My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 37: Air beras


__ADS_3

Di depan cermin besar di kamarnya, Rey termangu dengan mulut menganga. lingkaran hitam di matanya juga tampak seperti panda karena semalaman terjaga.


"Apa yang kulakukan kemarin? pacaran ch! bodoh sekali Kau ini hah! bisa-bisa nya bersikap kurang ajar. haisss!! gara-gara mimpi sialan itu." rutuknya tak henti-henti sambil mengusap wajah berkali-kali.


"Pasti sekarang dia menganggap ku sebagai Pria mesUm yang tak tau malu. cinta? mungkin hanya rasa jijik yang tertinggal di hatinya. AAAGGRR!!!!"


Selimut, bantal dan guling ia hambur kan semua ke lantai karena frustasi. mau di taruh mana wajahnya jika nanti bertemu dengan Ayu?


"Apa Kau mencintainya?" tanya Rey pada diri sendiri sambil menunjuk ke arah cermin.


"Entahlah.. jantung ku hanya sering berdebar akhir-akhir ini. haruskah Aku melakukan konsultasi lagi?" sahutnya pula berlagak seperti dua orang yang berbeda.


"LALU KENAPA KAU MENGAJAKNYA PACARAN!!" ia berteriak sambil menuding pantulan dirinya sendiri.


...~...


Bagas membawa Ayu ke sebuah pemukiman padat penduduk. rumah di sekitar sana di dominasi rumah panggung yang masing-masing di huni dua sampai tiga kepala keluarga.


Tempat itu tak jauh dari rumah Bagas. gemericik sungai mengalir di dekat sana membuat suasana berkesan damai dan tenang.


Bagas menghentikan motornya di pinggir jalan "Ayo kita jalan kaki dari sini."


" Mau kemana sih?" tanya Ayu sembari melepaskan helm.


"Ada deh.."


Bagas menuntun Ayu melewati jembatan kecil di atas sungai yang jernih.


"Takut ih.. goyang goyang jembatannya Bagas! kalau jatuh gimana? Aku takut!!" rengek Ayu merinding, arus yang amat deras itu membuat kaki Ayu lemas seketika.


"Aman kok.." Bagas menarik lengan Ayu dan merangkul bahunya agar Ayu merasa nyaman.


Setelah berjalan tertatih-tatih selama lima menit, akhirnya mereka sampai di ujung jembatan.


Ayu langsung melepaskan nafasnya, ia benar-benar tak tau mau di bawa kemana oleh Bagas. rasa panik dan cemas langsung berganti menjadi rasa kagum saat melihat sekeliling. rumah yang tersusun rapi di tengah hijaunya pepohonan membuat mata Ayu terpana.


"Indahnya...." lirih Ayu tersenyum kagum.


"Sangat indah." sahut Bagas sambil memandangi wajah Ayu.

__ADS_1


Tiba-tiba....


BYYUURRRR......


Kepala Ayu terguyur sebaskom air dari salah satu jendela penduduk. air berwarna putih susu itu membawa beberapa butir beras yang habis di cuci.


"OMAIGAT!!" teriak Ayu sambil mengibaskan rambutnya yang terguyue air kobokan beras.


"Buk!! lihat lihat dong!" Bagas tampak tersulut emosi karena kejadian tersebut.


"Waduh.. mana Saya tau kalau ada orang Mas." sahut Ibu-ibu setengah baya sambil tetap mengobok-obok beras di dalam baskom.


"Buang air kobokan sembaran! memangnya Ibu nggak punya saluran pembuangan? lihat nih pacar Saya jadi basah gara-gara Ibu!"


"Pacar?" batin Ayu sedikit tersipu. baru kali ini ada orang yang dengan berani menyebut dirinya sebagai Pacar.


"Ya bukan salah Saya atuh Mas. lagian Mas nya ngapain bawa cewek cantik rapi begitu kesini? sudah tau di sini sering ada air melayang. kalau bawa cewek cantik mah ke emol (Mall) Mas bukan ke empang!"


"Wah benar-benar ya ni Ibu-ibu! bukannya minta maaf malah ngatain!" Bagas yang naik pitam hampir maju untuk adu mekanik. namun Ayu segera menahannya.


"Bagas udah udah.. nggak boleh kurang aja sama Ibu-ibu ntar kualat." bisik Ayu sambil mengusap punggung Bagas.


Setelah berjalan sekitar 15 menit, akhirnya mereka sampai di sebuah anak sungai yang jernih dan tenang.


Anak anak ikan yang berenang kesana kemari sampai terlihat sangat jelas karena airnya sangat jernih.


"wahh... tempat apa ini?" Ayu kembali tercengang dan kagum melihat tempat itu.


Rindangnya pepohonan serta banyaknya akar liar yang menjuntai menandakan tempat itu jarang di jamah orang lain.


"Ibu membuka salon pertama kali di daerah ini. dulu Ibu mengajakku mencuci baju di sini. tempat ini banyak kenangannya, karena itu Aku mengajakmu kemari agar Kamu bisa menjadi satu dengan Ibu di memori ku."


Ayu membuka sepatunya lalu menceburkan kaki ke dalam air. rasanya dingin dan sangat segar hingga menembus ke ubun-ubun.


"Kenapa harus kesini? salon dan rumahmu juga pernah ku datangi apa itu nggak cukup untuk memasukkan ku ke memori bersama Ibumu?"


Bagas juga melepas sepatunya dan juga menceburkan kaki, mereka mengayunkan kakinya hingga menimbulkan suara gemericik kecil.


"Salon dan rumah isinya bukan cuma Aku dan Ibu, ada banyak orang yang ku temui disana. sedangkan di sini, cuma Aku dan Ibu yang pernah kesini. itu sebabnya Aku ingin tempat ini menjadi tempat istimewa."

__ADS_1


"Aneh.." ucap Ayu tertawa kecil.


"Hahahaahah... memang Aku aneh. Kamu pasti memandangku geli karena selalu membawa-bawa nama Ibu." ia terkekeh sembari mengambil beberapa beras yang tersangkut di rambut Ayu.


"Nggak aneh kok. Aku malah suka mendengar laki-laki selalu menyanjung Ibunya. orang bilang seperti itu lah dia memperlakukan pasangannya kelak. itu sebabnya lelaki yang selalu membahas tentang Ibunya tampak keren di mataku."


"Berarti Aku keren?" tanya Bagas berbangga diri.


"hm.." Ayu mengangguk dengan tatapan kosong yang berbinar. ia membayangkan Pria lain yang selalu menyanjung nama Ibunya.


"Sudah menemukan jawabannya?" tanya Bagas meminta kepastian. buru-buru sekali memang, karena ia tak ingin kesempatan ini hilang karena orang lain.


Ayu memandang wajah Bagas dengan seksama.


"Apa yang Kamu sukai dari ku?"


"Semuanya.. senyum mu, wajahmu, kelembutan mu. Kamu ramah, baik dan menyenangkan. Aku nyaman di dekatmu, Aku rindu bila tak melihat mu. Aku suka kata-kata penyemangat dari mu. Aku suka mendengar suaramu. Aku menyukaimu dan Aku mencintaimu."


Ayu mematung mendengar pernyataan itu, wajah yang tulus dan senyuman hangat membuat hati Ayu merasa tersentuh. detak jantung yang bergemuruh seperti tak bisa di kendalikan walau ia berusaha mengatur nafasnya.


Seperti inikah rasanya di cintai? ungkapan tulus yang selalu ia ucapkan untuk seseorang, kini ia mendapat ungkapan itu dari seorang Pria yang apa adanya. Pria itu menunjukkan dirinya berandalan, tak punya apa-apa, dan memiliki hati yang rapuh karena rotasi hidupnya yang tak bergerak.


Namun Pria itu berdiri paling depan dan menjadi kuat apabila Ayu membutuhkannya. Pria yang selalu membuatnya tertawa dengan segala kekonyolannya.


"Bagaimana denganmu? Apa Kamu punya rasa seperti itu untukku?"


Ayu yang hanyut dalam perasaan tak menentu mendadak bingung.


"Aku suka saat bersamamu. hari-hari ku yang damai dan membosankan menjadi penuh warna dan tantangan saat bertemu dengamu. seperti hari ini, biasanya rambutku tertata wangi dari keluar rumah sampai masuk lagi kerumah. hari ini rambutku mendapat kejutan hahahhaha..."


"HAHAHAHAH.. maaf, seharusnya Aku tetap menyuruhmu memakai helm tadi." tawa Bagas juga tak terbendung mengingat kejadian apes itu.


"Tidak apa-apa. dulu Aku selalu bisa menebak alur hidupku. hari ini akan seperti kemarin, dan besok akan seperti hari ini, tidak ada yang spesial. tapi hari-hari ku menjadi unik semenjak bertemu denganmu dan Aku suka itu, tidak membosankan."


"Tapi, apa itu bisa di sebut cinta? Aku sendiri nggak tau bagaimana perasaanku untukmu." mata Ayu menggambarkan kegundahan yang amat jelas.


"Haruskah kita memastikannya?" tanya Bagas mendekat, ia menyandarkan tangannya di dekat pinggang Ayu.


Ayu tampak penasaran hingga ia mengerjapkan kelopak matanya "bagaimana caranya?"

__ADS_1


...************...


__ADS_2