerti kenapa Kakek tidak percaya dengan Rey.
"Mau.." sahut Ayu, setelah itu Ayu turun.
Rey ikut turun, ia ingin melihat Ayu sampai masuk ke dalam rumah. "Selamat malam.." ucapnya sambil mengusap lembut rambut Ayu.
Ayu membalas dengan senyuman "Malam.." ujarnya kemudian.
"Kalian ngapain?" celetuk Vino tiba-tiba. Wajahnya menampakan beribu pertanyaan.
Rey yang terkejut langsung mengibaskan rambut Ayu. "Rambut mu bau sekali, kapan terakhir kali Kamu keramas?" elaknya, ia bahkan berpura-pura menutup hidung.
Sementara Ayu tak bisa berkata-kata, ia khawatir Vino akan mengadukannya kepada Papa.
__ADS_1
"Kalian pacaran?"
Ayu: Iya...
Rey: Tidak..
Mereka serempak menjawab, namun sayang jawabannya tidak sama.
"Katanya jangan ada yang tau..." bisik Rey pada Ayu.
"Susah kalau mas Vino. Dia besar mulutnya.." sahut Ayu juga berbisik, tertangkap Vino sama saja tertangkap basah oleh seluruh keluarga.
"Syukurlah... Kau benar-benar menyukainya kan? Bukan karena ingin mendekatiku lagi?" Vino malah tampak lega.
"Tentu saja, Kami bahkan sudah berci...."
Ayu menutup mulut Rey agar berhenti bicara. Ia bahkan mengisyaratkan lewat mata agar Rey diam saja.
Namun bukan Vino namanya kalau tak bisa mendeteksi hal-hal seperti itu. Bagaimana pun juga ia tau betul Rey adalah pria dewasa.
"oohhh.. Kalian sudah berciuman? bagaimana rasanya? Segar bukan?" bisik nya pada Rey.
Dengan wajah kaku, Rey mendorong pelan bahu Vino agar menjauh. "Menjauh lah, nafas mu hampir membuat jantung ku berdebar lagi." ia sengaja bicara begitu, agar Vino tak macam-macam. Sebenarnya ingin sekali ia mencabik wajah Vino saat itu.
Benar saja, Vino langsung pucat dan menjauh. "Masuklah, ada sesuatu yang ingin di bahas oleh Papa."
"Dengan Ku?" Rey terheran, perasaan ia tidak mendapatkan pesan dari Adit.
Vino mengangguk, lalu mempimpin jalan mereka berdua masuk kedalam rumah.
"Kakek tidak percaya dengan perkataanmu kemarin, itu sebabnya Kakek kemari untuk bertanya langsung pada Ayu. Tapi ternyata dia tidak di rumah."
Adit tadi sudah bertanya, apa tujuan Arhan kerumahnya. Dan Arhan menjelaskan maksudnya, ia hanya ingin mendengar dari Ayu apakah dia benar-benar berpacaran dengan cucunya. Alhasil Adit dan sekeluarga pun sudah tau kalau mereka berpacaran.
"Jadi maksud Kamu menyukai anak Saya itu Ayu?" tanya Adit.
Suasana hening, menunggu jawaban Rey. Ayu pun hanya tertunduk.
"Iya.." sahut Rey tegas.
Dan seluruh keluarga yang mendengar langsung melepaskan nafas mereka. Namun tidak dengan Dimas yang masih menatap tajam ke arah Rey.
"Saya tidak setuju kalau Kamu pacaran dengan Ayu. Dia masih sangat muda." potong Dimas tanpa ragu-ragu.
"aiishhh.. lihat siapa yang berbicara. Apa Kau lupa kita menikahi gadis yang 15 tahun lebih muda? selisih usia mereka hanya 10 tahun. Jadi biarkan saja." Vino tampak mendukung hubungan mereka, begitu juga dengan Fani dan Nurul yang tampak bahagia. Sebab mereka tau berapa lama Ayu berjuang mendapatkan cinta Rey.
"Anda tidak menyukai Kami berpacaran?" Rey mengulangi perkataan Dimas.
"Iya.! Saya tidak setuju." sahut Dimas, ia merasa kasihan jika Ayu jatuh ke tangan Pria jadi jadian itu. Ia masih tak percaya Rey bisa konsisten dengan kondisinya yang sekarang.
"Kalau Saya menikahi nya?"
Ayu langsung tercekik saat itu, ia sangat terkejut hingga tak bisa bernafas rasanya. Ia bahkan mengipaskan tangan di depan wajah agar bisa bernafas dengan baik.
Adit dan Arhan saling melempar senyum tipis. Rianti dan Kedua Kakak perempuan Ayu juga hanya tersenyum. Sementara Dika yang menguping dari balik badan Rianti malah sudah berkhayal pakaian apa yang akan ia kenakan saat resepsi pernikahan nanti.
__ADS_1
Dimas terdiam, ia tak menyangka Rey mempunyai nyali yang cukup besar.
"Berapa uang panai yang harus Kami bayar untuk meminang Putri Anda?" tanya Arhan, ia sungguh bahagia malam ini melihat keseriusan cucunya.
"Tanya dulu Anak Saya mau atau tidak." sahut Adit sambil menyeruput kopinya.
"Sspertinya belum saatnya kita membicarakan ini, Ayu masih harus menyelesaikan kuliah. Dan bukannya Bapak bilang siap menunggu Ayu kapan pun?"
Rey menggenggam tangan Ayu, ia pasti tidak melanggar janjinya. Ia hanya ingin membuktikan kepada Dimas bahwa ia pantas untuk Ayu.
"Memang, Saya hanya ingin membuktikan pada Pak Dimas kalau Saya serius. Saya tau dia tak percaya dengan Saya."
"Mau sekarang atau kapan pun itu Saya tidak setuju!" ucap Dimas.
"Siapa yang setuju Saya menikahi Ayu? angkat tangan kalian."
Semua orang di sana langsung mengangkat tangannya, terutama Kakeknya Rey ia mengangkat tangan setinggi mungkin.
Hanya Adit dan Dimas yang tak mengangkat tangan. Adit tersenyum saja, sementara Dimas menekuk wajahnya.
"Kamu tidak mengangkat tanganmu?" tanya Rey pada Ayu.
"Tidak sekarang kan?" tanya Ayu pelan.
"Tidak sayang... Saya selalu siap kapanpun Kamu bersedia." bisik Rey, ia mengusap lembut telapak tangan Ayu.
Ayu pun mengangkat tangannya perlahan.
"Anda kalah telak Pak, terimalah Saya sebagai calon adik ipar." ujar Rey melemparkan senyum tipis.
Dimas menyulut tajam wajah Rey. "Awas saja Kau main-main dengannya. Ku mutilasi tubuhmu dan menghanyutkanya di sungai !"
Rey tersengum lebar, ia mengangkat tangannya ke dahi memberikan hormat pada Dimas. "Siap."
Akhirnya mereka pun berbincang dan bertukar cerita, Adit mendengarkan kisah masa kecil Rey dari sang Kakek. Mereka berbaur sambil menikmati camilan yang sudah di sajikan.
Satu yang mereka semua tau, jangan sampai Kakek Rey mengetahui bahwa Rey pernah mengidap kelainan. Suasana mengalir begitu damai hingga seseorang datang.
"Selamat malam.... Wah kalian sedang berkumpul ya." sapa Pak Tio, ia membawakan rekam data mengenai perkembangan Rey.
Tertulis di atas saku jasnya tanda pengenal bahwa ia seorang Psikolog. Dan itu terbaca jelas dari bingkai kacamata Kakeknya Rey.
Wajah mereka semua berubah menjadi pucat, suasana kaku pun tak terelakkan.
"Kenapa ada Psikolog? siapa yang...."
Dimas langsung berdiri memotong pertanyaan Arhan.
"Ahahahaha.. Anda sudah datang Pak, Saya yang perlu konsultasi. Akhir-akhir ini Saya sulit sekali tidur hahaha.." tawa palsunya terdengar amat masam.
"Wajar saja, di usia segitu berbagai hal memang menyerang mental dan pikiran kita..." sahut Arhan menatap prihatin pada Dimas.
"Hahahahhaha.... iya.." sahut Dimas lagi.
Para keluarga pun ikut tertawa, menutupi suasana kaku yang tercipta. Akhirnya Rey kembali menghembuskan nafas lega. Sungguh ia harus mengucapkan banyak terimakasih pada keluarga Ayu yang telah membantunya selama ini.
__ADS_1
...************...