
Semalaman Ayu terjaga di kamarnya, ia tak bisa memejamkan mata barang sedetikpun karena teringat kejadian tadi siang. Kejadian yang membuat alur hidupnya seolah berbalik 180 derajat.
"Dia benar-benar...." gumam Ayu sembari meraba bibirnya. Bibir itu kini telah kehilangan kesuciannya.
"AAAaaaaa!!!!!!!!! Berani-beraninya dia!"
Ayu berdiri dan menghamburkan semua bantalnya ke lantai. "Kenapa harus di sini sih!" rengek nya salah tingkah. Sekarang setiap melihat seisi kamar ia jadi terbayang adegan 17+ tadi siang.
...~...
Sementara itu di dalam kamarnya Rey tengah menggulung diri dengan selimut sambil tersenyum tak henti-hentinya.
"Ternyata begini rasanya hhh..." lirihnya sambil tersenyum lebar dengan pipi merona.
"Ayu... Alisha Ayundia Dinata.. Aku menciumnya hihihihihih....."🤭🤭🤭
Ia bahkan melonjakkan kaki di balik selimut hingga tampak seperti ikan yang ingin kembali ke dalam air.
"Berarti Kami sudah berpacaran kan? aahhhh..... jantungku seperti akan meledak hari ini." gumamnya sembari terpejam membayangkan kejadian tadi siang.
...~~~~...
Hari ini untuk pertama kalinya setelah Tiga tahun Gaby dan Dika berkencan di alam nyata. Sebelumnya mereka hanya berkencan di alam maya. Bukannya Gaby tak pernah pulang ke indonesia selama Tiga tahun, hanya saja setiap Gaby pulang pasti Dika sedang sibuk hingga tak punya waktu luang untuk berkencan.
Mereka pergi ke sebuah toko bunga yang terletak di tengah kota. Gaby berjalan menyusuri rak bunga yang berwarna-warni itu.
"Kamu nggak usah repot-repot belikan Aku bunga Sayang." ujar Dika tersenyum lebar.
"Aku beli bunga bukan buat Kamu," sahut Gaby menarik setangkai irish putih lalu mencium aromanya.
Dika merapatkan alisnya "Terus untuk siapa?"
"Untuk Mei."
__ADS_1
Wajah Dika menjadi terharu mendengar nama itu. Walaupun dulu ia sangat membenci Mei, namun ia sangat prihatin sekaligus menyayangkan tindakan Mei yang bunuh diri karena tak sanggup melawan bullyan teman-temannya.
Bagaimana pun sikap Mei dulu, Gaby tetap menganggapnya sahabat bahkan sampai saat ini. Ia bahkan menyesal karena merasa tak bisa melindungi Mei dari kejahatan teman-temannya.
"Kenapa beli dua?" tanya Dika saat melihat Gaby membeli dua buket besar bunga irish berwarna putih dan biru.
"Yang satu lagi untuk Ayah mu. Kamu pasti belum pernah mengunjungi makam nya kan?"
Dika melepas nafas nya berat, raut wajahnya yang ceria pun seketika menjadi jengah. Setelah 6 tahun kepergian Ayahnya, tak pernah sekalipun ia mengunjungi makam itu. Semua masalalu yang menyakitkan masih tergambar jelas di ingatannya hingga membuat rasa marah tak bisa hilang bahkan saat hanya mendengar nama itu.
"Kamu tau kan, hal paling ku benci..."
"Tau.. tau, Aku tau Sayang." potong Gaby, ia mengusap punggung Dika yang terasa panas karena emosi.
"Tapi tolong, setidaknya kali ini saja Kamu mengunjunginya. Bagaimanapun dia Ayahmu kan?"
...-...
...-...
"Hai Mei.." sapa Gaby sembari meletakkan buket bunga di atas nisan.
Mengingat masa-masa SMA mereka yang begitu kompak membuat air mata Gaby mengalir perlahan. Seandainya waktu bisa di putar kembali, ia ingin sekali merangkul Mei sekali saja untuk memberinya kekuatan.
Setelah beberapa saat, mereka pun pindah ke Makam Rudi yang tak lain adalah Ayah kandung Dika. Terdapat beberapa mawar putih di sana, masih tampak segar seperti baru beberapa hari di letakkan.
"Hai Pak... Aku membawakan anak lelakimu kemari." seloroh Gaby sambil tersenyum, ia memperhatikan raut wajah Dika yang bercampur aduk antara sedih dan marah.
"Letakkan Lah.." pinta Gaby agar Dika meletakkan bunga itu di atas makam Ayahnya.
Dika pun menunduk, semua ingatan tentang masalalu nya seperti terulang kembali saat melihat nama yang terukir di batu nisan itu.
Setelahnya, Dika langsung berdiri tegak hendak beranjak dari sana. Baru melangkah dua kali, ia di buat terkejut saat melihat Bagas yang baru tiba dengan seikat mawar putih di tangannya.
__ADS_1
"Pak Dokter?" ucap Bagas heran, kini ia sangat yakin bahwa ingatannya selama ini tidaklah salah.
"Apa yang Kamu lakukan?" tanya Dika.
Bagas berjalan ke arah nya lalu meletakkan seikat mawar putih itu di makam yang sama "Aku mengunjungi makam Ayahku."
Tubuh Dika seakan tak percaya dengan ini semua. Ia menatap Bagas penuh tanda tanya. Kenapa Ayah mereka sama? Apakah Bagas mengetahui kalau mereka satu Ayah?
Pertanyaan itu terus mengaduk pikiran Dika hingga membuat kepalanya terasa melepuh.
"Kalian bersaudara?" celetuk Gaby membuat Bagas terkejut.
"Apa... apa yang Anda katakan?" Bagas tampak gugup, ia berharap itu sebuah kekeliruan.
Dika pula berharap ini semua hanya kesalahpahaman. "Kenapa dia menjadi Ayahmu?"
"Anda benar-benar anak Ayahku?" Bagas bertanya balik dengan mata berkaca-kaca.
"KENAPA DIA AYAHMU?!" pekik Dika mulai kehilangan akal. bagaimana bisa ini semua terjadi seperti skenario yang terulang kembali.
Melihat amarah dan kesedihan kekasihnya Gaby jadi merasa bersalah. Andai dia tau akan seperti ini, ia pasti tidak akan memaksa Dika untuk datang kemari.
Tak banyak bicara, Bagas menunjukkan foto keluarga yang ia simpan di dalam dompetnya. "Apa ini sudah menjawab pertanyaan Anda?"
Dika mengamati foto itu, dimana ada Bagas kecil dan mendiang Ayahnya di sana.
"Sekarang jawab pertanyaan ku! Aku punya rasa penasaran yang sama dengan Anda!" tukas Bagas menggeramkan suaranya. jika benar meraka satu Ayah, itu berarti Ayah yang di ceritakan oleh Ayu selama ini adalah orang yang sama.
Dika pula menunjukkan foto masa kecil mereka semua sewaktu Ibunya masih hidup.
"Kau mendekati keluarga Kami karena tau kita bersaudara? apa niatmu sebenarnya?"
Seperti di sambar petir rasanya, Bagas mengusap kasar rambutnya. Ia berharap ini hanyalah mimpi.
__ADS_1
Dika menarik kerah baju Bagas, ia manatap wajah lelaki itu dengan pandangan mencekam. "Apa sebenarnya rencana mu? Kau mendekati Ayu untuk rencana apa hah!" ia pikir Bagas sudah tau segalanya. Seperti Mei dahulu, Dika berpikir Bagas melakukan hal yang sama untuk menghancurkan keluarganya sekarang.
...**********...